Rania selalu dihina dan direndahkan oleh mertuanya, dia mendapatkan caci makian itu dan suaminya hanya berdiam diri tanpa membelanya.
Ardi sang suami selalu beralasan jika ibunya sudah tua sehingga ingin melihatnya menjadi orang sukses sehingga dia menggunakan identitas Rania untuk membuat ibunya bahagia.
Cinta yang besar dimiliki Rania tidak mampu membuatnya berharga dan terlihat dimata keluarga suaminya, dia memutuskan untuk berhenti dan mengambil kembali semua miliknya.
Suaminya yang Menumpang tapi dirinya yang selalu dihina, dia membalas semua rasa sakit hatinya membuat suami dan keluarganya panik dan kalang kabut
Akankah, perjuangannya mendapatkan kebahagiaannya kembali
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15
Rania yang mendengar perkataan sahabatnya itu hanya menghela nafas karena tidak ingin membahas hal itu.
"Lebih baik kita pergi makan saja, tidak usah membahas hal itu".
Mendengar nada suara Rania yang tidak enak didengar membuat keduanya saling melirik seakan menyampaikan sinyal jika sahabat mereka itu sedang ada masalah.
Mereka berdua mengangguk kemudian berjalan mengikuti langkah Rania yang terkesan berat itu
"Kalian berdua masuk ke mobil masing-masing, gimana kalau kita makan siang di Kafe star dekat sini".
Rania menoleh kebelakang untuk memberitahu kedua sahabatnya itu.
"oke, kita ketemu disana saja".
Mereka langsung masuk kedalam mobil masing-masing yang ternyata saling berhadapan.
Sesampainya disana, mereka langsung memesan tempat untuk makan bersama tanpa ada suara sama sekali.
Keduanya seakan paham jika suasana hati Rania sedang buruk dan tidak ingin membahas apapun
"Kamu kenapa Ran?, seperti nya kamu sedang banyak masalah, kamu tahu kan kami bisa menjadi tempatmu berbagi jika ada masalah". Kini Tania memusatkan perhatiannya kepada sahabatnya itu begitu juga dengan Rendra.
Melihat sahabatnya yang kini tengah mengkhawatirkan dirinya, Rania tersenyum sendu dan menghela nafasnya kasar.
"Aku akan bercerai dari suamiku, aku datang ke sidang pertama hari ini tapi keinginanku bercerita secepatnya malah tertunda karena lelaki itu tidak mau bercerai dariku".
Mereka berdua langsung duduk tegak mendengar perkataan Rania barusan, setahu mereka Rania begitu mencintai suaminya lalu mengapa dia memilih bercerai.
Melihat tatapan itu lagi Rania langsung menghela nafas dalam karena dia tahu kalau kedua sahabatnya ini menuntut penjelasan lebih
"Dia dan keluarganya memanfaatkan aku selama ini, dan lebih parahnya lagi mereka berusaha merebut semua yang aku punya dengan ingin mengganti kepemilikan surat-surat berharga milikku, beruntung aku sudah mengamankannya".
Mata keduanya membelalak dan tangan mereka mengepal, dia tidak tahu jika kesialan itu begitu menimpa sahabat mereka.
"Terus dimana lelaki bajingan itu sekarang Rania, biar aku hajar dia, berani sekali dia melakukan ini padamu".
Suara bariton itu begitu tajam penuh amarah, sedangkan Tania mengusap wajahnya kasar.
Dia tidak tahu jika Ardi adalah lelaki seperti itu, dia sungguh menyesal mengenalkannya kepada sahabatnya itu.
"Maafkan aku Ran, aku tidak tahu jika Ardi seperti itu, aku sungguh menyesal mengenalkan kalian berdua sehingga pernikahan itu terjadi dan nyatanya bukan kebahagiaan yang kamu dapat sesuai janjinya padaku waktu itu".
Benar Tania adalah makcomblang keduanya saat mereka masih kuliah dulu, baginya Ardi lelaki sederhana yang baik dan sangat menghormati seorang perempuan, dia juga terlihat tulus menyayangi Rania selama ini, entah mengapa laki-laki itu bisa berubah seperti itu.
Rania kini menatap sahabatnya yang kini menatapnya dengan tatapan rasa bersalah yang luar biasa.
"Tidak apa Tania, kamu hanya ingin yang terbaik untukku lagian dulu aku juga mencintainya sampai akhirnya aku tahu ternyata dia orang yang seperti itu, entah mengapa dia bisa berubah seperti itu.
"Aku akan menghajar nya kalau bertemu dengannya, berani sekali dia melanggar janjinya pada kita saat itu dan membuatmu menderita ditambah lagi keluarganya yang sialan itu".Umpat Rendra dengan kesal memegang tangan Rania penuh simpati.
Sikap yang sama selama ini dia perlihatkan kepada kedua sahabatnya itu ketiga mereka saling menguatkan
Rania tersenyum tipis, kedua sahabatnya yang memang sangat menyayangi dan memperhatikannya sejak dulu itu bisa membuatnya melupakan sedikit masalah yang akhir-akhir ini menderah nya.
"Sudahlah tidak apa, lagian itu bukan salah kalian, ini sudah takdir, aku beruntung karena belum memiliki anak, mungkin ini jalan yang dikehendaki Tuhan agar aku bisa membuka mata melihat bagaimana orang yang telah menjadi suamiku selama ini".
"Kamu benar Ran, maafin aku yah, aku sungguh tidak tahu". Sesalnya
Percakapan mereka terhenti karena tarikan keras pada pergelangan Rania dengan kasar.
"Oh..Ternyata ini yang menyebabkan kamu tidak mau kembali padaku, ternyata kamu punya simpanan diluar sana? ". Ucap lelaki yang ternyata adalah Ardi.
Lelaki itu datang ketempat makan dekat kantor sang istri untuk bertemu dengan nya untuk bisa membicarakan tentang persidangan tetapi mendapati istrinya berpegangan tangan dengan orang lain membuatnya murka seketika, harga dirinya sebagai lelaki terasa diinjak-injak.
"Jangan jadi perempuan tidak tahu malu Rania, kamu sudah menikah dan belum resmi bercerai dariku, kamu belum pantas dekat orang lain apalagi berselingkuh dibelakang ku". Bentaknya dengan suara menggelegar.
Matanya memerah karena emosi, dia tidak perduli dengan tatapan semua orang yang ada disini, dia hanya mau memberikan istri dan selingkuhan nya itu pelajaran.
Rania menepis tangan itu dan langsung melayangkan tamparan karena perkataan Ardi yang sudah kelewatan menurutnya. Dia bahkan tidak melihat siapa yang dia temani dsn seenaknya mengatakan jika dia berselingkuh.
"Apa kamu buta, aku tidak bermesraan dengan orang disini, kami bertiga dan ini kedua sahabatku, kamu pasti mengenalnya, buka matamu lebar-lebar siapa mereka Ardi, jangan bicara tanpa melihat". Sungut Rania dengan penuh emosi.
Tania dan Rendra juga ikut berdiri karena kesal sahabat mereka diperlakukan seperti itu di hadapan orang banyak padahal mereka adalah sahabatnya dan mereka tidak melakukan apapun
Rendra tidak mengatakan apapun tapi melayangkan tangannya meninju keras wajah Ardi sehingga dia terjungkal kesamping dengan hidung berdarah.
"Astaga". Jerit Rania dan juga Tania bersamaan .
Rendra maju kehadapan Ardi, tubuh atletis nya kini mendominasi penuh intimidasi kearah Ardi.
Dia mengangkat kerah baju kerja Ardi dan kembali melayangkan pukulan yang lebih keras dari yang tadi.
"Astaga Rendra hentikan".
Rania segera membawa Rendra menjauh dari Ardi karena takut jika sahabatnya itu membuat Ardi masuk rumah sakit
"Aku tidak akan berhenti Ran, mulut kurang ajarnya itu seperti nya harus diberi pelajaran".
Mata Rendra menyala penuh amarah, emosinya kini menguasai dirinya.
Sedangkan Ardi yang tersungkur kini menatap berang kearahnya, dia tidak terima dipukul seperti ini oleh selingkuhan istri nya tapi begitu mendengar nama sahabat istrinya disebut dia mengurungkan niatnya untuk membalas pukulan itu.
"Rendra?". cicitnya pelan.
Dia menggeleng berusaha menyangkal apa yang ada dihadapannya .
Dia memang mengenal dua sahabat Rania tapi dia tidak mengenal laki-laki ini apalagi tubuhnya seperti itu, Rendra yang dia kenal bertubuh gemuk tapi lelaki didepannya bertubuh bagus dan berwajah tampan.
"Benar, saya Rendra sahabat Rania, kamu pasti ingat betul nama itu".
Ardi menelan salivanya bulat-bulat, dia masih ingat jelas apa yang dia janjikan kepada Tania dan juga Rendra saat akan melamar Rania waktu itu.
Melihat wajah pucat Ardi, Rendra tersenyum miring dan sangat mengejeknya.
"Kenapa?, kamu jelas ingat bukan apa yang kamu ucapkan pada kami saat kamu melamar Rania, dan baru saja Rania sudah menceritakan kebusukan kamu dan keluargamu, kamu pikir aku akan tinggal diam?".