Aluna,seorang staf admintrasi bawahan, ia tidak menyangka kalau hidupnya akan berjungkar balik dalam waktu sehari .
Mendapat tekanan dari pekerjaan, niat hati ingin berkeluh kesah dan memeluk kekasiihnya namun kenyataan pahit ia terima kekasihnya berselingkuh didepan matanya.
Dengan derai air mata ia pulang kerumah namun lagi - lagi ia mendapati pemandangan yang memilukan Ayahnya bersimbah darah karena ulah kakak tirinya .
Hidup Aluna berubah menjadi mimpi buruk dalam semalam. Ayahnya kritis akibat dianiaya oleh kakak tirinya, dan kini Aluna terancam "dijual" untuk melunasi utang judi sang kakak.
Di ambang maut, sang ayah memohon satu hal: Aluna harus segera menikah agar punya pelindung.
Masalahnya, Aluna baru saja diselingkuhi dan menyandang status jomblo . Dalam kondisi panik dan terdesak di rumah sakit, ia nekat menarik lengan seorang pemuda asing yang kebetulan lewat. "Tolong, nikahi aku sekarang!"
Bagaiman kisah Aluna selanjutnya ? siapa sebenarnya suami dadakan Aluna ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Badai Di Gudang Tua
Debu-debu yang beterbangan di dalam gudang tua itu perlahan mengendap, namun atmosfer di dalamnya justru semakin mencekam laksana karet yang ditarik hingga ambang batas putus.
Gito Si Tangan Besi menatap Elvan dengan dahi berkerut dalam. Sebagai penguasa malam di kawasan pasar induk, ia terbiasa menghadapi berbagai macam gertakan dari orang-orang yang berutang padanya.
Namun, pria yang berdiri di hadapannya saat ini memancarkan getaran yang sangat berbeda. Pakaiannya memang biasa, bahkan terkesan lusuh, tetapi cara berdiri dan sorot matanya yang setajam elang menunjukkan bahwa ia tidak memiliki rasa takut sedikit pun.
Doni, yang masih berlutut di lantai dengan wajah babak belur, mendongak dengan susah payah. Matanya yang bengkak membelalak ketika mengenali sosok Elvan.
"Kam ... kamu? Pria yang bersama Aluna semalam?" bisik Doni dengan suara serak, tidak menyangka pria yang dianggapnya hanya pemuda serabutan nekat itu berani mendatangi sarang serigala sendirian.
Gito melangkah maju, meletakkan kedua tangannya yang besar di atas sabuk kulitnya. "Jadi, kamu suami baru si Aluna? Nyalimu besar juga datang ke sini sendirian membawa koper mainan itu. Apa kamu tidak lihat anak-anak buahku di sekelilingmu?"
Elvan tidak berkedip. Ia meletakkan koper kulit hitam di tangannya ke atas sebuah peti kayu kosong di dekatnya dengan gerakan yang sangat tenang, hampir seperti seorang eksekutif yang sedang bersiap melakukan presentasi di ruang rapat mewah.
"Aku tidak punya waktu untuk berbasa-basi dengan tikus pasar," ucap Elvan, suara baritonnya yang rendah bergema kuat di dinding-dinding gudang yang tinggi. "Di dalam koper ini ada uang tunai dua ratus juta rupiah. Jumlah yang pas untuk melunasi seluruh utang judi Doni beserta bunga busuk yang kalian tetapkan."
Mendengar kata dua ratus juta rupiah, mata Gito langsung berbinar serakah. Ia memberi isyarat dengan dagunya kepada salah satu anak buahnya yang bertubuh kurus tinggi untuk memeriksa koper tersebut. Anak buah itu melangkah maju dengan hati-hati, membuka kunci koper, dan seketika itu juga terengah melihat barisan uang pecahan seratus ribu yang masih terikat rapi dengan segel bank resmi.
"Bos ... uangnya asli! Masih baru semua!" seru anak buah itu dengan suara bergetar senang.
Gito tertawa renyah, melangkah lebih dekat ke arah koper. "Luar biasa. Ternyata adik si Doni ini bisa menemukan pria yang punya simpanan uang sebanyak ini. Baguslah, utang Doni lunas." Gito menjeda kalimatnya, lalu seulas senyum licik yang menjijikkan muncul di wajahnya yang penuh bekas luka. "Tapi ... itu baru utang pokoknya, Anak Muda. Teleponku tadi pagi kan sudah bilang, ada biaya kerugian karena kalian sempat melarikan diri semalam, dan ada bunga berjalan untuk hari ini. Jadi, totalnya sekarang menjadi tiga ratus juta."
Doni yang mendengar hal itu langsung memucat. "Bos Gito ... semalam janjinya hanya dua ratus juta ..."
"Diam kamu, Bajingan!" bentak Gito, membuat Doni langsung menciut ketakutan. Gito kembali menatap Elvan dengan pandangan menantang.
"Bagaimana, Suami Baik Hati? Kalau kamu tidak bisa menyerahkan seratus juta lagi sekarang, koper ini kami ambil, dan istrimu tetap akan kami jemput sore nanti untuk membayar kekurangannya dengan tubuhnya."
Mendengar ancaman terang-terangan yang kembali diarahkan kepada Aluna, kilatan kemarahan yang tadinya tertahan di mata Elvan kini meledak menjadi hawa membunuh yang murni. Rahang kokohnya mengetat. Elvan melangkah satu tindak maju, membiarkan tubuh tegapnya berada hanya sejarak lengan dari Gito.
"Aku sudah memberikan apa yang menjadi hak kalian secara finansial," bisik Elvan, suaranya terdengar begitu dingin hingga membuat bulu kuduk Gito meremang tanpa alasan. "Tapi tampaknya, keserakahan telah membuat otak kalian berhenti berfungsi. Aku datang ke sini dengan damai untuk menyelesaikan urusan istriku, tetapi jika kamu memilih cara yang kotor ... aku akan memastikan kamu tidak akan pernah bisa menghitung uang lagi seumur hidupmu."
"Kurang ajar! Hajar dia!" bentak Gito yang merasa wibawanya diinjak-injak di depan anak buahnya sendiri.
Dua anak buah Gito yang memegang pipa besi langsung merangsek maju dari arah belakang Elvan, mengayunkan senjata mereka dengan kecepatan penuh ke arah kepala Elvan. Tanpa menoleh, Elvan mendengarkan desingan angin di belakangnya. Dengan refleks yang terlatih dari latihan militer dan beladiri tingkat tinggi kelas atas, ia merunduk rendah, menghindari ayunan pertama dengan selisih beberapa sentimeter saja.
Sebelum preman pertama sempat menarik kembali pipa besinya, Elvan berputar dengan cepat. Tangan kanannya bergerak laksana kilat, mencengkeram pergelangan tangan preman itu dan memelintirnya dengan satu sentakan brutal.
Krak!
Suara tulang yang bergeser diikuti oleh teriakan kesakitan yang melengking. Pipa besi terjatuh ke lantai semen, dan sebelum tubuh preman itu roboh, Elvan melepaskan satu tendangan samping yang telak menghantam rusuk preman kedua yang baru saja hendak menyerang. Tubuh preman kedua terlempar sejauh tiga meter, menabrak tumpukan ban bekas hingga tak sadarkan diri.
Hanya dalam waktu kurang dari sepuluh detik, dua pria bertubuh kekar telah dilumpuhkan dengan gerakan yang sangat efisien dan mematikan. Tiga anak buah Gito yang tersisa langsung menghentikan langkah mereka, menatap Elvan dengan mata terbelalak dan keringat dingin yang mulai membanjiri pelipis. Mereka menyadari bahwa pria di hadapan mereka ini bukanlah orang biasa yang bisa mereka intimidasi dengan jumlah personel.
Gito sendiri mundur dua langkah, wajah serakahnya instan digantikan oleh ketakutan yang mendalam. Ia mencoba meraih pisau belati yang terselip di pinggangnya, namun sebelum jemarinya sempat menyentuh hulu pisau, Elvan sudah berada di depannya. Tangan besar Elvan bergerak mencengkeram cengkeraman leher Gito, mengangkat tubuh pria kekar itu hingga kedua kakinya tergantung beberapa sentimeter di atas lantai.
"Lep ... lepaskan ..." Gito megap-megap, wajahnya mulai berubah menjadi keunguan karena kekurangan oksigen.
Elvan menatap Gito lurus-urus dengan mata elangnya yang kosong tanpa emosi. "Dengarkan aku dengan baik, Gito Si Tangan Besi. Nama Aluna dan keluarganya sudah bersih dari pembukuan kotormu mulai detik ini. Jika aku melihat salah satu dari wajah anak buahmu berada dalam radius satu kilometer dari rumah sakit atau kontrakan kami ... aku tidak hanya akan mematahkan tanganmu, tapi aku akan memastikan seluruh jaringan bisnismu di kota ini musnah dalam semalam. Apakah kamu paham?!"
Gito mengangguk dengan panik, air mata ketakutan mulai mengalir dari sudut matanya. Ia merasakan kekuatan cengkeraman Elvan yang sanggup meremukkan tenggorokannya kapan saja jika pria itu mau.
Elvan menghempaskan tubuh Gito ke lantai semen dengan kasar. Pria tua harimau pasar itu terbatuk-batuk hebat sambil memegangi lehernya yang memar. Elvan kemudian mengambil kembali koper hitamnya yang sempat terbuka, menutupnya dengan satu klik tegas. Ia melirik Doni yang menggigil ketakutan di sudut ruangan.
"Dan kamu, Doni," ucap Elvan dengan nada merendahkan. "Jika kamu berani mendekati Aluna lagi untuk meminta uang atau menjadikannya jaminan judi ... aku sendiri yang akan mengantarmu ke sel tahanan paling bawah dengan tuduhan percobaan pembunuhan terhadap ayahmu."
Tanpa menunggu jawaban dari para pengecut itu, Elvan berbalik dan melangkah keluar dari gudang tua dengan wibawa seorang pemenang yang mutlak, meninggalkan keheningan yang dipenuhi oleh rasa trauma yang mendalam bagi para preman pasar induk tersebut.
Sementara itu, di Ruang Dahlia Kamar 204, kepanikan Aluna telah mencapai puncaknya. Jarum jam di dinding telah bergeser menunjukkan pukul dua siang. Sudah lebih dari dua jam Elvan pergi, dan ketakutan terbesar Aluna seolah mulai menjadi kenyataan.
Aluna duduk di kursi samping tempat tidur ayahnya dengan kepala yang ditenggelamkan di atas kedua lututnya. Bahunya bergerak naik turun menahan isak tangis yang tertahan. Pikirannya benar-benar kacau.
Pengkhianatan Kafka yang masih segar di ingatan kini berbaur dengan rasa takut kehilangan Elvan, satu-satunya pria yang telah memberikannya secercah harapan di tengah badai hidupnya.
("Mas Elvan benar-benar pergi ...") batin Aluna dengan hati yang hancur berkeping-keping. ("Dia pasti sadar bahwa utang dua ratus juta itu terlalu berat. Dia pasti takut pada rentenir itu. Wajar jika dia memilih menyelamatkan dirinya sendiri. Aku memang ditakdirkan untuk menanggung penderitaan ini sendirian ...").
"Aluna ..." suara lemah Pak Kusuma kembali terdengar, membangunkan Aluna dari keterpurukannya. Pria tua itu menatap putrinya dengan tatapan penuh penyesalan. "Maafkan Ayah, Nak ... Ayah tidak bisa menjagamu ... Ayah membuatmu menderita ..."
"Tidak, Ayah. Jangan bicara begitu," Aluna buru-buru menghapus air matanya, mencoba menegakkan tubuhnya agar terlihat tegar di depan ayahnya. "Aluna tidak apa-apa. Kita pasti bisa melewati ini bersama. Kalaupun Mas Elvan tidak kembali, Aluna akan mencari cara lain. Aluna akan bekerja lebih keras lagi untuk mencicil utang itu ..."
Meskipun kata-katanya terdengar berani, di dalam hati Aluna tahu bahwa itu adalah pernyataan yang mustahil. Menghadapi rentenir tanpa perlindungan fisik sama saja dengan menyerahkan diri ke dalam lubang kehancuran.
Tepat pada saat keputusasaan Aluna berada di titik terendah, pintu kamar rawat inap didorong terbuka dengan pelan dari luar.
Aluna menoleh dengan malas, mengira itu adalah perawat yang datang untuk mengganti botol infus ayahnya. Namun, begitu pandangannya menangkap sosok tinggi besar yang melangkah masuk melintasi tirai hijau, napas Aluna mendadak tercekat di tenggorokan. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga menimbulkan rasa sakit yang aneh di dadanya.
Elvan berdiri di sana.
Pria itu tampak sedikit rapi dengan jaket jinsnya yang kembali terpasang. Di tangan kanannya, ia membawa sebuah kantong plastik putih yang mengeluarkan aroma harum teh melati hangat dan beberapa potong roti manis. Wajah tampannya terlihat begitu tenang, seolah-olah ia baru saja menyelesaikan jalan-jalan santai di taman, bukan baru saja melumpuhkan segerombolan preman pasar di gudang berdarah.
"Maaf aku terlambat," ucap Elvan dengan suara baritonnya yang lembut dan hangat, menatap Aluna dengan seulas senyum tulus yang menenangkan. "Antrean di kantin bawah sangat panjang, dan aku harus memastikan minuman ini tetap hangat saat sampai di tanganmu."
Aluna terpaku di posisinya. Ia menatap Elvan dari ujung kepala hingga ujung kaki, memastikan bahwa pria di hadapannya ini bukanlah ilusi optik akibat stres yang dialaminya. Air mata yang sejak tadi ia tahan kini tumpah kian deras, namun kali ini bukan karena ketakutan atau kesedihan, melainkan karena rasa lega dan haru yang luar biasa hebat yang membuncah di dalam dadanya.
Elvan tidak pergi. Suami misteriusnya itu telah kembali menempati janjinya untuk berdiri sebagai benteng pertahanan terakhir di hidupnya.
Babak baru perjuangan mereka kini benar-benar bersih dari bayang-bayang utang masa lalu, berkat tindakan rahasia sang penguasa yang masih menyembunyikan identitas aslinya demi cinta yang mulai tumbuh di balik dinding rumah sakit.