Kirana adalah gadis pekerja keras yang hidup sederhana, rela lembur sampai larut malam demi menabung untuk masa depan yang lebih baik. Suatu malam saat hujan deras mengguyur kota, ia melihat seekor anak kucing terlantar di tengah jalan. Tanpa ragu ia menolongnya, namun justru ia yang tertabrak truk melaju kencang. Di detik-detik terakhir hidupnya, Kirana memohon dengan sekuat tenaga agar diberi kesempatan hidup sekali lagi.
Saat terbangun, ia tidak lagi berada di jalan raya atau rumah sakit. Ia kini menempati tubuh Elena—istri dari Leonid, seorang pemimpin kelompok mafia yang ditakuti banyak orang. Elena asli dikenal wanita yang licik, kejam pada anak kandungnya sendiri yang baru berusia empat tahun bernama Alvaro, serta diam-diam menjalin hubungan gelap dan merencanakan pelarian membawa harta suaminya.
Kini Kirana harus bertahan hidup dengan menyamar sebagai Elena. Ia berj
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ocha Via, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jejak yang Makin Jelas
Bab 13
Keesokan paginya, udara masih terasa sejuk namun ada ketegangan halus yang menyelimuti rumah besar itu. Kematian Rian tanpa jejak jelas menjadi tanda bahwa musuh yang mereka hadapi bukan sekadar orang biasa seseorang yang memiliki akses, kekuasaan, dan keberanian untuk melangkah bahkan di bawah pengawasan ketat Leonid.
Elena sedang menyisir rambut Alvaro di kamar saat Leonid masuk perlahan. Wajahnya tak sekeras biasanya, namun sorot matanya tajam seolah sudah merangkai potongan-potongan teka-teki yang lama hilang.
"Aku memeriksa kembali catatan keuangan dan orang-orang yang dulu dekat dengan Elena," ucapnya pelan setelah Alvaro berlari keluar kamar mengejar bola mainannya. "Ada nama yang terus muncul. Seseorang yang dulu sering mendekati Elena di belakangku, tapi selalu berhasil menutupi jejaknya."
Elena menelan ludah. "Siapa?"
"Damian," jawab Leonid singkat. "Sepupuku sendiri. Orang yang selama ini kukira setia, ternyata diam-diam menginginkan posisiku. Dan Elena... dia dulu sering bertemu dengannya tanpa sepengetahuanku."
Darah Elena berdesir hebat. Ia ingat samar-samar dari ingatan Elena asli seorang pria yang selalu tersenyum manis, yang selalu memuji kecantikannya, yang membisikkan bahwa Leonid tidak pantas memilikinya. Ia yang mendekatkan Elena pada Rian, yang merencanakan semuanya dari balik layar.
"Kau yakin?" suaranya bergetar.
"Semua bukti mengarah ke sana," Leonid mengangguk berat. "Dan kematian Rian... itu caranya memastikan tidak ada yang bisa membocorkan rahasia. Dia ingin aku jatuh, ingin mengambil alih semuanya, dan kau... kau hanyalah alat yang ia gunakan."
Elena terduduk lemas di tepi tempat tidur. Selama ini ia mengira Rian adalah sumber segalanya, padahal ia hanyalah pion dalam permainan besar sepupu Leonid. Dan yang paling menyakitkan Elena asli terlibat begitu dalam, tertipu oleh janji manis yang sebenarnya hanyalah jebakan.
"Maafkan aku..." bisiknya tanpa sadar. "Maafkan aku karena pernah mempercayainya..."
Leonid segera duduk di sampingnya, merangkul bahu wanita itu erat. "Itu bukan salahmu sekarang. Kau bukan lagi wanita yang mudah ditipu. Dan dia salah besar jika mengira kau masih bisa ia kendalikan."
Siang itu, Damian datang berkunjung seolah tak terjadi apa-apa. Ia tersenyum lebar, menyapa ramah, bahkan menyalami Leonid seolah mereka bersahabat baik. Namun saat matanya bertemu dengan Elena, ada kilatan tajam yang tak sempat disembunyika
kilatan kemarahan karena alat yang ia kira sudah di tangan, kini berbalik arah.
"Kabar baik, Kakak? Elena terlihat jauh lebih segar akhir-akhir ini," ucapnya manis.
"Kami baik-baik saja," jawab Leonid datar. "Dan Elena memang sedang berusaha memperbaiki diri."
"Syukurlah," Damian tertawa kecil, lalu menatap Elena sejenak. "Kau terasa berbeda, Elena. Seperti ada yang hilang dari dirimu yang dulu."
Elena menatapnya tenang, meski jantungnya berdegup kencang. "Mungkin karena aku sudah mulai melihat mana yang benar dan mana yang salah."
Senyum Damian sedikit bergetar, namun ia segera menutupinya. "Tentu saja. Semoga kebaikan tetap menyertai kalian."
Setelah pria itu pergi, Leonid langsung berbicara tegas. "Dia tahu. Dia sadar kau bukan lagi seperti dulu. Dan dia akan berusaha menghancurkan kita sebelum kau sempat mengungkap semuanya."
"Maka kita harus bergerak lebih cepat," jawab Elena mantap. "Kita kumpulkan semua bukti. Kita pastikan dia tidak bisa lari lagi."
Malam harinya, saat rumah mulai hening, Elena diam-diam mencari tempat persembunyian barang-barang rahasia Elena asli. Berdasarkan ingatan yang samar, ia menemukan sebuah kotak besi di dasar lemari tersembunyi. Di dalamnya terdapat surat-surat perjanjian, catatan pembagian harta, dan rekaman percakapan yang menyebutkan dengan jelas rencana Damian untuk menyingkirkan Leonid dan mengambil alih kepemimpinan.
Saat ia menyerahkan semuanya pada Leonid, pria itu memegang dokumen itu dengan tangan yang sedikit bergetar bukan karena takut, tapi karena kekecewaan mendalam pada darah dagingnya sendiri.
"Dia mengira dia pintar menyembunyikan jejak," ucap Leonid dingin. "Tapi dia lupa... kau berubah menjadi wanita yang berani melawan kesalahan."
Malam itu mereka tidak tidur. Mereka menyusun rencana bagaimana menjebak Damian saat ia bergerak selanjutnya, bagaimana memastikan ia tidak bisa lari lagi. Di sela-sela kesibukan itu, Leonid menatap Elena lekat-lekat.
"Kau melakukan ini semua demi kami," ucapnya pelan. "Demi Alvaro dan aku. Terima kasih."
Elena menatapnya balik, hati penuh perasaan yang tak bisa diucapkan. "Aku melakukan ini karena kalian adalah rumahku sekarang. Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun membakar rumah ini."
Di luar sana, angin malam bertiup kencang seolah membawa pertanda bahwa pertarungan terakhir sudah di depan mata. Namun kali ini, Elena tidak merasa sendirian. Ia berdiri tegak di samping pria yang mulai ia cintai, dan siap menghadapi siapa pun yang berani mengancam dunia kecil yang kini ia bangun kembali.
Bersambung...