Di desa xixiang, seluruh penduduk tahu bahwa keluarga Zhao baru saja memungut seorang gadis kecil. Gadis itu berusia tiga tahun, berkulit putih dan bertubuh montok menggemaskan. semua orang berkata bahwa anak perempuan hanyalah beban merugikan. namun keluarga Zhao justru memperlakukan nya bagai permata berharga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Salsabila mbil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Tangan kecil bayi gingseng itu dengan nakal memainkan rambut di kepalanya sendiri, sementara tubuh mungilnya menggeliat tak bisa diam di pelukan Wang chunniang. Ia sangat menyukai aroma tubuh Wang chunniang yang manis.
"Nah, kamu namanya A Bao, kamu datang dari mana?" tanya Wang chunniang lagi, berusaha keras menahan senyum agar tidak terlalu lebar.
Dulu saat aku melahirkan Zhao Xuan, ia sedang ikut berperang bersama pasukan. Akibatnya, setelah melahirkan putranya, kesehatan menurun. Ia selalu menginginkan anak perempuan. Siapa sangka, sekarang impian itu terwujud dengan cara yang begitu ajaib.
A Bao kecil terlihat seperti anak usia dua atau tiga tahun. Ia menggaruk-garuk kepalanya, lalu menyeringai lebar dan menjawab, "ibu yang memungut ku dari sungai!"
"Kalau ini siapa?" Wang chunniang menunjuk Zhao Xuan.
" kakak "seru A Bao dengan riang.
" Kalau yang ini?" Wang chunniang menunjuk Zhao Heng yang duduk disamping dengan wajah tanpa ekspresi,bahkan terlihat agak menyeramkan.
"Ayah" Jawab si kecil dengan gembira.
"ingat,mulai hari ini, jangan pernah cerita pada siapapun kalau kamu adalah gingseng kecil, mengerti?" Wang chunniang tak tahan untuk mengingatkan lagi.
A Bao mengangguk patuh.
"Xuan'er suapi A Bao makan. Ibu mau pergi ke pasar. Kalau ada yang mengetuk pintu, jangan dibuka." setelah selesai berkemas,Wang chunniang menggenggam tangan Zhao Heng yang sedari tadi diam saja. Suaranya terdengar lebih lembur dari sebelumnya.
" suamiku aku berangkat dulu."
Zhao Heng bergumam mengiyakan. Ia tak banyak bicara,tapi tangannya balas menggenggam erat tangan Wang chunniang.
Begitu Wang chunniang pergi, Zhao Xuan segera mengambil semangkuk bubur telur di sampingnya. Ia memegang sendok, bersiap menyuapi A Bao.
Tapi sikecil itu terus menggeliat geliat tidak mau duduk diam.
"hmmm" Zhao Xuan berdiri di tepi kang, mengulurkan tangan memegang sendok untuk menyuapi.
" kakak,disini keras sekali, aku mau pindah tempat duduk." kata si kecil sambil menepuk-nepuk permukaan kang dengan tangan mungilnya.
Remaja laki-laki itu beradaptasi dengan sangat baik terhadap kehadiran adik barunya ini. Sambil memegang mangkuk,ia menatap si kecil yang sedang merangkak kesana kemari di atas kang dan bertanya, "Kamu mau duduk dimana?"
A Bao tidak menjawab,dengan kaki pendeknya,ia merangkak cepat mendekati Zhao Heng. Tanpa meminta persetujuan Zhao Heng,ia langsung memanjat naik ke atas pangkuan ayahnya itu. kuncir kecil di kepalanya bergoyang-goyang lucu.
Zhao Xuan...
"Ayah.." Zhao Xuan takut emosi ayahnya tidak terkendali. Sejak ayahnya buta akibat serangan diam-diam orang kepercayaan di Medan perang,lalu meninggalkan ibu kota dan pindah ke desa pegunungan kecil ini,emosi ayahnya semakin hari semakin suram. Bagaikan pohon besar yang bengkok siambar petir,ia tak pernah bisa tegak kembali.
Sialnya, saat itu mulut kecilnya A Bao mencibir,dan sesendok bubur telur jatuh tepat di punggung tangan Zhao Heng.
Seketika suasana di dalam ruangan membeku..
Zhao Xuan membatin: ayahnya memang buta tapi tidak mati rasa...
"Minggir!" detik berikutnya suara dingin Zhao Heng terdengar.
"Tidak mau". A Bao menggeserkan pantat kecilnya sama sekali tidak ada tanda-tanda mau pergi.
Zhao Xuan baru saja hendak bicara, A Bao sudah membuka mulutnya lebar-lebar "Kakak,mau telur lagi!"
Zhao Xuan terpaksa lanjut menyuapi adiknya. Namun matanya terus mengawasi noda bubur telur yang menempel di punggung tangan Zhao Heng.
Lalu,ia melihat ayahnya mengibaskan tangan untuk membuang bubur itu. Karena tenaga kibasan tangannya terlalu kuat,bayi kecil yang sedang bergelayut di lengannya pun ikut terlempar.
Melihat tubuh gemuk itu melayang di udara, Zhao Xuan tak memperdulikan mangkuk di tangannya lagi. Dengan lompatan ringan namun gerakan panik,ia berhasil menangkap A Bao yang wajahnya sudah lucat pasi karena ketakutan. Sementara itu, mangkuk berisi bubur telur jatuh ke lantai dan pecah berkeping-keping.
"Huaaaa ... Tangisan A Bao pun menggema di seluruh ruangan.
Zhao Heng tidak bisa melihat. Ia duduk di sana,sepasang matanya yang kosong menyiratkan sedikit rasa bingung dan tak berdaya.
" ayah.. Ayah.. Mau melempar A Bao. Ayah mau membunuh A Bao." si kecil benar-benar ketakutan. ia hanya ingin bersandar di pelukan ayahnya,siapa sangka.. Tenaga Zhao Heng begitu besar. Hanya dengan sekali angkat tangan,ia hampir melemparnya menjadi bubur.
" lalu kamu maunya apa?" setelah hening cukup lama, akhirnya Zhao Heng mengeluarkan sepatah kata. Zhao Xuan yang berdiri disamping merasa ucapan ayahnya itu terdengar sedikit pasrah.
***
Hari ini kebetulan adalah hari pasar besar di kota jembatan yang jatuh pada setiap tanggal dua dan tujuh. Wang chunniang memilih beberapa kain murah namun cukup nyaman. Rencananya akan dibuatkan untuk baju bagi A Bao. Saat melewati kios daging babi,ia sempat ragu beberapa kali,namun akhirnya memutuskan membeli satu kati daging.
Namun,saat hendak meninggalkan pasar,ia merasa seperti ada seseorang yang mengikutinya. Kilatan dingin muncul dimatanya. Ia sengaja berjalan memutar-mutar membawa barang belanjaannya,dan dengan cepat berhasil menghilangkan jejak penguntit itu.
Saat ia kembali ke rumah dan menutup pintu,ia sempat mengucek matanya, seolah memastikan apakah pemandangan didepannya ini nyata atau tidak.
Di halaman, Zhao Heng duduk di kursi dengan wajah tanpa ekspresi sambil memejamkan mata beristirahat. Yang tidak wajar adalah,di punggungnya ada seorang bayi gemuk yang sedang memanjat. Tangan bayi itu bahkan sedang asyik mengepang rambut Zhao Heng.
"xuan'er?" Wang chunniang memberi isyarat mata pada Zhao Xuan yang berjaga disamping A Bao.
Sejak matanya terluka, semangat hidup Zhao Heng seolah terkuras habis. Emosinya pun menjadi aneh dan mudah marah, sering kali tidak mau di sentuh oleh orang lain. Kenapa sekarang... Dia begitu pasrah di permainkan oleh bayi gemuk ini?
Zhao Heng rupanya sudah sadar bahwa istrinya sudah pulang. Ia membuka mata dan berkata dengan nada tidak sabar, "sudah puas mainnya? Turun!"
A Bao baru saja menyelesaikan kepangan yang kesepuluh. Mendengar ucapan Zhao Heng,ia langsung menangis keras. Tangan gemuknya terulur ke arah Wang chunniang, "ibu,ayah baru saja melempar aku, ayah mau membunuh ku".
Zhao Heng tiba-tiba berdiri. Buk! A Bao pun meluncur turun dari punggung Zhao Heng... Dan sepertinya akan jatuh terduduk dengan keras.
"Huwaaa .... Ayah mau melempar ku sampai gepeng seperti kue telur!" teriak si bayi gemuk yang untungnya berhasil ditangkap oleh Wang chunniang.
Zhao Heng mengibaskan lengan bajunya,lalu melontarkan satu kata tajam dari mulutnya, "pengacau."
***
Beberapa tahun terakhir ini, penyakit mata Zhao Heng ibarat lubang tanpa dasar. Uang yang di dapat selalu cepat habis,namun matanya tak kunjung membaik.
Gara-gara urusan A Bao,Wang chunniang sekeluarga beristirahat di rumah selama beberapa hari untuk mempersiapkan keperluan si kecil. Namun kondisi ekonomi keluarga tidak memungkinkan mereka beristirahat lebih lama, apalagi sekarang ada satu mulut tambahan yang harus diberi makan.
Meski sekarang awal musim semi,udara masih terasa dingin. Pagi-pagi sekali, Wang chunniang menjajalkan bakpao isi sayur liar ke tangan kedua anaknya,lalu membawa seluruh keluarga untuk naik ke gunung.
Demi kemudahan, Wang chunniang menggandeng tangan Zhao Heng. Sementara Zhao Xuan menggendong A Bao di dalam keranjang punggung.
Sepanjang jalan, penduduk desa xixiang melihat pemandangan menggemaskan. Seorang bayi gemuk meringkuk di dalam keranjang punggung sambil menggerogoti bakpao. Pipinya menggembung lucu,dan kuncir kecil di kepalanya bergoyang-goyang.