Bara Adikara, tumbuh dengan kebencian setelah perselingkuhan ayahnya. Ibunya meninggal dan hidupnya hancur. Ia akan terus disiksa jika tak mau menurut pada peraturan sang ayah. Begitu dewasa, Bara pun menjelma menjadi sosok yang keras dan dingin. Ia berpura-pura menjadi pecundang bodoh yang tak peduli pada semuanya. Tanpa seorangpun tahu kalau sebenarnya Bara sedang merencanakan sebuah balas dendam. Ia akan merebut semua milik ibunya, rumah dan perusahaan. Selain itu, ia juga akan menghancurkan wanita yang sudah membuat keluarganya hancur, dengan memanfaatkan anaknya. Andrea Willona, gadis itu akan Bara hancurkan, tapi disaat hati mulai ikut campur, benarkah semua akan tetap pada alurnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon El khiyori, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Kelegapan malam di koridor rumah Adikara perlahan melarut bersama sisa gairah yang membeku. Semua itu menjadi tekad dingin di dada Bara. Setelah malam yang mendebarkan di kamar Andrea, gadis yang baru saja ia ketahui memegang surat wasiat ibunya, sebagai bukti, betapa ibunya percaya pada anak sahabatnya itu. Pada akhirnya Bara sadar ia harus merombak beberapa strategi permainannya.
Ia tak akan bertindak gegabah. Ia harus membuat Andrea benar-benar bertekuk lutut di bawah kakinya, karena target utamanya kini tak hanya perebutab kekuasaan dan rumah. Bukan hanya sekedar melumpuhkan Selina, wanita yang merebut kebahagiaan ibunya, tapi wanita itu harus membayar mahal atas semuanya. Andrea adalah umpan paling sempurna yang ia miliki.
Keesokan harinya, atmosfer di rumah megah itu kembali normal bagi orang luar, namun terasa begitu mencekam bagi Andrea. Saat turun ke ruang makan untuk sarapan, Andrea mendapati Bara yang sudah duduk di sana lebih dulu.
Pria itu tampak sangat rapi dengan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga ke siku. Wajahnya datar, tegas, dan dingin seperti biasanya. Ekspresinya sama sekali tidak menyiratkan bahwa dialah pria yang semalam menyentuhnya hingga membuat akal sehatnya lenyap tak berbekas.
"Selamat pagi," sapa Andrea dengan suara yang sedikit bergetar. Sorot matanya mencuri pandang ke arah bahu tegap Bara. Jantungnya langsung berdebar-debar mengingat bagaimana jemarinya meremas otot keras itu tadi malam.
Akan tetapi, yang terjadi pagi ini, Bara hanya meliriknya sekilas lewat sudut mata, lalu kembali fokus pada layar ponselnya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Sikap abai itu seperti siraman air es yang membekukan harapan Andrea.
Di depan Selina dan Pak Danu, Bara kembali menjadi sosok yang tak tersentuh, angkuh, dan penuh dinding pembatas. Sikap tegas dan dinginnya ini membuat Andrea kian didera rasa penasaran yang menyiksa. Bagaimana bisa seorang pria berubah menjadi monster yang begitu penuh gairah saat hanya berdua dengannya, lalu kembali menjadi patung es saat di depan orang-orang.
"Bara, nanti malam temani Mama ke acara makan malam relasi bisnis Papa," ujar Selina sambil tersenyum manis, mencoba mencairkan ketegangan yang tampak begitu kentara di wajah putrinya.
"Aku sibuk," jawab Bara pendek, suaranya tegas tanpa ruang untuk negosiasi. Ia langsung berdiri, meneguk sisa kopinya, dan melangkah pergi tanpa pamit. Ketegasannya yang seperti itu membuat Selina hanya bisa menggigit bibir menahan kesal.
Namun, ketegasan dan penolakan Bara di depan umum itu hanyalah bagian dari manipulasinya. Bara sengaja menciptakan jarak yang lebar di siang hari agar saat mereka hanya berdua, efek kedekatan mereka akan menjadi sepuluh kali lipat lebih mematikan bagi psikologis Andrea.
Ia sedang memainkan emosi gadis polos itu, membuatnya merasa diabaikan, sebelum kemudian menariknya kembali ke dalam pusaran kehangatan yang semu.
Sore harinya di kampus, hujan kembali membasahi area fakultas seni. Kebanyakan mahasiswa sudah pulang, menyisakan koridor-koridor sepi yang remang. Andrea sedang membereskan peralatan lukisnya di ruang loker yang terletak di ujung koridor yang sunyi, ketika tiba-tiba lampu ruangan itu padam akibat korsleting listrik. Saat ini, di luar memang sedang hujan deras yang disertai angin.
Andrea terpekik kecil karena terkejut. Ia juga mulai takut karena situasi menjadi gelap gulita, dan kegelapan seketika memicu trauma kecil dari peristiwa di awal ia datang ke kampus. "Halo? Ada orang?!" serunya dengan suara bergetar.
Klek.
Setelah teriakannya berhenti, pintu galeri terdengar tertutup pelan, dan sebuah siluet tubuh tinggi besar tegap menutup satu-satunya jalan keluar. Dari aroma maskulin bercampur mint yang sangat familiar, Andrea tahu siapa yang datang bahkan sebelum pria itu bersuara.
"Kak ... Bara?"
Tanpa aba-aba, dalam kegelapan yang pekat, Bara melangkah maju dan langsung menyudutkan tubuh Andrea ke deretan loker besi. Suara dentingan loker yang terbentur oleh punggung Andrea bergema samar di ruangan itu.
Kedua tangan Bara kini mengunci di sisi kepala Andrea, mengurungnya dalam kehangatan tubuhnya yang kontras dengan udara dingin di dalam ruangan.
"Kenapa di rumah kamu terus menatapku, hmm?" bisik Bara. Suaranya di tempat sepi seperti ini berubah drastis. Pria itu tidak lagi dingin seperti saat berada di meja makan pagi tadi, melainkan penuh hasrat dan bergelora dengan nada merayu yang berbahaya.
Napas hangat Bara yang menerpa permukaan kulit wajah Andrea seketika membuat bulu kuduk Andrea meremang. Rasa panas dan geli yang semalam ia rasakan kembali menjalar dengan cepat, membuat lututnya mendadak lemas. "Kak .... " lirihnya yang merasa malu sekaligus takut.
"Hm?" sahut Bara.
"A-aku tidak .... "
"Kamu berbohong Andrea," potong Bara, wajahnya semakin mendekat hingga bibirnya menyentuh daun telinga Andrea secara sengaja. "Matamu selalu mencariku. Kamu penasaran dengan sentuhanku yang semalam kan?"
"Kak Bara, jangan begini ... i-ini di kampus," rintih Andrea lemah. Kedua tangannya bertumpu pada dada Bara yang terbalut kemeja, namun alih-alih mendorong, jemarinya justru meremas kain kemeja itu karena tubuhnya kehilangan daya. Kewarasannya kembali lumpuh total di bawah pesona manipulatif Bara.
Bara terkekeh rendah, suara tawa yang keluar dari bibirnya begitu terdengar maskulin. Kini tangan kanannya mulai merayap turun menelusuri tubuh Andrea. Sebelum akhirnya melingkari pinggang wanita itu dengan erat.
Dalam sekejap tangan kokohnya sudah menarik tubuh gadis itu hingga menempel sempurna pada tubuh kekarnya. Dari balik pakaian mereka, Andrea bisa merasakan detak jantung Bara yang berdegup kencang, memberinya ilusi seolah-olah pria ini juga memiliki perasaan yang sama besarnya dengannya.
Bara memanfaatkan kepolosan dan rasa penasaran Andrea untuk menanamkan jerat cinta yang semakin dalam. Ia menunduk, mengecup sudut bibir Andrea dengan lembut, membuainya dengan kehangatan yang palsu namun terasa begitu nyata bagi Andrea. Setiap lumatan lembut yang diberikan Bara di lehernya malam ini sengaja dirancang untuk membuat Andrea semakin bergantung dan jatuh cinta padanya.
"Jatuh cintalah padaku, Andrea .... " bisik Bara di dalam hati dengan kilat mata yang kejam di balik kegelapan. "Semakin dalam kamu mencintaiku, semakin hancur ibumu saat melihatku mengambil semua darinya lewat dirimu."
Andrea yang sudah terbuai sepenuhnya hanya bisa mendesah pasrah. Ia justru semakin merapatkan tubuhnya pada tubuh Bara, tanpa menyadari bahwa setiap gerakan mendebarkan yang membuatnya panas dingin ini adalah bagian dari rencana besar Bara untuk menghantarkan Selina menuju kehancurannya yang paling dalam.
"Kak .... " lirih Andrea saat satu tangan Bara tiba-tiba masuk ke dalam T-shirt pres body bermotif salur yang ia kenakan.
"Stt ... nikmati saja, aku tidak akan menyakitimu."
"Kak!!" pekik Andrea saat T-shirtnya ditarik ke atas dengan gerakan cepat. Kini dua bulatan di dadanya terekspose sempurna di depan wajah Bara. Membuat raut wajah Andrea merona karena gugup dan malu, tapi Bara tak bisa dicegah.
Sentuhannya yang memabukkan membuat tubuh Andrea mulai kehilangan kendali, apalagi saat bagian sensitif di dadanya itu dipermainkan tanpa berlapis apapun. Tak ada suara lain yang keluar dari bibirnya selain de sa han dan getaran.