Dua minggu sebelum pernikahan, dunia Larasati runtuh saat memergoki Arjuna, tunangan sekaligus pacar pertamanya yang ternyata sudah menghamili wanita lain.
Tanpa air mata, Larasati melempar cincin dan membatalkan pernikahan demi harga diri. Namun, pengkhianatan itu justru membawa Larasati ke pelukan Dewa Dirgantara, CEO konglomerat tempatnya bekerja yang siap pasang badan melindunginya.
Sementara itu, Arjuna menyesal bersama selingkuhannya yang tinggal di sebuah rumah kecil.
Sanggupkah Larasati menyembuhkan lukanya demi cinta Dewa? Dan bagaimanakah akhir dari penyesalan sang mantan tunangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Umma Khummaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Keesokan paginya, Larasati terbangun dari tidurnya yang nyenyak. Ia membuka matanya perlahan, merasakan badannya yang kini terasa jauh lebih ringan dan segar. Demamnya sudah turun sepenuhnya.
Saat Larasati bangkit berdiri dan melangkah keluar dari kamar menuju ruang tamu, langkah kakinya seketika terhenti. Jantungnya serasa mau lompat dari tempatnya.
Di atas sofa panjang miliknya, Dewa Dirgantara sedang duduk tegak sembari menatap layar ponselnya. Kemeja berbahan linen warna putih yang dipakainya tampak sedikit kusut, dan beberapa kancing atasnya terbuka, menampilkan kesan kemaskulinannya. Pria itu rela berjaga semalaman di sana demi memastikan kondisi Larasati aman.
Dewa mendongak, menatap wajah Larasati yang kini merona karena salah tingkah. "Kamu sudah bangun, Laras? Bagaimana keadaanmu? Apakah kepalamu masih pusing?" Dewa mencecar pertanyaan kepada Larasati, suara baritonnya yang khas terdengar begitu hangat di pagi hari.
"Sudah... Pak Dewa, saya sudah jauh lebih baik. Semalam... terima kasih banyak dan maaf saya sudah sangat merepotkan Anda." ucap Larasati pelan, ia meremas ujung dasternya dengan perasaan segan yang luar biasa.
Dewa bangkit berdiri lalu melangkah mendekat. Dengan punggung tangannya, ia menyentuh sekilas dahi Larasati. Setelah memastikan suhu tubuh wanita itu telah kembali normal, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis.
"Tidak ada kata merepotkan, Larasati. Syukurlah, suhu tubuhmu sudah normal." ucap Dewa. Ia merapikan kerah kemejanya yang sedikit kusut sebelum menatap lekat mata indah Larasati. "Bersiaplah untuk membersihkan diri. Tiga puluh menit lagi, asisten rumah tangga dari mansion saya akan datang mengantarkan menu sarapan pagi khusus dan beberapa vitamin untukmu. Saya harus kembali ke rumah sebentar untuk berganti pakaian formal sebelum memimpin rapat direksi pagi ini."
"Baik, Pak Dewa."
Larasati terpaku menatap Dewa yang tampak lelah, namun tetap memancarkan aura kepemimpinannya.
"Lalu... Pak Dewa kan belum sarapan?"
Dewa terkekeh pelan, seketika membuat detak jantung Larasati bergemuruh indah. Ia pun menghampiri Larasati, lalu mengusap rambutnya dengan sangat lembut dan penuh kasih sayang. "Saya akan sarapan di kantor nanti. Pastikan kamu menghabiskan makananmu dan hari ini jangan berani-berani menginjakkan kaki di kantor pagi-pagi. Datanglah pada siang harinya. Mengerti?"
Wajah Larasati mendadak merah padam mendengar perhatian yang begitu posesif. Ia hanya bisa mengangguk patuh.
Dewa menatapnya sekali lagi sebelum akhirnya melangkah keluar dari unit apartemen dengan langkahnya yang tegap, meninggalkan Larasati yang sedang berdiri memegang dadanya yang terasa begitu hangat.
Tanpa sadar, senyum kecil terukir di bibirnya, mengingat perhatian yang diberikan pria itu sejak semalam.
Ia mengembuskan napas pelan, lalu berbalik menuju kamarnya untuk bersiap mandi.
Air hangat yang membasahi tubuhnya membuat sisa-sisa rasa lelahnya sejak semalam terhapus sudah. Setelah selesai mandi, ia berdiri di depan cermin sambil mengeringkan rambut panjangnya menggunakan hair dryer. Sesekali ia menatap pantulan wajah cantiknya yang jauh lebih segar dibanding malam tadi.
Tak lama kemudian...
Ting tong...
Suara bel apartemen terdengar nyaring dari arah pintu depan.
Larasati mematikan pengering rambutnya, lalu merapikan rambut yang masih sedikit lembap dengan jemarinya. Setelah memastikan penampilannya cukup rapi, ia melangkah menuju pintu dan membukanya perlahan. Ternyata, seorang perempuan paruh baya mengenakan seragam rapi berdiri sambil membawa dua kantong belanja.
"Selamat pagi, Mbak Larasati." Perempuan paruh baya itu tersenyum ramah sambil sedikit membungkukkan badan. "Saya Siti, asisten rumah tangga dari kediaman Pak Dewa. Beliau meminta saya mengantarkan sarapan dan vitamin untuk Mbak."
"Oh... silakan masuk, Bu." Larasati bergeser ke samping seraya membukakan jalan.
"Terima kasih." Bu Siti mengangguk sopan sebelum melangkah masuk ke dalam apartemen.
Ia meletakkan satu per satu kotak makanan, termos minuman hangat, dan kantong berisi vitamin di atas meja makan dengan hati-hati.
"Pak Dewa juga berpesan agar Mbak benar-benar menghabiskan makanannya dan meminum vitamin ini." Siti merapikan letak kotak makanan itu, lalu menoleh sambil tersenyum hangat.
Larasati tersenyum menerima perhatian sebesar itu.
"Terima kasih banyak, Bu Siti."
"Iya, Mbak." Siti mengangguk sopan. "Kalau begitu saya pamit dulu. Semoga Mbak lekas pulih."
"Terima kasih, Bu. Hati-hati di jalan."
Setelah mengantar Bu Siti sampai ke depan pintu, Larasati kembali ke ruang makan. Ia duduk perlahan, lalu menikmati sarapan yang telah disiapkan sambil meminum vitamin yang ditinggalkan untuknya.
Sesuai pesan Dewa, pagi itu Larasati kembali mengistirahatkan tubuhnya. Ia memilih berbaring sejenak setelah sarapan, membiarkan tubuhnya terus memulihkan tenaga yang sempat terkuras.
Menjelang siang, kondisi Larasati sudah benar-benar fit.
Setelah memastikan dirinya benar-benar siap, Larasati berganti pakaian kerja dan berangkat menuju ke kantor.
Walaupun proyek bersama Pak Surya sedang memasuki tahap akhir yang sangat padat, kali ini ia memilih mengikuti permintaan Dewa untuk tidak memaksakan diri datang sejak pagi.
Baginya, datang setengah hari sudah lebih dari cukup untuk kembali mendampingi timnya menyelesaikan setiap pekerjaan yang masih menanti.
tadi diawal ngomongnya manis bet ke Selly.
sekarang ditinggal Laras ngomongnya manis ke laras. hadeuh🤭🤭
bagus lah kalian pasang yg cocok sama" bobrok