NovelToon NovelToon
Gairah Musuhku

Gairah Musuhku

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Perjodohan / Teen / Nikahmuda / Enemy to Lovers
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: HyMaira

Emily, Ratu Jalanan sekaligus ketua geng Sport Queen, dipaksa memilih antara masuk pesantren atau menikah setelah terus membuat orang tuanya khawatir. Tak disangka, pria yang dijodohkan dengannya adalah Reyze, ketua geng rival Black Lion Riders sekaligus musuh bebuyutannya.

Meski saling membenci, mereka terpaksa menikah diam-diam dan merahasiakan status mereka. Di depan publik mereka tetap rival, tetapi di balik pintu rumah harus belajar hidup sebagai suami istri.

Saat Emily masih terikat dengan pacarnya dan persaingan di dunia balap berubah menjadi ancaman mematikan, Emily dan Rey harus memilih: mempertahankan permusuhan atau memperjuangkan cinta yang perlahan tumbuh di antara mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HyMaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

18

Di lapangan, suara bola memantul ke lantai kayu terdengar berulang-ulang. Sorak-sorai mahasiswa yang menonton latihan ikut menambah semangat tim.

Rey mengambil posisi guard, tubuhnya lincah menembus pertahanan lawan. Gerakan cepatnya membuat bola selalu aman di tangannya.

“Nice pass, Bos!” seru Ezra ketika menerima operan kilat dari Rey. Dengan mudah Ezra melakukan lay up, dan bola masuk mulus.

Tama yang bertugas sebagai forward tak mau kalah. Ia berhasil menahan serangan tim lawan dengan defense ketatnya, membuat penonton bertepuk tangan.

“Gila, Tama kalau udah jaga nggak ada yang bisa lolos,” celetuk Dion sambil ikut berlari mengejar bola.

Bara justru jadi sorotan karena gaya bermainnya yang penuh tenaga. Sesekali dia sengaja melakukan dunk keras hanya untuk memancing teriakan kagum dari tribun.

“Wooooo!!! Bara ganteng banget!!!” teriak beberapa mahasiswi, membuatnya tersenyum puas.

Gio tampil lebih tenang tapi efektif. Operannya rapi, gerakannya presisi, seakan semua pemain lain lebih mudah bergerak karena ritmenya Gio.

Nael justru mencuri perhatian lewat akurasi tembakannya. Berkali-kali ia melepaskan three point dari luar garis, dan sebagian besar masuk bersih tanpa menyentuh ring.

“Anjir, three point mulu! Nael lo emang sniper!” timpal Fata sambil memberi tos keras setelah bola masuk lagi.

Dion tak mau ketinggalan, ia memamerkan kelincahannya dalam dribble. Beberapa kali ia sengaja “ngibulin” lawan dengan crossover, bikin penonton teriak heboh.

“Woy Dion, sok freestyle banget lo,” sahut Ezra, tapi ikut ngakak.

Suasana latihan terasa seperti pertandingan sungguhan. Peluh membasahi tubuh mereka, tapi aura percaya diri tiap pemain justru semakin terpancar.

Dari tribun, banyak mahasiswi berteriak histeris, berebut menyebut nama masing-masing idola. Emily yang duduk di antara Nara, Ziva, dan Caca hanya terdiam, matanya mengikuti setiap gerakan Rey.

Tak bisa dipungkiri, dalam diamnya ia kagum. Cara Rey menggiring bola, lalu melepaskan tembakan yang masuk sempurna, membuat dadanya berdesir.

Namun, ia buru-buru mengalihkan pandangan, pura-pura fokus ngobrol dengan Ziva.

“Gila, tampan-tampan banget sih mereka kalau udah di lapangan,” celetuk Nara dengan wajah berbinar.

“Bukan tampan doang, lihai semua,” timpal Caca sambil tepuk tangan keras.

Emily tersenyum tipis. Hanya dia yang tahu, pemain paling memesona di lapangan itu—adalah suaminya sendiri.

Di lapangan, suara bola memantul ke lantai kayu masih  bergema. Tim Rey sudah panas, tiap gerakan makin bertenaga.

Rey menggiring bola cepat, melewati dua lawan, lalu melepaskan jump shot yang mulus masuk ke ring. Tepat setelah itu, teriakan dari tribun langsung pecah.

“Reyyy ganteng banget!! Gue makin cinta looo!!” teriak Elea dengan suara melengking, sampai penonton lain nengok.

Sinta nggak mau kalah, “bara itu buat aku kan? Tolong lambaikan tangan ke aku!”

Alice malah berdiri dari kursinya, “REY!!! Gue rela jadi cewek manager lo, sumpahhh!!”

Beberapa mahasiswa lain ketawa melihat kelakuan geng itu, tapi ada juga yang ikutan teriak karena permainan Rey memang memukau.

Ezra yang lagi siap-siap melempar bola sempat nyengir, “Woy Bos, fans lo makin gila tuh.”

Rey cuma geleng kepala, pura-pura nggak dengar. Tapi bibirnya tersungging kecil, seakan menikmati sorakan itu.

Sementara itu, Bara bikin penonton teriak histeris setelah dunk kerasnya.

“GILAAA!!! BARA HOT BANGET!!”

“Dunknya bikin gue pingsan sumpah!!”

Tama sibuk dengan defense ketatnya. Setiap kali berhasil menghalau lawan, terdengar cewek-cewek nyorakin.

“Wooo Tama keren!! Pegang gue juga dong kalau bisa!!” teriak salah satu mahasiswi, bikin Dion ketawa ngakak.

Nael makin bikin geger tribun ketika three point-nya masuk berturut-turut.

“Nael!! Ajari aku lempar dong!!”

“Cowok cool banget sumpah!!”

Dion justru sengaja pamer dribble freestyle. Penonton ikut bersorak, sebagian terhibur, sebagian malah bilang, “Anjir kayak streetball, sok gaya banget Dion!”

Di tribun, Emily duduk bersama Ziva, Nara, dan Caca. Mereka semua tepuk tangan, ikut terhanyut suasana.

“Parahhh, ini latihan apa show cogan sih???” ucap Nara semangat.

Ziva nyengir, “Ya jelas show cogan lah, lihat tuh fans garis keras udah norak banget.”

Caca menimpali, “Tapi jujur, gue juga ikut histeris, sumpah ganteng semua.”

Emily diam. Matanya fokus pada Rey. Meski geng Elea berteriak lebay, entah kenapa di matanya hanya ada satu sosok. Gerakan Rey yang lincah, tatapan tajamnya di lapangan—semua bikin jantungnya berdegup lebih cepat. Tanpa mereka sadari pula kalau lirikan Rey itu bukan pada fans nya yg menggila tapi pada sosok yg terlihat cuek tapi bikin candu .siapa lagi kalau bukan Emily...

Setelah selesai latihan tanding itu, mereka kembali ke aktivitas masing-masing. Ada yang langsung pulang, ada yang menunggu jadwal kuliah berikutnya, ada juga yang nongkrong di sekitar lapangan. Emily berniat pulang, tubuhnya lengket karena dari tadi ikut teriak-teriak di tribun sampai keringatnya banjir.

Tiba-tiba handphonenya berdenting.

Rey:  — Thank yah udah nonton, and semangatin gue..

Emily: Dih gue nonton karena kelas gue yang tanding dan ada sahabat gue juga, Dion.. pede lu.

Rey: Gpp gue tetep seneng. Lu mau langsung pulang?

Emily: Iya gue langsung pulang, mau mandi. Gerah banget.

Rey: Yaudah tiati. Gue ke markas dulu. Nanti pulang gue bawa makan malam, ga usah masak takut lo cape..

Emily: Oke. jawab nya singkat

Baru saja ia menutup chat, tiba-tiba terdengar suara langkah cepat dari arah belakang.

“Bebbb… mau nongki dulu nggak?” tanya Alex sambil berlari kecil.

“Ngga mau, pulang. Gerah gue,” sahut Emily datar.

“Lo chatan sama siapa? Ko senyum-senyum,” Alex memicingkan mata.

“Kepo luh.” Emily malas menoleh.

“Gue cowok lo, Ily.” Nada Alex meninggi.

“Terus??” Emily mendelik.

“Yh lo jangan selingkuhin gue,” ucap Alex sewot.

“Lo juga main LC, dari duit hasil balapan gue lagi . Hhhha ga modal banget lo,” balas Emily ketus.

“Itu karena lo nggak mau disentuh gue, Ily.” Alex mencoba membela diri.

“Ihh najis. Mending kita putus ajah deh, muak gue sama lo,” ucap Emily sinis.

“Beb plisss janganlah. Iya gue janji nggak bakal main LC lgi,” Alex panik.

“Tau ah, bacot lo.” Emily mendengus kesal.

Bruuummmmm… Motor langsung dinyalakan, meninggalkan Alex yang masih melongo tak terima.

Setelah latihan basket, Rey dan gengnya nggak langsung pulang. Mereka meluncur ke markas Black Lion Riders — gudang tua yang sudah mereka sulap jadi tempat kumpul. Motor-motor mereka berjejer rapi, suara knalpot baru saja mati, meninggalkan hawa panas dan aroma bensin.

Rey duduk di kursi besi bekas balap sambil melepas kaos timnya. Bara, Tama, Gio, dan Ezra mengelilinginya, wajah mereka masih serius.

“Besok bukan cuma latihan basket lagi, tapi juga race sama WK,” buka Rey datar.

Ezra mengangguk, meraut wajah dingin. “Mereka pasti coba trik kotor lagi. Marsel tuh nggak bakal kapok.”

“Licik emang udah darah dagingnya tuh orang,” Bara mendengus.

“Makanya kita harus siapin strategi. Gue nggak mau ada celah sekecil apapun,” Rey menatap satu-satu anggotanya, tegas.

Gio menyeringai, memutar kunci motor di jarinya. “Kalau soal skill, kita udah pasti unggul. Dari dulu juga mereka nggak pernah bisa ngalahin BLR. Masalahnya cuma trik curang itu.”

Tama mengangguk mantap. “Betul. Jadi fokus aja ke jalur, jangan terpancing. Mereka pasti bikin pancingan.”

Rey tersenyum tipis, nada sinis keluar. “Intinya simple, kita nggak cuma main bersih, tapi juga bikin mereka nyesel nyoba nantang BLR lagi. WK itu cuma bisa teriak doang, hasilnya tetep kalah.”

“Hhmm.. gue suka tuh, bikin mereka kapok,” Bara terkekeh pendek.

“Siap bos,” timpal Ezra datar tapi yakin.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!