Di depan kamera, Aura Zhafira adalah presenter TV yang selalu tersorot lampu studio. Namun di balik layar, sebuah krisis memaksa Aura menandatangani perjanjian rahasia dengan Reno Adhyastha CEO dingin yang paling benci sorotan media.
Pernikahan mereka hanyalah transaksi dingin di atas kertas dengan aturan ketat: tanpa perasaan dan harus rahasia dari publik.
Namun, saat dua manusia dari dunia yang bertolak belakang ini dipaksa tinggal satu atap, akankah batas di atas kertas itu tetap bertahan? Atau justru akankah akan tumbuh rasa di antara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neng Wendah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
~ Kejutan di Balik Layar Studio
Suasana di area studio utama stasiun TV berita nasional itu terasa begitu berdenyut dan dipenuhi oleh ketegangan yang tinggi. Ruang kontrol utama tampak sangat sibuk dengan hiruk-pikuk kru teknis, produser berita, dan floor director yang saling berkoordinasi lewat alat komunikasi interkom mereka. Sementara itu, di dalam studio, sorotan lampu-lampu LED raksasa yang megah mulai menyala terang benderang, memancarkan aura profesionalisme yang sangat kental dan siap menyambut kembalinya sang diva berita.
Di dalam ruang rias eksklusif yang berada tidak jauh dari panggung studio, Aura tampak sedang duduk anggun di depan cermin besar yang dikelilingi oleh barisan lampu LED putih. Penata rias baru saja menyelesaikan sentuhan akhir pada wajah ayunya yang dirias dengan konsep natural namun tetap memancarkan ketegasan seorang jurnalis. Dalam balutan blazer kerja modern berwarna merah marun yang pas di tubuhnya, dipadukan dengan jilbab satin premium senada yang terpasang rapi dan anggun, Aura tampak sangat mempesona dan penuh dengan wibawa seorang news anchor sejati yang siap menyapa kembali jutaan pemirsa di seluruh tanah air.
Meskipun penampilannya di luar tampak sangat tenang dan sempurna, Aura tidak bisa membohongi dirinya sendiri. Ia menghela napas panjang berulang kali, meremas jemari tangannya sendiri di atas pangkuan untuk mencoba menetralkan rasa gugup yang sedikit menyelinap masuk ke dalam relung dadanya. Sudah cukup beberapa waktu ia terpaksa absen dan tidak berdiri di atas panggung yang membesarkan namanya ini akibat badai fitnah kejam di masa lalu. Berada kembali di bawah sorotan kamera ruang siaran langsung membuat jantungnya berdegup sedikit lebih cepat dari biasanya.
Tiba-tiba, keheningan di ruang rias itu pecah saat pintu kaca tebal terbuka secara perlahan dari luar. Melalui pantulan dari balik cermin besar di hadapannya, sepasang mata bulat milik Aura menangkap sosok pria jangkung berbalut setelan jas hitam mahal yang sangat ia kenal dan ia puja. Reno melangkah masuk dengan ritme kaki yang tenang namun tegas. Di tangan kirinya, pria itu memegang sebuah buket besar bunga mawar merah yang begitu indah, segar, dan masih berembun, kontras dengan kemeja putih bersih di balik jasnya.
Melihat kehadiran sang pemilik tunggal stasiun TV yang baru, seluruh kru produksi dan penata rias yang berada di dalam ruangan tersebut langsung membungkuk hormat dengan sikap segan. Tanpa perlu diberi komando, mereka yang peka akan situasi romantis itu segera meminta izin keluar secara sopan, memberikan ruang privasi penuh bagi pasangan suami istri baru tersebut untuk berbicara.
"Mas...?" gumam Aura terkejut sekaligus tersipu malu saat melihat pintu ruangan terkunci rapat dari dalam oleh tangan Reno. "Bukannya Mas tadi sudah berpamitan untuk naik ke ruangan CEO di lantai atas karena ada meeting penting dengan jajaran direksi baru?"
Reno berjalan mendekat dengan langkah tegap tanpa melepaskan pandangan mata elangnya dari pantulan wajah cantik Aura di cermin. Seulas senyum tipis yang amat menawan dan memikat terukir di bibir tegasnya. Pria itu menyerahkan buket bunga mawar merah yang harum itu tepat ke pangkuan Aura, lalu membungkuk sedikit untuk mendekatkan wajahnya. Bukannya menjauh, Reno menahan pundak Aura lalu mendaratkan kecupan hangat, lembut, dan sangat lama tepat di kening sang istri yang terbalut kain hijab katun lembut. Aroma maskulin khas tubuh Reno seketika meruap, mengusir rasa dingin akibat AC ruang rias.
"Mas cuma mau memastikan presenter kesayangan Mas ini tidak sedang gemetar dan gugup sendirian di sini," bisik Reno dengan suara baritonnya yang serak dan seksi tepat di samping daun telinga Aura, mengirimkan getaran halus yang menyenangkan ke seluruh tubuh istrinya.
Jemari tangan tegap Reno yang hangat terangkat perlahan. Dengan kelembutan ekstra yang luar biasa, ia merapikan sedikit lipatan hijab Aura di dekat pipi mulusnya agar terlihat makin simetris dan sempurna di depan kamera nanti. Tidak puas hanya menyentuh jilbabnya, ibu jari Reno bergerak turun, mengusap lembut bibir ranum Aura yang sudah dilapisi lipstik merah natural, membuat tatapan mata mereka berdua mendadak berubah menjadi sangat pekat dan dipenuhi oleh riak gairah yang matang di antara suami istri.
Aura menghirup aroma harum bunga mawar segar di tangannya untuk menutupi rasa gugupnya yang kini beralih menjadi debaran asmara, lalu mendongak menatap lekat ke dalam mata kelam suaminya. "Terima kasih banyak ya, Mas. Bunganya indah sekali, aku suka..."
"Pemilik bunganya yang jauh lebih cantik dan selalu berhasil membuat Mas tidak fokus bekerja," goda Reno pelan dengan kerlingan mata nakal yang langka, sebuah kalimat yang seketika sukses membuat rona merah merona menyebar dengan cepat di kedua pipi mulus Aura.
Reno kemudian menarik kursi rias Aura agar berputar menghadapnya. Ia berlutut dengan satu kaki di hadapan istrinya, lalu menggenggam erat-erat kedua telapak tangan Aura, menyalurkan rasa hangat, ketenangan jiwa, dan kekuatan spiritual yang luar biasa besar dari dalam dirinya.
"Lakukan yang terbaik seperti yang biasa kamu lakukan di masa lalu, Sayang. Tunjukkan pada mereka semua kualitas dan integritas yang kamu miliki sebagai seorang profesional. Jangan takut pada hal apa pun lagi, karena Mas akan berdiri di sini dan memperhatikan setiap detik penampilan hebatmu dari layar monitor besar di ruang atas," ucap Reno dengan nada suara yang sangat mantap dan penuh dengan rasa protektif.
Aura tersenyum sangat haru, matanya berkaca-kaca menatap ketulusan suaminya. Ia menganggukkan kepalanya dengan mantap, meremas balik jemari tangan Reno yang kokoh. "Iya, Mas suami sayang. Aku janji akan berusaha memberikan penampilan siaran yang terbaik siang hari ini untuk Mas dan untuk semua pemirsa."
Waktu persiapan pun akhirnya habis. Floor director mulai meneriakkan aba-aba tanda siaran langsung akan segera dimulai dalam hitungan detik. Reno memberikan satu kecupan cepat yang intim di bibir Aura sebagai penyemangat terakhir, sebelum akhirnya ia melangkah keluar meninggalkan ruang rias dengan senyuman puas.
Hitungan mundur resmi dimulai oleh kru studio.
*3... 2... 1... Live!*
Lampu indikator berwarna merah terang di atas kamera utama studio seketika menyala, menandakan visual dari dalam studio telah disiarkan secara langsung ke seluruh pelosok negeri. Aura yang duduk tegak dengan postur tubuh yang sangat sempurna di balik meja berita raksasa, langsung menyunggingkan senyuman profesionalnya yang khas, ramah, memikat, dan penuh percaya diri.
"Selamat siang pemirsa, kembali bersama saya Aura Zhafira dalam siaran Lintas Berita Utama edisi siang hari ini..."
Suara Aura terdengar begitu jernih, tegas, artikulatif, dan memiliki intonasi yang sangat berwibawa. Tidak ada sedikit pun keraguan, kecanggungan, ataupun sisa-sisa kegugupan dalam cara ia membawakan rentetan berita-berita berat hari ini. Aura benar-benar membuktikan kelasnya sebagai seorang news anchor papan atas; ia menguasai panggung, kamera, dan emosi studio dengan begitu luar biasa menakjubkan.
Sementara itu, di dalam ruangan kerja CEO yang sangat luas dan mewah di lantai atas, suasana terasa begitu sunyi dan privat. Reno berdiri tegak tepat di depan layar monitor monitor raksasa yang menempel di dinding marmer. Pria tegap itu bersedekap dada dengan kedua lengannya, menatap tajam ke arah layar kaca yang menampilkan visual wajah cantik istrinya yang sedang membaca berita dengan sangat lancar.
Binar mata elang Reno memancarkan rasa bangga yang luar biasa besar dan rasa cinta yang membuncah hebat di dalam dadanya. Ia melihat bagaimana seluruh staf di ruang kontrol bawah tampak mengangguk-angguk kagum melihat performa tanpa cela dari Aura, menyadari bahwa keputusan Reno mengembalikan Aura ke posisinya adalah hal yang sangat tepat.
Seulas senyum bahagia dan penuh kepuasan terukir jelas di wajah tegas dan tampan Reno Adhyastha. Wanita anggun berhijab yang kini sedang menguasai layar kaca televisi seluruh tanah air dengan pesona kecerdasan yang luar biasa itu adalah istrinya seutuhnya takdir terindah dan paling sempurna yang pernah dikirimkan oleh Tuhan untuk melengkapi, menjaga, dan mewarnai seluruh sisa lembaran hidupnya.