NovelToon NovelToon
PESONA PERAWAT IBUKU

PESONA PERAWAT IBUKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / CEO
Popularitas:6.8k
Nilai: 5
Nama Author: uutami

Dita, seorang Caregiver yang merawat dengan sepenuh hati majikannya yang lumpuh, Bu Diana. sampai, suatu hari, Bu Diana meminta sesuatu yang membuat Dita menahan napasnya...

"Menikahlah dengan Tama, Dit. Aku tak mau Tama menikah dengan wanita binal itu... kamu harus selamatkan anakku, seperti kamu menyelamatkan aku..."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 19

Restoran itu mendadak terasa lebih sunyi bagi Tama.

Bukan karena orang-orang berhenti bicara. Justru suara sendok beradu dengan piring, tawa dari meja lain, dan musik lembut di sudut ruangan masih terdengar jelas.

Namun bagi Tama, semuanya seperti menjauh.

Tatapan Bu Diana masih menancap tepat di wajahnya.

“Apa kamu tidak rela Dita jalan dengan pria lain?”

Pertanyaan itu menggantung di udara.

Tama berkedip pelan, lalu menarik napas panjang. Ia menyandarkan punggung ke kursi, berusaha terlihat santai.

“Ma… Mama ini aneh sekali.”

“Aneh bagaimana?”

“Aku cuma mengajak makan bersama. Itu saja.”

Bu Diana menatapnya tidak percaya.

“Cuma begitu?”

“Iya.”

“Kamu yakin?”

Tama mengangguk cepat. “Sangat yakin.”

Namun tangannya tanpa sadar meraih gelas air di depan, lalu meminumnya lebih cepat dari biasanya.

Bu Diana memperhatikan setiap gerakannya.

“Kamu kelihatan gelisah.”

“Tidak.”

“Kamu tadi langsung mengajak makan bersama begitu Dita mau pergi dengan Dokter Eros.”

“Ya karena Mama juga harus makan.”

Bu Diana mengangkat alis.

“Restoran ini jauh dari rumah kita.”

Tama terdiam sejenak.

“Sekalian jalan-jalan.”

“Kamu ini…”

Tama memotong cepat.

“Ma, jangan berpikir aneh-aneh. Dita itu perawat Mama. Aku hanya memastikan semuanya baik.”

Bu Diana tersenyum tipis.

“Tapi kamu bukan memastikan Mama baik.”

“Lalu?”

“Kamu memastikan Dita tidak pergi sendirian dengan Eros.”

Tama menghela napas panjang.

“Ma… serius, Mama terlalu banyak membaca drama.”

Bu Diana masih menatapnya lama, tapi sebelum ia menjawab lagi—

“Maaf lama.”

Suara Dokter Eros terdengar.

Ia kembali ke meja sambil menyimpan ponselnya di saku.

Tak lama kemudian Dita juga muncul dari arah lorong toilet.

“Maaf menunggu.”

Ia kembali duduk, masih dengan senyum sopan yang sama.

Tama langsung mengalihkan pandangan.

“Pesannya sudah datang semua,” katanya singkat.

Percakapan kembali berjalan.

Namun kini terasa sedikit berbeda.

Dokter Eros mulai bercerita tentang pekerjaannya di rumah sakit.

“Pasien hari ini lumayan banyak. Musim flu.”

Dita mengangguk antusias.

“Iya, di klinik juga begitu.”

“Perawat pasti lebih sibuk dari dokter.”

Dita tertawa kecil.

“Tidak juga. Dokter yang menentukan semuanya.”

Bu Diana ikut menyela.

“Dita ini kalau kerja serius sekali.”

“Memang harus begitu, Bu.”

Tama hanya makan sambil mendengarkan.

Sesekali ia menimpali, tapi tidak banyak.

Lebih sering ia hanya mengamati.

Terutama ketika Dita dan Dokter Eros saling berbicara.

Tertawa kecil.

Bertukar cerita.

Ada sesuatu yang membuat dadanya terasa tidak nyaman.

Namun Tama cepat-cepat mengabaikannya.

“Ah, ini cuma perasaan aneh,” gumamnya dalam hati.

Beberapa waktu kemudian mereka pulang.

Mobil berhenti di depan rumah.

Dita langsung membantu Bu Diana turun dari mobil dan mendorong kursi rodanya masuk ke dalam.

“Pelan, Bu.”

“Tenang saja.”

Dokter Eros ikut berjalan di samping mereka.

“Bu Diana, nanti obat yang saya resepkan tetap diminum ya.”

“Iya Dok.”

Tama berdiri beberapa langkah di belakang.

Ia memperhatikan mereka.

Dita dan Dokter Eros kini berdiri agak menjauh di ruang tamu.

Mereka berbicara pelan.

“Untuk terapi kaki Bu Diana, sebaiknya tetap dilanjutkan,” kata Eros.

“Iya Dok, biasanya saya bantu latihan juga.”

“Bagus.”

“Kalau ada perkembangan saya kabari.”

Tama berdiri di dekat tangga.

Matanya sesekali melirik.

Sedikit mendekat.

Sedikit lagi.

Sampai—

“Tam.”

Suara Bu Diana tiba-tiba muncul dari sampingnya.

Tama langsung tersentak.

“Eh—Ma?”

Bu Diana menyipitkan mata.

“Kamu ngapain di situ?”

“Tidak ngapa-ngapain.”

“Dari tadi berdiri di sini.”

“Aku cuma… dengar mereka bicara.”

Bu Diana mengangkat alis.

“Kenapa?”

“Ya… soal kesehatan Mama. Aku juga harus tahu.”

Bu Diana tertawa kecil.

“Oh begitu?”

“Iya.”

“Tapi yang mereka bicarakan sekarang bukan kesehatan Mama.”

Tama menoleh cepat.

Benar saja.

Dari kejauhan terdengar suara tawa Dita.

“Serius, Dok? Itu terjadi?”

“Iya,” kata Eros sambil tertawa. “Pasiennya malah kabur.”

“Ya ampun…”

Tama berdehem pelan.

“Ya… tetap saja. Aku perlu tahu.”

Bu Diana menyandarkan tubuh di kursinya.

“Tam.”

“Iya?”

“Kalau tidak ada kerjaan, pergi saja ke kantor.”

“Aku baru saja pulang.”

“Kamu bosan di rumah.”

Tama membuka mulut.

“Daripada berdiri di sini kepo urusan orang.”

Tama mengerutkan kening.

“Siapa kepo?”

“Mungkin mereka sedang bicara hal pribadi.”

Tama langsung meluruskan punggung.

“Aku tidak kepo.”

“Tidak?”

“Tidak.”

“Kalau begitu pergi saja.”

Tama menghela napas.

“Baiklah.”

Ia berjalan melewati ruang tamu.

Namun langkahnya sengaja diperlambat.

Seolah hanya lewat.

“Permisi,” katanya santai.

Dita menoleh.

“Oh, Tuan Tama.”

Dokter Eros tersenyum.

“Mau keluar lagi?”

“Iya. Ke kantor.”

Padahal jam sudah hampir sore.

Dita terlihat sedikit heran.

“Kerja lagi?”

“Iya.”

Dokter Eros tertawa ringan.

“Kerja keras sekali.”

Tama hanya mengangguk.

Namun sebelum pergi ia sempat mendengar percakapan mereka lagi.

“Dok, tadi cerita pasien yang jatuh di tangga itu lucu sekali,” kata Dita.

“Yang malah menyalahkan kucing?”

“Iya!”

Mereka tertawa bersama.

Entah kenapa dada Tama terasa panas.

Ia segera membuka pintu.

“Aku pergi dulu.”

Dita langsung berdiri sedikit.

“Baik, Tuan. Hati-hati.”

“Jaga Mama.”

“Iya.”

Tama mengangguk singkat lalu pergi.

Mobilnya keluar dari halaman rumah.

Namun perasaan aneh itu masih menempel di dadanya.

Malam hari.

Jam hampir menunjukkan pukul sebelas.

Mobil Tama akhirnya kembali ke rumah.

Langkahnya berat saat masuk.

Rumah sudah sunyi.

Lampu ruang tamu redup.

“Semua sudah tidur,” gumamnya.

Perutnya tiba-tiba berbunyi.

“Ah… lapar.”

Ia berjalan ke dapur.

Lampu dapur dinyalakan.

Ia membuka kulkas.

Namun saat hendak mengambil makanan, matanya menangkap sesuatu.

Lorong menuju kamar belakang.

Lampu kecil masih menyala.

Di sana ada kamar Dita.

Tama berdiri beberapa detik.

Entah kenapa langkahnya justru menuju ke sana.

Ia mengetuk pelan.

“Dit?”

Tidak ada jawaban.

Tama mengerutkan kening.

“Dita?”

Ia memutar gagang pintu.

Pintu terbuka.

Dan detik berikutnya—

“AH!”

Dita menjerit kaget.

Tama juga membeku di tempat.

Di dalam kamar, Dita berdiri di dekat lemari.

Blouse siangnya sudah dilepas.

Ia sedang mengganti pakaian dengan piyama tipis.

Rambutnya tergerai panjang.

Wajahnya merah karena kaget.

Tama langsung menoleh cepat ke arah lain.

“Maaf!”

Dita buru-buru meraih baju yang ada di kursi lalu menutup tubuhnya.

“Tuan Tama?!”

Suasana mendadak sangat canggung.

Jantung Tama berdetak keras.

“Maaf… aku… aku pikir kamu belum tidur.”

Dita masih memegangi bajunya.

“Saya memang belum tidur tapi—”

"ke ruang kerjaku kalau udah selesai," kata Tama langsung kabur.

1
Lilis Yuanita
lnjut
partini
wkwkkwwk stres tu tama
Manis
huuuhhh akal akalan Tama aja tuh
Cinta_manis: 🤣🤣 bisa jadi kak
total 1 replies
Lilis Yuanita
jgn2 modus
Cinta_manis: 🤣🤣🤣🤣macam tau aja
total 1 replies
Lilis Yuanita
lnjut bikin gemes
Cinta_manis: makasih Kak 🥰
total 1 replies
sunaryati jarum
Katanya tidak lihat kok , malah bilang paka i....🤣🤣🤭
sunaryati jarum
Kepikiran kan ,tak perlu malu mengakui tertarik pada Dita .Jika begitu mengakui pada diri sendiri dulu
Mama lilik Lilik
🤣🤣🤣jujur tama
Meliandriyani Sumardi
hadir kak..baru sempet soalnya...
Lilis Yuanita
mau bilng suka tp gengsi
Cinta_manis: 😄😄😄 iya tuh
total 1 replies
sunaryati jarum
Aduh Diana kenapa ditanyain, seharusnya dari gelagatnya sudah dapat ditebak
Cinta_manis: iya, ya kak
total 1 replies
sunaryati jarum
Suka
Cinta_manis: makasih bintang 5 nya kak. 🥰 sehat2 terus dan diberkahi ya😍
total 1 replies
sunaryati jarum
Sepertinya Bu Diana kerjasama dengan Dokter Eros untuk membuat zTama cemburu
Cinta_manis: yeeeyyy. makasih komennya kak🥰
total 1 replies
sunaryati jarum
Bu Diana pandai juga mengerjai Tama putranya, kemarin menentang dinikahkan dengan Dita.Namun sekarang mulai tertarik.
Cinta_manis: 🤭🤭🤭 ibu emang yang paling tau anaknya
total 1 replies
sunaryati jarum
Kau tidak akan pergi sepertinya Tama mulai memikirkan tawaran ibumu
Cinta_manis: 🥰🥰🥰 sepertinya ya kak
total 1 replies
sunaryati jarum
Bagaimana Tama, sekarang agar kau punya bukti kui untuk memutuskan hubungan kamu dengan Selina cari orang untuk mencari banyak bukti jika Selina sudah terbiasa berhubungan intim dengan banyak pria.
Cinta_manis: makasih udah ninggalin komennya kak😍
total 1 replies
sunaryati jarum
Nah gitu firasat Bu Diana ternyata tidak salah.Ini di negeri sendiri di luar negeri kaya apa, Selina.
Cinta_manis: 🤧🤧🤧 nah
total 1 replies
sunaryati jarum
Sampai ke luar negri cuma ngobral diri.Tama suruh orang kepercayaan untuk membututi pacarmu Selena,, sepertinya mudah dipakai banyak orang,macam toilet umum 🤣🤣🤣🤭
Cinta_manis: waduuhh kaka🤧
total 1 replies
sunaryati jarum
Selina keknya cuma mengincar harta Tama,ketemu Brian langsung mau pergi minum minum , malamnya tidur dengan pria bernama Raka
Cinta_manis: 🤧🤧🤧 ya ampun
total 1 replies
sunaryati jarum
Ayo malamnya baru bersenang senang dengan pria lain ini sudah berkata kangen sama Tama.Ayo semangat dan sabar semoga Bu Diana sembuh karena motivasi dan ketelatenan kamu Dita.
Cinta_manis: makasih kak🙏🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!