Vierra Quinn Maverick menjadi anak baru di SMA Lentera Cendekia.
Namun di hari pertamanya, ia kembali bertemu dengan teman SMP-nya, Ryuga Arashima Renzo. Dingin, karismatik, dan kini dikenal sebagai Leader of RAVENIX, geng motor paling disegani di Jakarta. Sosok yang dulu begitu dekat dengannya… sebelum sebuah kesalahpahaman memisahkan mereka.
Quinn memilih pergi tanpa berpamitan kepada Ryuga.
Pertemuan itu bukan sekadar reuni, melainkan benturan dua hati yang belum benar-benar selesai.
"Mulai detik ini, jauhin gue!" — Quinn.
“Jauhin lo? Coba ulang lagi kalimat itu sambil liat mata gue. Masih berani?” — Ryuga.
Di tengah konflik sekolah, rivalitas geng, dan rahasia yang terungkap perlahan, mereka dipaksa menghadapi satu pertanyaan:
Apakah cinta pertama mereka telah usai…
atau justru belum pernah benar-benar padam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yudi Chandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23
Pagi itu berjalan lambat bagi Quinn.
Hari Minggu yang seharusnya menjadi waktu paling nyaman untuk bermalas-malasan justru berubah menjadi hari penuh “tugas sosial” yang sama sekali tidak ia rencanakan. Di dalam kamarnya yang rapi dan wangi, Quinn masih bergelung di bawah selimut, memeluk bantal dengan mata setengah terpejam.
“Raa…” suara Selena terdengar dari luar pintu.
"Bangun, Ra... Ini udah siang, sayang."
Quinn mengerang pelan.
“Ma…ini hari Minggu… Aku masih ngantuk, Ma...”
Pintu kamar terbuka, memperlihatkan Selena yang berdiri dengan kedua tangan terlipat.
“Justru karena hari Minggu. Kamu nggak ada kegiatan, kan?”
Quinn membuka satu matanya, menatap ibunya dengan ekspresi memohon.
“Ada. Rebahan itu kegiatan penting, Ma.”
Selena mendengus pelan, lalu berjalan mendekat dan duduk di tepi ranjang.
“Ra, Mama butuh kamu ke Panti Asuhan Cahaya Harapan. Ada beberapa berkas yang harus diurus. Mama nggak bisa pergi hari ini.”
Quinn menutup wajahnya dengan bantal.
“Kenapa harus aku, Ma…”
Nada suaranya melemah, manja, dan jelas malas.
Selena mengusap punggungnya pelan.
“Anggap aja bantu Mama, ya.”
Quinn terdiam.
Ia menghela napas panjang, lalu akhirnya bangkit duduk dengan rambut acak-acakan.
“Iya… iya… aku pergi.”
Selena tersenyum kecil.
“Anak Mama memang yang teaik.”
Quinn mendengus.
“Jangan lebay.”
...----------------...
Beberapa saat kemudian , Quinn sudah berada di Panti Asuhan Cahaya Harapan.
Panti asuhan itu tidak terlalu besar, namun terasa hangat. Dindingnya dicat warna cerah, dengan beberapa gambar buatan anak-anak yang ditempel di sana-sini. Tawa kecil dan suara riang terdengar dari halaman belakang.
Quinn awalnya hanya fokus menyelesaikan urusannya. Ia duduk di ruang kecil bersama Bu Desi—pengurus panti, membahas beberapa hal administratif yang dititipkan Selena.
Percakapannya formal. Singkat. Tanpa banyak emosi.
Namun setelah semuanya selesai—
Quinn berdiri, merapikan tasnya.
“Kalau gitu, saya pamit ya, Bu.”
Ibu panti tersenyum ramah.
“Iya, Nak. Terima kasih sudah datang membantu.”
Quinn mengangguk.
Namun langkahnya terhenti.
Dari arah halaman, terdengar suara anak-anak yang tiba-tiba menjadi lebih riuh.
“KAK EL DATANG!”
“KAK EL!”
“AKU MAU MAINAN, KAK!”
Quinn mengernyit.
Rasa penasarannya muncul begitu saja.
Ia menoleh ke arah sumber suara—
Dan di sanalah ia melihatnya.
Kael.
Pria itu berdiri di tengah halaman dengan beberapa kantong besar di tangannya. Wajahnya masih sama—dingin, tegas, dan nyaris tanpa ekspresi. Namun sesuatu terasa berbeda.
Anak-anak kecil mengerubunginya.
Menarik-narik bajunya.
Memeluk kakinya.
Dan—
Kael tidak menepis.
Ia justru berjongkok, membuka salah satu kantong, lalu mulai membagikan makanan dan mainan satu per satu.
“Nih. Jangan rebutan.”
Suaranya tetap datar.
Namun… tidak dingin.
Seorang anak kecil memeluk lehernya.
“Makasih, Kak El!”
Kael terdiam sejenak… lalu mengacak rambut anak itu pelan.
“Iya.”
Sederhana.
Tapi cukup untuk membuat anak itu tertawa senang.
Quinn membeku di tempatnya.
Matanya tak berkedip.
Dadanya… terasa aneh.
Ia tidak pernah membayangkan akan melihat sisi seperti ini dari Kael.
Pria yang waktu itu ia temui di gang gelap, dengan tubuh penuh luka, sikap dingin, dan kata-kata ketus…
Kini berdiri di tengah tawa anak-anak.
Memberi.
Tanpa pamrih.
Tanpa pamer.
“Dia… siapa, Bu?”
Suara Quinn pelan, nyaris berbisik.
Ibu panti mengikuti arah pandangnya, lalu tersenyum hangat.
“Oh… itu Kael.”
Quinn menoleh cepat.
“Dia sering ke sini?”
Ibu panti mengangguk.
“Sering sekali. Kalau dia punya waktu luang, pasti datang.”
Quinn kembali menatap Kael.
Hatinya… bergetar.
“Dia… sukarelawan?”
Ibu panti tersenyum lebih lembut.
“Bisa dibilang begitu. Tapi bagi kami… dia lebih dari itu.”
Quinn mengernyit sedikit.
“Maksudnya?”
Ibu panti menghela napas pelan, matanya ikut memandang ke arah Kael yang sedang dikerubungi anak-anak.
“Dia membantu sejak lama. Bukan cuma bawa makanan atau mainan… tapi juga sering menghabiskan waktu di sini. Mengajar, bermain, bahkan menemani anak-anak kalau mereka sakit.”
Quinn terdiam.
Matanya tak lepas dari sosok itu.
“Padahal… dia jarang bicara,” lanjut ibu panti pelan. “Tapi anak-anak… selalu merasa nyaman sama dia.”
Seolah memahami, Quinn menelan ludah.
Dadanya terasa hangat… tapi juga sedikit sesak.
“Kenapa… dia melakukan semua ini?”
Pertanyaan itu keluar begitu saja.
Ibu panti tersenyum, namun kali ini ada sedikit kesedihan di baliknya.
“Karena… dia pernah ada di posisi mereka.”
Quinn tersentak.
“...Apa?”
“Dulu… Kael juga anak panti.”
Hening.
Seolah dunia berhenti sejenak.
Quinn kembali menatap Kael.
Lebih lama.
Lebih dalam.
Sekarang semuanya terasa berbeda.
Cara Kael berdiri.
Cara ia membagikan makanan.
Cara ia membiarkan anak-anak memeluknya.
Bukan sekadar kebaikan.
Tapi… seperti seseorang yang mengerti.
Yang pernah merasakan kehilangan.
Yang tahu bagaimana rasanya… tidak punya siapa-siapa.
Tanpa sadar, tangan Quinn mengepal di sisi tubuhnya.
Hatinya… terenyuh.
“Dia… nggak pernah cerita.”
Ibu panti tersenyum kecil.
“Memang tidak. Dia bukan tipe yang suka bercerita.”
Quinn mengangguk pelan.
Matanya kembali melembut.
Untuk pertama kalinya—
Ia melihat Kael bukan sebagai pria dingin yang misterius.
Tapi sebagai seseorang… yang diam-diam membawa luka, lalu mengubahnya menjadi sesuatu yang berarti bagi orang lain.
Dan entah kenapa—
Pemandangan itu membuat hati Quinn bergetar… dengan cara yang sulit dijelaskan.
...----------------...
Halaman panti asuhan itu dipenuhi tawa. Anak-anak berlarian kecil sambil memamerkan mainan baru mereka, sementara beberapa yang lain duduk mengelilingi Kael yang masih berjongkok di lantai, membagikan sisa makanan dari kantong besar di sampingnya.
“Pelan-pelan… semua kebagian.” ucap Kael datar, meski tangannya dengan sabar memastikan setiap anak mendapatkan bagian yang sama.
Di balik ketenangan wajahnya, ada sesuatu yang berbeda hari itu—sesuatu yang bahkan tidak ia sadari.
Sampai—
“Lo suka anak-anak?”
Suara itu.
Kael langsung terdiam.
Jantungnya seolah berhenti satu detik.
Perlahan ia menoleh.
Dan benar saja.
Quinn berdiri di sana.
Dengan kedua tangan dilipat di dada, satu alis terangkat, dan tatapan khasnya—tajam, penuh rasa ingin tahu, sekaligus… sulit ditebak.
Kael bangkit perlahan.
“Lo?” ucapnya singkat.
Nada suaranya tetap datar, tapi ada sedikit keterkejutan yang tak bisa sepenuhnya ia sembunyikan.
Quinn melangkah mendekat beberapa langkah, matanya masih memperhatikan anak-anak yang kini kembali sibuk bermain.
“Gue kira lo cuma nongkrong di tempat gelap, mukulin orang, atau dikeroyok orang,” lanjut Quinn santai, “ternyata bisa juga bagi-bagi mainan kayak sinterklas.”
Beberapa anak kecil terkikik mendengar itu.
Kael mendengus pelan.
“Mulut lo tetep aja.”
Quinn menyeringai tipis.
“Makanya menarik.”
Kael menggeleng kecil, lalu menatapnya lebih serius.
“Ngapain lo di sini?”
Quinn mengangkat bahu.
“Disuruh nyokap. Urusan administrasi gitu.”
Ia berhenti sejenak.
Matanya kembali tertuju pada anak-anak yang kini memanggil-manggil Kael.
“Kak El! Liat mobil-mobilanku!”
“Kak El! Aku mau lagi!”
Quinn memperhatikan bagaimana Kael kembali berjongkok tanpa ragu, menanggapi mereka satu per satu. Tidak ada ekspresi manis, tidak ada senyum lebar… tapi ada ketulusan yang terasa jelas.
Hatinya… kembali bergetar.
“Jujur ya…” Quinn akhirnya berkata pelan.
Kael menoleh sedikit.
“Gue nggak nyangka cowok kayak lo bisa sedekat ini sama anak-anak.”
Nada suaranya berubah.
Tidak lagi sepenuhnya sinis.
Ada sesuatu yang lebih… lembut.
Kael terdiam.
Beberapa detik.
Ia berdiri lagi, lalu menatap Quinn.
Tatapannya dalam.
“Emang kenapa?”
Quinn mengangkat alis.
“Ya… lo keliatan kayak orang yang anti ribet, anti rame, anti perasaan.”
Ia menunjuk ke arah anak-anak.
“Tapi ini? Lo sabar banget.”
Kael mengalihkan pandangannya ke anak-anak itu.
Wajahnya tetap tenang.
Namun matanya… sedikit berubah.
Lebih gelap.
Lebih dalam.
“Gue cuma… ngerti mereka.”
Jawaban itu sederhana.
Tapi terasa berat.
Quinn mengernyit.
“Maksudnya?”
Kael terdiam sejenak.
Tangannya masuk ke saku celana, seolah mencari sesuatu untuk menahan dirinya.
“Gue dulu… kayak mereka.”
Quinn membeku.
Ia menatap Kael, benar-benar menatapnya kali ini.
Bukan sekadar melihat.
Tapi mencoba memahami.
Kael tidak menatapnya balik. Ia tetap melihat ke arah anak-anak.
“Gue tahu rasanya… nunggu seseorang datang. Nunggu seseorang peduli.”
Suaranya rendah.
Hampir seperti bisikan.
“Dan… gue tahu rasanya nggak ada yang datang.”
Hening.
Tawa anak-anak di sekitar mereka terasa jauh.
Quinn menelan ludah.
Dadanya terasa sesak.
Ia tidak menyangka… akan mendengar hal seperti ini dari Kael.
Dari pria yang selama ini ia anggap hanya dingin dan keras.
Tanpa sadar, suaranya melembut.
“Makanya lo ke sini?”
Kael mengangguk kecil.
“Setidaknya… mereka nggak ngerasain hal yang sama.”
Kalimat itu menancap.
Dalam.
Quinn menunduk sebentar.
Perasaannya… kacau.
Ada rasa kagum.
Ada rasa iba.
Dan entah kenapa… ada sesuatu yang menghangat di dalam hatinya.
Ia kembali menatap Kael.
“Lo… baik juga ternyata.”
Kael langsung mendengus.
“Jangan salah paham.”
Quinn langsung mencibir.
“Yah, rusak lagi imagenya.”
Kael menatapnya sekilas, lalu diam-diam tersenyum tipis.
“Lo sendiri?” tanya Kael tiba-tiba.
Quinn mengernyit.
“Apa?”
“Lo suka anak-anak?”
Quinn terdiam.
Ia menoleh ke arah seorang anak kecil yang sedang tertawa sambil memeluk boneka barunya.
Senyumnya tanpa sadar muncul.
“Kadang.”
Ia kembali menatap Kael.
“Kalau mereka nggak nyebelin.”
Kael mengangkat sudut bibirnya sedikit.
Nyaris tak terlihat.
Namun cukup.
Dan untuk pertama kalinya—
Quinn menyadari sesuatu.
Bahwa di balik dinginnya Kael…
ada sisi yang hangat yang jarang terlihat oleh orang lain.
...----------------...
Siang itu, halaman panti asuhan dipenuhi cahaya matahari yang lembut. Tawa anak-anak berlarian di antara bangunan sederhana itu menciptakan suasana hangat yang menenangkan. Quinn berdiri di dekat ayunan tua, tangannya memegang botol minum yang tadi sempat diberikan oleh Kael.
Tatapannya sesekali mencuri pandang ke arah Kael yang tengah dikerubungi anak-anak. Ada sesuatu yang berbeda dari pria itu—dan entah mengapa, hal itu membuat Quinn terus memperhatikan.
Namun—
DRRRTTT… DRRRTTT…
Ponselnya bergetar.
Quinn menunduk.
Nama di layar itu membuat matanya langsung berbinar.
Ryuga❤ calling
Senyum lebar refleks terukir di wajahnya.
Jantungnya berdegup lebih cepat—bukan karena terkejut… tapi karena bahagia.
Tanpa menunda, ia langsung mengangkat video call itu.
Layar menampilkan wajah tampan Ryuga.
Dingin. Tegas. Tatapannya tajam seperti biasa.
Namun bagi Quinn… itu tetap wajah yang sama yang diam-diam selalu ia rindukan.
Quinn tersenyum lebar.
“Halooo… pacar~ kangen ya?” sapanya ceria dan centil.
Ryuga sedikit mengernyit melihat ekspresi Quinn yang terlalu cerah.
Ada sesuatu yang langsung menghangat di dadanya… tapi ia menahannya.
“Kamu di mana?” tanya Ryuga.
Quinn memutar bola matanya, masih dengan senyum jahil.
“Ih, baru juga disapa udah ditanya interogasi.”
Ryuga menghela napas pelan.
“Jawab, Ra.”
Quinn terkekeh pelan.
“Di panti asuhan, sayang.” jawabnya manja, tapi masih jahil.
Alis Ryuga sedikit terangkat.
“Ngapain?”
“Disuruh Mama. Tugas anak berbakti.”
Ia mengangkat dagunya bangga, membuat Ryuga menatapnya beberapa detik lebih lama.
Ada rasa aneh di dalam dirinya.
Tenang… tapi juga tidak.
Namun—
Saat Quinn sedikit menggeser posisi ponselnya…
Sosok lain masuk ke dalam frame.
Kael.
Berdiri tak jauh, sedang menggendong anak kecil yang tertawa riang.
Detik itu juga—
Ekspresi Ryuga berubah.
Tatapannya menajam.
Rahangnya mengeras.
Udara di antara mereka mendadak terasa berat.
“…itu siapa?” tanya Ryuga dengan suara lebih rendah dan penuh tekanan.
Quinn menoleh sekilas, lalu kembali santai.
“Oh. Kael.”
Satu nama.
Namun cukup membuat dada Ryuga seperti ditekan sesuatu.
Tatapan tajam Ryuga seolah menusuk layar.
“Ngapain dia di sana?”
Quinn mengangkat bahunya acuh.
“Ya sama kayak aku. Bantu-bantu. Dari tadi juga dia di sini.”
Jawaban itu sederhana.
Tapi cara Quinn mengatakannya—
Santai. Biasa saja.
Seolah tidak ada jarak.
Dan itu cukup membuat sesuatu di dalam diri Ryuga… retak.
Ryuga (pelan, menahan emosi):
“Kamu deket sama dia sekarang?” tanya Ryuga pelan, menahan emosi.
Quinn langsung melotot.
“Hah? Nggak juga kali! Baru ketemu lagi ini.”
Ryuga memotong dengan dingin.
“Tapi kamu kelihatan nyaman.”
Quinn terdiam.
Ia mengerjap.
Ada sesuatu dalam nada suara Ryuga.
Bukan marah biasa.
Tapi… cemburu.
Dan itu—
Entah kenapa—
Membuat jantung Quinn berdebar lebih kencang.
Quinn berusaha santai, tapi suaranya sedikit melunak.
“Ya… dia lagi sama anak-anak. Masa aku jutek sih.”
Ryuga menatapnya dalam.
Terlalu dalam.
Seolah sedang menahan sesuatu yang tidak ingin ia lepaskan.
“Aku nggak suka.” kata Ryuga tegas.
Deg.
Quinn membeku sesaat.
Kalimat itu sederhana.
Tapi terasa… berat.
“Kamu kenapa sih…?” tanya Quinn bingung.
Ryuga langsung menjawab tanpa ragu.
“Jangan deket-deket sama dia.”
Quinn menghela napas.
“Kamu ngatur banget sih.” katanya jutek, tapi pipinya memanas.
Ryuga menatapnya tajam.
“Iya. Aku ngatur.”
Hening.
Tatapan mereka bertemu melalui layar.
Dan untuk sesaat—
Tidak ada yang bercanda.
Tidak ada yang pura-pura santai.
Hanya ada dua orang… yang sama-sama takut kehilangan.
“Karena kamu cuma milikku.” kata Ryuga lebih pelan, tapi jauh lebih dalam.
Jantung Quinn seperti dihantam sesuatu.
Keras.
Cepat.
Wajahnya langsung memerah.
Ia memalingkan wajah, mencoba menutupi senyum yang hampir muncul.
“Ih… apaan sih. Sok banget.” kata Quinn nyolot untuk menutupi rasa gugupnya.
Tapi Ryuga tahu.
Ia tahu efek dari kata-katanya.
Dan ia tidak menariknya kembali.
“Aku jemput.”
Quinn langsung tersentak.
“Hah? Nggak usah! Aku masih—”
“Tunggu aku.” potong Ryuga tegas.
Quinn menghela napas.
“Ga, aku bisa—”
“Ra.” potong Ryuga dengan suara rendah, penuh tekanan.
Quinn langsung diam.
Nada itu…
Selalu berhasil membuatnya kalah.
“Aku nggak mau kamu di sana sama dia.” kata Ryuga pelan, tapi penuh perasaan.
Quinn menggigit bibirnya.
Hatinya berdebar tak karuan.
Kesal… tapi juga hangat.
Cemburu Ryuga—
Selalu terasa seperti sesuatu yang ingin ia bantah…
tapi diam-diam ia sukai.
“…iya.” kata Quinn lirih.
Ryuga menatapnya beberapa detik lagi.
Tatapannya melembut sedikit.
Lalu—
Panggilan terputus.
Quinn menatap layar ponselnya.
Senyumnya perlahan muncul.
Tangannya menyentuh pipinya yang hangat.
Quinn dalam hati:
“Kenapa sih… dia kalau cemburu gitu… malah bikin gue makin suka.”
Ia menghela napas pelan.
Jantungnya masih berdebar.
Di kejauhan, Kael memperhatikan Quinn.
Tatapannya tajam.
Ia melihat perubahan itu.
Ekspresi yang berbeda.
Yang tidak ia lihat sebelumnya.
“…lo harus jadi milik gue.” batin Kael penuh tekad.
Sementara di sisi lain—
Suara mesin motor meraung keras.
BROOOOMMMM—
Ryuga melaju cepat, membelah jalan tanpa ragu.
Tangannya mencengkeram setang dengan kuat.
Matanya tajam.
Namun di balik itu—
Ada sesuatu yang lebih dalam.
“Gue udah nunggu lo selama ini…” batin Ryuga penuh penekanan.
Angin menerpa wajahnya.
Tapi pikirannya hanya satu.
Quinn.
Ryuga:
“…dan gue nggak bakal biarin siapa pun ngambil lo dari gue.”
Kecepatannya bertambah.
Bukan hanya karena cemburu.
Bukan hanya karena marah.
Tapi karena—
Ia takut kehilangan lagi.
...****************...
baca dong ga nama di undangannya biar kamu gak kecewa dan nama quinn masih ada di hatimu
tebal muka banget...
berapa lapis tuh... macam kue lapis aja... 🤣🤣🤣
Jangan berani²...
ada perempuan yang gak tahu malu mengatasnamakan teman masa kecil.. yg segitu gak tahu malunya segitu terobsesinya makanya mengaku ke quinn kalau dia pacarnya ryuga... hidup lu macam pemeran dalam drama cina si pemeran cewek manipulatif yg mengatasnamakan teman masa kecil tapi didepan wanita yg disukai sahabat mu mengakui kalau kamu sama sahabatmu itu pacaran padahal dekat kamu aja sahabatmu itu risih... bangun woyy Naomi... percuma nama cantik tapi kelakuannya minus
semangat ga....aku pendukung setiamu😁😁😁