"Jangan dekat-dekat cowok lain, Cebol. Kau itu tanggung jawabku!"
Bagi Anvaya Dinakara, Narev Elvaro adalah tetangga raksasa setinggi 192 cm yang paling menyebalkan. Narev selalu mengawasi Vaya, melarangnya berteman dengan pria lain dengan alasan "menjaga titipan orang tua".
Namun, satu insiden di malam kelulusan melempar mereka sepuluh tahun ke masa depan. Vaya terbangun bukan di kamarnya, melainkan di pelukan Narev dewasa yang sangat memujanya. Lebih gila lagi, ada seorang bayi cantik bernama Miciella Aracelli yang memanggil mereka "Mama" dan "Papa".
Terjebak dalam pernikahan masa depan yang manis, mampukah mereka kembali ke masa lalu saat status mereka masih "musuh bebuyutan"? Atau justru Narev akan melakukan segala cara agar masa depan itu menjadi nyata?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Amarah di Balik Kemudi
[POV: Vaya]
"Narev, lepas! Sakit!" aku menjerit saat Narev menarik lenganku dengan sangat kasar keluar dari kafe. Tubuhku seolah diseret, mengabaikan tatapan ngeri dari orang-orang di sekitar.
Narev tidak menyahut. Rahangnya terkatup begitu rapat hingga aku bisa mendengar bunyi giginya yang beradu. Begitu sampai di depan mobil mewah hitamnya, dia membuka pintu belakang dan mendorongku masuk dengan tenaga yang tak terbendung.
"Keluar! Tunggu di luar sampai aku panggil!" bentak Narev pada sopirnya yang tampak ketakutan. Begitu pintu tertutup rapat dan hanya ada kami berdua di dalam kabin mobil yang kedap suara, Narev langsung menerjangku.
Dia mencium bibirku dengan sangat brutal. Tidak ada kelembutan, yang ada hanya rasa sakit dan dominasi. Aku meronta, tanganku memukul dadanya yang sekeras batu berkali-kali. "Mmpff... Narev... ugh... stop!"
"Berani-beraninya kau menemuinya, Vaya! Berani-beraninya kau memegang dokumen sampah itu di belakangku!" suaranya menggelegar di ruang sempit itu.
Narev melepaskan dasinya dengan gerakan cepat yang mengerikan. Sebelum aku sempat menyadari apa yang terjadi, dia menyatukan kedua tanganku dan mengikatnya dengan kuat menggunakan dasi tersebut, lalu menariknya ke atas kepalaku, menguncinya pada sandaran kursi.
"Narev, jangan! Aku minta maaf! Lepasin!" tangisku pecah. Aku merasa seperti tawanan.
"Maaf? Setelah kau merencanakan untuk meninggalkanku lagi?" Narev tertawa sinis, matanya merah karena murka. Dia membenamkan wajahnya di leherku, lalu menggigit kulit sensitifku dengan keras hingga aku mengerang kesakitan.
"Aakh! Sakit, Narev! Ampun... aku cuma mau tahu kebenarannya... hiks... maafkan aku!" aku memohon dengan suara serak. Tubuhku gemetar hebat di bawah kungkungannya.
Narev berhenti sejenak, napasnya memburu di depan wajahku. Dia menatapku dengan tatapan yang sangat terluka sekaligus posesif yang gila. "Kebenaran? Kebenarannya adalah kau milikku! Mici butuh ibunya, dan aku butuh wanitaku! Tidak akan ada perceraian, Vaya. Sampai aku mati pun, kau tidak akan pernah lepas!"
Dia kembali menciumku, kali ini lebih seperti ingin menenggelamkanku. Aku hanya bisa menangis sesegukan, membiarkan dia meluapkan seluruh kecemburuan dan ketakutannya yang meledak-ledak. Setelah beberapa saat yang terasa seperti selamanya, Narev menjauh. Dia merapikan bajunya yang berantakan dengan tangan gemetar.
"Bawa dia pulang. Jangan biarkan dia keluar satu langkah pun dari kamar tanpa izinku," perintah Narev dingin setelah memanggil sopirnya kembali.
Narev keluar dari mobil tanpa menoleh lagi padaku. Dia membanting pintu begitu keras hingga mobil berguncang.
Di dalam perjalanan pulang, aku duduk meringkuk di sudut kursi dengan tangan yang masih terikat dasi—Narev sengaja tidak melepaskannya. Mataku tertuju pada map cokelat yang masih ada di pangkuanku, draf gugatan cerai itu.
Aku menatap namaku di sana. Anvaya Dinakara.
"Benarkah aku ingin bercerai?" bisikku lirih di tengah isak tangis.
Pikiranku kacau. Di satu sisi, Narev yang baru saja memperlakukanku seperti binatang membuatku takut setengah mati. Tapi di sisi lain, aku teringat cara dia menggendong Mici semalam, cara dia membersihkan kakiku dengan telaten, dan caranya mencium keningku seolah aku adalah segalanya baginya.
Jika Rian benar dan Narev adalah monster yang menyekapku, kenapa hatiku justru merasa hancur melihat air mata di mata Narev tadi? Kenapa aku merasa seolah akulah yang baru saja menghancurkan hati pria yang paling mencintaiku di dunia ini?
Aku menatap keluar jendela, menyadari bahwa duniaku kini benar-benar terkoyak. Antara masa lalu yang dikatakan Rian, dan masa depan yang sedang aku jalani bersama Narev dan Mici. Aku tidak tahu mana yang nyata, dan mana yang hanya sekadar manipulasi.
...****************...
G konsisten sma omongannya si vaya
ko pendek kali babnya panjangin dikit dong kaaaa