Demi menyelamatkan perusahaan keluarga dari kebangkrutan dan membiayai pengobatan adiknya yang kritis, Mireya terpaksa menjual kesuciannya. Ia menandatangani kontrak satu tahun untuk menjadi ibu pengganti bagi Calix David—seorang miliarder tampan berusia 35 tahun yang terkenal kejam dan sedingin es.
Pernikahan rahasia digelar, dan Mireya dikurung di mansion mewah dengan aturan ketat. Calix memperingatkannya: "Hubungan kita hanya sebatas rahim dan uang. Jangan pernah jatuh cinta kepadaku."
Namun, kepolosan Mireya perlahan mulai menggoyahkan hati sang Tuan Tsundere. Di tengah intrik konglomerat dan rahasia kelam mansion, akankah Mireya pergi setelah melahirkan sang ahli waris, atau justru berhasil memiliki hati Calix sepenuhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Harga Sebuah Nyawa dan Topeng Orang Tua
Langkah kaki Mireya terasa begitu berat saat menyusuri koridor rumah sakit menuju ruang perawatan intensif di lantai empat. Rasa perih dan kaku di bagian bawah perutnya akibat malam panjang bersama Calix masih sangat menyiksa di setiap hentakan langkah. Gaun panjang berkerah tinggi sengaja ia pilih hari ini, demi menyembunyikan noda kemerahan yang ditinggalkan pria itu di ceruk lehernya.
Dari kejauhan, di depan ruang administrasi VIP, ia melihat kedua orang tuanya. Fiona—sang Mama—sedang asyik mematut diri di depan layar ponsel, memeriksa katalog perhiasan emas terbaru. Sementara Ardan—sang Papa—sedang tertawa lebar sambil menelepon seseorang, tampak sama sekali tidak seperti seorang ayah yang anaknya sedang terbaring kritis.
"Reya! Akhirnya datang juga kamu," sapa Mama begitu menyadari kehadiran putrinya. Mata wanita itu langsung menelisik penampilan Mireya dari ujung rambut hingga ujung kaki. "Wah, lihat Papa! Pakaian yang dipakai Mireya sekarang merek mahal semua. Menantu kaya kita itu memang tidak pelit."
Papa Ardan langsung mematikan sambungan teleponnya, lalu menghampiri Mireya dengan senyum lebar yang terasa sangat pamrih. "Reya, kamu benar-benar penyelamat perusahaan Papa! Tadi pagi, David Group langsung mentransfer dana segar. Saham perusahaan Papa yang hampir kolaps langsung stabil lagi! Luar biasa memang pengaruh Tuan Calix!"
Mireya menatap kedua orang tuanya dengan pandangan kosong. Dadanya terasa sesak melihat pemandangan ini. "Bagaimana dengan Aiden, Pa? Ma? Apa pengobatannya sudah dimulai?"
"Ah, Aiden? Sudah aman," jawab Mama acuh tak acuh sambil mengibaskan tangannya, lalu kembali sibuk dengan ponselnya. "Dokter bilang obat konsentrat faktor pembeku darah yang langka itu sudah diimpor dan langsung disuntikkan ke tubuh Aiden sejam yang lalu. Karena uang dari suamimu sudah masuk, rumah sakit tidak lagi menahan pasokan obatnya. Jadi kita tidak perlu pusing lagi soal pendarahan dalamnya."
Papa Ardan merangkul pundak Mireya, namun cengkeramannya yang agak kuat membuat Mireya refleks meringis karena tubuhnya masih terasa memar dan lelah. Papa sama sekali tidak menyadari rasa sakit putrinya, ia justru berbisik setengah menuntut, "Reya, Papa dengar dari sekretaris Papa, posisi David Group di bursa saham sedang sangat kuat untuk proyek tender bulan depan. Kamu kan istrinya sekarang, coba nanti malam kamu rayu Tuan Calix lagi, ya? Minta dia untuk menyerahkan salah satu sub-kontraknya kepada perusahaan Papa. Pasti mudah untukmu."
Mireya melepaskan rangkulan Papa Ardan dengan perlahan, melangkah mundur satu langkah untuk menciptakan jarak. "Pa, aku baru berada di mansion itu dua hari. Dan Papa tahu sendiri bagaimana statusku di sana. Aku tidak punya hak untuk mencampuri urusan bisnis Calix."
Wajah Papa Ardan langsung berubah ketus, senyum ramahnya lenyap seketika berganti tatapan dingin yang tajam. "Lho, kenapa tidak punya hak? Kamu ini sudah Papa jemput jauh-jauh dari desa, mengorbankan nenekmu yang tua dan sakit-sakitan itu, semuanya demi apa? Demi kamu bisa berbakti dan membantu keluarga keluar dari lubang jarum! Jangan egois, Reya. Kalau bukan karena utang perusahaan Papa lunas, kamu juga tidak akan bisa menginjakkan kaki di tempat mewah seperti sekarang!"
Mireya mengepalkan tangannya di balik lipatan gaunnya, menahan air mata yang mendesak di ujung mata. Meninggalkan Nenek yang sakit di desa, dilemparkan ke ranjang pria asing, dan sekarang ia masih disebut egois? "Aku tinggal di sana bukan sebagai ratu, Pa," suara Mireya bergetar, nyaris berupa bisikan getir. "Aku di sana hanya untuk rahimku. Calix memperlakukanku seperti—"
"Sudahlah, Reya, tidak usah berlebihan," sela Mama ikut menimpali sambil melirik Mireya dengan tatapan sinis. "Jangan sok jual mahal sekarang setelah jadi istri konglomerat. Ingat, kamu itu dibeli mahal oleh Tuan Calix untuk melahirkan anaknya. Jadi tugasmu ya menyenangkan dia dan membantu bisnis Papamu. Jangan jadi anak yang tidak tahu balas budi setelah dibesarkan."
Mireya memalingkan wajahnya ke arah jendela, membiarkan satu tetes air matanya luruh tanpa suara. Mengingat bagaimana semalam ia menangis memohon ampun karena rasa perih yang menyiksa sementara Calix terus menghajarnya tanpa belas kasihan demi menanamkan benih lebih banyak, Mireya menyadari satu hal yang kejam. Dirinya benar-benar hanya sebuah barang dagangan. Calix membelinya untuk keturunan, dan orang tuanya menjualnya untuk kekayaan. Tidak ada satu pun tempat di dunia ini yang menganggapnya sebagai manusia.
Tepat saat keheningan yang mencekam itu melanda, pintu ruang perawatan Aiden terbuka. Dokter Sidiq berjalan keluar bersama seorang suster. Mama dan Papa langsung menyerbu dokter tersebut, bukan karena murni cemas akan kondisi fisik Aiden, melainkan untuk memastikan investasi medis mereka tidak sia-sia.
"Dokter! Bagaimana? Terapi faktor pembekunya bekerja dengan baik, kan? Anak saya tidak akan mati, kan?" tanya Papa Ardan bertubi-tubi.
Dokter Sidiq mengangguk pelan, namun tatapan matanya justru beralih menatap Mireya yang berdiri mematung di belakang kedua orang tuanya dengan pandangan penuh simpati yang dalam. "Terapi profilaksisnya berjalan dengan sangat sukses, Tuan Ardan. Pendarahan internal di sendi Aiden sudah berhasil dihentikan berkat pasokan obat dosis tinggi yang langsung diberikan tadi. Kondisinya kini stabil."
"Bagus! Bagus sekali!" Papa Ardan bertepuk tangan riang tanpa memikirkan tempat mereka berada. "Kalau begitu, reputasi keluarga kita sudah bersih dari isu kebangkrutan, dan Aiden juga aman. Sempurna!"
Dokter Sidiq melangkah melewati Ardan dan Fiona, mendekati Mireya yang masih berdiri diam dengan wajah pucat. Dengan suara yang sangat pelan agar tidak terdengar oleh kedua orang tua yang egois itu, dokter paruh baya tersebut berbisik, "Adik Anda akan baik-baik saja untuk beberapa bulan ke depan, Nyonya Muda. Namun... melihat kondisi fisik Anda saat ini, saya harap Anda bisa menjaga diri Anda sendiri dengan jauh lebih baik."
Mireya tersentak, menatap Dokter Sidiq dengan kening berkerut. "Maksud Dokter?"
"Berada di sekitar Tuan Calix dan lingkaran keluarga besar David yang haus kekuasaan bukanlah hal yang mudah untuk gadis seusiamu," bisik Dokter Sidiq dengan nada memperingatkan yang teramat serius. "Apalagi setelah rumor pernikahan rahasia ini menyebar luas. Saya dengar, Kakek dari Tuan Calix sudah mulai mengendus keberadaan Anda di mansion tersebut. Badai yang sesungguhnya baru saja akan dimulai."
Sebelum Mireya sempat mencerna atau menanyakan lebih jauh mengenai sosok Kakek Calix, Papa Ardan sudah menarik lengan Mireya dengan kasar, memutus percakapan tersebut.
"Reya, ayo ikut Papa ke kafetaria di bawah. Papa mau kamu telepon Tuan Calix sekarang untuk mengucapkan terima kasih, sekalian Papa mau bicara sedikit dengannya di telepon tentang draf proyek tender baru yang tadi Papa ceritakan. Ayo, jangan membuang-buang waktu Papa!"
Mireya tidak membalas. Ia hanya bisa pasrah ditarik oleh ayahnya sendiri, melangkah dengan sisa rasa perih yang menjalar di tubuhnya. Di koridor rumah sakit yang dingin itu, ia akhirnya sadar sepenuhnya: ia benar-benar sendirian menghadapi badai besar yang kini sudah menantinya di mansion keluarga David.
semangat terus ya Thor...