Bagi Revanza, rumah bukanlah tempat untuk pulang, melainkan tempat di mana ia selalu menjadi figuran yang terlupakan. Di saat ia pulang dengan tubuh penuh luka akibat jatuh dari motor, pandangan ibunya justru tertuju penuh pada sang kakak, Arkael—si anak emas yang selalu sempurna. Namun, di balik senyuman tenang Arka yang merebut segalanya, ada sebuah rahasia berdarah yang perlahan mulai menggerogoti nyawanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amanda Shakira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35: AMARAH DI MEJA MAKAN
Bab 35: Amarah Di Meja Makan
Pagi pertama tanpa kehadiran seorang Ayah di rumah keluarga Dirgantara disambut oleh cuaca yang mendung dan berkabut tipis. Sinar matahari seolah enggan menembus awan abu-abu yang menggantung rendah di atas langit komplek. Di dalam rumah, suasana masih terasa sepekat malam tadi. Bau minyak kapur barus yang menyengat kini telah menguap, berganti dengan bau kayu tua yang lembap dan aroma kopi hitam yang sengaja diseduh Ibu di sudut dapur—sebuah kebiasaan lama yang sulit dihilangkan, meskipun pria yang biasa meminum kopi itu kini telah bersemayam di dalam tanah merah.
Revan tidak tidur semalaman.
Cowok itu menghabiskan sisa malamnya dengan duduk meringkuk di atas kursi putar kamar kerja Ayah, menatap amplop cokelat besar di atas meja dengan pandangan mata yang menyalang penuh amarah. Begitu jarum jam dinding berdentang menunjukkan pukul enam pagi, Revan menyambar amplop tersebut dengan cengkeraman kasar, lalu melangkah lebar-lebar menuju ke arah ruang makan.
Di meja makan kayu yang berkaki pincang itu, Ibu sudah duduk diam. Penampilan Ibu tampak teramat sangat memprihatinkan pagi ini. Daster batik birunya tampak kebesaran membungkus tubuhnya yang kian kurus kering. Wajah Ibu kuyu, dengan kantung mata yang menghitam dan membengkak akibat menangis semalaman tanpa henti. Ibu sedang memotong beberapa potong tahu mentah di atas talenan dengan gerakan yang sangat lambat, kosong, seolah jiwanya sedang melayang entah ke mana.
BRAAAK!
Revan menghempaskan amplop cokelat tebal itu tepat di atas meja makan, persis di sebelah piring kosong tempat biasanya Ayah duduk. Benturan keras itu membuat Ibu tersentak kaget hingga pisau dapur di tangannya nyaris tergelincir.
Ibu mendongak, menatap Revan dengan sepasang mata yang redup dan dipenuhi kelelahan mental yang masif. "Revan... kamu apa-apaan? Pagi-pagi sudah bikin keributan," tegur Ibu dengan nada suara yang teramat datar dan serak.
"Ini apa, Bu?!" Tanya Revan langsung tanpa basa-basi, suaranya terdengar sangat parau namun bergetar hebat menahan badai emosi yang meledak-ledak di dalam dadanya. Ia menunjuk amplop rumah sakit itu dengan telunjuknya yang gemetar. "Revan gak sengaja nemu ini di laci kerja pribadi Ayah semalem. Tolong jelasin ke Revan, Bu. Ini semua apa?!"
Ibu melirik ke arah amplop cokelat tersebut. Begitu melihat logo rumah sakit swasta yang tertera di sudut amplop, bola mata Ibu seketika melebar. Ekspresi kosong di wajah layunya mendadak berubah menjadi kepanikan yang teramat sangat kentara. Ibu buru-buru meletakkan pisaunya, lalu mengulurkan kedua tangannya yang keriput untuk menyambar amplop itu, mencoba menyembunyikannya dari jangkauan Revan.
"Ini... ini bukan urusan kamu, Revan! Kembalikan ke kamar Ayahmu!" Suara Ibu meninggi, sedikit gemetar karena takut rahasia maut yang selama ini dijaga ketat olehnya dan mendiang suaminya akan terbongkar di tangan anak bungsunya.
Melihat reaksi Ibu yang tampak begitu panik dan protektif terhadap dokumen tersebut, filter salah paham di kepala Revan justru semakin mengunci kesimpulannya dengan sangat kokoh. Di mata Revan, kepanikan Ibu adalah bukti nyata bahwa orang tuanya selama ini sengaja menyembunyikan "fakta kemanjaan" Arka agar Revan tidak melayangkan protes.
"Bukan urusan Revan, Bu?!" Revan tertawa getir, sebuah tawa sinis yang sarat akan rasa sakit hati yang teramat mendalam. Cowok itu mencondongkan tubuhnya ke depan meja, menatap Ibunya dengan pandangan menuntut yang teramat tajam. "Uang tabungan keluarga kita abis gak bersisa sampai Ibu nuduh Revan nyuri duit di laci, itu bukan urusan Revan?! Ayah harus kerja lembur bagai budak, pulang tengah malam sambil memegangi dadanya yang sakit sampai akhirnya jantungnya copot di meja kantor, itu juga bukan urusan Revan?!"
"Revan, jaga bicaramu! Jangan bawa-bawa kematian Ayahmu!" Bentak Ibu, setetes air mata duka kembali luruh melewati pipinya yang tirus.
"Kenapa Revan gak boleh bawa-bawa Ayah, Bu?! Ini semua faktanya!" Tekan Revan dengan suara yang menggelegar, memenuhi seisi ruang makan yang sempit. Ia merampas kembali amplop itu dari tangan Ibu, mengeluarkan lembaran kuitansi jutaan rupiah yang terselip di dalamnya, lalu menebarkannya di atas meja makan hingga kertas-kertas itu berantakan.
"Lihat ini, Bu! Jutaan rupiah! Berlembar-lembar tiap bulan! Uang segini banyak keluar murni cuma buat bayar biaya check-up manja dan nebus obat-obatan mahal si Arka! Ayah mati karena stres nyari duit buat nutupin kuitansi-kuitansi sialan ini, Bu! Ayah kena serangan jantung karena harus banting tulang memenuhi ambisi kuliah dan tubuh lemah si anak emas kesayangan Ibu itu!" Raung Revan, air matanya mulai ikut menetes deras membasahi pipinya yang memerah menahan amarah egois remajanya.
Ibu terpaku kaku mendengar rentetan kalimat kejam yang keluar dari mulut putra bungsunya. Dada Ibu terasa seperti dihantam oleh palu gada yang sangat besar hingga ia kesulitan untuk sekadar menarik napas. Ibu menatap lembaran kertas yang berantakan di atas meja. Di sana ada hasil laboratorium kreatinin dan urea darah Arka yang sudah berada di angka kritis, namun di mata Revan yang buta akan istilah medis, kertas-kertas itu hanyalah bukti "fasilitas mewah" yang diterima Arka.
Ibu ingin sekali berteriak membalas makian Revan. Ibu ingin sekali menjerit di depan wajah anak bungsunya bahwa abangnya tidak sedang manja, melainkan sedang sekarat menunggu ajal karena gagal ginjal stadium akhir. Namun, mengingat pesan terakhir suaminya di malam sebelum meninggal—“Bu, jangan pernah kasih tahu Revan soal penyakit Arka. Anak itu temperamental, dia lagi ujian akhir, kalau dia tahu tabungan kita habis dan kakaknya sekarat, jiwanya bisa hancur dan dia bakal mutusin berhenti sekolah...”—membuat Ibu terpaksa mengatupkan bibirnya rapat-rapat.
"Cukup, Revan... Ibu mohon cukup..." Isak Ibu pecah, wanita paruh baya itu menundukkan kepalanya dalam-dalam di atas meja makan, menangis histeris dengan bahu yang terguncang hebat akibat beban rahasia maut yang teramat menyiksa batinnya. "Kamu gak tahu apa-apa... Kamu gak pernah tahu rasanya jadi Ibu..."
Klek...
Suara pintu kamar tengah yang terbuka perlahan mengalihkan perhatian Revan. Dari balik koridor yang gelap, sosok Arka berjalan keluar dengan sangat tertatih-tatih.
Anak sulung itu masih mengenakan jaket hitam tebal yang membungkus tubuhnya yang kian kurus dan ringkih. Wajah Arka benar-benar sewarna dengan kain kafan, sepasang matanya bengkak dan cekung ke dalam. Tangan kanannya bertumpu kuat pada dinding koridor untuk menopang bobot tubuhnya yang terasa sangat berat akibat racun ureum yang kian mengganas di dalam darahnya setelah absen cuci darah selama beberapa hari ini.
Arka melangkah pelan mendekati area meja makan. Sepasang matanya yang redup menatap tumpukan berkas medisnya yang kini berantakan di atas meja, lalu beralih menatap Ibunya yang sedang menangis tersedu-sedu. Rasa bersalah yang teramat pekat langsung menghujam jantung Arka hingga dadanya terasa sangat sesak dan perih.
"Revan..." panggil Arka dengan suara yang teramat lirih, parau, dan tipis seolah tenaganya sudah habis terkuras. "Jangan bentak Ibu... Ini semua... ini semua salah Abang... Kalau kamu mau marah, marah aja sama Abang, Van... tapi tolong jangan bikin Ibu menangis lagi..."
Mendengar suara Arka, Revan membalikkan badannya dengan cepat. Sepasang netra Revan berkilat penuh dengan kilatan kebencian murni yang teramat pekat. Ia melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka, lalu berdiri tepat di hadapan abang kandungnya.
"Oh, si anak emas akhirnya keluar dari sarangnya?" Sindir Revan dengan nada suara yang teramat dingin dan kejam. Ia meremas sisa kertas kuitansi di tangannya, lalu melemparkannya tepat ke arah dada Arka. Kertas-kertas itu meluncur, lalu jatuh berserakan di atas lantai di dekat sepasang kaki kurus Arka.
"Lo liat ini, Arka! Liat kuitansi sialan ini!" Bentak Revan tepat di depan wajah Arka yang pucat. "Gara-gara tubuh lemah lo yang manja ini, gara-gara pengobatan mahal lo yang gak penting ini, Ayah harus mati sendirian di kantor! Ayah kena serangan jantung murni karena mikirin gimana cara nyari duit buat biayain semua kemanjaan lo! Lo itu pembunuh, Arka! Lo yang udah bunuh Ayah secara gak langsung dengan semua ego dan parasitnya hidup lo di rumah ini!"
DEG.
Kata 'pembunuh' yang keluar dari mulut adiknya terasa seperti belati berkarat yang ditusukkan langsung ke ulu hati Arka, lalu diputar dengan kejam. Arka tersentak mundur satu langkah, wajahnya yang sudah pucat kini semakin kehilangan rona kehidupan. Dada Arka berdenyut luar biasa nyeri, memicu rasa mual yang teramat sangat dahsyat di dalam perutnya. Racun di dalam tubuhnya seolah ikut bergejolak hebat merespons guncangan batin yang teramat masif pagi ini.
Arka memegangi dadanya yang sesak, napasnya mulai memburu pendek-pendek. "Revan... Abang gak bermaksud... Abang..." Arka mencoba menjelaskan, namun lidahnya terasa teramat kaku. Ia menolak untuk membongkar penyakitnya karena ia tahu jika Revan tahu bahwa Ayah meninggal demi membiayai cuci darahnya, rasa benci Revan padanya hanya akan berubah menjadi rasa muak yang abadi. Arka memilih untuk menelan sendiri seluruh makian kejam itu.
"Abang apa, hah?!" Potong Revan kejam, ia mencengkeram kerah jaket hitam Arka dengan sangat kasar, membuat tubuh ringkih kakaknya itu sedikit terguncang. "Gak usah lo sok suci dan sok tersakiti di depan gua! Di depan jenazah Ayah kemarin lo pingsan murni buat nyari simpati orang kan?! Sekarang bukti udah ada di tangan gua, Arka! Rumah ini hancur, Ayah meninggal, dan Ibu kurus kering kayak gini... itu semua murni karena lo adalah parasit terbesar di dalam keluarga ini!"
"Revan! Lepaskan Abangmu!!" Jerit Ibu histeris, bangun dari duduknya dan mencoba memisahkan kedua putranya dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki.
Revan melepaskan cengkeraman tangannya dari kerah jaket Arka dengan sentakan yang sangat kasar, hingga tubuh lemah Arka limbung dan nyaris jatuh membentur pinggiran lemari kalau saja anak sulung itu tidak cepat-cepat berpegangan pada tiang kayu pintu.
Revan mundur dua langkah, menatap Ibu dan Arka bergantian dengan pandangan mata yang dipenuhi oleh rasa angew muak dan kecewa yang sudah melampaui batas toleransi remajanya.
"Puas lo sekarang, Arka? Ayah udah mati, tabungan udah abis, dan gua dituduh nyuri duit demi nutupin biaya lo!" Revan membalikkan badannya dengan cepat, melangkah lebar-lebar menuju ke arah luar ruang makan tanpa memedulikan jeritan panggilah Ibunya yang terus menangis di belakang punggungnya. Salah paham di antara kedua saudara kandung itu kini telah resmi mengkristal menjadi dinding pemisah yang teramat tebal, menghantarkan mereka menuju babak baru yang jauh lebih tragis dan penuh air mata penyesalan di masa depan.
Bersambung....
.
.
.
.
.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...