Di kota megah yang dipenuhi gemerlap lampu malam dan dosa, nama Aragon De Hartmann dikenal sebagai raja mafia paling kejam dan tak tersentuh. Di balik kekuasaan, uang, dan darah yang mengalir di tangannya, Aragon hidup dalam kegelapan.
Sementara itu, Aurora, seorang gadis panti asuhan yang sederhana dan lembut, berjuang hidup sendirian setelah panti tempat ia dibesarkan terancam ditutup oleh kelompok kriminal. Demi menyelamatkan anak-anak kecil di sana, Aurora nekat mendatangi seorang pria yang paling ditakuti di seluruh kota, dia adalah Aragon De Hartmann.
Pertemuan mereka seharusnya hanya sebuah transaksi.
Namun, tatapan mata Aurora yang hangat perlahan menghancurkan dinding dingin di hati sang mafia. Untuk pertama kalinya Aragon mulai merasakan sesuatu yang hampir ia lupakan, yaitu cinta dan harapan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alistia Haka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 4
Aurora melangkah perlahan ke depan hingga berdiri di antara para suster dan para pria asing itu. Tubuhnya masih basah oleh hujan, beberapa helai rambut hitam menempel di pipinya yang pucat karena dingin. Jemarinya gemetar, entah karena suhu udara yang menusuk atau rasa takut yang mulai memenuhi dadanya.
Namun meski terlihat rapuh, tatapan matanya tetap tajam dan waspada.
Ruangan itu terasa begitu sunyi.
Hanya suara hujan yang menghantam jendela tua dan suara tetesan air dari pakaian Aurora yang terdengar samar di tengah keheningan mencekam itu.
Aurora menatap pria paruh baya bertubuh besar yang duduk santai di kursi tamu dengan kaki terbuka lebar dan sikap seolah dirinya pemilik tempat tersebut.
Tubuh pria itu dipenuhi tato, salah satunya gambar harimau besar yang menjulur hingga leher. Kemeja bermotif mencolok yang dikenakannya terbuka sebagian, memperlihatkan rantai emas tebal di dadanya. Aroma rokok dan alkohol begitu kuat menguar dari tubuhnya.
Aurora menggenggam kedua tangannya erat sebelum akhirnya berbicara.
“Apa tujuan kalian datang ke sini?” tanyanya. Nada suaranya sopan, tetapi jelas dipenuhi kewaspadaan.
Pria itu menatap Aurora selama beberapa detik sebelum mendengus kesal.
“Tch…! Thison Jelaskan padanya!” katanya malas sambil melirik ke arah anak buahnya.
”Aku malas mengulang omong kosong yang sama.” Lanjutnya lagi.
Salah satu pria di belakangnya yang bernama Thison maju selangkah dengan ekspresi urakan.
“Tuan Alexander Ridge sudah membeli seluruh lahan ini!” Katanya kasar. “Rumah panti, gereja, semuanya! Kami datang atas perintah pemilik baru properti ini.”
Pria itu menunjuk sekeliling dengan dagunya.
“Dalam dua puluh empat jam, kalian harus angkat kaki dari sini!”
Wajah Aurora langsung berubah.
“Apa…?! Tidak masuk akal!”
“Kalau sampai besok kalian masih di sini,” lanjut Thison sambil tersenyum sinis.
”Kami akan mengusir kalian dengan paksa!”
Kalimat itu membuat para suster memucat dan menciut.
“Apa maksud kalian?! Seenaknya saja! Sudah lebih dari 20 tahun kami tinggal di sini!” bentak Aurora akhirnya.
“BRAKKK!!”
Pria paruh baya itu akhirnya bereaksi, tiba-tiba saja ia menggebrak meja dengan keras hingga semua orang tersentak kecuali para anak buahnya.
“Aku sudah cukup sabar dari tadi!” bentaknya kasar pada Aurora.
“Para suster tua di sini juga sudah paham situasinya, jadi jangan membuatku menjelaskannya lagi!”
Pria itu berdiri perlahan dari kursinya. Auranya langsung berubah seolah siap mengamuk.
“Kalian tahu siapa aku?”
Tak ada yang menjawab, para suster melirik sekelibat tak berani menatap.
“Aku Bulldogo Weiler, orang-orang atas yang memerlukan jasaku biasa memanggilku Bulldog si bengis layaknya anjing pemburu,” katanya sambil menepuk dadanya sendiri dengan angkuh. “Dan aku… Tangan kanan Tuan Alexander Ridge.”
Nama itu langsung membuat wajah Suster Teresa kehilangan darah. Rasanya pening dan hampir pingsan
Bulldogo Weiler memang terkenal.
Pria yang menangani urusan tanah, penagihan utang, bank rentenir, dan berbagai pekerjaan kotor di Kota S.
Pria yang tidak pernah ragu menggunakan kekerasan, dan pengrusakan.
“Kalau kalian masih mencoba melawan…” Bulldogo Weiler menatap mereka satu per satu dengan senyum mengerikan.
”Akan aku pastikan bukan cuma rumah ini yang hilang. Nyawa kalian juga melayang!”
Beberapa anak kecil yang mengintip dari lorong langsung ketakutan hingga berpelukan.
Aurora mengepalkan tangannya erat.
“Mulai hari ini.” lanjut Bulldog sambil melempar map hitam ke atas meja.
“Tanah, bangunan panti asuhan, dan gereja di wilayah ini resmi menjadi milik Tuan Alexander.”
Aurora menggeleng pelan.
“Tidak mungkin…” suaranya melemah. “Kami sudah tinggal di sini lebih dari dua puluh tahun. Bahkan sebelum saya lahir, panti ini sudah berdiri.” Kata Aurora lagi.
“Peduli setan!” bentak Bulldog. “Kalian tinggal di sini tanpa sertifikat resmi!” Bulldog membuka map tersebut dengan kasar lalu melempar beberapa dokumen ke arah Aurora.
“Sertifikat tanah. Surat pengalihan aset. Semua legal!” katanya keras. “Lihat baik-baik!”
Aurora mengambil dokumen itu dengan tangan gemetar. Matanya membaca cepat setiap halaman. Dan semakin lama, wajahnya semakin pucat.
Alamat yang tertulis benar. Moon Haven House. Termasuk gereja dan seluruh tanah di sekitarnya.
Aurora langsung menoleh ke arah Suster Magdalena.
“Suster…?”
Wanita tua itu menundukkan kepala perlahan dengan wajah penuh rasa bersalah.
“Kami memang tidak pernah memiliki sertifikat resmi tempat ini,” ucapnya lirih. “Dulu pemilik tanah mengizinkan gereja membangun panti di sini. Tapi setelah beliau meninggal, anaknya terus memaksa menjual tanah ini.”
Ruangan mendadak terasa sesak.
Aurora menatap kembali dokumen di tangannya seolah berharap semuanya hanya mimpi buruk.
Namun cap legal dan tanda tangan di sana tidak bisa lagi membuat Aurora membantah.
Bulldog menyeringai licik sambil menatap Aurora dari atas hingga bawah tanpa malu-malu.
Tatapan pria itu membuat Aurora merasa muak.
“Aku sebenarnya paham situasi kalian,” katanya sambil melipat tangan. “Makanya aku datang duluan sebelum Tuan Alexander turun tangan sendiri.” Ia terkekeh pelan.
“Kalau dia yang datang, tempat ini mungkin sudah dibakar habis.”
Suster Paulin langsung menangis.
Aurora menggigit bibirnya menahan emosi.
“Lalu, pasti ada yang kalian inginkan bukan?” tanya Aurora perlahan.
Bulldog tersenyum lebar. Senyum yang membuat bulu kuduk semua orang berdiri.
“Mudah.” Bulldog melangkah mendekati Aurora.
“Jadilah istriku.”
Deg!
Ruangan langsung membeku.
Beberapa anak kecil yang menguping dari lorong langsung memucat ketakutan.
Aurora menatap pria itu tidak percaya.
“Apa…?!”
“Kalau kau menikah denganku,” lanjut Bulldog santai.“Aku bisa membiarkan kalian tetap tinggal di sini. Aku akan bernego dengan Tuan Alexander.”
Wajah Aurora langsung berubah jijik, para suster juga langsung saling pandang dan khawatir.
“Kau gila!” Teriak Aurora.
Bulldog tertawa keras.
“HAHAHAHA!! Tidak ada yang gratis di dunia ini, dasar gadis naif!”
Aurora mengepalkan tangannya kuat-kuat.
“Di sini banyak anak-anak!” bentak Aurora akhirnya. “Mereka tidak punya tempat lain untuk pergi dan kau malah memanfaatkan keadaan demi kepentinganmu sendiri?!”
“BRAKK!!”
Bulldog kembali menggebrak meja dengan keras hingga vas bunga di atasnya jatuh pecah ke lantai.
“PYAARR!!”
Anak-anak kecil langsung menjerit ketakutan.
“Aku sudah cukup baik memberi pilihan! Kau lah yang egois! Katamu kau memikirkan anak-anak? Tapi kau bahkan tak mau berkorban demi mereka!!” bentak Herder bengis.
Aurora mundur setengah langkah refleks, namun tetap menatap pria itu dengan marah.
Bulldog mendadak meraih dagu Aurora kasar.
“Akh!” Pekik Aurora.
“Dengar baik-baik,” desisnya dekat di wajah Aurora. “Kalau bukan karena wajah cantikmu, aku sudah menyeret kalian semua keluar sekarang juga.”
“Lepaskan dia!” teriak Jason sambil berlari keluar dari lorong.
Anak laki-laki itu langsung mendorong tubuh Bulldog sekuat tenaga.
“Jangan sentuh Ellynn!”
Namun tubuh kecil Jason sama sekali tidak berarti.
Bulldog mendorongnya begitu saja hingga anak itu jatuh keras ke lantai.
“BUG!!”
“JASON!” teriak Aurora panik.
Suster Teresa langsung berlari memeluk anak-anak lain yang mulai menangis ketakutan.
Suasana berubah kacau.
Aurora buru-buru membantu Jason berdiri sementara Bulldog tertawa kasar melihat keributan itu.
“Lihat?” katanya sinis. “Kalian bahkan tidak mampu melindungi diri sendiri.”
Aurora menatapnya penuh kebencian.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya. Ia benar-benar merasa ingin membunuh seseorang.
Bersambung