NovelToon NovelToon
The Royal Family

The Royal Family

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:235
Nilai: 5
Nama Author: Viana18

Di tengah kota mewah Seoul berdiri sebuah komplek elite bernama Royal Family Residence tempat tinggal empat keluarga sultan paling berpengaruh di Asia. Rumah mereka berdampingan, bisnis mereka mendunia, dan anak-anak mereka terkenal di sekolah elit Aexdrem High School serta Universitas Aexdrem.
Walaupun terlihat sempurna dari luar, isi rumah mereka justru penuh keributan, lawakan receh, drama keluarga, dan perang mulut tiap hari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Viana18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

Suasana bahagia masih terasa kental di ruang gym itu. Jeno masih duduk diam membiarkan Nana mengobati lukanya, sambil senyum-senyum sendiri kayak orang yang baru aja menangin dunia. Ayah Yuta sama Bunda Winnie masih saling pandang dengan bangga, lega karena ujian pertama udah selesai dengan hasil yang memuaskan. Belum sempat mereka semua pindah ke ruang lain, terdengar lagi suara kendaraan berhenti di depan gerbang, disusul ketukan pintu pagar yang sopan tapi tegas.

Renjun yang dari tadi cuma diam dan senyum-senyum liat adiknya, tiba-tiba pipinya memerah merona. Dia kenal banget ketukan itu, dia kenal banget irama langkah kaki di luar sana. Semua mata langsung beralih ke arahnya, dan Dejun langsung nyengir jahil sambil nyenggol lengan adiknya.

"Wih... giliran Kamu njun nih kayaknya. Si Gualin datang juga ternyata. Hati-hati ya Njun, pasti nasibnya sama persis kayak Jeno tadi," celetuk Dejun pelan sambil menahan tawa.

Ayah Yuta langsung mengangguk paham, senyumnya melebar lagi. "Nah, ini dia yang kedua. Masih ada ujian satu lagi nih. Ayo kita sambut sama-sama. Renjun, kamu tetap di sini aja ya, jangan kemana-mana. Sama aturannya kayak tadi."

Renjun cuma bisa menunduk malu sambil memainkkan ujung bajunya, wajahnya merah banget tapi matanya berbinar bahagia. Dia tau banget siapa yang datang, dan dia juga tau betul cowok itu gak bakal nyerah sebelum dapetin apa yang dia mau.

Gualin pun masuk ke ruangan itu dengan langkah tegap, sopan, dan penuh percaya diri. Dia udah rapi banget, pakaiannya bersih dan wangi, wajahnya serius tapi ada senyum lembut yang terselip. Pas matanya menatap Renjun yang berdiri di sudut ruangan, senyum itu makin mekar, tapi dia buru-buru menunduk hormat ke arah Ayah Yuta dan Bunda Winnie.

"Pagi, Ayah Yuta, Bunda Winnie. Maaf kalau datangnya agak telat dikit, tadi ada urusan kecil yang harus diselesaikan dulu," sapa Gualin dengan nada rendah dan sopan.

Ayah Yuta menatap Gualin lekat-lekat, dari ujung kepala sampe ujung kaki. Dia tau Gualin. Cowok ini pendiam, tenang, kalem, dan terlihat lembut, tapi Ayah Yuta tau ada tekad baja di balik tatapan matanya itu.

"Gualin..." panggil Ayah Yuta berat. "Kamu datang ke sini, Ayah tau alasannya apa. Sama kayak Jeno yang tadi. Kamu mau serius sama Renjun. Kamu mau pacaran sama dia, kamu mau jagain dia, kamu mau bikin dia bahagia. Bener kan?"

Gualin mengangguk mantap, matanya menatap Ayah Yuta berani banget. "Bener, Ayah. Saya datang ke sini cuma buat itu. Saya sayang sama Renjun, saya mau dia, dan saya siap bertanggung jawab penuh atas dia seumur hidup saya."

Ayah Yuta tertawa kecil, lalu menunjuk ke arah dua pengawal yang tadi baru aja dihadapi Jeno, yang sekarang udah berdiri tegap lagi dengan wajah siap siaga.

"Bagus tekadnya. Tapi ingat ya Gualin, aturannya sama persis kayak yang tadi Ayah kasih ke Jeno. Buat dapetin izin dari Ayah, buat dapetin restu, kamu harus buktiin kalau kamu sanggup ngelindungin anak Ayah. Renjun itu berharga banget buat Ayah, gak kalah sama Nana. Ayah gak mau kasih dia ke cowok yang lemah atau gak berani berjuang. Nah, tantangannya sama: kamu harus tanding dan kalahkan kedua pengawal ini. Kalau kamu menang... Ayah kasih izin dan restu sepenuhnya. Kalau kalah... jangan pernah deketin Renjun lagi. Gimana? Berani gak?"

Di sudut ruangan, Renjun langsung menatap kaget ke arah Ayahnya. Dia mau protes, mau bilang kalau Gualin itu bukan tipe yang suka berantem, kalau Gualin itu lembut banget, tapi dia tau dia gak boleh bersuara. Dia cuma bisa menatap cemas ke arah Gualin, matanya berkaca-kaca takut cowok itu terluka parah kayak Jeno.

Gualin diam sebentar, dia natap kedua pengawal berbadan kekar itu, lalu natap Renjun yang kelihatan khawatir banget. Dia narik napas panjang, menegakkan punggungnya, lalu senyum tipis terbit di bibirnya. Dia emang pendiam, dia emang kalem, dia emang gak seberisik Jeno... tapi soal ketekadan dan kegigihan, dia gak kalah sedikit pun.

"Siap, Ayah. Saya berani. Dan saya janji... saya bakal menang. Demi Renjun, saya bakal ngelakuin apa aja," jawab Gualin tegas dan tenang banget, bikin semua orang di ruangan itu kaget liat keberaniannya.

Pertarungan pun dimulai lagi. Kali ini semua orang ngeliat bedanya banget sama gaya Jeno yang berantakan tapi penuh semangat. Gualin bertarung dengan tenang, terukur, cerdas, dan penuh perhitungan. Dia gak terburu-buru, dia gak nekat. Dia menghindar dengan lincah, dia menangkis dengan kuat, dan dia menyerang di saat yang paling tepat.

Tapi musuhnya tetep sama, dua orang yang jauh lebih besar, lebih berat, dan lebih berpengalaman. Tubuh Gualin sempat terlempar beberapa kali ke lantai, napasnya mulai memburu, keringat mulai mengucur deras membasahi wajah dan bajunya. Ada luka lecet di siku dan lututnya, napasnya makin berat, dan tenaganya perlahan mulai habis.

Renjun yang ngeliat itu dari jauh sampe menutup mulutnya pakai kedua tangan, air matanya hampir jatuh. Dia kasihan banget, dia sedih banget liat cowok yang dia cintai terluka kayak gitu. Tapi dia juga liat satu hal yang bikin hatinya meleleh: walau udah lemas, walau udah sakit banget, Gualin gak pernah sekalipun berniat menyerah. Setiap kali jatuh, dia bangkit lagi. Setiap kali terpojok, dia cari jalan keluar lagi. Matanya gak pernah lepas dari arah Renjun, seolah-olah sosok itu adalah sumber tenaga terbesarnya.

"Dia hebat banget..." batin Renjun sambil menahan haru. "Dia tenang, dia sabar, dia gigih banget. Dia gak teriak-teriak, dia gak banyak omong, tapi dia buktiin semuanya lewat perbuatannya. Dia emang cowok idaman banget buat aku."

Gualin ingat semuanya. Dia ingat gimana Renjun selalu sabar ngadepin dia, gimana Renjun selalu ngertiin sifat pendiamnya, gimana Renjun selalu ada buat dia. Dia ingat janjinya sendiri: bakal jagain Renjun sampai kapan pun, bakal bikin dia bahagia, bakal jadi cowok terbaik buat dia.

Dengan sisa tenaga yang udah tinggal dikit, Gualin mengerahkan semuanya. Dia menghindari serangan terakhir salah satu pengawal, memanfaatkan celah kecil yang terbuka, lalu dengan gerakan cepat dan kuat, dia berhasil menjatuhkan satu lawan. Lalu dia berbalik badan, menangkis serangan yang kedua, dan dengan penuh ketekadan, dia membalas pukulan tepat sasaran sampai pengawal itu kehilangan keseimbangan dan jatuh tersungkur ke lantai.

Hening seketika lagi.

Gualin berdiri terhuyung-huyung sedikit, napasnya berat banget, kakinya gemetar karena capek luar biasa, tapi dia tetap berdiri tegak. Dia menang. Dia berhasil ngalahin mereka berdua, sama kayak Jeno.

Ayah Yuta berdiri diam, matanya melebar kaget sekaligus bangga luar biasa. Dia berjalan mendekati Gualin, menatap pemuda itu lekat-lekat, lalu tersenyum lebar dan menepuk-nepuk bahu Gualin dengan sangat puas.

"HEBAT! BAGUS BANGET GUALIN!" seru Ayah Yuta penuh kekaguman. "Ayah gak nyangka kamu sekuat dan secerdas ini dalam bertindak. Kamu tenang, kamu sabar, kamu cerdik, dan yang paling penting kamu gigih banget. Kamu buktiin kalau kamu bukan cuma cowok pendiam yang lemah, tapi kamu punya nyali dan kekuatan besar buat ngelindungin orang yang kamu sayang. Aku percaya sekarang. Ayah yakin banget kamu bakal jagain Renjun dengan sebaik-baiknya, bahkan mungkin lebih baik dari siapa pun. RESTU AYAH KASIH! Kamu boleh pacaran sama Renjun, resmi, dan sepenuhnya!"

Wajah lelah dan sakit Gualin langsung berubah bersinar cerah. Senyum lega dan bahagia terbit di bibirnya. Dia menunduk hormat dalam-dalam ke arah Ayah Yuta. "Terima kasih banyak, Ayah. Saya janji, saya gak bakal nyia-nyiakan kepercayaan ini. Saya bakal bahagiakan Renjun seumur hidup saya."

Belum selesai bicara, Renjun langsung berlari kecil mendekat. Dia gak peduli lagi sama aturan atau apa, dia cuma mau liat Gualin. Matanya berkaca-kaca, campur sedih liat lukanya dan senang luar biasa karena semuanya udah selesai dan direstui.

"Kamu... kamu gila ya?! Kenapa harus nekat banget sih?! Kamu bisa aja terluka parah tau!" omel Renjun sambil pelan-pelan memegang lengan dan bahu Gualin, memeriksa luka-lukanya dengan perhatian penuh.

Gualin cuma senyum lembut banget, dia gak peduli sama rasa sakit di sekujur tubuhnya. Dia cuma natap wajah Renjun, natap mata indah cewek itu, lalu dengan suara pelan dan rendah khas dirinya, dia jawab.

"Gak apa-apa, Jun. Semua sakit ini hilang seketika pas aku tau aku menang. Pas aku tau aku dapet izin Ayah kamu. Semuanya aku lakuin demi kamu. Demi bisa resmi milikin kamu, demi bisa jagain kamu. Semuanya sepadan kok, asalkan kamu bahagia."

Bunda Winnie langsung menghampiri mereka sambil membawa kotak obat tambahan, matanya juga berkaca-kaca terharu. "Udah udah, ayo duduk dulu biar diobatin. Kalian berdua ini sama aja, sama-sama nekat, sama-sama hebat, sama-sama tulus banget sama anak-anak Ibu. Baguslah kalau gini, Ayah sama Bunda lega banget sekarang."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!