Pewaris Pedang Samudera yang memilih berlayar ketimbang meneruskan jejak sang ayah. Lantas bagaimana cara dia untuk memanfaatkan pusaka legendaris itu dan mewujudkan perdamaian di Shenzhou jika dia sendiri adalah sampah yang dimanjakan ibu dan kakak perempuannya?
"Ibuku memberiku segalanya kecuali kebebasan. Kakakku memberiku perlindungan meski aku tidak memintanya. Sementara Ayahku memberiku mimpi yang membuatku terus berjalan meski semua orang berkata untuk berhenti. Aku adalah orang paling beruntung sekaligus paling terkekang di dunia."
Novel Xianxia baru dari Dana Brekker, bisa langsung baca aja. Tinggalkan like, vote, dan komentarnya kalau suka. Terima kasih!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3 : MERAH DI LANGIT, BIRU DI DALAM MIMPI
Suara Panglima Qinghan terdengar seperti kapak yang membelah kayu, karena setiap katanya memikul berat perintah yang tidak boleh ditafsirkan ganda. Wanita itu berdiri di buritan kapal utama dengan angin menerpa wajahnya dari segala arah, rambut hitamnya tersapu liar, dan tangannya yang terangkat memancarkan cahaya biru pucat yang semakin terang semakin dia mendorong qi-nya keluar.
Es muncul dari permukaan laut di sisi kanan armada, naik membentuk dinding yang tidak sempurna tapi kokoh, menahan gelombang pertama yang datang seperti lereng gunung yang bergerak. Lalu dinding kedua di sisi kiri. Lalu lapisan tipis beku yang melingkupi lambung kapal utama, meredam benturan ombak yang sudah cukup keras untuk meretakkan kayu tebal. Kekuatan itu nyata, tapi hukum langit yang rusak membuat setiap lapisan es terasa seperti mengangkat beban dua kali lebih berat dari seharusnya.
Sedangkan adiknya menatap gumpalan awan hitam kemerahan yang terus turun di cakrawala depan mereka. Dari dalam awan itu, petir menyambar ke bawah dengan warna merah tua seperti darah.
Suara Qinghan adalah hal terakhir yang dia dengar sebelum gelombang besar pertama kalinya menghantam dek.
Dingin yang menggigit tulang adalah hal pertama yang terasa sebelum kesadarannya kembali sepenuhnya.
Air laut menerpa wajah Haifeng dari samping, asin dan tajam, cukup keras untuk memaksanya membuka mata lebar-lebar. Kini tubuhnya terbungkus lapisan es yang sudah mulai mencair di tepinya, retak-retak, tapi masih cukup utuh untuk menjelaskan mengapa tulang-tulangnya tidak patah meskipun dek di sekitarnya sudah terlihat seperti kapal yang sudah menyerah kepada laut. Perlindungan es dari kakaknya itu memanglah tidak sempurna, tapi cukup.
Haifeng berbaring telentang di atas papan dek yang miring, menatap langit yang masih berputar di atas kepalanya. Awan merah kegelapan menggeliat di sana. Petir turun lagi di kejauhan, menerangi lautan dengan cahaya yang salah warnanya.
Lantas pemuda itu memaksakan dirinya bergerak.
Merangkak di atas dek yang basah dan miring adalah pekerjaan yang membutuhkan fokus penuh. Haifeng bergerak dengan tangan dan lutut, menghindari retakan besar di papan lantai, menghindari tali-tali layar yang terputus dan tergulung di mana-mana. Tangannya menggapai sesuatu yang keras di dekat tiang layar yang kini patah setengahnya.
Itu Kompas Dao.
Entah bagaimana benda itu masih ada, terselip di antara tumpukan tali, terlindungi oleh keberuntungan yang tidak masuk akal. Haifeng mengambilnya dengan jari-jari yang sudah hampir tidak bisa digerakkan oleh dingin. Sementara jarum di dalamnya berputar cepat, bergerak tanpa arah yang jelas seperti seekor serangga yang panik di dalam toples.
Tangan kirinya meraba punggungnya. Pedang Samudera masih di sana, terikat kuat di punggungnya dengan tali penyangga yang ternyata tidak putus. Haifeng kemudian menghela napas pendek yang terasa seperti syukur yang tidak menemukan kata-katanya.
Sampai petir merah menyambar dari langit dengan suara yang lebih menyerupai jeritan daripada guntur.
Sambaran itu tepat mengenai tiang utama kapal, menembus kayu dari atas ke bawah seperti jarum yang ditusukkan ke dalam lilin yang lunak, dan api yang muncul setelahnya berwarna merah tua dengan tepi keunguan yang membakar lebih cepat dari yang seharusnya. Dalam waktu yang terasa terlalu singkat, separuh dek depan sudah terbakar.
Kekacauan yang menyusul tidak bisa digambarkan dengan kata tertib. Beberapa awak kapal berlari ke sisi lambung dan terjun tanpa pikir panjang. Beberapa lainnya berusaha memadamkan api dengan ember dan tangan kosong, keduanya sama tidak bergunanya. Adapun lonceng dari kapal-kapal lain berbunyi tanpa pola, saling sahut, tidak ada yang tahu artinya apa.
Haifeng sendiri masih berdiri di tempat yang sama saat Qinghan berlari ke arahnya.
Perempuan itu terlihat lebih pucat dari biasanya, dan ada sesuatu di sekitar matanya yang menunjukkan bahwa mendorong qi sebesar tadi, di bawah hukum langit yang sedang sekarat, sudah memakan harga yang tidak kecil. Tapi langkahnya tidak melambat.
Haifeng membuka mulutnya. Yang keluar pertama bukan kata yang berguna, melainkan kalimat yang sudah dia putar-putar di kepalanya sejak kompas di tangannya mulai berputar tanpa arah tadi. Bahwa ini kesalahannya. Bahwa dia yang membawa semua orang ke sini. Bahwa armada delapan kapal itu adalah tanggung jawabnya dan sekarang satu di antaranya terbakar dan yang lain entah di mana.
Qinghan lantas memotong kalimat itu sebelum selesai.
"Berhenti," katanya. "Ini bukan salahmu. Hukum langit yang membuat badai ini. Bukan kompasmu, bukan keputusanmu."
Haifeng tidak menjawab. Rasa bersalah yang sudah mengendap di dadanya sejak tadi tidak mudah dipindahkan hanya oleh beberapa kalimat, kendati demikian, kalimat itu sendiri cukup untuk membuat tangannya berhenti gemetaran.
Lantas Qinghan tidak menunggu lebih lama. Tangannya mencengkeram lengan adiknya, dan mereka berlari ke sisi lambung kapal yang belum terbakar.
Laut yang mereka terjun ke dalamnya terasa seperti dinding batu yang bergerak. Alhasil kesadaran Haifeng pergi lagi.
Di dalam mimpinya, tidak ada laut.
Ada cahaya biru yang tenang, seperti keluar dari dalam air yang sangat jernih di tempat yang sangat dalam. Haifeng berdiri di atas sesuatu yang terasa seperti permukaan tapi tidak terlihat, dan di depannya ada siluet seorang wanita yang berdiri membelakanginya.
Rambut panjang. Tubuh yang ramping elegan. Wanita itu tidak bergerak, tapi kehadirannya terasa seperti jangkar di tengah arus yang kuat.
Haifeng memanggilnya Kakak. Kemudian lagi. Kemudian berkali-kali, dengan nada yang semakin mendesak, karena wanita itu tidak berpaling dan jaraknya terasa semakin jauh meskipun kakinya tidak bergerak.
Sedangkan di sekitar wanita itu pula, ada gambar-gambar yang mengapung seperti gulungan yang terbuka di udara. Lautan yang belum dipetakan. Sebuah pedang yang lahir dari kedalaman laut dalam ritual yang tidak ada catatan tertulisnya di mana pun. Sebuah pulau yang berdiri di titik pertemuan empat arus besar, tersembunyi di balik kabut yang tidak bisa ditembus dengan navigasi biasa, tapi bisa ditembus dengan sesuatu yang berbeda.
Haifeng memanggil lagi. “Kakak?”
Wanita itu akhirnya menoleh, setengah wajah, dan itu cukup untuk menunjukkan bahwa itu bukan Qinghan.
"Kakak!!!"
Haifeng duduk tegak.
Langit-langit gua itu kasar dan basah, tapi apinya hangat.
Perapian kecil di tengah gua menyala dengan kayu yang entah dari mana asalnya, dan cahayanya yang oranye itu menyenangkan dengan batu-batu abu yang mengelilinginya. Haifeng merasakan berat Pedang Samudera di pelukannya sebelum sadar bahwa tangannya ternyata sudah mencengkeramnya sejak entah kapan.
Kakek Tabib bernama Hua Yuan duduk di seberang perapian, wajah tua itu memancarkan kelegaan yang tidak disembunyikan. "Akhirnya," katanya, hampir berbisik. "Kukira aku harus merebus ramuan ketiga."
Seorang gadis, tabib muda bernama Hua Ling yang duduk di sampingnya menatap Haifeng dengan ekspresi yang susah payah dipertahankan agar terlihat biasa.
Sebelum langkah kaki berat terdengar dari mulut gua, dan Qinghan masuk dengan pakaian yang masih basah di beberapa bagian tapi baju besi peraknya sudah bersih dari lumpur laut. Wanita itu sempat berdiri sebentar, menatap adiknya yang sudah duduk tegak dan sadar, kemudian melangkah mendekat dan berlutut di depannya.
Pelukan itu datang tanpa peringatan.
Singkat. Kaku, karena Qinghan tidak pernah belajar bagaimana cara memeluk dengan santai. Tapi nyata. Haifeng cukup terkejut untuk tidak langsung merespons, kemudian tangannya yang masih memegang Pedang Samudera itu terangkat dan membalas pelukan itu dengan canggung pula.
Mereka tidak berkata apa-apa selama beberapa detik.
"Yang lain—" kata Haifeng. Kalimatnya tidak selesai, tapi maknanya jelas.
Qinghan melepas pelukannya dan kembali ke postur normalnya, tegak, wajah datar. "Akan kita cari besok."
Haifeng tidak bertanya lagi. Ada sesuatu dalam cara Qinghan mengucapkan kata "besok" yang terasa seperti janji yang tidak bisa diganggu gugat.
Matanya jatuh ke kompas Dao yang tergeletak di lantai gua dekat kakinya. Jarum di dalamnya diam, tidak berputar lagi. Menunjuk ke satu arah, ke depan, ke arah yang sama dengan sebelum langit berubah menjadi merah tadi.
Haifeng memungut dan menggenggamnya.
Dia tahu Pulau Xuanyuan masih ada di sana.