Berulang kali patah hati oleh pemuda yang sama, membuat Lova berusaha melepas mimpinya menjadi kekasih Afnan, dan pasrah menerima perjodohan yang dilakukan oleh kedua orangtuanya.
Namun siapa sangka, nyatanya lelaki pilihan mama dan papa adalah Afif sang guru mengaji yang juga putra dari teman papa. Bukan karena jarak usia mereka yang terpaut cukup jauh, namun sosok Afif yang terkenal anti perempuan apalagi jika perempuan itu termasuk ke dalam golongan manusia minus akhlak dan ilmu agama sepertinya yang membuat Lova berpikir lebih baik ia diciptakan menjadi sebuah debu saja.
***
Disaat ia sudah bisa menerima semua yang terjadi, justru sosok pemuda impiannya itu hadir kembali di kehidupan Lova.
Akankah Afnan mampu menggoyahkan hati Lova, bagaimana pula Afif membimbing Lova demi membawa bahtera rumah tangga keduanya hingga mampu menepi di jannahnya Allah?
~~~
"Kenapa mesti surat Ar-Rahman dan surat An-Nisa yang jadi mahar?"
"Terus kamu maunya apa? Yassin? Al Jinn?"
.
.
.
.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15. Di kamar ada kingkong
Dan umi serta abi masih berbincang dengan sesekali Afnan dan Afif menimpali. Namun diantara kesemuanya, Lova mendadak jadi pendiam, raganya memang bersama di ruang makan, tapi pikirannya masih terbayang-bayang dengan suguhan pemandangan pagi tadi yang membuatnya syok dunia akhirat.
Penampakan manusia telan jankk bulat dengan bulu di sekitar kaki persis kingkong sepaket badan yaaa--- meski tak seatletis atlit tapi cukup bisa dijadikan pelabuhan yang bikin jiwa perempuan merasa perlu bersandar disana. Bukan...bukan cuma perempuan, melainkan kapal pesiar, kapal laut, kapal api...
Ia menghela nafas dengan rona wajah memerah sesekali kala ingat, merah merah merona macam buah persik...
"Neng, ditambah lagi sarapannya.." pinta umi mengetahui sarapan di piring Lova hampir habis. Praktis semua pandangan menatap Lova.
"Oh, ngga usah mi...udah cukup. Kalo terlalu kenyang bawaannya suka ngantuk di kelas." Lova sudah beranjak dari duduknya, "udah mas?" tunjuknya pada piring di depan Afif untuk kemudian ia cuci bersama miliknya.
"Sudah." Afif memperhatikan lekat penampilan Lova dari atas hingga bawah, sebenarnya....ah! Entahlah ia dibuat tak setuju jika Lova berpenampilan begitu, bukan tak cantik, tapi justru karena begitu cantik dengan rambut hitam tergerainya menghiasi lekukan badan terbungkus seragam pendek dan plek di badannya, mungkin hanya menyisakan 1 sampai 2 cm saja untuk ruangnya bergerak. Bahkan sejak tadi, jika ia perhatikan, Afnan menatap istrinya itu, memberikan perhatian lebih. Atau memang biasa begitu?
Afnan beranjak dari duduknya, ikut menyusul ke arah dapur demi mencuci piring kotor miliknya, tak mengandalkan umi. Disini, semuanya terbiasa membersihkan bekas piring kotor sendiri selepas makan.
Lova mencuci piringnya dan Afif. Namun saat ia berbalik cukup dibikin terkejut saat Afnan secara tiba-tiba ada disana.
"Astagfirullah, kaget aku..." mata bening nan bulat itu menunjukan keterkejutannya dan Afnan tersenyum tipis, "maaf."
"Santai aja..." Lova hampir melengos dan pergi, tapi ia masih bisa mendengar ucapan itu keluar dari mulut Afnan dan membalasnya dengan senyuman.
"Buat semuanya." Lirih Afnan setelah berhasil melewatinya dan kini memutar kran wastafel. Lova benar-benar kembali mengerem kaki-kakinya demi meneguk salivanya sulit, praktis ucapan Afnan itu mengingatkannya kembali akan luka hati yang sudah ia tutup dan ikhlaskan kemarin. Namun lidahnya itu seperti kelu untuk membalas ucapan sederhana Afnan. Seolah terkunci untuk sekedar mengucapkan, i'm oke.
"Va, berangkat sekarang?" kebekuannya sukses di pecahkan suara Afif dari sana yang mengajaknya untuk berangkat bersama.
"Iya mas. Lova ambil tas dulu..."
'Mas' bahkan panggilan manis yang terdengar manja dari mulut Lova terasa cenat-cenut di hati Afnan.
"Qi, mau bareng aja?" tawar Afif seketika membuat Afnan dan Lova menoleh pada Afif. Afnan jelas menggeleng, apalagi Lova. Bukan karena ia masih berharap, hanya saja....ia akan semakin kesulitan mengusir bayang-bayang Afnan jika terus berdekatan begitu.
"Ngga usah mas. Nanti kalo ikut, susah balik..."
"Oh. Pulang jam berapa? Ada kumpulan dulu engga?" tanya Afif lagi.
Dan tiba-tiba suara umi melengking menyambut, "kenapa ngga bareng aja pulangnya nanti?"
Lova melotot dibuatnya, dan sudah menggeleng cepat, "mas. Afnan suka ada kumpulan FRM dulu, biar aku pake ojek online aja kalo mas ngga bisa jemput." jawab Lova diangguki Afnan kembali diokei Afif.
"Ya sudah."
Jangan tanyakan wajah Lova, wajah Afnan saja mendadak tak nyaman.
Dan demi memecah keheningan, terbersit ide usil dan nakalnya kala hanya berdua di dalam mobil bersama Afif.
"Mas."
"Ya?"
"Tadi pagi, aku liat penampakan raja kingkong..." tawanya cengengesan. See...Afif menoleh horor padanya, "ngawur. Mana ada kingkong di rumah..." Bahkan untuk ucapan mustahil Lova itu, otak pintar Afif sampai mengingat-ingat kembali apa di rumahnya atau lebih tepatnya di kamarnya ada sesuatu berbau monyet besar itu.
Lova kembali tertawa, tapi kali ini bukan cengengesan melainkan tawa yang lebih keras dan renyah. Sepertinya memang hal itu harus ia sampaikan pada si tersangkanya sendiri, enak saja ia jadi kepikiran sendiri! Jangan sampai di kelas nanti saat pelajaran berlangsung yang ia ingat justru moment menggetarkan kalbu tadi pagi, astaga, gerahhh!
"Seriusan mas, bikin aku syok lahir batin. Mana masih ngumpulin nyawa, langsung bikin tremor dong mas..." akuinya lagi.
Afif berpikir pada kejadian tadi pagi, ohhh! Ia ingat, pantas saja Lova langsung melompat ke kamar mandi, rupanya mimpi buruk.
"Makanya kalo mau tidur itu do'a dulu." Jawab Afif dan semakin saja Lova tergelak, sementara Afif...justru keheranan tak mengerti, dapat mimpi buruk malah ketawa ngakak, "iya deh, nanti satu Al-Qur'an penuh aku baca."
Lova mulai menyukai canda guraunya dengan Afif yang terlampau lempeng itu.
Lova kembali bersuara, ingat akan sesuatu yang kini...sejak mereka menikah, Afif selalu memasangnya di jemari besarnya, "mas. Gelang waktu mas Afif khitbah aku, sama cincin nikah sepaket perhiasan dari mas, aku simpen di lemari. Yang kupake cuma cincin khitbah aja," tunjuknya di jari.
Afif mengangguk, "iya, baiknya dilepas saja. Dipakai kalau memang dirasa perlu."
Lova mengangguk, "selain karena model cincin nikah itu bakal langsung ketauan orang. Lova ngga mau mengundang kejahatan."
Mobil telah sampai di depan gerbang sekolah Lova, dan Afif menatap Lova sebelum istrinya itu benar-benar keluar, "pulang jam berapa memangnya?"
"Kalo di jadwal tuh jam dua siang. Tapi kalo hari jum'at jam 1."
Afif mengangguk paham, "ngga ikut-ikut club club ekskul kaya Uqi?"
Lova menggeleng, "engga. Waktunya kan kesita sama les terus ngaji sama mas Afif..." kembali Afif mengangguk untuk kesekian kalinya, "kalo gitu ngajinya nanti ubah jam. Abis isya...setiap hari."
Lova langsung menyandarkan kembali punggung dan mendekap kedua tangan di dada setelah sempat melepas seatbeltnya, wajahnya keruh dan manyun, "padahal udah sempet perpisahan kemaren. Kirain bakalan say good bye sama ustadz galak..."
Afif menggeleng tersenyum tipis, ingat kembali dengan sikap Lova ketika terakhir mereka mengaji, rupa-rupanya sikap manis, penurut dan begitu tertutup itu sengaja untuk melepasnya.
"Oh, jadi yang kemaren pake gamis bunda itu sengaja? Baik-baikin saya itu sengaja buat ajang perpisahan? Pantes." Afif mengangguk-angguk dengan senyuman geli yang tertahan.
"Iya lah. Ralat mas, bukan gamis punya bunda...yang punya bunda itu kerudungnya. Kerudung licin tepatnya, ngga mau diem banget itu kerudung...bikin gerah pula..heran, bunda beli dimana, harganya berapa sih..." jawabnya lagi mengomel dan merutuki jilbab bunda.
"Cantik." Lirih Afif justru memuji, seketika Lova menoleh mengernyit padahal hatinya sudah berdebar tak karuan, "apa sih." dengusnya mengalihkan pandangan, jangan sampai Afif melihat hidungnya yang kembang kempis karena dipuji.
"Mas suka sama penampilan kamu yang kemarin itu."
Lova menatap Afif intens dengan sorot mata yang tak dapat dijabarkan selain dari nanar, "mas Afif mau aku jilbaban--kerudungan kaya umi?"
Afif tersenyum, "suami mana yang tak mau istrinya menyimpan semua keindahan hanya buat suaminya? Karena aurat istri yang diumbar itu merupakan tanggung jawab suaminya. Tapi...jika kamu belum siap, tak apa-apa...pakailah senyaman kamu asal sopan. Janji nanti, kamu siap..."
Lova mengangguk, "maaf ya mas."
"Ngga apa-apa. Ya udah, masuk. Sudah hampir jam 7."
Lova mengangguk dan mendekap tasnya, mencoba membuka handle pintu mobil, "mas ngga usah jemput aku kalo ngga sempet. Biar nanti Lova pesen ojek online aja pake aplikasi."
"InsyaAllah...nanti mas kabari."
Lova sempat mengurungkan niatannya untuk turun, sebelum akhirnya ia berbalik dan menyambar punggung tangan Afif lalu mengecupnya, "Lova sekolah dulu. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
.
.
.
.
jgn bikin ambyaaarrrr teh sin
pas Afif tau tentang Afnan
jujur kpn va tentang Afnan ny
Va bukan dibuang ajj sih kertas ny