NovelToon NovelToon
TEBUSAN RANJANG ( Kontrak Pernikahan 1 Tahun )

TEBUSAN RANJANG ( Kontrak Pernikahan 1 Tahun )

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Five Vee

*Novel dengan Alur Sat Set dan Bab Pendek.*


Junee tidak pernah menyangka akan bertemu lagi dengan Ben Pratama.

Anak culun yang dulu ia tolak di SMA, sekarang jadi CEO muda yang dingin dan sukses. Ketika panti asuhan tempat Junee mengabdi terancam digusur, satu-satunya jalan keluar adalah menerima tawaran Ben: Menjadi istri kontraknya selama satu tahun. Tidak ada cinta. Hanya kesepakatan.


Begitu pikir Junee. Tapi tinggal serumah dengan Ben ternyata tidak sesederhana itu. Setiap tatapannya penuh teka-teki. Setiap sikapnya seperti menyimpan amarah yang belum selesai.


Junee mulai bertanya: Apakah Ben benar-benar membencinya? Atau selama ini, ia salah paham tentang alasan penolakan itu? Satu tahun. Satu kontrak. Satu kesempatan untuk memperbaiki masa lalu. Pertanyaannya… apakah hati mereka masih bisa diperbaiki?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Five Vee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

8. Kedatangan Anak - Anak Panti.

Pukul 09.00 - Lobby Ben Holding

Junee merasa gugup sejak pagi. Sebab, hari ini 30 anak panti dan 2 pengurus akan datang ke kantor Ben Holding.

Alasannya resmi, “Kunjungan edukasi dan penandatanganan hibah tanah”.

Padahal Junee tau, anak-anak hanya ingin bertemu dengan “Om pemilik gedung” yang katanya sudah menolong mereka.

Junee sudah meminta ijin pada Ben beberapa hari setelah malam Gala Ben Holding di gelar.

Wanita itu pun kembali teringat dengan percakapan mereka.

“Ben, apa anak - anak boleh datang ke gedung ini? Hanya 1 jam saja. Mereka ingin tau, siapa yang telah menyelamatkan rumah mereka.”

Ben tidak langsung menjawab. Namun, sesaat kemudian menganggukkan kepalanya.

“Boleh. Tapi jangan terlalu gaduh. Ajak ke ruang meeting lantai 10 saja.” Ucap pria itu kemudian.

Junee menganggukkan kepalanya. Kemudian mengecup pipi sang suami.

“Siap. Terima kasih, pak Ben.” Ucapnya dengan nada anak - anak.

— —

Jam 9 kurang 5 menit, bus tua panti asuhan telah parkir rapi di depan gedung Ben Holding.

Anak-anak turun satu persatu. Mereka menggunakan pakian terbaik yang dimiliki. Ada yang kebesaran, ada pula pas di badan. Namun itu tak menyurutkan semangat mereka.

Dika, anak yang paling besar, usia 10 tahun, langsung berlari ke arah Junee.

“Kak Junee! Pemilik gedungnya masih masih muda atau sudah kakek - kakek?”

Junee mengusap kepala anak itu dengan lembut.

“Nanti kamu lihat sendiri. Jangan lari-lari ya, jangan membuat keributan disini.”

Kakek Darman, sang pengurus panti yang usianya sudah 70 tahunan. Berjalan pelan menghampiri Junee. Diikuti oleh ibu Patricia dari belakang bersama anak - anak yang lain.

“Neng Junee, apa benar pemilik gedung ini mau menolong kita?” Tanya pria tua itu.

Junee mengenggam tangan kakek Darman.

“Benar, Kek. Tuhan telah mendengar doa kita.” Ucap wanita itu.

“Syukurlah kalau begitu. Kakek ingin berterima kasih padanya.” Imbuh kakek Darman.

Junee mengangguk pelan. Ia pun menuntun keluarga panti asuhan ke arah lift khusus yang biasanya di gunakan untuk mengangkat beban berat. Agar tidak menganggu di lobby gedung.

Wanita itu sudah koordinasi dengan Mbak Rina. Ruang rapat di lantai 10 telah di siapkan camilan dan juga air putih.

Saat keluar dari lift, Junee tertegun melihat Ben berdiri di depan ruang meeting.

Pria itu menggunakan jas hitam, wajah terlihat tegas, dan berwibawa.

Anak-anak pun seketika terdiam.

Junee menghampiri pria itu. “Pak Ben? Bukannya Bapak ada meeting?” Ia berbicara sopan di depan anak - anak.

Ben melihat ke arah anak-anak.

“Aku tunda. Kasihan anak - anak sudah jauh -jauh datang kemari.” Ucap pria itu.

Anak-anak pun bersorak senang.

“Wah Om tampan sekali!”

“Om, benar ya. Om yang kasih kita rumah baru?!”

“Om kaya sekali ya?! Boleh minta mobil mainan tidak Om?!”

Ben terpaku. Ia tidak terbiasa dengan anak - anak sebelumnya. Pria itu melihat ke arah Junee seolah meminta tolong.

Junee mengerti.

“Anak-anak, masuk dulu ya. Nanti ada yang mau Om Ben sampaikan.” Ucap wanita itu.

Anak - anak menurut. Mereka pun masuk ke dalam ruang meeting.

Ben menghela nafas kasar. Pria itu pun berdiri di depan.

“Mm. Hallo anak - anak. Saya Ben Pratama.” Ucap pria itu datar, seperti sedang berhadapan dengan klien.

“Tanah panti sudah sah menjadi milik yayasan. Tidak ada yang bisa menggusur kalian. Kalau ada masalah, beritahu Mbak Junee. Biar Om bisa bantu kalian.” Imbuh pria itu.

Anak-anak seketika terdiam. Mungkin sebagian tidak mengerti.

Hingga kemudian Dika bangkit dan mennghampiri Ben, kemudian memeluk kaki pria itu.

“Om tampan! Terima kasih banyak. Nanti aku lukis om dengan pensil warna.” Ucap bocah itu.

Ben terpaku. Dada pria itu terasa berdesir.

Junee hendak memisahkan, namun Ben melarangnya.

“Tidak apa-apa.” Ucap pria itu.

Ben kemudian berjongkok.

“Siapa nama kamu?” Tanyanya.

“Dika, Om. Umur 10 tahun! Aku suka melukis!” Ucap anak polos.

Ben tersenyum tipis. Hampir tak terlihat.

“Melukis apa?” Tanyanya lagi.

“Apa saja. Melukis Kak Junee juga suka.” Bocah itu menunjuk ke arah Junee.

Ben ikut melihat sang istri. “Om juga suka.” Ucapnya.

Dan itu membuat pipi Junee bersemu merah.

Anak-anak yang lain pun ikut maju ke depan.

“Om, aku Sinta! Aku bisa nyanyi!”

“Om, aku mau jadi polisi!”

“Om, boleh foto bersama tidak?!”

Ben mengiyakan setiap ucapan anak - anak itu. Sesekali pria itu tertawa.

Junee melihat dari belakang. Hatinya terasa hangat.

Ini pertama kalinya ia melihat Ben tertawa lepas seperti itu. Bahkan tidak pernah 10 tahun yang lalu.

Satu jam berlalu terasa seperti 10 menit.

Saat akan pulang, Kakek Darman mendekati Ben. “Pak Ben, saya tidak bisa membalas kebaikan bapak dengan uang. Saya hanya mampu mendoakan, semoga bapak panjang umur, rezekinya selalu lancar, dan… mendapatkan istri yang baik.” Ucap pria tua itu.

Ben melihat ke arah Junee.

“Sudah dapat kok, pak.” Ucap pria itu pelan.

Kakek Darman tersenyum meski tak mengerti.

“Syukurlah.”

“Pak Ben. Terima kasih untuk kebaikan bapak pada panti asuhan kami. Saya titip Junee sama bapak.” Ucap ibu Patricia.

“Saya pasti akan menjaga Junee dengan baik, Bu.” Ucap Ben tanpa ragu.

Ibu Patricia mengusap lengan Ben dengan lembut.

Anak-anak pun pamit satu per satu.

Dika memeluk Junee paling lama.

“Kak Junee, Om Ben baik ya? Kakak jangan memarahi Om Ben ya.” Ucapnya.

Junee terkekeh pelan. “Iya sayang. Kakak tidak akan marah.”

Ben dan Junee pun mengantar anak - anak kembali ke bus mereka.

---

Ben duduk kembali di kursi kebesarannya. Tidak melakukan sesuatu. Hanya diam menatap ke arah jendela kaca.

Junee masuk membawa dua gelas teh hangat.

“Ada apa, Ben?” Tanya sembari meletakkan cangkir teh di atas meja pria itu. Ia duduk di seberang meja.

Ben pun mengalihkan pandangannya.

“Aku tidak menyangka, anak - anak akan bersemangat seperti itu.”

Junee tersenyum. “Mereka memang bersemangat untuk bertemu kamu.”

Ben menatap wanita itu.

“Kenapa kamu mau mengorbankan diri untuk mereka, Junee? Kamu tidak ada hubungan darah sama mereka.”

Junee menghela nafas pelan.

“Karena waktu saya sekolah dasar, ayah saya kena stroke. Ibu berjualan kue keliling. Tidak ada yang membantu kami.

Lalu Kakek Darman datang. Dan membawa saya ke panti. Kakek mengatakan, ‘Di sini kamu tidak sendirian, Neng.’

Sejak saat itu saya berjanji, kalau saya bisa, saya tidak mau ada anak yang merasakan sendirian seperti saya dulu.” Ucap wanita itu.

Ben terdiam. Ia tidak mengetahui tentang cerita ini.

“Kamu… pernah sendirian juga?”

Junee mengangguk.

“Setiap malam. Mendengar ibu menangis di dapur. Melihat ayah tidak bisa bicara. Aku kecil, tidak bisa apa - apa.

Makanya sekarang, kalau saya bisa membuat 30 anak tidak merasakan hal itu, akan aku lakukan. Walau harus dengan menjual diri.”

Ben bangkit dari tempat duduknya. Kemudian menghampiri Junee.’

“Jangan mengatakan seperti itu lagi.”

Junee mengangkat kepala.

“Mengatakan apa?”

“Jual diri. Aku tidak suka mendengarnya.”

“Lalu?”

Ben duduk di depan Junee. Ia memegang kedua tangan wanita itu.

“Kamu istri aku. Titik. Tidak ada embel - embel apapun.”

Junee ternganga mendengarnya.

“Ben, kenapa sekarang kamu banyak berubah?”

“Karena aku melihat kamu hidup saat bersama mereka,” jawab Ben pelan.

“Aku melihat kamu tertawa, dan perduli dengan sesama. Bukan Junee yang datang jam 9, yang diam, lalu pergi.”

Junee terharu mendengar ucapan pria itu.

“Ben…”

Ben mengusap air mata Junee.

“Jangan menangis. Aku tidak pandai menghibur.”

Junee sektika tertawa namun juga mengeluarkan air mata.

“Kamu juga tidak pandai menjadi suami.”

Ben tersenyum.

“Mari kita belajar bersama.”

---

1
ardiana dili
lanjut kak
ardiana dili
lanjut
Naufal Affiq
lanjut thor
ardiana dili
lanjut kak
ardiana dili
lanjut
Naufal Affiq
lanjut thor
ardiana dili
lanjut kak
ardiana dili
lanjut
Naufal Affiq
lanjut kak
ardiana dili
lanjut
Hennyy exo
wow awal yg bagus thor
Naufal Affiq
gak usah dengar ocehan si arga ini ya jun,ingat jun ada ben yang selalu mencintaimu
ardiana dili
lanjut
Naufal Affiq
jangan di ingat masa lalu yang penyakit kan,entar timbul masalah baru ben,ingat ben masa depan lebih indah dari pada masa lalu
ardiana dili
lanjut
Naufal Affiq
semoga kedepan nya hubungan mu dengan suami mu lebih baik lagi ya junee
merry yuliana
crazy up ya kak
Author Amatir🍒: Satu bab lagi masih nyangkut kak..
total 1 replies
ardiana dili
lanjut
Naufal Affiq
lanjut thor seru ceritanya
ardiana dili
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!