NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Sang Kaisar Pedang

Reinkarnasi Sang Kaisar Pedang

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Epik Petualangan
Popularitas:9.8k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Lima ratus tahun yang lalu, Lin Chen adalah Kaisar Pedang Ilahi yang berdiri di puncak Alam Dewa. Namun, saat ia mencoba menembus batas tertinggi kultivasi, ia dikhianati oleh tunangannya, Dewi Teratai Salju, dan saudara seperjuangannya, Kaisar Naga Hitam. Tubuhnya hancur, dan jiwanya tercerai-berai.
​Kini, lima ratus tahun kemudian, jiwa Lin Chen terbangun di Benua Langit Biru, di dalam tubuh seorang pemuda dengan nama yang sama. Pemuda ini dikenal sebagai "Sampah Terbesar" di Kota Daun Musim Gugur karena meridiannya cacat sejak lahir. Namun, mereka tidak tahu bahwa di dalam lautan jiwanya, Lin Chen membawa Sutra Pedang Kehampaan, sebuah teknik kultivasi purba yang memungkinkannya menyerap energi alam semesta.
​Dimulailah perjalanan Lin Chen untuk merangkai kembali takdirnya, menginjak jenius arogan, menaklukkan naga suci, dan kembali ke Alam Dewa untuk menuntut darah para pengkhianatnya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2: Hutang yang Harus Dibayar

​Dua antek Lin Wei berdiri terpaku dengan lutut gemetar. Udara malam yang dingin terasa seperti menembus hingga ke sumsum tulang mereka. Lin Wei, bos mereka yang selalu sombong, kini terkapar di genangan lumpur sambil mengerang memegangi bahunya yang hancur.

​Mata Lin Chen perlahan menyapu kedua pemuda itu. Tatapannya sedingin es abadi.

​"Bawa sampah ini pergi dari halamanku. Dan ingat, jika ada dari kalian yang berani menginjakkan kaki di sini lagi, yang akan kupatahkan bukan lagi sekadar bahu, melainkan leher kalian."

​Kedua pemuda itu tersentak seolah baru saja disiram air mendidih. Tanpa berani mengucapkan sepatah kata pun, mereka buru-buru memapah Lin Wei yang setengah pingsan dan lari terbirit-birit menembus kegelapan malam, layaknya anjing yang ketakutan.

​Setelah halaman kembali sunyi, Lin Chen berbalik dan melangkah masuk ke dalam gubuk kayunya yang reyot.

​Udara di dalam ruangan itu pengap dan lembap. Lin Chen duduk bersila di atas ranjang kayu yang keras, lalu memejamkan mata untuk memeriksa kondisi internalnya.

​"Sutra Pedang Kehampaan memang teknik kultivasi purba yang menentang surga. Meski aku baru mencapai Ranah Kondensasi Qi Tingkat 1, kemurnian dan ketajaman Qi di dalam meridianku sebanding dengan kultivator Tingkat 3."

​Namun, Lin Chen segera menyadari sebuah masalah besar. Teknik Sutra Pedang Kehampaan menguras energi dengan sangat rakus. Untuk memadatkan Qi menjadi 'pedang energi' di dalam Dantian, ia membutuhkan jumlah energi spiritual sepuluh kali lipat lebih banyak daripada teknik kultivasi biasa.

​Di tempat dengan energi spiritual yang tipis seperti Kota Daun Musim Gugur ini, mengandalkan pernapasan alam saja tidak akan cukup. Ia membutuhkan sumber daya eksternal.

​"Pemilik asli tubuh ini adalah Tuan Muda ke-13. Meskipun ia dianggap sampah, keluarga tetap memiliki kuota bulanan yang seharusnya dibagikan kepadanya. Namun dalam ingatanku... dia sudah tidak menerima jatah bulanannya selama tiga tahun terakhir."

​Bibir Lin Chen melengkung membentuk senyum dingin. Tiga tahun jatah bulanan seorang tuan muda keluarga utama bukanlah jumlah yang kecil. Seseorang di Aula Sumber Daya pasti telah menggelapkan haknya.

​"Karena aku sekarang menggunakan tubuh ini, segala hutang masa lalu akan kutagih beserta bunganya."

​Keesokan paginya, matahari bersinar cerah seolah ingin menghapus jejak badai semalam.

​Lin Chen melangkah keluar dari gubuknya menuju ke pusat kediaman Keluarga Lin. Penampilannya yang kotor dan compang-camping akibat kejadian semalam belum ia bersihkan sepenuhnya, namun aura yang memancar dari setiap langkahnya membuat beberapa pelayan yang berpapasan dengannya secara refleks menyingkir dan menundukkan kepala, bingung dengan tekanan misterius yang tiba-tiba dimiliki oleh si "Sampah Terbesar".

​Bangunan Aula Sumber Daya menjulang megah di depan. Ini adalah tempat di mana semua anggota keluarga mengambil jatah bulanan mereka berupa pil, batu spiritual, dan ramuan obat.

​Saat Lin Chen melangkah melewati pintu ganda aula tersebut, suara berisik di dalam ruangan seketika mereda. Puluhan pasang mata menatapnya dengan berbagai ekspresi—jijik, heran, dan mencemooh.

​"Bukankah itu Lin Chen? Kudengar semalam dia dipukuli oleh Lin Wei sampai mati. Ternyata dia masih bisa berjalan?"

"Hmph, kulitnya saja yang tebal. Untuk apa si cacat itu datang ke Aula Sumber Daya? Membuang-buang udara saja."

​Mengabaikan bisik-bisik rendahan itu, Lin Chen melangkah lurus menuju meja konter panjang yang dijaga oleh seorang pria paruh baya bertubuh gemuk. Pria itu adalah Diakon Lin Ba, pengawas distribusi sumber daya untuk murid luar dan anggota keluarga yang tidak berbakat.

​Lin Ba sedang menyesap tehnya dengan santai. Ketika ia melihat Lin Chen berdiri di depan mejanya, ia meletakkan cangkir tehnya dengan kasar.

​"Ada urusan apa kau kemari, Sampah? Jangan mengotori mejaku dengan bau kemiskinanmu," dengus Lin Ba dengan raut wajah jijik.

​"Aku datang untuk mengambil jatah bulananku," jawab Lin Chen datar. "Dan juga jatah yang belum kau berikan selama tiga tahun terakhir."

​Suasana aula mendadak hening selama beberapa detik sebelum meledak dalam tawa meremehkan dari para kultivator muda di sekitarnya. Lin Ba tertawa paling keras hingga perut buncitnya berguncang.

​"Jatah bulanan? Hahaha! Lin Chen, apa otakmu sudah benar-benar rusak setelah dipukuli? Kau hanyalah seonggok daging tak berguna dengan meridian buntu! Memberikan sumber daya kepadamu sama saja dengan melemparkan emas ke dalam selokan!" Lin Ba berdiri dan mencondongkan tubuhnya, menatap Lin Chen dengan tatapan mengejek. "Semua jatahmu telah dialihkan kepada Tuan Muda Lin Wei. Jika kau keberatan, pergilah mengadu padanya!"

​Mendengar nama Lin Wei, kilatan dingin melintas di mata Lin Chen.

​"Jadi kau menggelapkan hakku untuk menjilat sepatu Lin Wei?" Lin Chen mengangguk perlahan. "Sangat bagus. Kalau begitu, kau sendiri yang akan membayarnya hari ini."

​"Bocah kurang ajar! Beraninya kau—"

​Sebelum Lin Ba bisa menyelesaikan kalimatnya, Lin Chen sudah bergerak. Gerakannya begitu cepat hingga meninggalkan bayangan kabur di mata para penonton.

​Brak!

​Lin Chen meraih kerah baju Lin Ba yang terbuat dari sutra halus dan menarik tubuh gemuk pria itu melompati meja konter dengan satu tangan. Dengan tenaga yang mengerikan, ia membanting wajah Lin Ba ke lantai pualam aula.

​BRAKKK!

​Lantai pualam itu retak, dan hidung Lin Ba langsung hancur, memuncratkan darah segar ke mana-mana.

​"Arghhh!" Jeritan rasa sakit menggelegar dari mulut sang diakon.

​Seluruh aula seketika sunyi senyap. Mulut semua orang ternganga lebar. Diakon Lin Ba adalah seorang kultivator Ranah Kondensasi Qi Tingkat 3! Bagaimana mungkin ia dibanting seperti boneka kain oleh Lin Chen yang tidak memiliki setetes pun Qi?

​"Pengawal! Bunuh anak ini! Bunuh dia!" teriak Lin Ba histeris sambil memegangi wajahnya yang bersimbah darah.

​Empat orang pengawal bergegas maju dari sudut ruangan, menghunuskan pedang besi mereka dan menerjang ke arah Lin Chen.

​Lin Chen tidak mundur selangkah pun. Ia memungut sebuah ranting kayu seukuran jari yang kebetulan tersapu angin ke dalam aula. Di tangan seorang Kaisar Pedang, bahkan sebatang ranting lapuk bisa menjadi senjata pembantai para dewa.

​Wush!

​Lin Chen menyuntikkan Qi dari Sutra Pedang Kehampaan ke dalam ranting tersebut. Ranting kayu itu mendadak bersinar dengan pendar keemasan yang samar dan berdengung seperti pedang pusaka yang haus darah.

​Ia melangkah maju menyongsong keempat pengawal itu. Ranting di tangannya berkelebat dengan lintasan yang sangat indah dan mematikan, menembus pertahanan pedang besi mereka seolah-olah besi itu terbuat dari kertas.

​Trak! Trak! Trak! Trak!

​Dalam kurang dari tiga tarikan napas, empat pedang besi baja patah menjadi dua. Ranting kayu di tangan Lin Chen dengan akurat menghantam titik lemah di dada masing-masing pengawal, membuat mereka memuntahkan darah dan terpental sejauh sepuluh meter sebelum jatuh pingsan.

​Keheningan yang mencekam kini menyelimuti Aula Sumber Daya. Tidak ada lagi yang berani tertawa. Mereka menatap Lin Chen seolah sedang melihat siluman yang bangkit dari neraka.

​Lin Chen membuang ranting kayu itu, lalu menginjak dada Lin Ba yang masih gemetar ketakutan di lantai.

​"Sekarang, mari kita hitung hutangmu," ucap Lin Chen dengan nada yang setenang air. Ia menatap Diakon yang kini pucat pasi itu. "Tiga tahun, artinya 36 bulan. Setiap bulan jatahku adalah 3 Batu Spiritual Tingkat Rendah dan 1 Pil Pengumpul Qi."

​Lin Chen membungkuk, menatap lurus ke dalam mata Lin Ba yang dipenuhi teror.

​"Serahkan 108 Batu Spiritual dan 36 Pil Pengumpul Qi sekarang, atau aku akan menginjak jantungmu hingga hancur."

1
Eddy S
kecewa cerita tanpa kelanjutan episode nya
Anonim: sabar lah bos ya kali langsung tamat
total 1 replies
Eddy S
pasti cerita ga ada kelanjutan nya 🤣🤣🤣cape deh
Albiner Simaremare
lanjut thor
Zero_two
👍👍👍👍
Zero_two
Dewi teratai udah terpesona sama 'kekuatan' terpendam si naga hitam kayaknya/Doge//Doge//Doge//Blush/
Romansah Langgu
Mantap thor,,, bar bar..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!