Dia pangeran yang selamat dari eksekusi bertemu arwah artis figuran yang mati di rel kereta. Wajah mereka sama. Arwahnya minta tolong pada Pangeran. Pangeran itu mau—karena dia ingin hidup abadi. Tapi kemudian dia bertemu gadis yang tak ingin hidup sama sekali. Namun Sang Takdir membiarkan Pangeran membentur fakta: gadis ini belahan jiwamu.
Hng Sih Kian Li — bertemu dirimu di masa yang jauh.
oleh The Bwee Lan (Anggrek cantik dari Marga The)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon The Bwee Lan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HATI YANG LELAH
Tauke Hok di seberang telepon masih sesenggukan. Suaranya tersendat-sendat, kadang meninggi, kadang hampir tidak terdengar.
"Nona Chio... Nonaku... dia sudah 27 tahun begini, Siau Heng. Selalu diam. Selalu mengalah."
Eng Sok tidak bicara. Ia hanya mendengarkan — posisi berdiri di ruang tengah, ponsel menempel di telinga, mata menatap dinding kosong.
"Di rumah, dia anak bungsu. Kakak-kakaknya minta ini minta itu, selalu diturutin. Bahkan sekolah aja kakak-kakak dia di luar negri. Tiga anak di luar negri. Tapi buat Chio, kami gak mau. Chio anak bungsu, dan nurut adat dia sandaran kami. Giliran Chio yang minta... 'Nanti ya', 'Sabarlah', 'Kamu kan masih muda'. Termasuk ketika dia ingin tinggal di luar rumah. Kami gak mau jika dia gak jaga kami. Kami sudah tua dan yang kami andalkan cuma Ah Chio. Perawat lain kami ga cocok."
Tauke Hok berhenti sebentar. Menarik napas. Saat bilang ‘perawat lain kami gak cocok’, hatinya meralat ‘gak mau punya babu lain selain Ah Cio’.
"Gue sebagai Ah Pa... baru sadar kemarin malam. Waktu dia tidur setelah teriak-teriak di depan psikiater. Perawatnya bilang, 'Bapak, anak Bapak ini stres berat. Sudah lama.'"
Ponsel di tangan Eng Sok terasa berat.
"Gue kira dia baik-baik saja. Dia selalu tersenyum. Dia selalu ramah ke pelanggan. Dia... dia..."
Tauke Hok tidak melanjutkan.
Eng Sok menutup mata. Ia tidak tahu harus berkata apa. Di istana dulu, ia diajari bagaimana memimpin perang, bagaimana mengatur keuangan, bagaimana berdandan untuk pemilihan istri. Tapi tidak ada pelajaran tentang bagaimana menghibur hati yang hancur.
"Apa... yang membuatnya putus asa?" suara Eng Sok keluar pelan.
Diam beberapa detik.
"Urusan cinta dan pergaulan," kata Tauke Hok akhirnya. “Saya dan Nyonya sudah tua. Kami minta dia jaga toko dan antar kami ke Rumah Sakit. Kami buat jam malam ketat. Toh, kos kami dulu ada jam malam. Kami cuma kasi dia sepeda angin biar gak jauh-jauh meski kami bisa kasih dia mobil. Sebelum acara kumpul, kami patok jam berapa harus sampai rumah. Melanggar, kami potong uang gaji dia.”, kata Tauke Hok. Setelah bunyi desah.
Suaranya kecil, seperti malu-malu tapi butuh keluar. "Ada satu pemuda... temannya. Chio suka sama dia. Tapi pemuda itu... dia gak bisa mendekat. Kapan mendekati? Chio sudah pulang karena tekanan kami."
"He’eh, lalu?"
"Pemuda itu akhirnya cari gadis lain. Chio gak bilang apa-apa. Cuma diam. Tapi di dalam hatinya... hancur. Kemarin gua dilempar Chio pakai infus yang dicabut dari tangan dia. ‘Udah kejadian ketujuh kali, Ah Pa. Ketujuh kali. Setiap dia suka, setiap itu pula yang punya hati mundur karena DISURUH PULANG TEROS!’ gitu teriak Ah Chio."
Eng Sok menarik napas. Dadanya terasa sesak.
"Dan kemarin... dia sudah gak kuat lagi," lanjut Tauke Hok. "Dokter bilang, kalau Siau Heng gak kebetulan ada di sana... Chio pasti sudah gak ada."
Eng Sok tidak menjawab. Ia hanya menunduk.
Tauke Hok masih bicara — tentang anak bungsunya yang pendiam, tentang ibunya yang juga terlalu fokus pada anak-anak lain, tentang keluarga besar yang tidak pernah benar-benar melihat Ah Chio. Tapi Eng Sok sudah tidak mendengar lagi.
Pikirannya melayang.
Dunia ini keras pada mereka yang diam.
Ia tahu persis.
---
Brruk.
HP jatuh dari tangan Eng Sok.
Ah Ti, yang sedang mengerjakan PR di meja, menoleh kaget. "Koko?"
Eng Sok merebahkan diri di sofa. Matanya melayang ke langit-langit. Wajahnya pucat — bukan karena luka, tapi karena pikirannya yang terlalu berat.
"Koko!" Ah Ti berlari mendekat. Ia menggoyang bahu Eng Sok. "Kenapa, Ko? Sakit? Luka kambuh? Panggil Ah Me, ya?"
"Tidak usah," suara Eng Sok pelan. "Koko hanya... pusing."
Ah Ti tidak percaya. Ia menyentuh dahi Eng Sok. Panas? Tidak. Dingin? Tidak. Suhu normal. Tapi mata Koko-nya — ada sesuatu di sana yang tidak Ah Ti mengerti. Kosong. Seperti orang yang sedang menatap sesuatu yang tidak ada.
"Koko pusing karena apa?" tanya Ah Ti. Ia duduk di lantai di samping sofa. Matanya tidak lepas dari wajah Eng Sok.
"Hmm?"
"Pusing. Karena apa?"
Eng Sok tidak menjawab. Matanya masih menatap langit-langit.
Ah Ti menarik napas. Lalu, dengan suara pelan — pelan sekali — ia bertanya: "Koko, apa karena ... Nona Chio?"
Eng Sok mengerjap. Pelan-pelan, matanya beralih ke Ah Ti.
"Kamu... tahu?"
"Aku lihat Koko nelpon. Terus Koko diam terus. Wajah Koko berubah." Ah Ti menggigit bibir. "Aku nggak tahu pasti. Tapi kelihatan Koko sedih."
Eng Sok bangun. Duduk di sofa. Ia menatap Ah Ti — anak kelas 5 SD yang sudah terlalu banyak melihat penderitaan di umurnya.
"Nona Chio," kata Eng Sok pelan, "selamat. Tapi... hatinya lelah. Sudah 27 tahun dia simpan sendiri kesedihannya."
Ah Ti diam.
"Dan Koko... tidak tahu harus bilang apa. Koko pandai perang, pandai negosiasi, pandai membuat crossbow. Tapi... menghibur hati yang patah? Koko tidak belajar itu."
Ah Ti meraih tangan Eng Sok. Tangannya kecil, hangat, dan sedikit basah oleh keringat.
"Koko. Nggak usah bilang apa-apa juga nggak apa. Kadang, orang cuma butuh... didengerin."
Eng Sok menatap Ah Ti.
Anak ini... luar biasa.
Ia tidak mengatakan itu. Tapi matanya — untuk pertama kalinya dalam beberapa hari — tidak lagi kosong.
"Koko," kata Ah Ti lagi, "besok kan anter Ah Me cek up. Engkoh... kalau Koko mau, mampir dulu ke rumah Nona Chio. Nggak usah lama-lama. Cuma... lihat. Cek dia baik-baik apa belum. Itu sudah cukup."
Eng Sok menghela napas.
"Kapan kamu jadi sebijak ini, Ti?"
Ah Ti tersenyum dengan mata yang dalam, "Sejak Koko baru datang. Karena kalau aku nggak ada punya bijak, Koko gua bisa hilang… lagi." Ah Ti menggenggam tangan kakak semata wayangnya itu.
Eng Sok tidak tahu harus membalas kalimat itu. Jadi ia hanya mengacak rambut Ah Ti — pelan, tidak seperti biasanya — dan berkata:
"Besok. Koko antar Ah Me. Lalu... mungkin Koko mampir."
---
Ah Ti kembali ke meja belajarnya. Ah Me, yang sedari tadi di kamar, keluar dengan segelas susu hangat.
"Koh Sioh Bu, minum. Nanti tidur."
Eng Sok menerima gelas itu. Susu. Bukan ciu. Bukan anggur. Susu.
Dunia ini aneh. Tapi aneh yang baik.
"Ah Me," katanya. "Besok anter cek up. Selesai itu... Koko minta izin mau mampir ke rumah Tauke Hok."
Ah Me mengernyit. "Ada apa?"
"Menengok Nona Chio."
Ah Me terdiam beberapa saat. Lalu ia mengangguk. "Baik. Tapi jangan lama-lama. Perbannya masih harus diganti sore."
"Baik."
Eng Sok menenggak susu itu. Hangat. Tidak manis. Tidak pahit. Hanya... hangat.
Seperti kata-kata Ah Ti tadi.
"Kadang, orang cuma butuh didengerin."
---
Di sudut ruangan, Sioh Bu melayang. Ia melihat semuanya. Mendengar semuanya.
Ah Ti... pikirnya. Sejak kapan adikku sehebat ini?
Ia tidak tahu. Mungkin sejak ia meninggal. Mungkin sejak Eng Sok datang. Mungkin sejak Ah Ti sadar bahwa tidak ada lagi yang bisa diandalkan selain dirinya sendiri.
Sioh Bu memejamkan mata.
Aku bangga padamu, Ti. Aku bangga.
Lao Ma, yang melayang di sampingnya, hanya diam. Matanya mengikuti gerak Eng Sok — yang kini merebahkan diri lagi di sofa, memejamkan mata, mencoba tidur.
"Pangeran ini," bisik Lao Ma, "bukan hanya pangeran."
Sioh Bu menoleh. "Maksud Lao Ma?"
"Dia... belajar. Di usianya yang sudah ribuan tahun, dia masih mau belajar. Dari Ah Ti. Dari Ah Me. Dari semua orang di sekitarnya."
Lao Ma tersenyum kecil.
"Itu lebih langka daripada elixir keabadian."
Sioh Bu tidak menjawab. Ia hanya menatap Eng Sok — yang kini perlahan-lahan tertidur di sofa, dengan tangan masih memegang gelas susu kosong.
Mungkin Thien tidak salah memilih orang ini.
---
BERSAMBUNG
---
Besok, Eng Sok akan mengantar Ah Me cek up.
Lalu mampir besuk Ah Chio.
Tidak tahu apa yang akan ia katakan.
Tapi mungkin — tidak perlu berkata apa-apa.
🪷👩❤️👨💐