Sinopsis: Singa yang Menunduk pada Mawar
Habib Ghibran Fahreza Al-Husayn adalah sosok "Singa" yang dingin dan kaku, hingga sebuah tragedi merenggut nyawa adiknya, Azlan, tepat sebelum hari pernikahan. Terikat janji dan kehormatan, Ghibran terpaksa melangkah maju menggantikan posisi adiknya untuk menikahi Syarifah Aira, wanita yang seharusnya menjadi adik iparnya. Di bawah atap Pesantren Al-Husayn, Ghibran harus belajar menundukkan egonya demi memenangkan hati Aira, hingga ia memutuskan mengganti nama pesantrennya menjadi Salsabila sebagai bentuk pengabdian cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fajar yang menghakimi
Ledakan itu tidak pernah terjadi.
Tepat sebelum jempol Habib Fauzan menekan tuas pemantik, Ghibran menerjang meja jati tersebut dengan seluruh berat tubuhnya. Meja itu bergeser, menghantam kursi Fauzan hingga sang Habib jatuh terduduk. Dalam hitungan detik, Ghibran menyambar tabung pemadam api kecil yang tergantung di dekat pintu dan menyemprotkan isinya ke arah tangan Fauzan, memadamkan percikan api kecil yang sempat muncul.
"Zivanna! Aira! Buka semua jendela! Matikan aliran gas di dapur pusat!" teriak Ghibran, suaranya menggelegar di tengah kepulan debu putih pemadam.
Aira segera bergerak, meski kakinya lemas. Ia menarik gorden tebal dan membuka jendela lebar-lebar, membiarkan udara malam yang dingin masuk untuk mengusir aroma gas yang mematikan. Zivanna berlari keluar menuju area teknis.
Ghibran kini berdiri di depan Babanya yang terengah-engah. Ia memungut surat dari laboratorium Jakarta yang tadi sempat membuatnya mematung. Matanya meneliti baris demi baris, kata demi kata, dengan ketelitian seorang editor senior yang terbiasa membedah naskah.
"Baba..." Ghibran menarik napas panjang, suaranya kini terdengar bergetar namun bukan karena takut. "Baba pikir aku akan percaya pada surat yang baru saja dicetak ini? Di saat tinta stempelnya bahkan belum kering sempurna?"
Fauzan menatap putranya—atau pria yang selama ini ia panggil putra—dengan tatapan nanar. "Itu kebenaran, Ghibran! Kau dan Aira adalah saudara kandung! Anak dari Mansyur dan Sarah! Aku menukarmu agar aku punya ahli waris yang kuat dari darah Al-Husayn!"
Ghibran tertawa getir, tawa yang terdengar sangat dingin di ruangan yang berantakan itu. Ia melemparkan surat itu kembali ke wajah Fauzan.
"Baba lupa satu hal," ujar Ghibran. "Aku sudah melakukan tes DNA mandiri sebulan yang lalu dengan sampel rambut Baba sendiri. Hasilnya? Aku adalah putra kandungmu, Habib Fauzan Al-Husayn. Tidak ada hubungan darah dengan Sarah."
Aira yang berdiri di dekat jendela tersentak. "Apa? Jadi surat itu..."
"Surat ini adalah fabrikasi terakhir dari Baba untuk menghancurkan mental kita, Aira," Ghibran menunjuk ke arah printer di sudut ruangan yang masih terasa hangat. "Baba mencetaknya sendiri malam ini setelah membakar klinik. Baba ingin kita merasa berdosa, merasa haram, sehingga kita akan memilih mati bersamanya dalam ledakan ini daripada menanggung malu."
Habib Fauzan terdiam. Bahunya yang tegap kini merosot, seolah seluruh kekuatan gaib yang selama ini menyelimutinya luntur seketika. Kebohongan terakhirnya gagal total.
Fajar yang Menghakimi
Pukul 05:30 WIB. Matahari mulai menyembul di balik menara masjid pesantren. Suasana ndalem kini dipenuhi oleh polisi dan beberapa anggota dewan pembina yang dipanggil paksa oleh Azka.
Ghibran duduk di teras depan, lengannya yang terluka kembali diperban oleh Aira dengan saksama. Aira tidak banyak bicara, namun genggaman tangannya pada perban itu menunjukkan betapa ia sangat menghargai perlindungan Ghibran.
"Kak," panggil Aira lembut. "Kenapa Baba sampai sejauh itu? Mencoba meyakinkan kita bahwa kita saudara kandung?"
"Karena bagi pria seperti Baba, kekuasaan dan reputasi adalah tuhan," jawab Ghibran sambil menatap para petugas yang menggiring Habib Fauzan keluar dari rumah. "Jika dia tidak bisa memilikiku sebagai ahli waris yang patuh, dia lebih baik menghancurkanku sepenuhnya. Dia tahu aku tidak akan bisa hidup jika aku tahu aku menikahi adikku sendiri."
Azka mendekat, membawa sebuah laptop dan beberapa berkas yang selamat dari kebakaran klinik. "Ghib, Mbak Aira... ada satu hal yang menarik dari sisa-sisa arsip Sarah yang sempat gue selamatkan lewat digital cloud klinik tahun lalu sebelum dibakar."
Azka membuka sebuah file foto dokumen lama. "Sarah bukan hanya pemilik lahan ini. Dia adalah pemegang saham mayoritas dari seluruh unit bisnis Al-Husayn yang dikelola lewat PT Kencana. Syarifah Fatimah—istri pertama Baba—sebenarnya tahu soal ini. Dia dan Sarah berteman baik."
Aira membaca dokumen itu. "Jadi, selama ini Baba dan Paman Mansyur menggunakan uang Ibuku untuk membangun kejayaan mereka?"
"Benar," sahut Azka. "Dan bagian yang paling gila... Syarifah Fatimah tidak meninggal karena sakit. Dia meninggal karena mencoba memberikan dokumen kepemilikan lahan ini kembali pada Sarah saat itu. Baba menganggap itu sebagai pengkhianatan terhadap keluarga Al-Husayn."
Makam yang Tersembunyi
Setelah semua hiruk-pikuk penangkapan mereda, Ghibran mengajak Aira menuju sebuah area di belakang pesantren yang sangat jarang dikunjungi—sebuah bukit kecil yang rimbun dengan pohon pinus.
Di sana, di bawah naungan pohon pinus tertua, terdapat sebuah makam kecil yang sangat terawat. Nisannya sederhana, hanya bertuliskan: Sarah binti Abdullah (1978-2001).
"Ini makam Ibuku?" bisik Aira, air matanya mulai menetes. "Tapi tadi... kita melihat gundukan tanah di klinik?"
"Gundukan di klinik itu hanya kamuflase yang dibuat Aminah untuk mengecoh orang," ujar Ghibran lembut. "Makam yang asli ada di sini. Yang merawatnya selama ini adalah... Umi Intan."
Aira tertegun. "Umi Intan?"
"Iya. Meskipun dia terlibat dalam diamnya kasus ini, Umi Intan merasa sangat bersalah pada Sarah. Diam-diam dia mengirim uang pada penjaga makam di bukit ini selama dua puluh lima tahun agar makam ini tetap bersih. Dia adalah satu-satunya orang yang masih punya nurani di tengah kegilaan para pria di keluarga ini."
Aira berlutut di depan makam ibunya. Ia meletakkan kalung melati yang ia temukan semalam di atas nisan itu. Untuk pertama kalinya, ia merasa beban di pundaknya terangkat. Ia bukan lagi sekadar alat tukar, bukan lagi pion, dan bukan lagi hasil dari skandal yang menjijikkan. Ia adalah putri dari seorang wanita hebat yang cintanya melampaui maut.
Ghibran berlutut di sampingnya, memegang tangan Aira. "Mulai besok, pesantren ini akan berganti nama. Kita akan mengembalikannya pada nama asli yang diinginkan Ibumu: Pesantren Salsabila."
Aira menoleh pada Ghibran, tersenyum di tengah tangisnya. "Terima kasih, Kak. Terima kasih karena tetap percaya bahwa kita tidak sedarah, bahkan saat kebohongan itu terlihat begitu nyata."
Ghibran menarik Aira ke dalam pelukannya. Di bawah rimbunnya pohon pinus dan cahaya matahari pagi yang hangat, mereka menyadari bahwa pernikahan ini memang dimulai dengan duka dan paksaan, namun akan mereka lanjutkan dengan kebenaran yang mutlak.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...
jngan Bilang yaa punya Anak Di Luar Nikah 🤣😂😂