NovelToon NovelToon
SIMAN PEWARIS AKIK BIRU LAUT

SIMAN PEWARIS AKIK BIRU LAUT

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Lelaki/Pria Miskin / Trauma masa lalu / Romantis / Slice of Life
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Towang Risawang

Di antara gemuruh kereta dan debu kehidupan yang keras, Siman hanyalah seorang pemuda yang tak pernah dianggap.

Dihina. Ditolak. Dilupakan.

Hingga suatu senja, seorang nenek misterius meninggalkan sebuah warisan di tangannya—akik biru laut yang memancarkan cahaya tak biasa… dan mengubah segalanya.

Keberuntungan mulai datang tanpa diminta.
Pintu-pintu yang dulu tertutup kini terbuka.
Dunia yang pernah merendahkannya mulai berbalik memandang.

Namun semakin tinggi Siman melangkah, semakin besar pula harga yang harus dibayar.

Apakah semua ini benar-benar takdir?
Ataukah hanya ilusi dari kekuatan yang belum ia pahami?

Ketika masa lalu kembali menghantui, dan kepercayaan dirinya runtuh tanpa akik itu di tangannya, Siman dihadapkan pada satu pilihan:

Terus bergantung pada keajaiban… atau menjadi penakluk sejati atas hidupnya sendiri.

Sebuah kisah tentang luka, harapan, cinta, dan keberanian untuk bangkit.

SIMAN PEWARIS AKIK BIRU LAUT
Jejak takdir tidak pernah salah memilih pemiliknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Towang Risawang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28 Kabar Baik Tersengal

Tibalah gilirannya. Dengan gugup, Siman maju. Jantungnya berdetak kencang, lututnya sedikit lemas. Namun akiknya di jari itu seperti sebuah sandaran. Sebuah pegangan agar Siman tetap berani menghadapi musuh di depan sana.

"Selamat siang, Bapak Ibu juri. Saya Siman, dari Akik Creative Studio." Suaranya terdengar gemetar, namun ia memaksakan diri untuk tersenyum, berani menatap setiap juri. Termasuk Bapak Hadi.

Bapak Hadi menatapnya sinis, tersenyum kecil seolah menganggapnya remeh. Itulah tatapan yang biasa Siman rasakan ketika Dina memperlakukan Siman dengan tatapan mencemooh yang sama. Rasa trauma itu menciutkan Siman, nyaris memunculkan kecemasan di hadapan Bapak Hadi. Apakah Siman harus marah? Siman mengingat lagi janji Murni. Ada kekacauan di hati Siman.

Akik itu terasa berdenyut sangat kuat, lalu memancarkan cahaya redup. Siman menunduk sedikit, meraih kendali. Ini bukan tentang mereka, ini tentang dirinya. Ia kemudian mulai mempresentasikan portofolionya. Rasa gugup perlahan sirna, tergantikan oleh ketenangan aneh yang disalurkan akiknya.

Ide-ide inovatif untuk branding UKM, desain logo yang simpel namun memikat, kampanye pemasaran digital yang out-of-the-box… semua ia jelaskan dengan gamblang. Suaranya yang tadinya serak kini lebih mantap. Ia berbicara tentang filosofi di balik setiap desain, tentang bagaimana kreativitas bisa diakses semua orang, tak peduli latar belakang. Juri terlihat tertarik, ada beberapa yang mengangguk-angguk.

"Karya Anda memang bagus, Siman," kata salah satu juri, seorang wanita bernama Ibu Anita. "Inovatif. Terutama untuk logo kopi rempah ini. Jujur saja, Bapak Hadi pun tidak sampai sejelas itu membuat visualisasi kopi rempah ini, ide-idenya terlalu rumit. Apa lagi soal pengalamannya?"

Siman menahan senyum bangganya. Itu salah satu karyanya yang Siman paling banggakan. Akiknya terasa menghangat. Sebuah sensasi kemenangan kecil meresap ke dadanya. Tapi tatapan sinis Bapak Hadi, itu adalah bahaya nyata. Bapak Hadi hanya diam, menatap Siman. Dia tersenyum kecut.

"Cuma… pengalaman Anda ini, saya lihat masih sedikit sekali, Siman. Hampir tidak ada proyek besar sebelumnya selain Bang Bimo," lanjut Ibu Anita, melirik berkas Siman, lantas mengangkat alisnya. "Memang kita tahu Bapak itu anak muda. Tapi... kompetisi ini adalah tempat mencari yang terbaik. Apa Anda yakin bisa mengatasi klien-klien yang rewel dan bermacam-macam?"

Jantung Siman mencelos. Dia tahu kelemahannya memang di sana. Kekhawatiran Dina menghampirinya, kali ini bukan tentang omongan Dina, tetapi apa yang terjadi padanya ketika dirinya tidak diizinkan untuk berkata jujur pada Murni. Semuanya itu menyakitkan Siman. Seharusnya Siman memberanikan diri. Ini adalah tantangan untuk tidak kalah. Ada bisikan di telinga Siman. Bisikan yang menyalurkan kekuatan agar ia kuat.

"Betul, Pak. Saya masih jauh dari kata berpengalaman. Tetapi... ada banyak orang yang percaya pada saya," Siman berkata, suaranya sedikit bergetar, namun ia mempertahankan kontak mata dengan Ibu Anita. Dia yakin itu adalah sesuatu yang tidak Siman inginkan terjadi lagi, Murni pasti ingin dia bersikap jujur, untuk kali ini.

"Orang? Siapa?" tanya Ibu Anita, nada suaranya sedikit skeptis, seolah menuntut sebuah nama. Bapak Hadi tersenyum kecut di samping, siap mencemooh Siman. Mata Siman terpaku padanya, seolah merasakan trauma masa lalu yang hadir kembali.

Siman menatap lurus ke Ibu Anita, kemudian ke Bapak Hadi. Di dalam hatinya, Siman tahu ia tidak bisa membalasnya dengan rasa takut lagi. Siman harus melakukannya. Demi Murni, demi dirinya. “Orang-orang di sekitar saya. Mereka percaya, jika saya sudah menunjukkin semuanya dengan niat tulus,” kata Siman. Ia lantas menatap akik biru lautnya. Itu sebuah kode. Lalu ia kembali melirik Ibu Anita. Sebuah aura di mata Siman membuat Ibu Anita dan yang lain tercengang.

"Kami mengerti. Terima kasih, Siman."

Presentasi usai. Siman kembali ke tempat duduknya, merasakan adrenalin masih memompa kencang di tubuhnya. Ia tidak tahu apakah berhasil. Namun ada perasaan aneh yang tiba-tiba muncul. Akik itu terasa berdenyut, tenang, damai.

Pengumuman pemenang disampaikan beberapa menit kemudian. Bukan Siman, melainkan Bapak Hadi Pramono. Sebuah kekalahan. Siman tidak heran, ini bukan sesuatu yang aneh bagi Siman, ini adalah kenyataan. Namun ia tidak merasa hancur. Entah mengapa, ada sebuah kelegaan. Siman tahu ia akan berusaha lagi.

Ia melangkah keluar dari ruangan itu, kepalanya tetap tegak. Kalah memang bukan tujuan. Ini adalah pengalaman baru, dan itu cukup berharga. Namun baru beberapa langkah, sebuah suara memanggilnya.

"Siman!"

Siman menoleh. Seorang pria paruh baya, rapi dengan setelan jas mahal, menghampirinya. Wajahnya tersenyum ramah, mengulurkan tangan. Dialah Bapak Trisno, salah satu direktur utama Global Link, yang tadi juga duduk di jajaran juri.

"Presentasi Anda... sangat mengesankan," kata Bapak Trisno, sambil menjabat tangan Siman dengan erat. Jabatannya hangat. "Jujur saja, saya suka ide-ide Anda. Sangat segar, inovatif. Saya melihat Anda memang belum punya pengalaman yang cukup untuk tender sebesar ini. Apalagi, kita tahu di luar sana banyak yang curiga dengan keberadaan anak muda dengan nama-nama aneh dan kemampuan di luar nalar."

Wajah Siman memerah, senang. Ada gurat kecemasan dan sekaligus penghargaan di tatapan Bapak Trisno itu. Siman mencoba menangkap semua maksudnya.

"Bagaimana jika kita adakan pertemuan lain? Di luar ini," lanjut Bapak Trisno, matanya menyiratkan keseriusan. "Saya punya proyek kecil, khusus untuk Anda. Proyek yang saya yakin, tidak ada orang yang dapat mengerjakannya lebih baik daripada Anda, Siman."

Kamar studio mungil di pojok usaha fotokopi Pak Hartoko terasa begitu hening, kecuali desahan napas Siman yang masih tersengal. Setelan jas pinjaman Pak Hartoko kini tergantung lesu di gantungan pintu, seolah turut berbagi lelahnya. Waktu itu sudah larut malam, jauh setelah pelanggan terakhir toko fotokopi pergi. Siman seharusnya bersemangat, melompat kegirangan. Bagaimana tidak, salah satu direktur utama Global Link, Bapak Trisno, menawarkan proyek padanya, di luar skandal tender dengan Bapak Hadi tadi.

Namun, di tengah euforia itu, terbesit kecamuk pikiran. Bapak Hadi, dengan segala pengalamannya, tetap memenangkan tender tadi. Ini sebuah kekalahan telak, sebuah fakta pahit yang menggarisbawahi betapa mentah dirinya di dunia profesional. Meski begitu, pujian dan tawaran Bapak Trisno terasa seperti oase di tengah gurun kekalahan. Akik biru laut di jari manis Siman berdenyut pelan, hangatnya kini terasa lebih dari sekadar keberuntungan. Akik itu terasa seolah berkata, Tenang, Siman. Jalanmu masih panjang.

Ia menyandarkan kepala ke kursi kerja, matanya terpejam. Bisikan-bisikan dari ruang tender tadi kembali terngiang, terutama suara sinis Bapak Hadi dan keraguan Ibu Anita tentang pengalamannya. Trauma Dina kembali menusuk. Apakah Siman akan terus dianggap remeh? Sampai kapan ia harus berjuang sendiri?

“Proyek yang saya yakin, tidak ada orang yang dapat mengerjakannya lebih baik daripada Anda, Siman,” Kata Bapak Trisno. Kata-kata itu, diulang-ulang di benaknya, memberinya kekuatan baru, mengikis sedikit keraguan. Entah mengapa, hati Siman memilih untuk percaya.

***

1
Roynaldi Ananda
gak jadi nerusin bacanya kurang sip kelihatannya
Roynaldi Ananda
kok seperti pemaksaan alur cerita ini thor? gak wajib murni menanyakan soal cincin itu kecuali mc nya bawa motor atau mobil baru bisa ditanyakan dari mana asalnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!