Ah, sialan!
Liga berusaha tetap terlihat biasa saja walau kenyataannya perasaannya sangat gugup sekarang. "Aku hanya mengunjunginya saja dan tidak melakukan apapun. Tapi di--"
"Mengunjungi?" Mafia menyela, menatap Liga cukup intens, membuat ucapan Liga terhenti dan berganti anggukan.
"Iya. Aku hanya ingin mengunjunginya saja. Tap--"
"Sejak kapan kamu suka mengujungi tahanan?" sela Mafia lagi yang tanpa diketahui berhasil membuat jantung Liga berdebar kencang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Taurus girls, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11
Suasana di dalam kendaraan beroda empat cukup hening karena tidak ada yang mau bersuara. Padahal didalam kendaraan ini berisikan empat orang. Vair, Mafia, Haru, dan Kasim, mereka sedang menuju ke suatu tempat yang sama sekali mereka tidak ketahui, kecuali Mafia.
Di sini, yang memandu jalan adalah Mafia, tapi Kasim yang menyetirnya, terkadang bergantian dengan Haru. Vair yang sejak tadi diam saja karena merasa bingung dengan ajakan Mafia yang tiba tiba, dia mencolek lengan Mafia yang duduk disebelahnya.
Mafia menoleh tanpa bersuara. Dari tatapannya itu sudah menunjukan jika dia bertanya. Tapi, Vair malah membuang muka, dia kepalang jengah dengan sikap Mafia yang irit bicara.
Karena tidak ada yang dikatakan oleh Vair, Mafia memilih memejamkan mata sebentar. Dia merasa sangat mengantuk karena semalaman dia tidak bisa tidur. Semalaman pula Mafia sibuk memikirkan sesuatu untuk seseorang. Semoga saja seseorang itu menyukainya, dan sesuai harapannya.
Vair berdecak saat ekor matanya menatap Mafia yang malah memejamkan mata. Vair menggerutu didalam hati, "Kenapa jadi lelaki sama sekali nggak peka? Pantas saja sudah berumur belum punya pasangan,"
Haru dan Kasim yang berada dibangku depan saling menatap, saat melihat dari kaca spion depan yang memperlihatkan kedua orang yang duduk dibelakang. Haru dan Kasim bisa melihat dengan jelas perilaku Vair dan juga Mafia yang menurut mereka semakin bertambahnya hari, mereka berdua semakin dekat saja. Tapi sekarang, mereka terlihat seperti sedang marahan.
"Sim, apa tuan Mafia sama Nona Vair pacaran ya?" tanya Haru, dia berbisik sangat pelan, dia tidak mau jika tuannya yang duduk di bangku belakang sampai mendengar, atau beliau akan memecatnya saat ini juga.
"Aku juga mikir kaya gitu. Kayanya di antara mereka berdua sudah ada bumbu bumbu cinta deh,"
"Gimana kalau kita taruhan?"
"Boleh boleh. Taruhan apa?"
"Yang kalah taruhan, wajib cucikan baju yang menang selama satu bulan, gimana?"
"Gila!" Kasim terkejut tapi masih terkondisikan. "Lama banget, nggak mau ah! Seminggu aja deh seminggu," tawarnya, sebulan menurutnya terlalu lama, tapi kalau seminggu, oke lah.
"Deal..."
...----------------...
Kendaraan roda empat itu berhenti di depan sebuah gedung tinggi yang cukup luas. Dari luarnya saja sudah terlihat cukup mewah, apalagi bagian dalamnya? pasti lebih mewah dari luarnya.
Lagi lagi Kasim dan Haru dibuat takjub dengan bangunan bangunan yang menghabiskan total uang bermiliar miliar ran. Hari kemarin mereka berdua sudah masuk ke dalam gedung mewah yang beberapa bagian terlapisi emas, dan sekarang, gedung di depannya malah lebih mewah berkali lipat lipat dari yang kemarin.
"Tuan, ini gedung punya tuan juga?" tidak tahan menahan rasa penasarannya tanya ini pun keluar dari mulut Haru, sekaligus mewakili Kasim juga.
"Masuk,"
Bukannya menjawab pertanyaan anak buahnya, Mafia malah menyuruh mereka masuk. Berjalan di depan mereka agar mereka mengikutinya.
"Sebenernya kita mau kemana?"
Vair yang sudah menahan kesal sejak tadi akhirnya bersuara. Bagaimana tidak kesal? Mafia tiba tiba datang ke kamarnya dan memintanya untuk ikut. Vair sempat menolak dan bertanya kemana dia akan membawanya pergi. Tapi Mafia tidak menjawab pertanyaannya dia hanya diam saja sampai sekarang ini.
Niatnya, hari ini Vair akan mencari keberadaan Vari di luar rumah besar Mafia. Tapi niatnya gagal total karena ajakan dadakan dan memaksa ini.
Mafia benar benar menyebalkan!
Mafia menoleh sejenak tanpa berhenti berjalan. Dia lagi lagi hanya diam dan tidak mau menjelaskan sesuatu.
Vair kesal karena lagi lagi Mafia mengabaikan pertanyaannya, Vair menghentak kaki dan berbalik arah, dia ingin kembali ke dalam mobil saja. Dia tidak mau lagi mengikuti Mafia. Tapi baru saja dia berjalan tiga langkah, lengan kanannya di cekal dari belakang. Siapa pelakunya? Tentu saja Mafia.
Mafia mendengus, sebal, melihat Vair yang tidak mau menurut padanya, malah mau pergi. Padahal mudah, tinggal menuruti apa yang di katakannya saja. Apa susahnyaaaaaaa....? Kenapa wanita ini keras kepala sekaliiiii....?
"Mau kemana? Ayo ikut!"
"Nggak! Aku nggak mau!" Vair mengibas cekalan Mafia di lengannya hingga terlepas.
"Selangkah lagi kamu pergi dari sini. Aku bersumpah, kamu tidak akan pernah bertemu dengan Vari lagi,"
Sekujur tubuh Vair menegang. Tentu saja dia tidak mau itu terjadi.
Mafia menautkan jemari di sela jemari Vair, menggenggam tangan kecil itu erat erat. "Aku nggak mau kamu kabur lagi. Jadi jangan protes," Mafia menjelaskan ketika mulut Vair terbuka yang sudah pasti ingin melayangkan protes.
Tepat sasaran, Vair pun menutup mulut rapat rapat. Kini dia menurut dan berusaha tidak protes, itu semua dia lakukan demi bertemu dengan sang adik.
"Ayo jalan," Mafia mengintruksi, Kasim dan Haru pun mengangguk, mengikutinya di belakang.
Vair yang berjalan di samping Mafia, berulangkali melihat ke arah tangannya yang di genggam erat olehnya. Berulangkali juga dia mengatur detak jantungnya.
Perasaan apa ini? Kenapa jantung ku berdebar seheboh ini?
Vair menghela, dia juga sesekali mengipasi wajahnya yang tiba tiba memanas, dengan telapak tangannya.
Di belakang mereka, Haru dan Kasim saling pandang. Mereka baru melihat tuannya yang kejam itu ternyata bisa bersikap lembut dengan seorang wanita. Mereka semakin yakin jika keduanya sama sama memiliki perasaan.
"Ehem,"
"Maaf tuan, saya lancang. Tapi saya lihat lihat, kalian berdua cocok,"
Dag
Dig
Dug
Langkah Mafia terhenti, begitu juga mereka berempat. Kasim yang baru saja mengeluarkan pendapatnya seketika nyalinya menciut. Haru menyenggol lengan Kasim, menurutnya Kasim terlalu berani mengatakan itu. Harusnya dia diam saja.
Mafia menatap Vair, membuat yang di tatap menundukan wajahnya. Merasa tidak mampu di tatap oleh mata tajam yang bening tapi terlihat teduh itu. Tidak berbohong, mendengar celetukan Kasim tadi, Vair merasakan ada setitik rasa senang dan hangat di hatinya.
"Ma-maaf tuan. Kasim, ini mulutnya suka lem---"
"Nggak papa," Mafia memotong kalimat Haru, masih dengan menatap wajah Vair yang kini menunduk, terlihat malu dan bersemu, genggaman di tangannya pun terasa berkeringat. Mafia tersenyum tipis, sangat tipis sampai sampai di antara mereka tidak ada yang melihatnya. "Iya. Kami cocok..."
Vair mendongak cepat mendengar jawaban Mafia, seketika kedua mata mereka pun bertemu, bibirnya perlahan tersenyum dengan hati yang terasa menghangat.
"Cocok sebagai Raja dan budak. Aku rajanya dan Vair budaknya, oke?"
Senyum Vair surut, begitu juga hatinya yang tiba tiba merasa tersentil, ada segores rasa kecewa di sana, setelah mendengar kelanjutan jawaban Mafia. Vair membuang muka, dia menarik tangannya yang digenggam Mafia.
Tanpa Vair sadari, Haru dan Kasim melihat gerakan kecil itu. Dari situ, Kasim dan Haru mulai memahami situasi.