NovelToon NovelToon
Aku Milikmu, Tuan Mafia

Aku Milikmu, Tuan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Romansa / Cinta Murni
Popularitas:329
Nilai: 5
Nama Author: Yellow Sunshine

Rachel hanya ingin menyelamatkan nyawa adiknya.
Namun bantuan dari ayah tirinya itu justru berubah menjadi mimpi buruk ketika ia dijual pada Tom—seorang pria kaya, kejam, dan terobsesi memilikinya. Terperangkap dalam sangkar emas yang menyesakkan, Rachel akhirnya memilih kabur dan mempertaruhkan segalanya demi kebebasan.
Di saat itulah ia bertemu Liam Smith. Pria misterius yang tampak dingin dan tak tersentuh. Bagi Rachel, Liam hanyalah seorang penyelamat. Tapi ia tidak tahu satu hal, bahwa Liam adalah bos mafia dan dirinya adalah seseorang yang pernah menyelamatkan hidupnya yang tak pernah bisa Liam lupakan.
Namun, ketika Rachel akhirnya mengetahui siapa Liam sebenarnya, ia dihadapkan pada dua pilihan. Akankah ia mampu bertahan dengan pria yang bisa melindunginya dari seluruh dunia? Atau akankah ia justru memilih meninggalkannya sebelum dunia Liam menghancurkan hidupnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yellow Sunshine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kesepakatan Baru

Malam yang menegangkan kini sudah berganti pagi yang hangat. Rachel terbangun dengan tarikan napas yang terasa lebih ringan dari beberapa hari terakhir. Butuh beberapa detik baginya untuk menyadari ia tidak lagi berada di kamarnya yang nyaman yang selama ini ia kenal, bukan juga kamar besar di rumah Tom yang terasa seperti penjara. Kamar ini luas, rapi, dan diterangi cahaya matahari pagi yang masuk lewat tirai tipis berwarna krem yang berhembus pelan tertiup angin yanh menerobos lewat jendela yang setengah terbuka.

Dan satu hal yang mendadak membuatnya menegang begitu ia sadar. Bahwa ada tiga orang pelayan tengah berdiri di dalam kamar—berada cukup dekat dengannya dengan sikap yang tenang. Seolah kehadiran mereka sudah seharusnya ada di sana sejak awal.

Seorang pelayan wanita yang paling tua memegang nampan sarapan berisi sepiring roti lapis yang harum, buah segar, dan secangkir teh yanh asapnya masih mengepul. Pelayan kedua membawa beberapa set pakaian yang terlipat rapi dan mahal. Dan pelayan ketiga berdiri sedikit di belakang mereka, tangannya terlipat di depan tubuh dengan sikap hormat, menemani kedua pelayan lainnya melakukan tugasnya.

“Selamat pagi, Nona,” ujar pelayan yang membawa nampan dengan suara datar dan sopan. “Ini perintah Tuan Smith.”

Rachel menelan ludah. Ia menarik selimut sedikit lebih tinggi, bukan karena malu, tapi karena dorongan naluriah untuk melindungi diri.

“Beliau meminta Anda sarapan lebih dulu,” lanjut pelayan itu, seolah membaca keraguannya.

Rachel mengangguk pelan. Ia tidak menolak, tidak juga bertanya sejak kapan mereka berada di sana. Ada sesuatu di udara yang membuatnya paham bahwa sebuah pertanyaan tidak akan mengubah apa pun. Di rumah ini, ritme yang berlangsung tampak sudah ditentukan jauh sebelum ia membuka mata.

Ia menerima nampan itu dan mulai menghabiskan makanannya perlahan. Bukan karena sedang lapar, melainkan karena tubuhnya butuh energi untuk menghadapi apapun yang akan terjadi. Setiap kunyahan terasa canggung dan tatapannya sesekali melirik ke arah pakaian yang disiapkan, lalu kembali turun ke piring.

“Aku… boleh aku meminjam telepon?” tanyanya akhirnya, suaranya tenang tapi hati-hati.

Pelayan tertua itu tidak langsung menjawab. Ia melirik sekilas ke arah kedua pelayan lainnya, lalu kembali menatap Rachel.

“Kami harus meminta izin terlebih dahulu pada Tuan Smith,” katanya.

Jawaban itu sederhana, tapi menghantam lebih keras dari yang Rachel duga. Ia mengangguk lagi, kali ini lebih kaku. Bahkan untuk menelepon, ia harus menunggu persetujuan pria bernama Tuan Smith itu. Keamanan di rumah ini tampaknya cukup serius dan menyerupai perlindungan yang tak bisa ditembus.

Setelah sarapan, Rachel menuju kamar mandi. Ia membersihkan diri dengan cepat, seperti seseorang yang tidak ingin meninggalkan jejak. Ketika kembali, ia mengabaikan pakaian baru yang telah disiapkan. Ia lebih memilih mengenakan kembali pakaiannya sendiri, meski kusut dan tidak sempurna. Sebab, ia tidak ingin merasa dibeli. Setiap bantuan di tempat ini terasa seperti simpul yang mengikatnya lebih erat.

Beberapa waktu kemudian, pelayan yang sama datang kembali. Kali ini ia membawa sebuah kotak kecil. Ia membukanya di hadapan Rachel, dan ternyata kotak itu berisi sebuah ponsel yang beberapa saat lalu telah diminta Rachel.

“Izin telah diberikan, Nona. Anda bisa menggunakannya.” katanya dengan senyuman kecil.

Jantung Rachel langsung berdegup lebih cepat. Ia mengambil ponsel itu tanpa menunda waktu, lalu menekan nomor yang sudah ia hafal di luar kepala, yaitu nomor milik Mrs. Portman.

Tidak butuh waktu lama, nada sambung terdengar sekali, dua kali, lalu panggilan itu terhubung.

“Halo?” Suara seorang pria yang terdengar parau dan familiar di telinga Rachel. Bukan suara Mrs. Portman yang hangat yang ia harapkan. Rachel pun membeku.

“Kau sedang di mana, Rachel?” Suara Sam terdengar dingin, tenang dengan cara yang mengerikan. Membuat dunia di sekeliling Rachel tiba-tiba seolah runtuh dalam satu tarikan napas.

“Wanita tua itu dan Anna ada di sini,” lanjutnya. “Bersamaku.”

Tangan Rachel gemetar hebat. “Sam—”

“Kalau kau tidak pulang sekarang,” potongnya tanpa emosi, “mereka akan mati. Kupastikan itu.”

Tidak ada teriakan dan tidak ada makian yang keluar dari mulut San. Namun, justru ketenangan itu yang membuat Rachel yakin, bahwa ini bukan hanya gertakan.

“Baiklah, Sam. Baiklah. Aku… aku akan pulang,” kata Rachel cepat, nyaris tersedak. “Aku janji.”

"Baguslah.", kata Sam, dan panggilan telepon pun langsung terputus begitu saja.

Rachel menurunkan ponsel perlahan sambil menahan tubuhnya yang hampir ambruk karena lututnya mendadak terasa lemas. Ia tahu satu hal dengan pasti bahwa ia baru saja ditarik kembali ke neraka yang sama, dan kali ini, taruhannya bukan hanya hidupnya sendiri, melainkan nyawa Mrs. Portman dan Anna.

Ia menoleh pada pelayan yang berdiri tak jauh darinya. Wajah pelayan itu tampak sedikit panik melihat Rachel yanh hampir terjatuh. Ia melangkahkan kakinya ke depan, menghampiri Rachel. "Anda baik-baik saja, Nona?"

“Aku ingin bertemu Tuan Smith,” kata Rachel. Tidak berniat menjawab pertanyaan pelayan itu, melainkan ingin langsung menyampaikan maksudnya tanpa basa-basi lagi.

Pelayan itu mengangguk singkat, lalu memberi isyarat agar Rachel mengikutinya. Mereka berjalan melewati lorong yang lebih sepi, menuju ke tempat Tuan Smith berada. Karpet tebal meredam langkah mereka, dindingnya lebih gelap, dan pencahayaannya tampak redup dan terarah. Aura tempat ini berbeda—lebih tertutup, lebih sunyi, dan entah kenapa terasa lebih berat.

Mereka berhenti di depan sebuah pintu kayu besar. Tidak ada papan nama yang tergantung di sana, tidak ada juga tanda atau semacamnya. Hanya dua penjaga berdiri di sisi kiri dan kanan, diam seperti patung.

Pelayan itu mengetuk pintu. Satu kali. Dua kali. Dan tiga kali.

“Tuan,” ucapnya dari luar, suaranya rendah namun jelas. “Nona ingin berbicara.” lanjutnya. Membuat Rachel menahan napas tanpa sadar.

“Biarkan dia masuk,” terdengar jawaban dari dalam. Suara Liam terdengar tenang, dalam, dan sama sekali tidak tergesa.

Tidak lama setelah itu, pintu besar di depan Rachel pun terbuka. Rachel langsung melangkahkan kakinya masuk ke dalam sana, seolah waktu adalah sesuatu yang sangat berharga yang tidak ingin ia buang cuma-cuma.

Ruangan itu luas dan tertata rapi, namun tidak terasa seperti kamar tidur biasa. Sebuah jendela yang sangat besar tampak mencuri spotlight di depan sana, membiarkan cahaya pagi masuk dan memantul pada lantai marmer yang mengkilap. Dan di sudut ruangan, terdapat sebuah sofa besar berwarna hitam semakin menambah suasana misterius dari kamar tidur yang bernuansa hitam dan gelap itu.

Liam berdiri tidak jauh dari tempat tidurnya yang besar. Ia tengah bertelanjang dada, dan hanya mengenakan celana piyama berwarna gelap—menampilkan tubuhnya yang begitu sempurna seperti dipahat oleh Tuhan, dengan dada bidang, otot perutnya yang indah dan lengan kekarnya yang tampak kuat. Rambutnya sedikit berantakan, seolah ia baru bangun, tapi tubuhnya tegap dan siap, seperti seseorang yang tidak pernah benar-benar lengah. Wajahnya tampak maskulin, rahangnya tegas, tatapannya tajam namun tenang.

Rachel berhenti tepat di ambang pintu. Jantungnya berdegup keras, bukan karena takut, melainkan karena kesadaran yang tiba-tiba menghantamnya bahwa ini pertama kalinya ia menyadari betapa luar biasa menawan sosok Liam.

Pintu di belakangnya pun lalu tertutup dengan bunyi pelan. Kembali menyadarkan Rachel dari lamunan liarnya sesaat.

“Ada apa?” tanya Liam.

Nada suaranya terdengar datar—tidak kasar dan tidak juga hangat. Hanya sebuah pertanyaan singkat yang ia lemparkan dengan sikap sambil lalu, mengenakan kaos hitam yang tergeletak di atas sofa dengan gerakan santai.

Rachel pun melangkahkan kakinya ke depan, lebih mendekat ke arah Liam. Ia menggenggam tangannya sendiri agar tetap stabil, sembari menata kata demi kata di dalam pikirannya.

“Aku butuh bantuanmu,” katanya akhirnya.

Liam tidak langsung merespons. Ia berjalan ke meja kecil di dekat sofa, lalu menuang kopi ke dalam cangkir dan menyesapnya pelan. Gerakannya tampak santai, seolah waktu adalah sesuatu yang selalu ia miliki.

“Bantuan soal apa?” tanyanya, tanpa menoleh.

Rachel menarik napas dalam. Kata-kata itu berat, tapi ia tidak punya pilihan selain mengucapkannya.

“Adikku sedang disekap bersama tetangga kami,” katanya. Suaranya terdengar lebih tenang dari yang ia rasakan. “Pelakunya ayah tiriku.”

"Dan dia mengancamku,"

Liam berhenti bergerak dalam waktu sepersekian detik. Lalu ia berbalik. “Mengancam?” tanyanya.

“Ya. Dia akan membunuh mereka kalau aku tidak segera kembali,” lanjut Rachel. “Kalau aku tidak menikah dengan pria kaya raya bernama Tom.” Dan kata 'menikah' terasa menjijikkan di lidahnya. Ia menelan ludah, memaksa dirinya tetap menatap Liam.

“Aku tidak ingin kembali ke sana,” katanya. “Aku tidak akan melakukannya. Tapi aku...harus menyelamatkan Anna dan Mrs. Portman,”

Ia melangkah satu langkah lebih dekat. “Aku hanya butuh bantuanmu… sekali lagi. Kumohon bantu aku.”

Nada suaranya mulai melemah, tapi ia tidak menariknya kembali. “Aku akan membayar semua hutang budi ini. Bagaimanapun caranya. Aku janji.”

Liam meletakkan cangkirnya, lalu mendekat. Jarak di antara mereka menyempit perlahan, cukup dekat hingga Rachel bisa merasakan kehangatan tubuhnya.

“Aku tidak biasa beramal. Kau harus tahu itu.” ucapnya pelan.

Suaranya rendah, hampir seperti sebuah bisikan, namun terdengar dingin. Dan Rachel tahu bahwa tidak ada empati terdengar di sana.

“Aku biasa berbisnis,” lanjutnya. “Dan setiap bantuan punya harga.”

Ini seharusnya adalah sebuah gertakan. Bahkan, Liam mengatakannya dengan nada yang tepat dan jarak yang tepat. Ia menunggu Rachel ragu, menunggunya ketakutan, dan menarik diri darinya. Namun Rachel justru tidak bergerak.

“Aku akan melakukan apa pun,” katanya, pelan dan mantap, terdengar seperti seseorang yang sudah kehabisan pilihan.

“Asal adikku selamat.”

Liam pun sontak terdiam. Ia jelas tidak mengharapkan jawaban itu. Apa yang ia bayangkan tidak seperti ini. Tatapannya kini mengeras, bukan karena marah, melainkan karena ia tidak menyangka bahwa gertakannya gagal dengan mudahnya. Dan Liam pun menyadari bahwa ia tidak hanya sedang berhadapan dengan sebuah permintaan dari seseorang, melainkan sebuah kesepakatan yang akan mengubah segalanya.

Keheningan menggantung di antara mereka dalam waktu yang cukup lama. Liam masih berdiri di hadapan Rachel dengan jarak mereka yang tidak berubah, dan tatapannya penuh pertimbangan dengan perhitungan yang mantap.

Lalu ia menarik satu napas pendek. "Baiklah."

Sudut bibir Rachel langsung terangkat. Ia merasa bahwa dirinya sudah menemukan jalan keluar untuk masalah yang tadinya buntu.

"Sungguh. Aku sangat berterima kasih untuk semua bantuanmu, Mr. Smith.", kata Rachel.

"Kalau begitu, bisakah kita berangkat sekarang?", tanyanya lagi, seolah tidak ingin membuang waktu.

“Tidak perlu,” katanya akhirnya.

Nada suaranya datar, seperti baru saja memutuskan hal yang sepele. Namun bagi Rachel, kalimat itu terasa seperti pintu darurat yang tiba-tiba terbuka di tengah ruangan yang terbakar.

“Cukup beri aku alamatnya. Dan kau tetap berada di sini.”, lanjutnya.

Rachel berkedip. Otaknya butuh satu detik untuk mencerna bahwa Liam tidak sedang bertanya, melainkan memberi perintah. Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, ia menyebutkan alamat rumah tempat Anna dan Mrs. Portman ditahan. Setiap detail keluar dengan cepat dari bibirnya, seolah takut jika ia berhenti bicara maka Liam akan berubah pikiran.

Liam pun mengangguk sekali. Ia berbalik dan melangkahkan kaki untuk meraih ponsel yang tergeletak di atas meja kecil di dekat sofa, lalu menekan sebuah kontak berisi nomor dengan gerakan cepat dan mantap.

“Aku butuh kalian untuk bergerak sekarang,” ucapnya singkat. “Aku akan mengirimkan alamatnya.”

Ia mendengarkan sebentar, lalu menambahkan, “Seorang anak perempuan dan wanita paruh baya. Bawa mereka ke tempat yang aman. Lakukan dengan bersih seperti biasa.”

Panggilan telepon pun lalu terputus. Tidak ada penjelasan atau percakapan panjang dari Liam, juga tidak ada negosisasi atau pertanyaan lain dari balik panggilan itu. Semuanya selesai hanya dalam hitungan detik.

“Mereka akan aman,” kata Liam, masih membelakangi Rachel. “Aku tidak akan melibatkanmu. Kau tidak perlu muncul di sana.”

Rachel menghembuskan napas panjang yang baru ia sadari sejak tadi ditahannya. Lututnya rasanya hampir lemas, bukan karena lega sepenuhnya, tapi karena tubuhnya akhirnya mengizinkan dirinya merasakan sesuatu selain bertahan dan ketegangan.

“Terima kasih,” ucapnya pelan.

Liam berbalik ke arah Rachel, lalu langkahnya mendekat tanpa tergesa. Satu langkah perlahan, lalu dua dan beberapa langkah lainnya. Rachel yang menatap pergerakan Liam pun secara refleks mundur, sampai punggungnya menyentuh dinding dingin di belakangnya. Ruangan itu kini mendadak terasa menyempit dan menekannya.

Liam berhenti tepat di depannya. Kedua tangannya terangkat, bertumpu pada dinding di sisi kiri dan kanan tubuh Rachel. Ia tidak menyentuhnya, tapi tubuhnya sudah berada cukup dekat untuk membuat Rachel terkurung. Tidak ada kekerasan dalam gerakan itu—justru ketenangan yang membuat Rachel merasa lebih terintimidasi.

Tatapan Liam kini turun sedikit, mengunci tepat pada wajah Rachel. “Sekarang…” ucapnya rendah membuat Rachel menelan ludah.

“Bagaimana kau akan membayar semua ini?”

Pertanyaan itu tidak diucapkan dengan kemarahan, juga bukan dengan nada menggoda. Ucapannya lebih seperti seseorang yang terbiasa menagih, dan selalu mendapat apa yang ia minta.

Rachel menatapnya balik, seraya mencerna kata demi kata yang keluar dari bibir Liam. Dan kini ia baru benar-benar memahami posisinya. Ia mungkin telah selamat dari Tom. Anna mungkin akan segera kembali ke pelukannya. Namun Liam belum menyebutkan harga yang harus ia bayar dari kesepakatan yang sudah terjadi di antara mereka. Dan dari cara Liam menatapnya, Rachel tahu bahwa perjanjian ini mungkin jauh lebih berbahaya daripada ancaman yang baru saja ia tinggalkan.

1
Yellow Sunshine
Hai, Readers! Selamat menikmati karya baru dari author ya? Jangan lupa tinggalkan like dan komentarnya. bcos ur support means a lot. Salam hangat, dari author 🤗
Mia Camelia
miris banget😔
Yellow Sunshine: Happy reading, Reader! Selamat menikmati episode-episode selanjutnya yg semakin menarik 🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!