NovelToon NovelToon
Pendekar Racun Nirwana

Pendekar Racun Nirwana

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Reinkarnasi
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Sastra Aksara

Arka Wijaya pernah diburu seluruh pendekar di Benua Arcapura demi Permata Racun Nirwana. Terpojok di Tebing Langit Senja, ia menelan artefak itu dan melompat ke jurang kematian.

Semua orang mengira ia telah mati.

Namun Arka bangkit kembali—di tubuh seorang pemuda lumpuh dari Klan Wijaya, yang bahkan tak mampu mengolah tenaga batin.

Dihina, diremehkan, dan dianggap sampah oleh dunia pendekar, tak seorang pun menyadari bahwa jiwa di dalam tubuh rapuh itu adalah legenda yang pernah mengguncang Arcapura.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

Kesadaran Arka Wijaya perlahan kembali.

Apa yang terjadi…?

Bukankah aku sudah melompat dari Tebing Langit Senja?

Bagaimana mungkin aku masih hidup?

Ia ingat dengan sangat jelas detik terakhir sebelum tubuhnya jatuh ke dalam jurang tak berdasar itu. Namun sekarang, anehnya, tubuhnya tidak merasakan rasa sakit sedikit pun. Bahkan tidak ada ketidaknyamanan sama sekali.

Apa sebenarnya yang terjadi?

Arka Wijaya tiba-tiba membuka mata.

Ia segera duduk tegak.

Yang ia lihat bukanlah kegelapan jurang, melainkan sebuah kamar dengan suasana meriah. Ia berbaring di atas ranjang empuk, dengan tirai kain merah tergantung di sekelilingnya seperti kamar pengantin.

“Ah! Arka! Kau… kau sudah bangun!”

Suara seorang gadis tiba-tiba terdengar di dekatnya.

Arka menoleh.

Seorang gadis berpakaian hijau berdiri di samping tempat tidur.

Gadis itu tampak berusia sekitar lima belas atau enam belas tahun. Kulitnya putih bersih, bibirnya merah alami, dan matanya jernih seperti mata air pegunungan. Wajahnya memancarkan kelembutan yang hangat.

Meski masih sangat muda, kecantikannya sudah begitu jelas.

Melihat gadis itu, Arka tertegun sejenak.

Tanpa sadar ia bergumam,

“Bibi kecil…?”

Gadis itu segera mengulurkan tangannya yang halus ke dahi Arka.

Beberapa saat kemudian ia menghela napas lega.

“Syukurlah… demammu hampir hilang,” katanya dengan wajah penuh kelegaan.

“Kau benar-benar membuatku takut setengah mati. Arka, bagaimana keadaanmu? Apa ada bagian tubuhmu yang terasa sakit?”

Arka hanya menggeleng pelan.

Tatapannya kosong, seolah pikirannya masih jauh di tempat lain.

Gadis itu tersenyum lega.

“Beristirahatlah dulu. Aku akan memberi tahu kakekmu bahwa kau sudah sadar. Hari ini adalah hari besarmu!”

Ia lalu berkata sambil tertawa kecil,

“Ketika kau tiba-tiba pingsan tadi, kakekmu hampir kehilangan akal. Ia bahkan hendak pergi sendiri mencari tabib terbaik di Kota Tirta Awan.”

Setelah mendorong Arka agar berbaring kembali, gadis itu segera keluar dari kamar.

Pintu tertutup.

Ruangan menjadi sunyi.

Arka Wijaya perlahan duduk kembali sambil memegang kepalanya.

Gelombang ingatan tiba-tiba membanjiri pikirannya.

Kota Tirta Awan…

Kerajaan Surya Kencana…

Klan Wijaya…

Dan dirinya—

Arka Wijaya, cucu dari tetua Klan Wijaya, Wirata Wijaya.

Tahun ini usianya genap enam belas tahun.

Itulah identitas tubuh ini.

Namun bersamaan dengan itu, di dalam kepalanya juga terdapat puluhan tahun kenangan dari kehidupan lain.

Kenangan sebagai seorang pendekar yang diburu seluruh dunia.

Sebagai pemilik Permata Racun Nirwana.

Sebagai orang yang melompat dari Tebing Langit Senja.

Jika aku adalah Arka Wijaya…

Lalu kenangan tentang kehidupan sebelumnya itu apa?

Apakah setelah mati… aku hidup kembali di tubuh ini?

Arka menatap sekeliling ruangan.

Segala sesuatu terasa begitu akrab.

Ia mengenal kamar ini.

Ia ingat masa kecilnya di sini.

Semua kenangan itu nyata.

Bukan kenangan milik orang lain.

Jika begitu…

Apakah kehidupan sebelumnya hanyalah mimpi?

Namun setiap detail kehidupan itu begitu jelas.

Dua puluh tahun penuh kebencian dan pertarungan.

Bagaimana mungkin semua itu hanya mimpi?

Arka Wijaya terdiam lama.

Akhirnya ia menghela napas panjang dan menenangkan dirinya.

Langit di luar jendela masih gelap.

Hari ini adalah hari pernikahannya.

Dua jam sebelumnya, ia dibangunkan oleh bibinya dan dipakaikan jubah pengantin merah. Ia juga memakan bubur yang dimasak oleh bibinya sendiri.

Namun setelah itu—

tubuhnya tiba-tiba kehilangan seluruh tenaga.

Dan ingatannya berhenti di sana.

Arka menjilat bibirnya perlahan.

Sebuah aroma samar masih tersisa di sana.

Sudut bibirnya sedikit terangkat.

Lalu wajahnya menjadi dingin.

“Ini… racun.”

Ia mengenali racun itu hanya dari aromanya.

Dalam kehidupan sebelumnya, dengan Permata Racun Nirwana berada di dalam tubuhnya, ia telah mengenal hampir seluruh racun di dunia.

Racun yang ia rasakan sekarang dikenal sebagai Bubuk Pembunuh Jantung.

Racun ini dibuat dari campuran tanaman langka dan serat pohon beracun. Jika dicampur dalam makanan atau minuman, racun ini tidak memiliki warna maupun rasa.

Sepuluh detik setelah masuk ke tubuh, korbannya akan mati seketika.

Tanpa jejak.

Tanpa tanda.

Senyum Arka perlahan memudar.

Jadi begitu rupanya…

Tubuh ini sebenarnya sudah mati.

Pemilik tubuh sebelumnya—Arka Wijaya yang asli—telah tewas diracuni.

Dan dirinya…

adalah jiwa dari kehidupan lain yang menempati tubuh yang telah mati itu.

Namun ada satu hal yang membuatnya bingung.

Jika tubuh ini mati karena racun—

mengapa ia masih hidup?

Saat itu, sebuah sensasi aneh muncul di telapak tangan kirinya.

Arka mengangkat tangannya.

Matanya langsung melebar.

Di telapak tangannya terdapat sebuah tanda bulat berwarna hijau giok.

Bentuk itu…

warna itu…

ukuran itu…

persis sama dengan Permata Racun Nirwana.

Sebelum melompat dari Tebing Langit Senja, ia telah menelan permata itu.

Ia tidak pernah menyangka—

artefak itu benar-benar ikut berpindah bersamanya.

Seolah-olah telah menjadi bagian dari tubuhnya.

Arka menatap tanda itu sambil berbisik pelan,

“Permata Racun Nirwana…”

Tiba-tiba tanda hijau itu memancarkan cahaya lembut.

Pandangan Arka seketika berubah.

Saat ia membuka mata kembali—

ia sudah berada di dalam sebuah dunia berwarna hijau luas yang tak berbatas.

Aura racun kuno memenuhi seluruh ruang.

Setelah beberapa saat, Arka akhirnya mengerti.

Ia telah memasuki ruang di dalam Permata Racun Nirwana.

Ia tidak pernah menyangka bahwa artefak itu menyimpan dunia sebesar ini.

Lebih mengejutkan lagi—

permata itu sekarang tampaknya telah menjadi bagian dari dirinya.

Arka memejamkan mata dan memusatkan pikirannya.

Dalam sekejap, dunia hijau itu menghilang.

Ia kembali berada di kamar pengantin.

Arka menatap telapak tangannya.

Senyum perlahan muncul di wajahnya.

Entah mengapa keajaiban ini terjadi—

tetapi ia telah hidup kembali.

Dan kali ini, ia memiliki dua kehidupan dalam ingatannya.

Namun tubuh yang ia miliki sekarang…

benar-benar lemah.

Di dunia ini, kekuatan tenaga dalam adalah segalanya.

Namun Arka Wijaya yang sekarang—

bahkan tidak mampu menembus tingkat pertama latihan tenaga dalam.

Sejak kecil, nadi tenaga dalamnya rusak parah.

Tak peduli sekeras apa pun ia berlatih, kekuatannya tidak pernah berkembang.

Karena itulah ia menjadi bahan ejekan seluruh Klan Wijaya.

Jika bukan karena kakeknya, Wirata Wijaya, adalah pendekar terkuat di Kota Tirta Awan—

mungkin tidak ada seorang pun yang peduli pada hidup atau mati dirinya.

Namun hari ini…

seseorang bahkan mencoba membunuhnya dengan racun langka.

Arka segera memahami alasannya.

Karena hari ini—

ia akan menikah dengan seorang gadis bernama Ratna Pradana.

Ratna Pradana.

Gadis jenius dari Klan Pradana.

Pada usia enam belas tahun, kekuatan tenaga dalamnya telah mencapai tingkat kesepuluh.

Ia juga dikenal sebagai gadis tercantik di seluruh Kota Tirta Awan.

Semua pemuda berbakat di kota itu mengaguminya.

Namun gadis seperti itu—

justru dijodohkan dengan dirinya.

Seorang pemuda lumpuh yang tidak memiliki masa depan.

Tak heran jika banyak orang ingin melihatnya mati.

Arka tertawa pelan.

“Perempuan memang sumber banyak masalah…”

Namun ketika membayangkan kecantikan Ratna Pradana yang terkenal di seluruh kota—

senyumnya semakin lebar.

“Meski begitu…”

“memulai kehidupan baru dengan istri seperti itu… tidak buruk juga.”

1
Uswatun Hasanah
lanjutkan
Uswatun Hasanah
lanjut
Uswatun Hasanah
bagus... up
Jojo Shua
gasss
Sastra Aksara: Gasss terus 😄😄
total 1 replies
Oktafianto Gendut
alurnya kerennn
Sastra Aksara: Terimakasih kak. Terus Support yaa 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!