Di dunia di mana gerbang dimensi terbuka dan monster mulai menginvasi bumi, garis antara pahlawan dan penjahat menjadi kabur. seorang pria yang terjebak dalam takdir sebagai antagonis, raja naga kehancuran terbangun di tubuh manusia bumi bernama voltra.
Sang Raja Naga Kehancuran, entitas yang ditakdirkan menjadi villain sejati, kini terjebak dalam raga manusia yang lemah. Alih-alih menghancurkan dunia, ia justru terikat oleh tanggung jawab yang tak pernah ia bayangkan: seorang adik perempuan dan kewajiban menjadi seorang Hunter.
Terjebak dalam dilema antara identitas aslinya sebagai penghancur dan peran barunya sebagai kakak sekaligus pembasmi monster. Memilih antara harapan atau kehancuran?.
-LATAR CERITA DI INDONESIA
-KARAKTER PENTING ADA ILUSTRASI
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Natelashura7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 7 Gate rank A
Pagi hari voltra baru bangun tidur dan sepertinya vanya sudah berangkat sekolah lebih awal, karena tidak mau mengalami kejadian seperti kemarin. Tangannya mengambil bubuk kopi dan menuangkan air hangat, memberikan sentuhan gula untuk menambah rasa manis.
Ponselnya berdering, ada nomornya tidak dikenal namun voltra sudah menebak siapa orang yang menelpon nya. Ia mengangkat telepon itu.
"Dari mana kau tahu nomor ku?" Tanya voltra heran.
"Tidak penting" Balas Alina. "Aku hanya mengabari agar dirimu tidak membocorkan status rank, pengumuman resmi akan dilakukan setelah penyelesaian di Kalimantan" Lanjutnya menjelaskan.
"Dia naga betina yang perhatian" Batin voltra mengangguk kecil.
"Yah aku juga tidak tertarik" Balas voltra cuek. "Pak tua itu berjanji akan memberikan ku gate rank A untuk uji coba kemampuan" Lanjutnya mengingat.
"Yah, gate itu sudah disiapkan Asosiasi melalui guild ku karena dirimu belum punya guild" ujar Alina. "Temui aku di tempat biasa, dan cobalah beli sesuatu agar tidak menghancurkan atap bangunan orang karena melompat seperti kodok" Lanjutnya sebelum mematikan telepon.
"Hei tempat biasa itu tempat apa?" Tanya voltra namun panggilan sudah dibatalkan.
Voltra hanya mendengus, ia membuka tirainya dan melihat sebuah tempat penjualan motor. menatap deretan motor yang mengkilap dari kejauhan.
"Tempat biasa katanya? Manusia es itu benar-benar menganggapku cenayang" gumam voltra kesal sambil menghabiskan kopinya.
Mengingat saldo di kartu emasnya yang kini berlimpah, Voltra merasa saran Alina ada benarnya. Melompat antar gedung memang efisien, tapi itu menarik terlalu banyak perhatian. terutama dari polisi-polisi yang masih menganggapnya 'remaja stres'.
"Baiklah, mari kita beli salah satu tunggangan besi itu. Setidaknya agar naga betina itu berhenti memanggilku kodok" ucap voltra sambil memakai jaketnya.
Tanpa membuang waktu, ia mengambil kartu debit berisi uang tunjangan pertamanya dan berjalan menyeberang. Di dalam diler, seorang pramuniaga baru saja akan menyapa dengan ramah, namun Voltra langsung menunjuk sebuah motor sport berwarna hitam legam dengan aksen emas yang tampak paling gahar di sudut ruangan.
"Aku mau yang itu. Berikan kunci dan surat-suratnya sekarang" ucap Voltra singkat.
"Tapi Tuan, kita perlu memproses administrasinya dulu—" ucap seorang wanita.
"Rahasiakan ini" ujar voltra.
mengeluarkan kartu Hunter emasnya sejenak. Begitu melihat logo Rank S yang berkilau, pramuniaga itu langsung membungkuk hormat dan menyelesaikan semuanya dalam waktu kurang dari sepuluh menit. menaiki mesin besi itu. Berkat insting motorik seorang Raja Naga, ia hanya butuh beberapa detik untuk memahami cara kerja kopling dan gas. Dengan satu hentakan, motor itu menderu keras.
Alina berdiri bersandar pada mobil mewahnya tepat di depan gerbang sekolah Vanya. Ia mengenakan kacamata hitam, tampak bosan menunggu. Beberapa siswa yang lewat mencuri pandang ke arah Hunter nomor satu Indonesia itu dengan kagum.
Tiba-tiba, suara deru mesin motor yang sangat kencang mendekat. Sebuah motor sport hitam berhenti dengan manuver stoppie yang sempurna tepat di depan Alina, menciptakan kepulan asap tipis dari ban yang bergesekan dengan aspal. Voltra membuka helmnya, rambutnya yang berantakan tertiup angin.
"Aku sampai, Naga Betina. Ternyata 'tempat biasa' yang kau maksud adalah tempat kau pertama kali melihat kehebatanku kemarin, ya?" ucap voltra dengan seringai sombong.
Alina menurunkan kacamata hitamnya, menatap motor baru Voltra dengan pandangan menilai. Yah setidaknya pria itu memakai helm.
"Setidaknya kau tidak lagi mendarat dari langit dan menghancurkan trotoar. Motor yang bagus, tapi kau tetap telat lima menit" Ujar alina sedikit memuji.
"Jangan banyak protes. Mesin ini tidak punya sayap" balas Voltra sambil turun dari motornya. "Sekarang, tunjukkan padaku di mana Gate Rank A itu. Aku butuh pemanasan sebelum pergi ke pulau besar yang kau sebut Kalimantan itu" Lanjutnya berjalan mendekat.
Alina mengangguk, ia berjalan masuk ke mobilnya. Saat voltra akan masuk, ia menutup pintu mobilnya membuat voltra mencium jendela mobil hitam itu sambil meringis kesakitan. sementara Alina tersenyum puas.
"Ikuti aku. Kita akan menuju fasilitas pelatihan khusus Guild-ku di pinggiran kota, kebetulan gate nya memang ada di dekat sana" ucap alina membuka kaca mobilnya, agar suaranya terdengar jelas. "Jika kau berhasil menyelesaikannya sendirian, Asosiasi akan benar-benar percaya bahwa kau bukan hanya sekadar remaja yang beruntung" Lanjutnya.
"Ya-ya terserah saja" Balas voltra menaiki motornya sambil memasang helm. "memangnya sejak kapan aku beruntung, aku selalu sial" lanjutnya mengeluh entah pada siapa.
Kedua Hunter Rank S itu melesat meninggalkan depan sekolah, satu dengan mobil mewah dan satu dengan raungan motor hitamnya, menuju medan pertempuran yang sebenarnya. Tanpa Voltra sadari, dari balik jendela kelas di lantai dua, Vanya menatap ke arah jalanan dengan mulut terbuka.
"Itu... Kak Voltra? Sejak kapan dia bisa naik motor keren begitu?!" batin Vanya panik, mulai curiga bahwa kakaknya benar-benar melakukan sesuatu.
Alina melihat dari dalam kalau voltra mengikuti dari belakang. Keduanya memasuki jalan tol bersamaan tanpa harus membayar lebih dahulu, karena Alina sudah menunjukkan identitas melalui plat kendaraannya. Cukup jauh mereka berkendala. Mobil berhenti beberapa meter didepan gate, voltra menginjak rem untuk bermanuver sebelum berhenti.
"ISG?" Tanya voltra melihat beberapa hunter.
"Indonesia Special Guardians, itu guild ku" jawab Alina memberitahu.
"Lumayan juga" Balas voltra mengangguk.
"Ini guild rank A, dibutuhkan satu rank S untuk setiap gate rank A" ucap Alina mulai menjelaskan.
Kenyataan ironi adalah peringkat monster jauh berada di atas manusia. Monster peringkat E perlu tujuh rank hunter E dengan dua/tiga hunter rank C, bahkan untuk menaklukkan gate rank S memerlukan banyak hunter rank S. Alina meraih kedua pedangnya, membuat voltra mengangkat alisnya.
"Aku akan menemani dan mengamati mu" ucap Alina sudah bersiap dengan kedua senjata.
"Dua pedang?. Itu tidak cocok dengan mu" Balas voltra melihat.
[Strength: 30/70, speed: 60/98, durability: 40/50].
[Skill: resonansi mana].
"Statistiknya lumayan, dia bahkan belum mencapai setengah dari potensi penuhnya. Tapi, yang membuat dia lambat berkembang adalah karena beban berat dari kedua pedang itu" Batin voltra.
"Apa maksud mu?" Tanya Alina.
"Kau tidak cocok untuk memegang double sword, karena kecepatan mu berkurang karena berat di kedua sisi ditambah kekuatan mu hanya rata-rata" Jawab voltra memberitahu. "Mulai sekarang beralih ke satu pedang saja" Lanjutnya menyarankan.
"Kenapa juga aku harus mematuhinya" Batin Alina.
"Kalau soal berat, aku bisa beralih ke belati" ucap Alina masih ingin menggunakan dua senjata.
"Belati hanya cocok untuk mereka yang memiliki kekuatan extra, gunakan satu long sword ringan dan kau akan berterimakasih padaku nanti" Balas voltra mengambil sebuah tombak. "Ayo masuk" Lanjutnya berjalan memasuki gate.
Alina hanya bisa menatap punggung pria itu, ia menjatuhkan salah satu pedangnya dan berjalan hanya menggunakan satu pedang.