Seri pertama Cinta Tak Perna Salah mengangkat
Kisah Cinta antara Jeanne dan Jeremy yang berawal cinta itu tumbuh saat mereka usia remaja di sebuah asrama tentara. Kedua orang ini adalah anak tentara ini, Jeanne dan Jeremy sama - sama didik dalam tradisi dan kebiasaan orangtua mereka agar anak - anak ini kuat. Ketika mereka dewasa perpisah terjadi karena tugas dari orangtua mereka. Namun perasaan cinta itu sudah semakin tumbuh. Namun terhalang Karena keakraban orangtua, ditambah orangtua Jeremy menjadikan Jeanne seperti anak perempuan mereka.
Namun takdir berkata lain Jeremy Alexander Purba ditugaskan di Papua, tepatnya di kesatuan yang dulu ditumbuh dan dibesarkan. Dan mereka bertemu kembali setelah Jeanne sudah menjadi dokter, perasaan yang lama tersimpan, kembali bersemi.
Bagaimana kisah cinta Jeanne dan Jeremy ini???
Apakah salah Jeremy mencintai Jeanne yang sudah dia anggap seperti saudaranya sendiri???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wisye Titiheru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hujan Deras
Dalam perjalanan pulang ternyata hujan deras mendapati mereka dijalan. Akhirnya mereka berteduh di sebuah toko yang belum di tutup oleh pemiliknya. Jeremy sudah meminta Jean menelepon mama dan papa bahwa mereka terjebak hujan deras. Namun ketika menunggu hampir tiga puluh menit, hujan tidak berhenti. Dan kondisi mereka sudah sedikit basah.
"Gimana non, hujan. Nekat tabrak hujan aja??"
"Aku tidak masalah, kamu gimana bang??"
Jemy langsung membuka jaketnya, karena dia melihat Jean sudah kedinginan.
"Ayo naik. Peluk aku erat."
Mereka pun nekat menabrak hujan yang deras. Jemy dan Jean sudah basah kuyup. Waktu melewat pos, perwira jaga di pos tahu bahwa itu motor Lettu Jeremy Alexander Purba, namun mereka tidak tahu siapa yang di bonceng oleh beliau. Jemy menyapa perwira yang jaga, dan langsung menancap gas. Karena dia tahu bahwa wanita yang ada di belakangnya sudah kedinginan.
Akhirnya tanda tanya besar bagi mereka semua yang ada di pos, karena mereka tahu semua, bahwa tidak mungkin Niken yang di bonceng oleh Jemy.
Sampai dirumah Jean dan Jemy langsung disambut dengan handuk besar oleh mama dan papanya.
"Mama sudah siap air panas di kamar mandi, ayo cepat mandi."
"Siap mamaku sayang."
Jean langsung buru - buru ke kamar mandi. Selesai dia mandi, papanya sudah siap satu ember air panas buat Jemy. Bagi orangtua Jean, Jemy itu sudah seperti anak laki - laki mereka sendiri. Karena keakraban dengan orangtuanya. Papa Jemy yang adalah letting papa Markus adalah orang Batak juga. Namun dia diberi kesempatan sekolah perwira dan lulus. Lettu Boris Purba nama papanya Jemy sedangkan mamanya adalah perempuan Jawa. Berbeda dengan mamanya Jean adalah perempuan Papua blesteran China. tepatnya China Serui.
"Abang masuk mandi dulu air panas. Nanti mama siapkan baju ganti buat kamu. Ada kaos papa dan celana olah raga yang bisa kamu kenakan."
Jean selesai menganti bajunya, dia membantu mamanya menyiapkan teh panas dan makan malam buat mereka. Jemy mengenakan kaos dan celana papa. Jean tertawa melihat Jemy.
"Tertawa apa??"
"Lihat kamu seperti orangtua."
"Bilang saja seperti papa. Awas kamu kalau memanggilku papa."
"Baju basahnya biar mama yang cuci saya. Nanti selesai cuci baru, kamu ambil."
"Ngak usah ma."
"kenapa, kamu takut?"
"Dia takut pacarnya marah mama."
"Marah karena mertuaku yang mencuci??"
"Ih..percaya diri. Belum tentu mamaku mau kamu jadi menantunya."
"Kita tanya mama." Jemy langsung mendekati mamanya Jean.
"Mama jawab jujur ya???" Mama hanya mengangguk. "Kalau Jemy jadi anak mantu mama, setuju tidak??"
"Ya, setuju dong. Sudah sama - sama orang batak, ganteng lagi, baru masa depannya pasti."
Jemy tersenyum kearah Jean. Perempuan masa kecilnya ini hanya memasang muka masam buat Jemy.
"Dimeja makan ngak boleh masang muka jelek seperti itu. Seperti tidak menghargai berkat di meja makan."
Selesai makan, Jemy masih duduk berbicara dengan Jean, mereka menceritakan masa kecil sampai Jean kuliah.
"Kamu dokter residen di rumah sakit daerah Jogjakarta???"
"Iya, kan aku di universitas gajah mada."
"Mami sama papi dan Joan di Jogja. Mereka malah sudah membeli rumah disana."
"Aku ngak tahu."
"Bagus, kalau ngak buat repot."
"Dasar Jemy Jelek."
Jemy tertawa, dia senang sekali mengejek Jean. Ketika hujan sedikit reda, Jemy pamit pulang. Kalau tidak membuat Jean menangis bukan Jemy namanya. Selesai pamit kepada papa dan mama Jean, Jemy langsung mengacak rambut Jean dan menyubit pipinya sampai dia menangis.
"Bagaimana ya, jika kalian berdua jadi pasangan suami dan istri."
"Jean ngak mau punya suami seperti Jemy."
"Hussst ngak boleh anak perempuan ngomong begitu."
Jean langsung terdiam, namun Jemy mengaminkan apa yang di omongin mama Lisa mamanya Jean.
Sampai di mess perwira, Jemy disambut oleh teman - temannya yang mulai kepo peristiwa hujan - hujanan tadi. Berita Jemy membonceng seseorang dari pos penjagaan tiba di mess. Musa sebagai juru bicara siap mengatasi ke kepoan mereka.
"Pergi dengan baju ganteng, kenapa pulang dengan celana olahraga. Punya siapa??"
"Mertua aku."
"Ahk Sertu Arianto papanya Niken??"
"Asal ngomong kamu."
"Terus siapa mertua kamu???"
"Kepo amat."
"Saya ditugaskan buat kepoi kamu."
"Kamu hujan - hujanan sama siapa??"
"Tadi aku jemput Jean."
"Jean??? Dokter Jean???"
"Kenapa???"
"Kamu anggap dia teman masa kecil kan? Kamu tidak mempunyai perasaan sama dia kan?"
"Aku suka sama dia."
"Terus Niken jadi apa dong???"
"Dia masih manusia kan??"
"Iya saya tahu itu. Tetapi diakan pacar kamu???"
"Itu akal - akalan kalian aja, karena mau makan lauknya ditambahi."
"Siapa suruh memilih hukuman itu??"
"Aku memilih kesehatanku baik - baik saja, karena kalian - kalian ini lah yang bajingan ya."
"Siap salah komandan."
Semua tertawa, namun tidak bagi Musa. Dia merasa kemungkinannya mendapat Jean hanya nol persen. Jika bersaing dengan seorang Lettu Jeremy Alexander Purba. Jemy mau tidur, namun lagi - lagi Musa yang masih kepo datang ke kamarnya.
"Benarkah kamu suka sama dokter Jean ting??"
"Aku suka sama dia dari kita kelas sepuluh, sampai sekarang."
"Berarti aku harus undur diri dong."
"Terserah kamu?? Kalau mau masih mencoba???
Musa kembali ke kamarnya dengan badan lemasnya. Jemy hanya tertawa melihat temannya itu. Dia tahu bahwa Musa tidak mungkin akan bersaing merebut hati Jean.