NovelToon NovelToon
Sistem Kepelatihan Xiao Han

Sistem Kepelatihan Xiao Han

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Sistem / Kultivasi Modern
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: MagnumKapalApi

Genre: Sistem, Sport, Tactical.
Sub-Genre: Romance, Drama, School, Slice of Life, Friendship.

Arc 1 : Kebangkitan Calon Pelatih Trainee (Chapter 1 — 21) - (22.691 kata)
Arc 2 : Asisten Pelatih yang Diremehkan (Chapter 22 - ... ) - (Ongoing)

Dari gelandang tengah SMA Hangzhou menjadi seorang pelatih muda? Dibekali Sistem Kepelatihan, Xiao Han merajut kembali mimpinya, setelah dokter memvonisnya tak bisa menjadi pesepak bola lagi karena cidera. Mampukah ia menapaki sepak bola sekali lagi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MagnumKapalApi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 29

Sore harinya, Xiao Han dan Chen Hao duduk di bangku lapuk pinggir lapangan. Enam anak sudah pulang, menyisakan mereka berdua di bawah langit yang mulai jingga.

“Kau dengar pengumuman tadi?” tanya Chen Hao.

Xiao Han mengangguk. “Mu Qingyao.”

“Dia tidak main-main.” Chen Hao mengusap wajahnya dengan telapak tangan. “Sekarang bukan hanya target jumlah anggota, tapi juga nilai akademik mereka harus stabil atau naik. Kalau tidak, ekskul ini akan dicabut izinnya.”

Xiao Han membuka buku catatannya. Ia sudah menulis daftar enam anggota saat ini dan nilai rata-rata mereka berdasarkan data yang ia minta dari tata usaha.

“Li Wei 65, Wang Lei 70, Hu Tao 68, Lin Feng 78, Maling'sheng 72, Wei Ying 85.” Ia membaca satu per satu. “Rata-rata 73. Masih di atas KKM. Tapi kalau mereka terlalu banyak latihan dan nilai turun …”

“Kita mati,” potong Chen Hao.

Xiao Han menutup buku. “Aku akan keliling kelas besok. Cari anggota baru sekaligus mengobrol dengan wali kelas. Meminta mereka tidak memberikan PR berlebihan pada anak-anak yang ikut ekskul, untuk stabilitas nilai akademis dengan kegiatan ekstrakurikuler.”

Chen Hao menatapnya. “Kau pikir semudah itu?”

“Tidak. Tapi aku tidak punya pilihan lain, tapi aku akan mengatakan pada mereka, tidak baik membuat para murid merasakan stres belajar.” Xiao Han tersenyum kecil. “Coach, kau kenapa bersikeras mempertahankan ekskul ini? Aku lihat di rapat, kau sampai berani taruh nama.”

Chen Hao tidak menjawab langsung. Ia mengambil bola bekas yang tergeletak di dekat bangku, memutarnya di ujung jari. Bola itu sudah mengelupas kulit sintetisnya, tapi masih cukup bulat untuk ditendang.

“Kau tahu,” katanya akhirnya. “Dulu, saat aku masih asisten Pak Guan Tian di SMA Hangzhou No. 9, aku melihat seorang anak kelas 1 berlari di lapangan. Kakinya pendek, badannya kecil, tapi matanya … matanya melihat ruang yang tidak dilihat orang lain.”

Ia melempar bola ke udara, menangkapnya lagi.

“Anak itu setiap hari latihan sampai senja. Tidak pernah mengeluh. Dan ketika Pak Guan Tian bilang, ‘Dia terlalu kurus untuk jadi pemain profesional’, anak itu tetap datang keesokan harinya dengan semangat yang sama.”

Chen Hao menatap Xiao Han. “Anak itu kau, Han. Aku melihat kau tumbuh, kau membuatku berpikir untuk menjadi seorang pelatih lagi seperti dulu, sebelum menjadi asisten Pak Guan Tian. Dan ketika kau cedera, aku … aku merasa gagal. Karena aku tidak pernah cukup berani bilang pada Pak Guan Tian bahwa kau layak diberi kesempatan lebih. Tapi ... kau dapat membuktikan, kau sempat digadang-gadang aset masa depan timnas nanti.”

Xiao Han terdiam. Ia tidak pernah tahu ada yang memperhatikan.

“Jadi,” Chen Hao melanjutkan, suaranya sedikit serak. “Ketika pacarmu datang ke kantorku, bilang ada mantan murid Xuejun yang ingin jadi pelatih, aku tidak bisa bilang tidak. Ini kesempatanku membayar utang, mungkin jika kuberi kesempatan, kau mampu.”

“Coach … Kau tak pernah berhu—”

“Bukan utang.” Chen Hao berdiri. “Kesempatan. Aku ingin melihat kau membuktikan bahwa Pak Guan Tian salah. Dan aku ingin anak-anak di sini punya kesempatan yang tidak kau dapatkan dulu. Tapi, aku memang tidak percaya dengan kemampuan taktismu, makanya aku menerimamu untuk belajar di sampingku.”

Chen Hao melangkah ke lapangan. “Mungkin, aku sudah terlalu tua untuk penuh ambisi.” Berhenti di tengah lingkaran tengah yang garis kapurnya hampir hilang. Angin sore mengibaskan rambut putih di pelipisnya.

“Kita hanya punya satu bulan, Han. Aku akan percaya perkataanmu. Aku masalah akademik dengan wali kelas. Kau fokus cari pemain dan fokus pengembangan skill individu mereka. Setiap hari, tanpa istirahat.”

“Tapi, aku juga akan berbicara pada wali kelas.”

“Hmm ... Lakukan saja, tapi jangan berkata hal yang bodoh,” kata Chen Hao mengambil napas panjang. “Kali ini ... aku akan mencoba percaya pada kata-katamu.”

Xiao Han berdiri—Eugh!—Kakinya masih nyeri, tapi ia tidak peduli. “Setuju.”

“Dan satu hal lagi.” Chen Hao berbalik. “Besok kau keliling kelas. Jangan pakai tongkat. Jangan tunjukkan kelemahanmu. Anak-anak tidak butuh melihat pelatih yang lemah.”

Xiao Han melihat ke bawah, ke alat penopang di betisnya yang masih terpasang. “Aku akan melepasnya.”

“Jangan bodoh. Kau akan jatuh.” Chen Hao mendekat. “Pakai celana training panjang. Tutupi. Tapi jangan pincang. Pincang adalah sikap. Kalau kau berjalan seperti orang yang akan jatuh, mereka akan meragukanmu. Berjalanlah seperti kau punya tujuan, dan kaki itu hanya sementara.”

Xiao Han menelan ludah. Ia mencoba melangkah tanpa pincang.

Tap.

Sakit.

Tap. Tap. Tap.

Tapi ia tahan.

“Lebih baik,” kata Chen Hao. “Latihan besok kita mulai jam 2. Sebelum itu, kau keliling kelas. Target 5 anggota baru minggu ini. Bisa? Bukankah kemarin sudah kukatakan seperti itu?”

“Bisa.”

Mereka berjabat tangan. Genggaman Chen Hao kuat, seperti orang yang masih menyimpan banyak tenaga meski usianya tidak muda lagi.

Hingga waktu berlalu, sinar surya telah berpamitan untuk hari ini.

Malam harinya, Xiao Han pulang dengan kaki berdenyut lebih keras dari biasanya. Ibunya sudah menunggu di ruang tamu dengan televisi menyala pelan. Tidak ada sup ayam di meja kali ini.

“Kau terlambat,” katanya.

“Maaf, Bu. Ada rapat tambahan.”

Ibu menatap kakinya yang tertutup celana training. “Sakit?”

“Sedikit.”

“Aku sudah bicara dengan tetangga depan. Katanya ada lowongan kerja di pabrik pengolahan ikan. Gajinya lumayan. Kau bisa kuliah malam sambil kerja.”

Xiao Han berhenti di tangga. “Bu, aku sudah punya pekerjaan.”

“Asisten pelatih itu?” Ibu menghela napas. “Gajinya berapa? Cukup untuk biaya kuliahmu?”

“Aku belum perlu kuliah sekarang, Bu.”

“Ayahmu—” Ibu berhenti, menelan kata-katanya. “Ayahmu pasti ingin kau kuliah, Han. Sepak bola tidak menjamin masa depan, Ibu juga pasti bantu.”

Xiao Han menaiki satu anak tangga. “Ayah juga tidak kuliah, Bu. Tapi beliau bahagia dengan usahanya.”

“Ayahmu meninggal karena kecelakaan saat mengantar kau menonton bola.”

Keheningan menggantung di antara mereka. Xiao Han tidak bisa membantah itu.

“Aku hanya tidak ingin kau kehilangan segalanya seperti ayahmu,” lanjut ibu, suaranya bergetar. “Kau sudah kehilangan kakimu. Jangan kehilangan masa depan juga.”

Xiao Han menunduk. Di tangannya, ponsel bergetar. Pesan dari Shen Yuexi.

| Hari ketiga. Masih hidup? |

Ia tidak membalas. Ia hanya memasukkan ponsel ke saku, lalu berkata pelan, “Aku tidak akan kehilangan apa-apa, Bu. Percayalah.”

Tanpa menunggu jawaban, ia naik ke kamarnya. Di meja belajar, buku catatan dan pulpen masih tergeletak. Ia duduk, membuka halaman kosong, dan menulis target satu bulan ke depan.

...Minimal 12 anggota aktif. Latihan dasar passing, kontrol, posisi. Cari bibit baru dengan Talent Eye. Mengurus lisensi D. Membantu Coach Chen tingkatkan motivasi? (25 — ??)...

Xiao Han berhenti di poin terakhir. Membantu orang lain bangkit dari motivasi yang hanya 25? Jiwa Chen Hao mungkin redup, tapi sinar itu belum hilang. Bara di dalam diri pelatih itu harus segera membakar kayu.

Ding.

Sistem muncul di ujung pandangannya.

[ Misi Utama: Bertahan sebagai Asisten Pelatih ]

{ Target Jangka Pendek (30 hari) }

{ Rekrut minimal 16 anggota aktif }

{ Pertahankan nilai akademik anggota minimal KKM }

{ Host mendapatkan Lisensi D CFA }

Tampilannya sedikit berbeda, seperti tab yang tumpang tindih.

[ Target Jangka Menengah (3 bulan) ]

{ Bentuk tim inti dengan formasi tetap }

{ Ikuti turnamen tingkat kota }

{ Target Jangka Panjang (1 tahun) }

{ Raih prestasi minimal quarter-final turnamen kota }

{ Kembangkan minimal 3 pemain dengan potensi A }

“Hah ... apa-apaan misi dadakan ini?” protesnya. “Satu saja belum aku selesaikan!”

[ Hadiah Misi Utama: Skill Unlock + EXP Massive ]

[ Peringatan: Kegagalan target jangka pendek akan mengakibatkan kehilangan posisi asisten pelatih dan penutupan sistem ]

Xiao Han membaca sampai akhir. Penutupan sistem. Itu baru pertama kali sistem menyebut kemungkinan itu.

Ia meletakkan pulpen, menatap langit-langit kamar yang retak.

“Tidak akan gagal,” katanya pada dirinya sendiri. “Aku tidak akan gagal.”

Ponsel bergetar lagi. Pesan dari Shen Yuexi.

| Stiker kelinci tidur |

| Aku mau tidur dulu |

| Besok ceritain hari ketigamu |

Xiao Han tersenyum kecil. Ia membalas.

^^^| Tenang saja, aku masih hidup. |^^^

^^^| Dan besok, aku akan keliling kelas. |^^^

^^^| Mencari anggota baru. |^^^

Denting!

Balasan Shen Yuexi datang cepat.

| Jangan lupa pakai jaket. Hujan masih sering turun. |

| Dan Han … jangan paksakan kakimu |

Ia tidak membalas lagi. Tapi ia menggenggam ponsel itu erat, seolah kekuatan dari jarak jauh bisa merambat melalui layar.

Tik. Tik. Tik.

Di luar jendela, hujan mulai turun lagi. Gerimis tipis yang membasahi daun-daun pohon rindang di depan rumahnya. Tapi di dalam dadanya, sesuatu yang sempat goyah mulai mengeras kembali.

Besok ia akan keliling kelas. Bertemu guru-guru yang skeptis. Menghadapi Mu Qingyao jika perlu. Mencari lima anak yang mau percaya bahwa sepak bola tidak selalu musuh nilai akademik.

Dan ia akan melakukannya dengan kaki yang masih sakit, tanpa tongkat, tanpa pincang, seperti yang dikatakan Chen Hao.

Berjalanlah seperti kau punya tujuan.

1
Hong Biyeon Adolebit
keren bgt kak, Xiao Han😍
Bapack Haryadi: berakkkkkk
total 1 replies
Apakah transgender disunat?
sudah 39 chapter dan tidak ada insect😡
Bapack Haryadi: /Smug//Smug//Smug/
total 1 replies
Ren si Pegawai Kantoran
Pak Chen Hao kerjanya ngapain? Eh iya motivasinya kan kecil 🗿
Limian Avina
Iyap, aku pun malas baca itu, jadi diskip/Proud/
Limian Avina: /Facepalm//Facepalm/
total 2 replies
Limian Avina
Ini kayaknya enggak terlalu diperlukan deh/Sweat/
Bapack Haryadi: skill issue aja kak, maklumin, cmn ngindarin yg repetitif aja
total 3 replies
Limian Avina
Kebelet ganti PoV😂
Limian Avina
Kenapa jadi PoV satu/Sweat/
Bapack Haryadi: ahh iya, bocor POV, nanti saya revisi kak
total 3 replies
Limian Avina
Iya, mengerikan seperti ...
Limian Avina: Enggak jadi/Blackmoon/
total 2 replies
Limian Avina
Beliau terlalu percaya diri :v
Limian Avina: 🗿🗿🗿🗿🗿
total 2 replies
Limian Avina
Gambarnya kayak kamar pribadi🗿
Manusia Biasa: wkwkw tapi masih bagus kok kak, dari ai sih😂🙏
total 1 replies
Limian Avina
Ada gacha-nya/Scare/
Bapack Haryadi: masih jauh sih di gacha sistem itu /Facepalm/
total 1 replies
Limian Avina
/Curse//Curse/ Namanya kenapa harus Gacheng?!
Bapack Haryadi: Kepikiran itu aja 🗿
total 1 replies
Limian Avina
Nulisnya "Goal" deh seharusnya/Sweat/
Limian Avina: /Scare//Scare/ Secara arti goal = tujuan/sasaran/Facepalm/
total 2 replies
Limian Avina
Woah~! Riset sejarah .../Blush//Blush/
Bapack Haryadi: huum 🗿🗿
total 1 replies
Ren si Pegawai Kantoran
cukup menghibur
Bapack Haryadi: makasih kak
total 1 replies
Penjaga Gerbang
keren
Ren si Pegawai Kantoran
ditunggu Thor updatenya
Ren si Pegawai Kantoran
developmentnya sedikit terasa di sini, sistem gak semata-mata Deus ex machina, ada konsekuensi juga dari analisa MC, dan emang jadi pelatih itu harus mikirin pemain, bukan semata2 sistem novel lain yg bikin pemain jadi OP kah? 🤔
Ren si Pegawai Kantoran
Thor, jangan lupa huruf miring kalo monolog batin PoV 3 ya 🗿
Ren si Pegawai Kantoran
kambek 4-3
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!