AUDREY DIRA ADIWANGSA, terlahir dari keluarga cemara yang memiliki sifat berani dan spontan.
Gadis itu dijodohkan oleh Papanya, Adiwangsa, dengan putra dari seorang Konglomerat yang bernama Wira Aldrian Bimasena. Namun ternyata keluarga calon suami nya itu Toxic, jauh berbeda sekali dengan kehidupan yang dijalani Audrey bersama keluarganya.
Akankah Audrey mampu menghadapi mereka ataukah Audrey akan kalah dan menyerah lalu kembali pada kehidupan nyamannya bersama keluarga besar Adiwangsa ??
Happy Reading...
Enjoy guys 💜
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ratu_halu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 17
"Sebenarnya apa yang sedang mereka bicarakan hingga membuat Kak Wira bisa semarah itu ?!"
Audrey maju, mendekat pada Wira dan Hendra hingga membuat kedua lelaki itu terlonjak kaget.
"Selamat pagi, Nona Audrey." Hendra sepertinya sudah tau jika di situasi begini dia harus melakukan apa.
"Selamat pagi juga, Pak Hendra." Jawab Audrey sambil membalas senyum ramah Hendra.
Setelah berbincang singkat dengan Audrey, Hendra pun pamit.
"Kalau begitu saya permisi dulu, Bos...Nona." Hendra meninggalkan desa itu untuk kembali ke kota.
"Ayo pulang."
"Tunggu Kak! Tadi apa yang kakak bicarakan dengan Asisten Kakak ?"
"Memang nya kenapa ?" Tanya Wira datar, menutupi kemarahannya yang belum tersalurkan.
"Aku lihat muka kakak sampai merah gitu, apa ada sesuatu yang membuat kak Wira marah ?"
Wira menatap Audrey, tatapan yang mendadak membuat Audrey tertegun sejenak.
"Kamu salah lihat." Jawab Wira yang sesungguhnya tidak kuat juga lama-lama menatap manik mata coklat milik Audrey.
Wira pun kembali berjalan, meninggalkan Audrey yang masih mematung di halaman rumah Pak RT
"Haish! Kenapa jadi aku yang di tinggal, huhft!" Audrey mempercepat langkah untuk mencapai Wira yang sudah lumayan jauh di depan.
Nafas Audrey ngos-ngosan ketika sampai kembali di posko kkn nya. Berbanding terbalik sekali dengan Wira yang santai saja seolah perjalanan tadi tidak menguras energi nya. Maklum, Audrey kebanyakan tidur, dia jarang olahraga. Tidak seperti Wira yang selalu menyempatkan waktu untuk nge-gym meski jadwal kerjanya sangat padat.
"Minum dulu.." Wira menyodorkan segelas air minum yanh dia ambil dari dapur.
"Makasih." Audrey langsung meneguk air sejuk itu sampai tandas.
Lepas itu Audrey mengajak Wira duduk di ruang tamu, dia mau mengintrogasi Wira soal pengaspalan jalan yang terkesan sangat mendadak itu.
"Kak, soal pekerjaan umum itu...Apa tujuan kakak sampai repot-repot melakukannya ?" Tanya Audrey memasang wajah serius.
"Tentu saja untuk kenyamanmu!" Jawab Wira tapi hanya dia ucapkan dalam hati nya saja.
"Karena untuk kenyamanan saat aku pulang nanti!" Sahut Wira membuat Audrey komat-kamit. Padahal dia sempat yakin bahwa Wira melakukan itu karena obrolan mereka semalam. Tapi yasudahlah, apa yang mau di harapkan dari hubungan atas dasar perjodohan orang tua ini...
"Oh." jawab Audrey dengan nada kecewa yang sangat kentara. Audrey bangun dari duduknya, kemudian berjalan menuju kamar.
"Mau kemana ?" tanya Wira.
"Mandi."
🏵️
Hari berganti dengan cepat, tibalah dimana hari yang ditunggu, hari pertama Audrey dan sembilan mahasiswa yang lain mulai melakukan program kerja mereka.
Sementara itu Wira sudah kembali dengan aktifitasnya sebagai seorang CEO di perusahaan raksasa Bimasena Grup.
Wira baru saja menginjakkan kaki di lobi perusahaannya setelah pulang meeting, terdengar suara nyaring yang memanggil nama nya.
"Kak Wira!!"
Suara itu sangat familier di telinga Wira. Tapi alih-alih berhenti dan berbalik, justru Wira semakin mempercepat langkah kaki nya menuju lift eksekutif.
"Bos, Nona Shena memanggil anda."
"Aku tidak tuli, Hendra!" Ucap Wira dengan tatapan setajam silet membuat Hendra mundur selangkah,
"KAK!" Shena berlari kecil mengejar Wira, tapi ketika hampir sampai justru Wira sudah masuk ke dalam lift menuju lantai paling atas.
"Ck! Dasar lift sialan!" Umpat Shena sambil memukul pintu lift yang sudah tertutup.
Wira dan Hendra sudah sampai di lantai tempat ruangan Wira berada.
"KAK!" Pintu ruangan CEO di buka kasar dari luar.
"Kalian keluar saja!" Wira memberi perintah pada asisten dan sekretaris nya yang kebetulan sedang membicarakan hasil meeting yang tadi.
"Ada apa, Shen ? Aku sedang sibuk."
Shena berdiri di depan meja kerja Wira.
"Kakak kemana saja dua hari ini ? Aku cari ke kantor nggak ada, ke apart juga nggak ada. Aku tanya Hendra, dia bilang nggak tau. Masa seorang asisten pribadi nggak tau dimana Bosnya berada.." Gerutu Shena tanpa tendeng aling-aling dengan nada kesal.
Wira tidak mengangkat kepalanya untuk menatap Shena. Dia berpura-pura sibuk memeriksa dokumen di meja kerjanya.
"Aku tidak punya kewajiban untuk memberitahu mu semua agendaku, Shena!" Jawab Wira pelan namun menusuk
"I-iya, s-sih.. Ta-tapi...tapi kan aku khawatir, Kak. Biasanya meski kakak sibuk kakak tetap terlihat dimata ku, dan kalau pun kakak ke luar negeri aku selalu tau.." Jawab Shena dengan suara melembut.
Wira meletakkan pulpen di genggaman, membuka kaca mata bacanya lalu mengangkat kepala menatap sang adik dengan tatapan tenang.
"Mulai sekarang belajarlah untuk tidak meributkan hal sepele. Dimana aku, sedang apa aku, itu semua tidak penting, Shena. Fokuslah pada hidupmu sendiri."
Shena mendadak bungkam. Wajahnya yang tadi merah karena marah, kini memucat seketika. Wajah sinisnya hilang entah kemana.
"Aku kan adikmu, Kak. Aku hanya ingin memastikan keselamatan dimana pun kamu berada.." Suara Shena memelas dengan tangan yang mencoba meraih tangan Wira yang ada di atas meja. Tapi belum sempat tangannya menyentuh, Wira lebih dulu menariknya dengan gerakkan halus. Punggungnya dia sandarkan ke kepala kursi dengan tatapan sedingin es.
"Pulanglah. Aku harus bekerja."
Shena terpaku dan sedetik kemudian dengan gerakkan kasar yang tak terduga serta nafas yang tersengal-sengal gadis itu berbalik dan pergi sambil menghentakkan kedua kaki nya ke lantai marmer.
Wira menatap pintu yang sudah tertutup kembali sambil membuat nafas berat.
"Kau adikku, tapi aku harus melakukan ini demi keutuhan rumah tanggaku." Ucap Wira dalam hati.