NovelToon NovelToon
SUAMIKU AYAH TUNANGANKU

SUAMIKU AYAH TUNANGANKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Cinta Terlarang / Duda
Popularitas:96.4k
Nilai: 5
Nama Author: Vaelisse

Liora dipaksa menikah dengan Kaedric Volther, pria yang dikenal kejam dan berbahaya. Namun sebelum pernikahan itu terjadi, Kaedric meninggal dunia. Liora mengira rencana pernikahan itu akan dibatalkan dan ia bisa kembali menjalani hidupnya seperti biasa.

Namun keputusan keluarga Volther berubah. Untuk menjaga kepentingan keluarga, Liora justru harus menikah dengan ayah Kaedric, Maelric Volther, seorang pria berkuasa yang jauh lebih tua darinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vaelisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

28

"Aku sudah pernah ke sini sebelumnya, dan rumah ini benar-benar terasa berbeda semenjak kamu ada di dalamnya, Liora," puji Paman Deris. Liora tahu itu hanya basa-basi di ruang tamu ini belum ada satu pun perubahan yang ia buat. Dan bahkan kalau ia mau, semua keputusan harus melewati persetujuan Maelric terlebih dahulu. Ia tidak bisa berbuat apa-apa sendiri.

"Mungkin pesonaku yang menerangi ruangan ini," jawab Liora ringan.

"Tampaknya memang begitu." Paman Deris duduk di sofa, matanya menyapu sekeliling ruangan sebentar. "Bagaimana kalau kita pergi ke tempat Anzari saja? Di sini setiap kata harus dijaga. Di sana kita bisa bicara dengan bebas."

Kata-kata itu terasa seperti angin segar dan hampir saja Liora menyambutnya. Tapi ia cepat-cepat menelan keinginan itu.

"Belakangan ini aku terlalu sering ke sana, jadi sekarang tidak bisa." Rasanya seperti anak kecil yang sedang kena hukuman. "Sampaikan salamku untuk Ayah dan kakakku."

Paman Deris meledak dalam tawa. Liora tidak menemukan sisi lucunya, baginya ini justru menyedihkan.

"Luar biasa pilihan menantu si Anzari itu." Ia menggeleng-gelengkan kepala, masih tersenyum. "Aku bahkan tidak kasihan padanya. Yang aku kasihani hanya kamu, yang harus menanggung semua ini."

Sejenak keduanya terdiam. Lalu dari sudut matanya, Liora menangkap gerakan dan ketika ia menoleh, Maelric sudah melangkah masuk ke ruangan.

"Kukira kamu sudah mau pergi," kata Maelric. Nada suaranya datar, tapi Liora hafal betul lapisan di baliknya.

"Tidak mungkin aku tidak menemui Liora dulu. Ia keponakanku, dan aku sangat merindukannya." Paman Deris berbicara dengan santai, seolah kehadiran Maelric tidak memberikan tekanan apa pun. "Kamu pasti mengerti, bukan? Sudah mengenalnya lama."

"Tentu. Liora memang sangat menyenangkan."

"Nah, justru karena itu--" Paman Deris menyandarkan diri ke sofa dengan gayanya yang selalu tampak tak tergesa "--aku akan membawanya sebentar ke tempat Anzari. Beberapa hari saja. Setelah itu kukembalikan."

Liora sempat melirik wajah Maelric. Rahangnya mengeras tipis, hampir tidak terlihat, tapi Liora sudah cukup lama memperhatikannya untuk tahu.

"Tidak." Suara Maelric turun satu oktaf. "Liora tidak kemana-mana. Ia tinggal di sini."

Paman Deris tersenyum tipis, senyum seseorang yang justru merasa terhibur karena berhasil memancing reaksi yang ia inginkan.

"Santai saja. Cari hiburan lain selama beberapa hari. Aku yakin kamu tahu caranya." Ia melirik Maelric dengan ekspresi yang sudah cukup bicara. "Aku hanya tidak mau keponakanku jadi kelinci percobaan untuk hal-hal yang seharusnya tidak ia tanggung."

"Sudah!" Liora memotong sebelum situasi semakin memanas.

Bukan karena cemburu, sama sekali bukan. Ia hanya tidak ingin keduanya saling melempar kata-kata hingga meledak menjadi sesuatu yang lebih buruk.

"Hari ini sudah terlalu sore untuk pergi ke mana-mana." Liora mencoba menjaga nada setenang mungkin. "Tapi aku berjanji akan datang besok." Sebuah janji yang bahkan ia sendiri tidak yakin bisa ditepati. Semoga Maelric bisa mengerti untuk sekali ini.

Paman Deris berdiri dari sofa dengan gerakannya yang selalu terlihat enggan terburu-buru, seolah ia tidak pernah merasa perlu menyesuaikan diri dengan situasi di sekitarnya.

"Sampaikan salam ke Ayah dan kakakku," kata Liora lagi sambil berdiri dan menghampirinya. Paman Deris memeluknya, dan Liora menekan bibirnya ke pipinya sebentar. "Dan jangan ditanggapi terlalu serius," bisiknya di telinganya.

Paman Deris menarik diri, sedikit tersenyum. Maelric melangkah maju dan meletakkan tangannya di bahu Liora.

"Semoga tidak kesulitan menemukan jalan keluar. Kalau perlu, staf saya siap membantu," kata Maelric.

"Tidak perlu repot." Paman Deris melambai ringan ke arah Liora. "Sampai besok, Liora."

Lalu ia pergi.

**

"Betapa menyebalkannya orang itu," gumam Maelric begitu mereka berdua sendirian. Ia melepaskan tangannya dari bahu Liora dan berjalan menuju lemari minuman, menuangkan sesuatu ke dalam gelas. Lalu tanpa ditanya, ia menuangkan satu gelas lagi dan menyodorkannya.

Liora menerimanya tanpa komentar.

"Aku perhatikan kamu tidak menyukai satu pun anggota keluargaku," katanya, meneguk minumannya.

"Bukan salahku kalau mereka semua bermasalah."

"Dan aku sering dibilang sangat mirip dengan mereka." Liora menatapnya datar di atas bibir gelasnya. "Jadi aku pun bermasalah?"

Maelric memejamkan mata sebentar, ekspresi seseorang yang sedang berusaha keras menahan diri.

"Kamu pengecualian, Sayang," katanya akhirnya, suaranya lebih lunak.

Liora tahu apa artinya nada itu. Ia menghela napas dalam-dalam, menghabiskan tegukan terakhir minumannya.

Malam ini sepertinya harus mengalah lagi.

**

Maelric ternyata bisa dibujuk lebih mudah dari yang Liora duga, dengan imbalan yang sudah ia tahu betul cara memberikannya. Dan hasilnya, Maelric mengizinkan Liora pergi ke rumah keluarganya keesokan harinya, dengan satu syarat yang disampaikan dengan nada yang tidak memberi ruang untuk ditawar: kembali dalam lima jam atau ia sendiri yang akan menjemput. Dan setelah itu, Liora tidak akan melihat keluarganya selama setidaknya satu tahun penuh.

"Ingat perjanjiannya, Nyonya," kata Gio ketika mobil akhirnya berhenti di depan rumah yang sudah sangat Liora rindukan.

"Aku tahu." Liora membuka pintu. "Kalau lapar atau haus, pergi saja ke dapur. Tidak perlu menunggu di luar."

Ia melangkah masuk tanpa mengetuk, ini masih rumahnya, bagaimanapun juga.

Di ruang tamu, suara-suara sudah terdengar sebelum ia sampai ke ambang pintu. Dan ketika ia masuk, semua mata tertuju padanya sekaligus.

"Liora!" Zevran bangkit lebih cepat dari yang lain dan langsung memeluknya erat. Baru saat itulah Liora benar-benar menyadari betapa ia merindukannya.

"Akhirnya bisa kabur juga dari penjara itu," komentar Paman Deris dari sudut ruangan.

Liora melepaskan diri dari pelukan Zevran dan menghampiri ayahnya. Anzari menyambutnya dengan usapan lembut di pipinya, tanpa banyak kata, tapi Liora mengerti.

Ia duduk di sisi ayahnya. Semua orang di ruangan itu menatapnya.

"Syukurlah kamu datang, Sayang," kata Anzari. "Ada hal penting yang perlu kami sampaikan."

Belum sempat ia melanjutkan, Ronan sudah memotong.

"Kami sudah memutuskan." Ronan menatap Liora langsung, suaranya bulat dan tegas. "Pernikahan ini harus diakhiri. Tidak ada gunanya dilanjutkan."

1
Resiana dewi
next kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!