NovelToon NovelToon
THE ARCHIVIST

THE ARCHIVIST

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Spiritual / Time Travel
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: NP (Naika Permata)

Dimas dan Sarah kini dikenal sebagai pasangan akademisi selebriti. Sarah dengan buku best seller-nya, dan Dimas sebagai profesor muda yang brilian. Namun, itu hanya kedok. Di balik layar, mereka bekerja sebagai Konsultan Khusus untuk Badan Perlindungan Cagar Budaya & Aset Negara (BPCBAN). Tugas mereka: Melacak, mengamankan, dan menyegel artefak-artefak supranatural berbahaya yang diperjualbelikan di pasar gelap Internasional (Black Market). Musuh mereka bukan lagi dukun santet, melainkan Sindikat Kolektor Internasional yang didanai oleh miliarder asing yang ingin menguasai kekuatan mistis Nusantara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NP (Naika Permata), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Satelit Mistik & Algoritma Jiwa

Lokasi: Klinik Holistik “Sekar Kedaton”, Cikini, Jakarta Pusat.

Waktu: 13.15 WIB (Beberapa Jam Pasca Kejadian di SCBD).

Klinik itu tersembunyi di balik gang sempit yang diapit ruko-ruko tua bergaya kolonial di kawasan Cikini. Tidak ada plang neon terang, hanya papan kayu jati berukir rapi diatas pintu yang berbunyi berdenting pelan saat didorong terbuka.

Begitu melangkah masuk, hiruk-pikuk suara klakson Jakarta dan deru hujan seketika teredam total. Udara di dalam ruangan itu hangat, dipenuhi aroma campuran kapulaga, kayumanis, dan dupa cendana murni. Rak-rak kayu jati menjulang dari lantai hingga langit-langit, dipenuhi ratusan toples kaca berisi akar-akaran, daun kering, dan kristal mineral.

Di balik meja kasir kayu, Sekar sedang menumbuk sesuatu di dalam lumping batu (cobek). Penampilannya kini lebih dewasa dan elegan. Ia mengenakan kebaya kutubaru katun berwarna krem sederhana, rambut panjangnya digelung rapi dengan tusuk konde perak.

Tangan Sekar yang sedang menumbuk tiba-tiba berhenti bahkan sebelum Dimas dan Sarah sempat bersuara.

Sekar memejamkan mata, wajah ayunya mengerut menahan mual.

“Kalian membawa bau kematian yang sangat, sangat purba,” bisik Sekar pelan, tanpa menoleh. “Baunya seperti ribuan kuburan yang dibongkar bersamaan.”

Dimas tersenyum kecut sambil bersandar pada kusen pintu, menahan nyeri di tulang rusuknya. “Halo juga, Sekar. Maaf kami nggak bawa martabak. Kami bawa kiamat kecil.”

Sekar berbalik. Matanya terbelalak melihat kondisi sepasang suami-istri itu. Jas Dimas robek dan berdarah, wajahnya pucat pasi seolah kehabisan darah. Tangan kiri Sarah dibalut perban tebal yang mulai merembes darah, sementara baju taktisnya kotor oleh jelaga dan air hujan.

“Ndoro Dimas! Mbak Sarah!” Sekar bergegas keluar dari balik meja, langsung menuntun mereka berdua duduk di kursi rotan panjang.

Tanpa banyak bertanya, Sekar mengambil sebuah teko tembikar dari atas pemanas kecil, menuangkan cairan berwarna ungu gelap ke dalam dua cangkir tanah liat.

“Minum ini. Habiskan. Ini rebusan Akar Pasak Bumi dan Bunga Telang yang sudah saya bacakan doa tolak bala,” perintah Sekar tegas. “Sukma Ndoro Dimas nyaris lepas dari raga. Ada ruang kosong di dada Ndoro.”

Dimas meminum cairan pahit itu dalam satu tegukan. Sensasi hangat langsung menjalar ke aliran darahnya, mengisi kembali Chi (energi prana) yang terkuras habis saat melakukan eksorsisme di lantai 45.

Sarah meminum bagiannya dengan enggan, lalu meletakkan cangkirnya di meja. “Kami butuh bantuanmu, Sekar. Sekarang juga.”

Sarah membuka tas ransel taktisnya yang basah, mengeluarkan sebuah laptop tahan banting (Toughbook) dan sebuah alat aneh—semacam headset helm bando dengan puluhan sensor eletroda menempel di ujung-ujungnya (mirip alat pemindai gelombang otak/EEG medis).

“Saya sudah dengar berita soal bunuh diri massal yang digagalkan di SCBD,” kata Sekar, duduk di seberang mereka dengan wajah serius. “Apa yang sebenarnya lepas dari Gunung Padang?”

Dimas mencondongkan tubuhnya ke depan. “Namanya ‘Sang Pemakan’. Ras Lemuria mengurungnya belasan ribuan tahun lalu. Dia bukan hantu, Sekar. Dia parasit emosi. Dia menyebut keputusasaan, mengubahnya jadi energi, dan merasuki orang-orang yang depresi untuk memicu bunuh diri berantai.”

Mendengar itu, wajah Sekar berubah pucat. Jari-jarinya tanpa sadar meremas ujung kebayanya.

“Itu… Pageblug Sukmo (Wabah Jiwa),” gumam Sekar ngeri. “Eyang Roro pernah menceritakan legenda itu saat saya masih kecil. Makhluk yang memakan cahaya manusia hingga hanya tersisa bayangan. Kalau makhluk itu sudah ada di Jakarta…”

“Itu masalahnya,” potong Sarah sambil menyalakan laptopnya. Layar monitor menunjukkan peta digital wilayah Jabodetabek yang dipenuhi ribuan titik merah kecil (CCTV lalu lintas, rumah sakit, dan laporan kepolisian).

“Jakarta punya populasi belasan juta jiwa,” lanjut Sarah. “Setiap hari ada orang stress, ada orang nangis, ada kecelakaan. Algoritmaku bisa melacak keyword depresi atau anomali keributan, tapi mesin nggak bisa membedakan mana orang yang stress karena diputusin pacar, dan mana yang stress karena mau dirasuki setan purba.”

Sarah mendorong alat headset EEG itu ke hadapan Sekar.

“Kami nggak bisa keliling Jakarta ngecek satu-satu. Kami butuh radar,” kata Sarah menatap Sarah lekat-lekat. “Kami butuh ‘Mata Batin’ kamu, Sekar. Disambungkan langsung ke database komputerku.”

Sekar melihat alat itu dengan bingung. “Mbak Sarah mau saya pakai… helm robot ini?”

“Ini Brain-Computer Interface (BCI) yang sudah kumodifikasi,” Sarah menjelaskan dengan antusiasme ilmuwan yang sedang terdesak. “Alat ini membaca lonjakan gelombang Alpha dan Theta di otakmu. Saat kamu pakai ini dan melakukan meditasi Penerawangan, setiap kali kamu merasakan ‘Aura Hitam’ dari Sang Pemakan di luar sana, otakmu akan memberikan lonjakan sinyal.”

Dimas ikut menimpali, menyambung logika istrinya. “Dan saat otakmu ngasih sinyal itu, program Sarah bakal mencocokkannya dengan titik lokasi CCTV atau laporan keributan di peta secara Real-Time. Kamu jadi satelitnya, Sarah jadi servernya, aku yang bakal datang ke lokasi buat nge-ruqyah.”

Sekar terdiam menatap alat tersebut. Ini adalah peleburan murni antara Klenik tingkat tinggi dan Sains mutakhir.

“Radius penerawangan saya biasanya hanya beberapa kilometer, Ndoro,” Sekar ragu-ragu. “Jakarta terlalu luas. Kalau saya memaksakan diri menyapu seluruh kota… otak saya bisa terbakar.”

“Aku tahu resikonya,” Dimas merogoh saku dalam jaketnya, mengeluarkan sisa patahan Silinder Kristal Biru (Inti Reaktor Gunung Padang) berukuran sebesar ibu jari, yang diam-diam ia kantongi sebelum tempat itu runtuh.

Kristal itu memancarkan cahaya biru redup yang sangat indah,

“Ini kepingan kristal Lemuria,” Dimas meletakkan batu itu ke telapak tangan Sekar. “Ini Amplifier (penguat sinyal) alami. Genggam ini saat kamu meditasi. Batu ini akan memperluas jangkauan batinmu ke seluruh penjuru kota tanpa menguras prana pribadimu.”

Sekar menatap kristal itu. Ia merasakan energi purba yang berdenyut selaras dengan detak jantungnya. Ia menarik napas panjang, menguatkan tekadnya. Gadis penakut dari masa lalu kini telah berubah menjadi wanita yang siap memikul beban berat.

“Baiklah,” Sekar mengambil headset BCI itu dan memasangnya di kepalanya. Elektroda-elektroda dingin menempel di pelipis dan keningnya. “Sambungkan saya ke kotanya, Mbak Sarah.”

Sarah mengetik serangkaian perintah di laptopnya. Kabel BSI dari headset Sekar terhubung ke sistem. Layar laptop Sarah langsung menampilkan grafik gelombang otak Sekar yang stabil.

“Kalibrasi di mulai,” kata Sarah. “Sekar, pejamkan matamu. Cari bau kemenyan dan darah basi yang kita rasakan di SCBD tadi. Cari frekuensi keputusasaan yang tidak wajar.”

Sekar memejamkan matanya. Ia menggenggam kristal biru Lemuria dengan kedua tangan di depan dada. Bibirnya mulai bergerak merapalkan mantra Jawa Kuno yang sangat pelan.

“Sang Hyang Bayu… titip paningal… buka sakabehing wujud…”

Seketika, kristal di tangannya berpendar terang.

Di layar laptop Sarah, grafik gelombang otak Sekar melonjak tajam.

Napas Sekar mulai memburu. Keringat dingin sebesar biji jagung menetas dari pelipisnya. Di dalam batinnya, Sekar tidak lagi berada di kliniknya. Kesadarannya melayang di atas langit Jakarta yang berawan tebal. Ia melihat lautan manusia, jutaan cahaya kehidupan yang berkedip-kedip.

Lalu… ia melihatnya.

Asap hitam pekat yang bergerak seperti ular raksasa meliuk-liuk diantara awan, membelah diri menjadi sulur-sulur kecil yang turun ke sudut-sudut kota.

“Saya melihatnya…” bisik Sekar dengan suara bergetar. “Dia berpencar… mencari inang yang rapuh…”

Tiba-tiba, mata Sekar (di balik kelopaknya) bergerak liar. Grafik di layar Sarah berubah warna menjadi merah darah. Alarm sistem berbunyi BIP! BİP! BİP!

“Dia dapat satu titik tebal!” Teriak Sarah, jarinya menari di atas keyboard, mengunci koordinat geospasial dari lonjakan otak Sekar.

“Di mana, Sekar? Fokus ke lokasinya!” Perintah Dimas, langsung berdiri dari kursinya.

“Gelap… banyak besi… rel memanjang…” Sekar meringis kesakitan, kristal di tangannya bergetar hebat. “Banyak orang… tapi mereka diam… ada seorang remaja perempuan berdiri di garis kuning… asap hitam itu masuk ke telinganya!”

Sarah menekan tombol Enter. Peta satelit di layar melakukan Zoom-in secara ekstrem ke sebuah titik koordinat di wilayah Jakarta Selatan.

Layar CCTV publik dari stasiun tersebut meretas masuk ke monitor Sarah.

“Stasiun KRL Manggarai,” lapor Sarah, matanya membelalak melihat rekaman langsung di layar. “Peron 3. Kereta tujuan Bogor dijadwalkan masuk dalam 4 menit!”

Di layar CCTV, terlihat seorang siswi SMA berseragam putih-abu yang basah kuyup, berdiri sangat dekat dengan pinggiran peron. Wajahnya menunduk kosong. Orang-orang disekitarnya sibuk dengan smartphone mereka, tidak menyadari bahwa siswi itu selangkah lagi akan menjatuhkan dirinya ke rel.

“Dia Inang barunya,” Dimas menyambar Keris Patrem dan kunci mobilnya. Adrenalin kembali membanjiri urat nadinya, mengabaikan rasa lelahnya.

“Empat menit! Kita nggak akan keburu kalau pakai mobil dari Cikini ke Manggarai!” Teriak Sarah, mencabut charger kabel laptopnya dan bersiap lari.

“Kita pakai motor,” Dimas menunjuk ke luar jendela, di mana sebuah motor sport besar milik tetangga klinik Sekar terparkir di bawah hujan. “Aku bakal ‘pinjam’ itu. Sarah terus pantau dari CCTV. Sekar, jangan putus koneksinya! Tahan mental siswi itu dari jauh pakai pranamu!”

“Siap, Ndoro!” Sekar memusatkan konsentrasinya, darah segar mulai menetes sedikit dari hidungnya karena memaksakan batas telepati.

Dimas dan Sarah menerjang keluar dari Klinik, menembus hujan badai Jakarta.

Pertempuran kedua melawan Sang Pemakan telah dimulai, berpacu dengan maut di atas rel besi stasiun Manggarai.

1
NP
Agak berat petualangan Dimas dan Sarah nih, kak. Maklum sama sama ilmuwan..
Felycia R. Fernandez
Petualangan baru dimulai...
NP
Iya betul yg dulu di rempah sang waktu,
Felycia R. Fernandez
Arya ini yang jadi raja dulu kan?
Felycia R. Fernandez
😅😅😅😅😅
Felycia R. Fernandez
lah,Sarah malah kenak
Felycia R. Fernandez
🤣
NP
Suami istri yang suka berpetualang menghadapi hal hal mistis
Felycia R. Fernandez
😆😆😆😆😆
Felycia R. Fernandez
ya ampun,luar biasa suami istri ini
Felycia R. Fernandez
kok ngeri ya 😳
Felycia R. Fernandez
wow 😳
Akbar Aulia
kurang.....kurang......kurang.....kurang banyak thor upnya
Felycia R. Fernandez
pernah denger,tapi blom tau gimana kota nya kk...😆😆😆
NP
Makasih ya Kak, Nusantara Üniverse menanti selanjutnya 🤣
Akbar Aulia
,iya kak ,ceritanya seru
Akbar Aulia
nanti kalo sampai kabari aku ya, semoga tidak ada halangan
Akbar Aulia
terimakasih thor sudah membuat cerita yg bagus sekali, semangat terus👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!