Jenna tak sengaja menyelamatkan seorang bocah kecil yang terkurung bersamanya di gudang bar. Tak disangka, bocah itu merupakan anak kesayangan seorang duda berpengaruh.
Sebelumnya, Jenna tersisih dari keluarganya. Kakaknya bahkan membuat kedua orang tua mereka berbalik memusuhinya. Sementara itu, pria yang dulu ia cintai justru berpihak kepada sang kakak.
Kali ini, Jenna tidak berniat mengalah. Ia ingin membalas semua yang telah dialaminya sekaligus mengejar kembali mimpinya menjadi aktris terkenal. Namun, setiap langkahnya selalu dihadang berbagai rencana licik dari kakaknya yang terus berusaha menjatuhkannya.
Saat Jenna perlahan membantu anak sang duda membuka diri dari trauma, pria itu mulai memperhatikannya dengan cara yang berbeda.
Akankah ia jatuh cinta pada Jenna?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melamar Mobil
“Sialan mereka! Emang mereka kira mereka siapa!” Jenna tiba-tiba mengangkat tinjunya dengan emosi. Kalau Marco tidak sigap, rahangnya mungkin sudah kena hantam.
“Cewek jangan ngomong kasar,” ujar Marco sambil mengernyit.
Meski begitu, dia terlihat lucu saat mengumpat. Dalam keadaan mabuk, alam bawah sadar Jenna masih bisa merasakan kalau orang yang memeluknya sekarang terasa hangat dan tidak punya niat buruk.
Tubuhnya perlahan melemas di dalam pelukan itu. Duduk di pangkuannya, dia bergumam dengan suara cadel, “Cuma karena aku ngerasa itu nggak selevel sama aku … kalau nggak … dengan wajah aku ini … aku bisa cari … cari sandaran kuat… kamu pikir kamu bisa nahan aku… aku cari sekarang… sekarang juga .…”
Marco sedikit mengangkat alis. Dengan telapak tangannya yang kasar, dia menggenggam tangan Jenna lalu meletakkannya di pahanya. “Sandaran paling kuat di kota ini ada di sini. kamu mau cari yang lebih bagus ke mana lagi?”
Jenna meraba paha itu ke sana kemari, lalu tiba-tiba marah, “Nggak cukup besar! Ini sama sekali nggak besar!”
Marco terdiam. Dia baru saja dianggap tidak cukup besar. Hal seperti itu jelas tidak bisa diterima oleh pria mana pun.
Lebih parah lagi, tangan Jenna bergerak tanpa arah sampai menyentuh bagian yang seharusnya tidak disentuh. Dia bahkan menepuknya pelan. “Eh, ini apa… ganggu banget … nusuk tangan aku…”
Nada bicaranya penuh rasa tidak suka. Wajah Marco langsung menggelap. Kalau dia dibiarkan terus seperti ini, dia khawatir akan melakukan sesuatu yang bakal dia sesali.
Orang di luar sudah pergi, jadi Marco segera membuka pintu sambil menggendong Jenna keluar.
Di parkiran bawah tanah. Orang yang buru-buru membukakan pintu untuknya adalah Xander.
“Kamu di sini?” Marco mengernyit.
“Aku ke rumah kamu, tapi kamu sama Juju nggak ada, jadi aku ke sini nyari kamu! Gimana sih? Kode persaudaraan kita ke mana? Kapan kamu beli mobil ini? Keren banget, lebih gila dari yang kamu kasih ke aku, dan aku sama sekali nggak tahu kamu punya ini!” Xander terlihat kesal.
Marco mengabaikannya dan langsung membawa Jenna ke kursi belakang.
Xander duduk di kursi penumpang depan, lalu menoleh menatap mereka. Matanya berbinar melihat pakaian Marco dan Jenna yang berantakan. Dengan penuh rasa penasaran, dia bertanya, “Kamu nemu dia di mana? Kok lama banget? Liat tuh Juju, hampir jadi patung nungguin!”
Begitu melihat Jenna, Juju langsung berhenti menempelkan wajahnya ke jendela mobil dan malah menempel ke arahnya.
Awalnya Marco khawatir Jenna akan bereaksi berlebihan saat melihat Juju dalam kondisi mabuk. Tapi ternyata, dia malah menarik bocah itu ke dalam pelukannya dan memeluknya dengan nyaman seperti guling.
Tentu saja Marco tidak berniat memuaskan rasa penasaran seseorang. Dia dengan tenang melepas dasinya, lalu melepas jas yang basah oleh keringat. “Hari ini ada apa?”
Xander langsung bersemangat mendapat kesempatan menunjukkan kemampuan mengumpulkan informasi. “Dari yang aku dengar, semuanya lancar. kamu bahkan manggil Igun, jadi jelas Jenna kita sukses banget mencuri perhatian. Media juga nerima dia dengan baik!”
“Malam ini dia ketemu siapa aja?” tanya Marco lagi.
Xander berpikir sejenak. “Selain kru dan pemain, cuma Billar Adiputra. Selain itu…”
Dia melirik ekspresi kakaknya, lalu memilih kata-katanya dengan hati-hati sebelum melanjutkan, “Zergan … mungkin dia kepikiran mantannya sekarang jadi milik rivalnya, jadi dia minum sampai mabuk .…”
Meskipun Xander sudah bicara sehalus mungkin, wajah Marco tetap langsung menghitam.
Menyeramkan sekali.
Xander terbatuk pelan. “Eh, tapi wajar sih. Jenna nggak pernah serius sama cowok-cowok yang dia pacarin di luar negeri. Begitu dia bosan, langsung ditinggal tanpa ragu. Tapi Zergan ini… mungkin satu-satunya cowok yang pernah dia cintai beneran.”
Ekspresi Marco langsung makin buruk setelah mendengar itu.
Xander sampai kehabisan kata. Dalam hati dia berpikir, kalian aja belum jadian, tapi udah mau ‘membantai’ semua mantan dia?
“Kak, kalau kamu emang mau nunggu dia jatuh cinta sama kamu, ya minimal bawa dia ke Moonlight dulu. Ribet banget dia ada di perusahaan saingan kita, Royal! Setau aku, dia dibully habis-habisan sama Maoy di sana!” keluh Xander.
Marco menatap gadis yang sudah tenang setelah memeluk Juju, ekspresinya sulit ditebak. “Belum waktunya.”
Setelah akhirnya sampai di rumah, masalah baru muncul saat mereka mau turun dari mobil.
Jenna melihat mobil sport putih perak di samping, dan matanya langsung berbinar seperti serigala kelaparan. Dia langsung memeluk mobil itu dan nggak mau lepas, wajahnya seperti gadis kecil yang akhirnya menemukan pria impiannya.
“Oh! Little White! Sayang aku!”
Wajah Marco berubah-ubah seperti lampu lalu lintas. Dia sudah susah payah menjemputnya, bahkan sampai mempertaruhkan reputasinya masuk ke toilet wanita. Tapi bukannya berterima kasih, dia malah dipanggil raja iblis. Sekarang malah peluk mobil dan manggil sayang?
“Hahaha… Kak, masa kamu cemburu sama mobil? Tuh kan, kenapa kamu bawa mobil ini keluar? Jenna suka banget mobil balap waktu di luar negeri, bahkan jago banget! Wajar kalau dia nggak bisa nolak mobil sport nomor satu di dunia!” Xander menertawakan nasib kakaknya.
Namun tak lama kemudian, dia sadar ada yang nasibnya lebih tragis dari Marco.
Itu adalah Juju.
Melihat panggilan sayang miliknya direbut mobil, bocah kecil itu hampir menangis.
Sementara penyebab semua kekacauan, Jenna, masih sibuk mengelus mobil itu dengan penuh cinta. “Sayang, kamu keren banget… keren banget… aku nggak tahan! aku pengen nikahin kamu!”
Kuku-kuku jari Marco berderak, dorongan untuk mengumpat langsung muncul.
Saat dia melamar Jenna, reaksinya seperti melihat binatang buas. Tapi sekarang dia malah melamar mobil?
Marco menggulung lengan bajunya satu per satu. “Paman Bimbim, ambilin palu.”
Xander yang tadinya tertawa sampai sesak napas langsung melompat. “Jangan! Kak, santai! Mobil ini hampir dua triliun! Kalau kamu nggak mau, kasih ke aku aja! Aku bawa sekarang juga, aku jamin nggak bakal muncul lagi di depan kamu!”
Baru saja dia selesai bicara, dunia Xander langsung berputar saat dia dibanting oleh Jenna yang terlihat lemah itu.
“Siapa yang berani sentuh Little White aku!” wajah cantik Jenna dipenuhi niat membunuh, seolah siap melawan siapa pun.
Xander memegangi pinggangnya yang sakit. “Ampun, aku salah .…”
Rasanya seperti dibanting oleh praktisi judo profesional. Setengah nyawanya seperti hilang.
Setelah ancaman hilang, Jenna langsung masuk ke kursi pengemudi dan memeluk setir. “Little White, jangan takut .…”
“Tu… Tuan Muda…” Paman Bimbim yang tersingkir dari kursi pengemudi hanya bisa terpaku.
Marco memijat pelipisnya dan memberi isyarat agar dia pergi. Dia lalu menatap putranya. “Juju, udah malam. Masuk dulu, tidur.”
Juju yang masih tenggelam dalam rasa kehilangan kasih sayang orang favoritnya langsung menggeleng kuat.
Marco tidak marah, hanya berkata tenang, “Kamu harus tahu, cewek nggak suka nunjukin sisi terburuk mereka ke orang yang paling mereka peduliin.”
Juju terlihat berpikir beberapa detik, lalu dengan patuh berbalik dan pergi.
Mata Xander membelalak. “Kak, kamu keterlaluan! Ngibulin anak kecil!”
“Ada apa lagi?”
“Jelas! Aku mau jadi lampu neon raksasa di sini!” Tatapan dingin kakaknya langsung menusuk sampai ke tulang. “Oke, aku pergi, aku pergi…” Xander mundur sambil sesekali menoleh curiga.
Meninggalkan mereka berdua dan mobil sport itu sendirian… harusnya nggak terjadi apa-apa, kan?