"Menikahimu adalah ibadah terpanjang yang pernah aku ikrarkan. Namun, mengapa kini aku merasa sedang menyembah kehampaan di rumah yang tak lagi bertuan?"
Sepuluh tahun lamanya, Hana percaya bahwa kesetiaan adalah fondasi tunggal yang akan menjaga atap rumah tangganya tetap kokoh. Ia telah memberikan segalanya—masa mudanya, impian-impiannya, hingga seluruh napasnya hanya untuk melayani Aris, suaminya. Bagi Hana, rumah mereka adalah "Surga" kecil yang ia bangun dengan tetesan keringat dan doa-doa di setiap sujud malamnya.
Namun, perlahan "Surga" itu mulai terasa dingin. Aris, pria yang dulu selalu pulang dengan senyum hangat, kini berubah menjadi sosok asing yang membawa aroma parfum yang tak pernah Hana kenali. Tatapan matanya yang dulu penuh cinta, kini kosong dan seolah menembus tubuh Hana seakan ia adalah bayangan yang tak kasat mata.
Petaka itu dimulai saat sebuah nama dari masa lalu Aris kembali muncul. Aris tidak hanya lupa jalan pulang ke pelukan Hana, ia mulai "melupakan" sel
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5: Jamuan di Atas Bara
Pagi itu, suasana meja makan terasa berbeda. Hana tidak lagi mengenakan daster batik yang kusam. Ia mengenakan gamis modern berwarna biru gelap dengan riasan tipis yang segar di wajahnya. Rambutnya yang biasa hanya dicepol asal, kini disisir rapi dan diberi jepit mutiara kecil—sebuah sentuhan ironis yang hanya ia yang tahu maknanya.
Aris turun dengan langkah terburu-buru, namun ia sempat tertegun melihat penampilan istrinya.
"Kamu mau ke mana, Na? Rapi sekali," tanya Aris sambil menarik kursi.
Hana tersenyum manis, sebuah senyuman yang kini terasa seperti topeng yang sangat nyaman. "Hanya ingin merasa lebih baik, Mas. Bukankah kamu bilang aku terlalu banyak drama? Mungkin karena aku kurang merawat diri. Jadi, mulai hari ini aku memutuskan untuk lebih memperhatikan penampilanku."
Aris mengangguk-angguk, meski ada gurat kebingungan di matanya. "Baguslah. Kamu memang terlihat... berbeda."
Hana menyajikan sarapan: Omelette keju dengan roti panggang yang ditata sangat cantik, seperti menu di kafe-kafe elit Jakarta Selatan. Ia duduk di hadapan Aris, menopang dagunya, dan menatap suaminya dengan tatapan yang sangat dalam.
"Mas, aku baru saja melihat-lihat majalah interior," ucap Hana santai. "Rumah kita ini sudah sepuluh tahun. Aku merasa butuh suasana baru. Bagaimana kalau kita panggil desainer interior untuk merenovasi ruang tamu?"
Aris nyaris tersedak kopinya. Ia meletakkan cangkirnya dengan sedikit kasar. "Renovasi? Untuk apa? Rumah ini masih bagus, Na. Jangan buang-buang uang untuk hal yang tidak perlu."
"Tapi aku merasa bosan, Mas. Aku ingin sesuatu yang... modern. Aku dengar ada desainer hebat yang baru saja menyelesaikan proyek di kantor cabangmu. Namanya... Citra, kalau tidak salah?" Hana menyebut nama itu dengan nada yang begitu ringan, seolah-olah itu hanyalah nama yang ia temukan secara acak di tumpukan koran.
Ruangan itu mendadak hening. Suara detak jam dinding di ruang tamu seolah mengeras, menghitung detak jantung Aris yang mulai tak beraturan. Aris berdehem, berusaha menormalkan raut wajahnya yang sempat memucat.
"Citra? Oh, dia... dia memang rekanan kantor. Tapi dia sibuk, Na. Proyeknya banyak. Lagipula, seleranya mungkin terlalu mahal untuk rumah kita," jawab Aris cepat, matanya kembali terpaku pada layar ponselnya—pelarian klasiknya saat merasa terpojok.
"Mahal?" Hana terkekeh pelan. "Bukankah kamu baru saja mendapatkan bonus besar dari proyek itu, Mas? Aku rasa sepasang anting mutiara saja sanggup kamu beli, apalagi hanya sekadar jasa desain ruangan."
Aris mendongak tajam. "Maksud kamu apa, Hana?"
Hana hanya mengangkat bahu, tangannya sibuk mengaduk teh. "Tidak ada maksud apa-apa. Hanya perumpamaan. Kamu kan selalu bilang ingin memberikan yang terbaik untuk 'surga' kita ini. Atau... apakah surgamu sudah pindah tempat, Mas?"
"Hana! Hentikan bicara omong kosongmu!" bentak Aris. Ia berdiri, menyambar tas kerjanya dengan amarah yang meledak. "Aku berangkat. Jangan tunggu aku malam ini, aku ada urusan penting."
Hana menatap punggung Aris yang melangkah keluar dengan gusar. Ia tidak merasa takut. Justru, ia merasakan kepuasan yang aneh. Melihat Aris yang tenang mulai kehilangan kendali adalah kemenangan kecil pertamanya.
Begitu mobil Aris meninggalkan halaman, Hana segera mengambil ponselnya. Ia tidak menghubungi Pak Gun atau Maya. Ia membuka akun Instagram dan mencari sebuah nama: @Citra_InteriorDesign.
Akun itu tidak dikunci. Foto-fotonya penuh dengan kemewahan, proyek-proyek besar, dan gaya hidup sosialita yang glamor. Hana menggulir layarnya terus ke bawah hingga ia menemukan sebuah foto yang diposting dua hari lalu. Foto sebuah kotak perhiasan biru tua dengan latar belakang cahaya lilin yang romantis.
Kapsyennya singkat: "A gift from someone who truly understands me. Thank you, A."
Hana merasakan remasan kuat di jantungnya. "A". Aris.
Ia melihat kolom komentar. Ada banyak pujian dari teman-temannya. Hana menarik napas panjang. Ia menekan tombol "Follow" dan kemudian mengirimkan pesan langsung (Direct Message) ke akun tersebut.
“Selamat siang, Mbak Citra. Saya Hana, saya tertarik dengan jasa desain interior Mbak untuk rumah pribadi saya. Apakah kita bisa bertemu besok untuk konsultasi?”
Hana tahu ini adalah langkah yang sangat berisiko. Ia sedang masuk ke kandang macan. Namun, ia ingin melihat dengan matanya sendiri, sedalam apa wanita itu telah merusak rumah tangganya. Ia ingin tahu, apakah Citra tahu bahwa pria yang memberinya hadiah-hadiah mewah itu memiliki seorang istri yang sedang menunggunya dengan luka di rumah.
Tak butuh waktu lama, sebuah balasan masuk.
“Halo, Ibu Hana. Tentu, saya senang sekali. Kebetulan besok sore saya ada jadwal kosong pukul 15.00. Kita bisa bertemu di studio saya di daerah Kemang?”
Hana membalas dengan mantap. “Setuju. Sampai bertemu besok, Mbak Citra.”
Sepanjang sisa hari itu, Hana mempersiapkan dirinya. Ia membersihkan rumah dengan ketelitian yang luar biasa, seolah-olah ia sedang mempersiapkan diri untuk sebuah ritual. Ia membereskan lemari pakaian Aris, mencium setiap kemejanya untuk memastikan aroma parfum Citra benar-benar sudah meresap ke dalam ingatannya.
Sore harinya, Hana pergi ke salon. Sesuatu yang sudah bertahun-tahun tidak ia lakukan. Ia meminta penata rambut untuk memberikan perawatan terbaik. Ia ingin terlihat berwibawa, bukan sebagai korban yang menyedihkan, melainkan sebagai seorang ratu yang sedang mempertahankan takhtanya.
Malam itu, pukul 19.30, Aris tidak pulang. Hana tidak terkejut. Ia duduk di teras belakang, menatap bulan yang separuh tertutup awan. Ia teringat kembali ke masa-masa awal pernikahan mereka.
Dulu, saat mereka baru pindah ke rumah ini, Aris pernah berjanji: "Rumah ini akan jadi surga buat kita, Hana. Sampai kita tua, sampai kita punya cucu."
Hana tersenyum kecut di kegelapan. Janji itu kini terasa seperti sampah yang tertiup angin. Aris telah melupakan janjinya, melupakan perjuangan mereka, dan yang paling menyakitkan—dia melupakan Hana sebagai manusia yang punya perasaan.
Ia masuk ke dalam rumah, berjalan menuju lemari paling atas, dan mengambil kotak perhiasan kecil tempat ia menyimpan anting mutiara yang ia temukan. Ia menatap benda berkilau itu di bawah lampu kamar.
"Besok, anting ini akan bertemu pasangannya," bisik Hana.
Ia merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari terakhir, Hana bisa tidur dengan nyenyak. Tidak ada air mata. Tidak ada keraguan. Yang ada hanyalah tekad yang sudah bulat.
Besok, drama ini akan memasuki babak baru. Dan Hana bukan lagi sekadar penonton yang menangis di barisan belakang. Ia telah naik ke atas panggung, siap memainkan perannya dengan sempurna.
Malam semakin larut, dan di kejauhan, suara guntur terdengar samar. Sebuah badai besar sedang menuju ke arah mereka, dan Hana adalah satu-satunya orang yang sudah menyiapkan payung baja untuk menghadapinya.