NovelToon NovelToon
Tanda Cinta Sang Kumbang

Tanda Cinta Sang Kumbang

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Mengubah Takdir / Kutukan
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: zhafira nabhan

Di kedalaman hutan yang sunyi, di mana wabah asing pernah merenggut segalanya, Alexandria Grace hidup sendirian—seorang gadis yang selamat karena kekuatan muda yang masih membara.

Hutan adalah rumahnya, kesunyian adalah temannya, sampai suatu hari ia menemukan seekor macan kumbang yang terluka, terperangkap dalam jebakan manusia. Rasa iba mengantarnya merawat makhluk itu dengan setia, tak menyadari bahwa ia sedang membuka pintu bagi sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar pertolongan.

Saat luka sembuh dan ikatan tak terlihat mulai terjalin, malam musim kawin membawa kejutan yang mengubah segalanya, sosok binatang yang ia kenal berubah menjadi pria dewasa yang memancarkan aura misterius, dan tanda yang pernah ia rasakan kini menjadi janji cinta beda dunia yang tak terelakkan—meskipun dunia di sekitar mereka siap untuk menolak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhafira nabhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 4

Sinar matahari sore masuk miring melalui celah jendela kayu, membentuk garis-garis cahaya keemasan yang perlahan bergeser di lantai seiring waktu berjalan. Udara di dalam pondok terasa hangat oleh nyala api perapian, sementara dari luar, dingin musim gugur mulai merayap masuk tanpa bisa benar-benar ditahan.

Alexandria duduk di dekat perapian dengan sepotong kain wol tebal di tangannya, jarum bergerak naik turun dengan ritme yang stabil. Ia tidak terburu-buru, setiap jahitan dibuat rapi dan teratur, seolah pekerjaan kecil itu menjadi satu-satunya hal yang bisa ia kendalikan di tengah dunia yang sudah lama berubah.

Di sampingnya, tubuh besar itu terbaring tenang.

Macan kumbang itu tidak benar-benar tidur. Matanya setengah terbuka, cukup untuk memperhatikan setiap gerakan di ruangan itu, cukup untuk memastikan tidak ada yang terlewat. Kepalanya berada dekat paha Alexandria, tidak menekan seperti biasanya, namun cukup dekat untuk merasakan hangat tubuh wanita itu.

Alexandria melirik sekilas sebelum kembali fokus pada jahitannya.

“Kau tidak pernah benar-benar tidur, ya,” gumamnya ringan, nada suaranya santai, tapi terselip rasa penasaran yang tidak sepenuhnya ia sembunyikan.

Tidak ada jawaban, hanya gerakan kecil pada telinga dan ujung ekor yang menyapu lantai perlahan. Alexandria menarik benang, mengencangkannya, lalu melanjutkan jahitan berikutnya tanpa mengangkat kepala.

“Aneh deh,” lanjutnya pelan, “dulu aku selalu terbangun karena merasa diawasi, sekarang justru sebaliknya, rasanya aneh kalau tidak ada.”

Jarumnya berhenti sesaat. Alexandria tidak langsung bergerak lagi, pandangannya lurus ke depan, seolah baru menyadari sesuatu dari ucapannya sendiri. Ia menghela napas pelan, lalu menggeleng ringan.

“Itu tidak normal,” tambahnya lirih, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada makhluk di sampingnya.

Api berderak kecil di perapian, mengisi jeda yang terlalu lama.

Tangan kirinya turun tanpa sadar, menyentuh bulu hitam di leher macan itu. Sentuhan itu ringan, seperti kebiasaan yang tidak lagi dipikirkan, namun respons yang ia dapatkan kali ini berbeda. Macan kumbang itu mengangkat kepalanya sedikit lalu menggeser tubuhnya lebih dekat, cukup untuk membuat sentuhan itu bertahan lebih lama dari yang ia rencanakan.

Alexandria tidak langsung menarik tangannya. Ia menatap makhluk itu beberapa detik, memperhatikan jarak yang semakin tipis di antara mereka. Mata keemasan itu kini terbuka penuh, menatap tanpa berkedip, terlalu fokus, terlalu sadar, seolah bukan sekadar naluri hewan.

Napas Alexandria sempat tertahan sebelum akhirnya ia menariknya perlahan.

“Kau kadang membuatku berpikir terlalu jauh,” ucapnya pelan, suaranya lebih rendah dari sebelumnya.

Ia akhirnya menarik tangannya dan kembali ke kain di pangkuannya, meski pikirannya tidak sepenuhnya kembali ke sana.

Waktu berjalan tanpa terasa, cahaya sore memudar perlahan hingga bayangan mengisi setiap sudut ruangan. Alexandria menyelesaikan jahitannya, merapikan kain wol itu, lalu meletakkannya di samping dengan gerakan ringan. Ia berdiri, meregangkan tubuhnya, lalu berjalan ke dapur kecil untuk menyiapkan makan malam.

Rutinitas sederhana itu berjalan seperti biasa, air dipanaskan, daging dipotong, dan api dijaga tetap stabil, namun pikirannya tidak benar-benar tenang.

Beberapa kali ia melirik ke arah ruangan utama, dan setiap kali ia melihat, posisi makhluk itu tidak pernah jauh berubah. Ia selalu ada di sana, dan lebih dari itu, selalu terjaga. Tatapan itu tidak pernah benar-benar hilang, hanya berpindah mengikuti keberadaan Alexandria.

Malam turun tanpa banyak suara. Setelah makan, Alexandria masuk ke kamarnya seperti biasa, membiarkan pintu terbuka sedikit. Ia berbaring dan mencoba memejamkan mata, namun rasa kantuk tidak segera datang. Ia membalikkan tubuhnya beberapa kali, napasnya tidak setenang biasanya, seolah ada sesuatu yang mengganggu dari dalam, sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.

Akhirnya ia membuka mata, menatap langit-langit beberapa saat sebelum duduk. Keheningan terasa lebih berat dari biasanya, bukan menenangkan, melainkan seperti menunggu sesuatu. Ia turun dari tempat tidur, melangkah pelan menuju pintu, lalu membukanya sedikit lebih lebar.

Cahaya bulan masuk melalui jendela ruang tengah, cukup untuk memperlihatkan sosok besar yang sudah ia kenal. Macan kumbang itu tidak berbaring, melainkan duduk menghadap ke arah pintu kamar, dan seperti sebelumnya, matanya sudah tertuju padanya, seolah ia memang menunggu.

Alexandria tidak langsung bicara. Ia berdiri beberapa detik, memperhatikan dengan lebih saksama, mencoba memastikan apakah ini hanya kebiasaan atau sesuatu yang lain. Namun tidak ada yang berubah, tatapan itu tetap sama, tenang, sadar, dan terlalu terarah.

Ia akhirnya melangkah keluar, mendekat tanpa tergesa. “Kau tidak tidur lagi,” katanya pelan, lalu duduk di lantai di sampingnya, menyisakan sedikit jarak yang tidak biasa.

Macan itu bergerak lebih dulu, mendekat perlahan hingga jarak itu hilang begitu saja. Panas tubuhnya langsung terasa, bahkan tanpa sentuhan. Alexandria tidak mundur, tapi juga tidak langsung bersandar. Ia diam, menunggu, memperhatikan setiap gerakan kecil yang terasa lebih disengaja dari biasanya.

Makhluk itu menurunkan kepalanya sedikit, mendekat ke arah bahunya, namun berhenti tepat sebelum menyentuh, seolah memberi ruang bagi Alexandria untuk memilih.

Alexandria menyadari itu.

Ia menatapnya sebentar, lalu tanpa banyak kata menggeser tubuhnya sedikit, membiarkan kepalanya bersandar di sana. Hangat langsung menyebar, menenangkan, tapi juga menimbulkan sesuatu yang tidak sepenuhnya nyaman karena terasa terlalu nyata.

“Aku tidak tahu kenapa,” bisiknya pelan, “tapi malam ini rasanya berbeda.”

Macan itu tidak bergerak banyak, hanya napasnya yang terdengar stabil di dekatnya.

Alexandria menatap lurus ke depan, lalu melanjutkan dengan suara lebih pelan, “Kadang aku merasa kau mengerti semuanya… dan seharusnya itu membuatku takut.”

Ia menoleh sedikit, menatap mata keemasan itu, dan untuk sesaat ia tidak mengalihkan pandangan.

“Tapi tidak,” lanjutnya, nyaris seperti pengakuan yang tidak ia siapkan, “aku malah mulai terbiasa.”

Tangannya terangkat perlahan, menyentuh leher makhluk itu dengan hati-hati, tidak seakrab biasanya, seolah ada batas yang baru ia sadari.

“Jangan membuatku menyesalinya,” ucapnya pelan.

Macan itu merespons dengan mendekat sedikit lagi, cukup untuk menghilangkan sisa jarak yang ada. Alexandria tidak menarik diri, tapi ia juga tidak bergerak lebih jauh. Ia hanya diam, membiarkan dirinya berada di antara rasa tenang dan sesuatu yang belum ia pahami sepenuhnya.

Beberapa saat kemudian, ia kembali ke kamarnya dan berbaring. Kali ini rasa gelisahnya perlahan mereda, digantikan oleh kelelahan yang akhirnya datang. Di luar, makhluk itu tetap terjaga, duduk menghadap pintu kamar yang kini tertutup, matanya tidak pernah benar-benar terpejam.

Malam terus berjalan, dingin semakin dalam, sementara di dalam pondok kecil itu, dua dunia yang berbeda perlahan saling mendekat, bergerak tanpa suara menuju sesuatu yang belum mereka pahami, namun tidak lagi bisa mereka hindari.

--

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!