NovelToon NovelToon
Ixevons

Ixevons

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Penyelamat / Action
Popularitas:328
Nilai: 5
Nama Author: Riahe

"Sebutkan namaku saat waktunya tiba, Riezky..."
Dua puluh tahun lalu, Kerajaan Ixevon runtuh dalam satu malam. Raja Thomas gugur setelah menyegel iblis Malakor, dan Ratu Rebecca tewas demi menyelamatkan putra tunggal mereka.
Kini, Riezky Ixevon tumbuh di desa nelayan terpencil. Ia tak tahu siapa dirinya, hanya pemuda yang berjuang menjinakkan kutukan Petir Biru dan Api Merah di tubuhnya. Satu-satunya dunianya adalah Lyra, seorang janda nelayan yang merawatnya dengan kasih sayang sejak bayi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riahe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

GEMA KEMENANGAN DI PESISIR

Cahaya matahari pagi menyusup lewat celah-celah jendela, namun bukan itu yang membangunkan Riezky. Suara ketukan palu yang bertalu-talu dan riuh rendah orang yang sedang mencangkul di depan rumah membuatnya terjaga. Riezky bangkit dengan tubuh yang masih terasa sedikit kaku, lalu berjalan keluar sambil menggosok matanya yang masih mengantuk.

Di halaman rumahnya, pemandangan luar biasa tersaji. Belasan orang sibuk bekerja; ada yang mengangkut kayu jati berkualitas, ada yang sedang memperbaiki fondasi.

"Renov ya?" gumam Riezky tak percaya.

"Heyyy, Riezky!" sebuah suara berat memanggilnya. Pak Morris, pemilik tambang tempatnya bekerja, berjalan mendekat dengan senyum lebar.

"Keren banget kemarin, Riez! Tapi sayang aku tidak datang langsung untuk memberi selamat, aku kelelahan menambang. Selamat ya, juara!" ucap Pak Morris sambil menepuk bahu Riezky dengan bangga.

"Haha, iya Pak. Makasih banyak atas ucapannya," jawab Riezky sambil tersenyum lebar. Rasanya masih aneh melihat orang-orang memandangnya dengan rasa hormat seperti itu.

"Oh iya, ibumu memutuskan merenov rumah. Katanya biar tidurnya lebih enak, biar jagoan Aethelgard punya tempat istirahat yang layak," kata Pak Morris. "Terus tadi katanya dia pergi ke desa lain bareng Sabrina, mau nyari Marlin katanya. Jauh-jauh cuma buat ikan, buat apa coba?"

Riezky terkekeh pelan. Ia tahu betul buat apa ikan itu.

"Jadi, sementara rumahmu direnov, kamu tidur dulu di rumahku buat beberapa hari sampai rumahmu jadi. Anggap saja rumah sendiri," ucap Pak Morris. Ia kemudian mendekat dan sedikit berbisik, "Dan satu lagi... jangan lupa datang ke alun-alun kota sore nanti ya. Ada kejutan buatmu."

"Baik Pak, nanti aku kesana," jawab Riezky penasaran.

Riezky berdiri sendirian di depan rumahnya yang mulai dibongkar. "Hmmm, rumah lagi direnov, Ibu sama Sabrina pergi... ngapain ya aku?" tanya Riezky pada diri sendiri.

Pak Morris mulai berjalan menjauh, namun ia berbalik sebentar. "Oh iya, tambang lagi tutup dulu ya beberapa hari, aku ada urusan di luar kota. Jadi jangan coba-coba datang ke lubang galian!" ucapnya sambil melambai.

"Duh, baru aja kepikiran mau kerja dulu biar nggak gabut, malah tambangnya tutup. Yaudah deh, keliling hutan aja, siapa tahu nemu sesuatu buat asah Fist Blade," gumam Riezky sambil mulai melangkah meninggalkan keriuhan konstruksi rumahnya.

Riezky terus berjalan masuk lebih dalam ke rimbunnya hutan Aethelgard. Suasana tenang di sana memberinya ruang untuk merenungkan apa yang baru saja terjadi. Pikirannya melayang kembali ke momen krusial di arena Redhenvous—saat keputusasaan berubah menjadi penemuan luar biasa.

Dengan satu tarikan napas dalam, ia memusatkan energi panas ke telapak tangannya.

Syuut—!

Dalam sekejap, Fist Blade itu muncul kembali. Riezky berhenti melangkah dan mengangkat tangannya setinggi mata untuk mengobservasi bentukan senjata barunya itu. Kristal transparan hasil lelehan pasir yang dipadatkan oleh suhu api murninya kini berkilau terkena cahaya matahari yang menembus celah pepohonan.

"Aku nggak tahu bakal sekeren ini," ucapnya pelan dengan nada kagum.

Bentuknya tidak ribet dan sangat simpel, namun memancarkan aura mematikan. Mata pisaunya begitu jernih hingga tampak hampir tak terlihat, namun garis tajamnya terlihat sangat presisi. Riezky menyentuh bagian samping bilahnya; permukaannya halus sekaligus sangat padat. Hanya dengan melihatnya saja, ia merasa bahwa batu karang di tambang Pak Morris sekalipun bisa ia belah seperti mentega.

Riezky ingin menguji sejauh mana ketajaman "kaca" ciptaannya ini. Matanya tertuju pada sebuah pohon besar yang berdiri kokoh di dekatnya. Ia mengambil posisi kuda-kuda, mengalirkan sedikit percikan listrik ke lengannya agar serangannya lebih stabil, lalu...

SLASH!

Sebuah tebasan horizontal yang sangat cepat. Riezky menarik kembali senjatanya dan menghilangkannya ke dalam telapak tangan. Anehnya, pohon itu tetap diam. Tidak ada suara gesekan, tidak ada retakan.

"Eh? Nggak mempan?" gumam Riezky bingung.

Namun, beberapa detik kemudian, terdengar suara krieeet... yang pelan. Bagian atas pohon itu tiba-tiba miring dengan sudut yang sempurna, seolah-olah serat kayunya baru menyadari bahwa mereka telah terpisah.

"Waduh!"

Riezky sadar pohon itu akan tumbang tepat ke arahnya. Tanpa menunggu sedetik pun, ia langsung mengambil langkah seribu, berlari menjauh secepat mungkin.

BRAKKKKKK!

Suara ambruk yang keras mengguncang tanah di belakangnya, membuat sekumpulan burung terbang berhamburan dari dahan-dahan pohon. Riezky berhenti di jarak aman, terengah-engah sambil menoleh ke belakang. Pohon besar itu benar-benar terpotong rapi.

Hari itu dihabiskan Riezky dengan cara yang paling ia sukai: menyatu dengan alam. Tanpa beban kerja di tambang, ia bebas bergelantungan di dahan pohon, melompat antar tebing, hingga membiarkan tubuhnya dihantam dinginnya air terjun hutan. Rasa lelah dari turnamen seolah luruh bersama aliran air. Namun, saat langit mulai berubah jingga, Riezky teringat akan sesuatu. Ia harus mencoba satu hal lagi sebelum kembali ke kota.

Sesampainya di rumah, suasana sudah lebih tenang. Para pekerja renovasi mulai beristirahat, namun hasilnya sudah terlihat jelas. Dinding-dinding kayu yang dulu lapuk kini telah berganti batu gunung yang kokoh, dan jendela kaca barunya berkilau memantulkan cahaya senja.

Riezky berlutut, menatap gundukan pasir di bawah kakinya. "Aku coba bikin pedang kali ya?" gumamnya.

Ia mulai memusatkan panas ke lengannya. Butiran pasir itu mulai berpijar, meleleh, dan saling mengikat satu sama lain. Awalnya, bentuknya kasar dan tidak beraturan—hanya sebuah batang kristal yang menyerupai bilah. Riezky memejamkan mata, memikirkan kehendaknya. Seketika, pedang itu lenyap, terserap ke dalam energi di nadinya.

Saat ia memanggilnya kembali, sebuah keajaiban terjadi. Senjata itu muncul dengan bentuk yang jauh lebih sempurna. Bilahnya melengkung elegan, dengan ujung yang membentuk taring tajam yang intimidatif. Cahaya petir biru sesekali merambat di permukaannya, menunjukkan bahwa ini bukan sekadar kaca, tapi manifestasi kekuatannya.

"Heh, ayo! Udah pada nungguin!" suara Sabrina mengejutkan Riezky dari belakang.

"Iya, iyaaa, bentar!" sahut Riezky buru-buru menghilangkan pedangnya dan berlari kecil mengikuti Sabrina.

Perayaan di Alun-Alun

Alun-alun Aethelgard sudah penuh sesak. Obor-obor mulai dinyalakan, menciptakan suasana hangat. Di barisan depan, Riezky melihat wajah-wajah yang sangat ia kenal: Pak Morris yang tertawa lebar, Paman Valerius yang mengangguk bangga, dan sosok yang paling disegani di sana—Denver, Walikota Aethelgard.

Riezky mendekat dengan canggung. "Ada apa ya?" tanyanya kebingungan.

Denver, pria dengan perbawa tenang dan bijaksana, melangkah maju menghadapi Riezky. Suasana seketika hening.

"Kau telah membuat bangga kota kami, kau tahu?" ucap Denver. "Kaulah satu-satunya pemuda yang berhasil menuliskan nama Aethelgard di Aula Redhenvous. Saya sebagai walikota, ingin memberikan sebuah tanggung jawab yang besar kepadamu."

Denver menatap mata Riezky dengan serius. "Dunia luar tidak akan pernah lepas dari bencana dan ancaman. Maka dari itu, aku ingin kau menjadi seseorang yang akan menjaga kota ini. Riezky, kau akan jadi harapan bagi orang-orang di sini. Apakah kau bersedia?"

Riezky sempat terdiam sejenak sebelum sifat aslinya keluar. "Hmm, boleh. Jadi aku nggak harus kerja lagi nih? Haha!" candanya, membuat Pak Morris tertawa terbahak-bahak.

Denver ikut tersenyum tipis. "Tentu. Kebutuhanmu dan keluarga akan kupastikan tercukupi, walau mungkin tidak seberapa dibandingkan jasamu kelak."

Riezky menegakkan tubuhnya, raut wajahnya berubah menjadi bangga. "Baiklah Pak Walikota, aku hargai permintaanmu. Aku bersedia melindungi kota ini dari berbagai bencana dan ancaman."

"Terima kasih, anak muda. Aku yakin, kekuatanmu dilahirkan bersamamu untuk memenuhi suatu tanggung jawab besar," ucap Denver sambil menjabat tangan Riezky.

"Riezky..." Panggilan lembut itu membuat Riezky menoleh.

Ibu Lyra muncul dari kerumunan, membawa sebuah piring perak besar yang mengeluarkan uap panas. Di atasnya, tergeletak seekor Ikan Marlin raksasa yang sudah dimasak dengan bumbu rempah harum khas pesisir.

"Ya Tuhan, Ikan Marlin!" teriak Riezky seru, matanya berbinar-binar seperti anak kecil.

Aroma gurih ikan itu langsung memenuhi udara alun-alun. Riezky menghirup aromanya dalam-dalam, perutnya langsung meronta lapar. "Ayo lah makan bareng-bareng! Malah pada bengong!" serunya mengajak semua orang.

Ketegangan formalitas tadi pun mencair. Suasana berubah menjadi pesta makan besar yang meriah. Semua warga makan bersama di bawah sinar bulan, merayakan kemenangan Riezky yang tidak hanya mengharumkan nama kota, tapi juga menyatukan seluruh hati masyarakat Aethelgard.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!