Raka adalah pria yang selalu menunda banyak hal dalam hidupnya pekerjaan, keputusan, bahkan perasaannya sendiri.
Bagi Raka, semua selalu bisa dilakukan nanti. Selalu ada waktu. Selalu ada alasan untuk berkata, “ya mungkin besok.”
Namun semuanya berubah ketika Lala, seorang perempuan yang sederhana, jujur, dan penuh keberanian, masuk ke dalam hidupnya. Lala bukan hanya membuat Raka tertawa, tapi juga perlahan memaksanya menghadapi hal yang selama ini ia hindari: keputusan tentang cinta dan masa depan.
Ketika masa lalu Raka kembali muncul dan keraguan mulai menguji hubungan mereka, Raka harus memilih—tetap menjadi orang yang selalu menunda, atau akhirnya berani mengatakan “hari ini.”
Sebuah kisah komedi romantis hangat tentang cinta, keraguan, dan keberanian untuk tidak lagi menunggu besok.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Budiarto Consultant, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pacar Palsu yang Terlalu Meyakinkan
Pagi hari di Yogyakarta terasa sedikit lebih sibuk dari biasanya. Jalanan dipenuhi motor yang berlalu-lalang, pedagang sarapan membuka lapak, dan aroma nasi goreng dari warung pinggir jalan memenuhi udara.
Tapi bagi Raka, pagi itu terasa seperti hari ujian nasional.
Ia duduk di atas motor di depan sebuah restoran keluarga sambil menatap papan nama restoran itu seperti sedang menatap pintu menuju takdir.
Di sampingnya, Bayu mondar-mandir seperti orang yang baru kehilangan dompet.
"Raka… aku gugup."
Raka meliriknya datar.
"Bagus."
"Lho kenapa bagus?"
"Supaya kau sadar ide ini bodoh."
Bayu berhenti berjalan.
"Tapi Nadia sudah setuju."
Raka menghela napas panjang.
"Iya. Itu yang bikin aku lebih khawatir."
Bayu menatapnya bingung.
"Kenapa?"
Raka menjawab pelan,
"Karena Nadia kalau sudah melakukan sesuatu… biasanya dia serius."
Bayu langsung panik lagi.
"Justru itu yang aku butuhkan!"
Raka menutup wajahnya dengan tangan.
"Aku tidak percaya aku ikut dalam drama ini."
Saat itu sebuah mobil hitam berhenti di depan restoran.
Bayu langsung kaku.
"Itu… itu mobil orang tuaku."
Raka menoleh.
"Pakai mobil serius juga ya."
Bayu berbisik panik,
"Raka aku mau kabur."
Raka langsung menarik kerah bajunya.
"Kalau kau kabur sekarang, aku yang akan bunuh kau."
Pintu mobil terbuka.
Keluar seorang pria paruh baya dengan jas rapi dan wajah tegas.
Di belakangnya seorang wanita elegan dengan kacamata hitam besar.
Bayu berbisik,
"Itu ayah dan ibuku."
Raka menatap mereka.
"Kelihatannya seperti pasangan yang bisa membuat orang sidang skripsi ulang tiga kali."
Bayu hampir pingsan.
Dan saat itulah—
"Bayu!"
Suara ceria terdengar dari belakang.
Mereka berdua menoleh.
Nadia berjalan mendekat.
Hari itu ia memakai dress sederhana berwarna krem dan rambutnya diikat setengah. Penampilannya santai… tapi entah kenapa terlihat sangat elegan.
Bayu langsung bersinar seperti lampu stadion.
"Nadia!"
Raka hanya melongo.
"Kenapa dia terlihat seperti calon menantu idaman?"
Nadia tersenyum santai.
"Siap?"
Bayu mengangguk cepat.
"Siap!"
Raka mengangkat tangan.
"Tunggu."
Mereka berdua menoleh.
Raka menunjuk Nadia.
"Kau yakin mau melakukan ini?"
Nadia mengangkat bahu.
"Ini cuma sandiwara."
Raka menatapnya beberapa detik.
Lalu berkata pelan,
"Iya… sandiwara."
Entah kenapa kalimat itu terasa aneh di telinganya sendiri.
Bayu menarik napas panjang.
"Oke… kita mulai."
Mereka bertiga berjalan menuju orang tua Bayu.
Ayah Bayu langsung memandang tajam.
"Bayu."
Bayu langsung berdiri tegak seperti tentara.
"Iya Yah!"
Ibunya tersenyum tipis.
"Kau membuat kami datang jauh-jauh hanya untuk bertemu pacarmu."
Bayu langsung menunjuk Nadia.
"Ini dia!"
Nadia maju satu langkah.
Dengan senyum tenang ia berkata,
"Selamat pagi Om, Tante. Saya Nadia."
Ibunya Bayu langsung memandangnya dari atas sampai bawah.
Raka berdiri di belakang sambil bergumam,
"Ini seperti audisi menantu."
Ayah Bayu bertanya serius,
"Kalian sudah berapa lama berpacaran?"
Bayu membeku.
"O… sudah…"
Ia menoleh panik ke Nadia.
Nadia menjawab dengan tenang,
"Hampir satu tahun."
Raka langsung tersedak air mineral yang sedang ia minum.
"Satu tahun?!"
Ayah Bayu mengangguk.
"Lama juga."
Ibunya Bayu terlihat mulai tertarik.
"Kalian bertemu di mana?"
Nadia menjawab lagi tanpa ragu.
"Di sebuah acara perusahaan."
Bayu langsung mengangguk cepat.
"Iya! Acara perusahaan!"
Raka menatap langit.
"Dia improvisasi."
Ayah Bayu menatap mereka berdua beberapa detik.
Lalu berkata,
"Kalian terlihat cocok."
Bayu hampir lompat kegirangan.
Tapi tiba-tiba…
Ibunya Bayu menatap Nadia lebih dekat.
"Lalu siapa dia?"
Semua orang menoleh.
Ia menunjuk Raka.
Raka langsung membeku.
Bayu menjawab cepat,
"Itu… teman kami."
Ibunya Bayu mengangkat alis.
"Teman?"
Raka tersenyum kaku.
"Iya Bu. Saya Raka."
Ayah Bayu menatapnya.
"Teman lama?"
Raka mengangguk.
"Sangat lama."
Bayu langsung menyela,
"Dia saksi hubungan kami!"
Raka menoleh cepat.
"Apa?!"
Bayu menepuk bahunya.
"Iya kan?"
Raka memandangnya dengan tatapan ingin mendorongnya ke sungai.
Tapi akhirnya ia berkata,
"Iya… saya saksi."
Ibunya Bayu tersenyum.
"Bagus."
Ia menatap Nadia lagi.
"Lalu… Bayu ini pacar yang baik?"
Nadia menoleh ke Bayu.
Bayu langsung menegakkan badan seperti sedang difoto.
Nadia tersenyum kecil.
"Dia… cukup baik."
Bayu berbisik,
"Cukup?"
Nadia menatapnya tajam.
Bayu langsung diam.
Mereka semua masuk ke restoran.
Duduk di meja besar.
Raka duduk di ujung meja seperti orang yang salah tempat.
Ia memperhatikan bagaimana Nadia dan Bayu mulai berbicara seperti pasangan sungguhan.
Tertawa.
Saling menatap.
Saling bercanda.
Entah kenapa…
Perasaan Raka mulai terasa aneh.
Doni tiba-tiba mengirim pesan.
Doni:
"Gimana dramanya?"
Raka mengetik balasan.
Raka:
"Aku merasa seperti figuran dalam cerita cintaku sendiri."
Beberapa menit kemudian makanan datang.
Ibunya Bayu tersenyum puas melihat Nadia.
"Kami senang Bayu menemukan gadis sepertimu."
Bayu tersenyum bangga.
Nadia tersenyum sopan.
Tapi tiba-tiba…
Ayah Bayu berkata sesuatu yang membuat meja itu langsung sunyi.
"Kalau begitu… kapan kalian menikah?"
Raka hampir menjatuhkan sendok.
Bayu membeku seperti patung.
Nadia juga terdiam beberapa detik.
Ibunya Bayu melanjutkan dengan santai,
"Kalau memang sudah setahun berpacaran, rasanya tidak perlu lama-lama."
Bayu menelan ludah.
"Yah… itu…"
Ayahnya menatap serius.
"Kami ingin melihat cucu sebelum terlalu tua."
Raka langsung berdiri setengah dari kursinya.
"CUCU?!"
Semua orang menatapnya.
Raka duduk lagi pelan.
"Maaf… refleks."
Nadia menatap Raka sebentar.
Lalu kembali ke orang tua Bayu.
Dan dengan tenang ia berkata,
"Kami… akan memikirkannya."
Bayu hampir pingsan.
Raka memijat pelipisnya lagi.
Dalam hati ia berkata,
"Ini bukan lagi sandiwara…"
"...ini sudah jadi film panjang."
Dan tanpa mereka sadari…
Drama yang mereka mulai hari ini akan membawa mereka ke situasi yang jauh lebih rumit.
Karena terkadang…
Hubungan palsu bisa berubah menjadi sesuatu yang terlalu nyata.
Dan seseorang akan terluka.