dilarang plagiat !
plagiat dosa ini karyaku asli.
jika kalian menemukan versi sama di aplikasi lain itu berarti bukan karyaku karena aku hanya membuat di aplikasi ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen Sun044, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Harus Kuat
Alhamdulillah, kenyang.Ucap Laras dengan mengelus perutnya.
Untung aku cepat makanya tadi, kalau nggak mungkin aku masih kelaparan saat ini. Lanjut lagi.
Setibanya di rumah setelah berhasil "kabur" dari amukan singa betina—begitu aku menyebut Bude dalam hati sambil tersenyum kecut—kuhembuskan nafas dengan kasar. Aku berjalan menuju kamar yang sebenarnya tak layak disebut dengan kamar, bahkan lebih pantas disebut dengan gudang atau bahkan kandang.
Atap yang bocor, kasur yang usang, keras, dan banyak yang berlubang. Dinding kamar yang lapuk dan keropos, lantai tanah, dan dipan yang kakinya hampir habis dimakan oleh rayap. Lemari pakaian yang kacanya pecah, engsel pintunya lepas sebelah. Huh, benar-benar lengkap lah sudah. Bisa kalian bayangkan sendiri bagaimana bentuknya. Namun, anehnya, itu adalah tempat ternyamanku saat ini.
Aku pun mulai berbaring, memejamkan mataku diiringi dengan deraian air mata yang kembali mengalir. Meski begitu, tak ada isakan yang keluar dari mulutku. Di dalam hatiku terasa amat perih dan sakit.
Tak ada yang memelukku saat aku capek. Tak ada yang menenangkanku saat aku menangis. Sampai kapan aku harus begini? Aku capek, ya Allah.
Namun, apakah aku boleh menyerah? Ataukah aku bisa menyerah dengan semua yang terjadi?
Aku hembuskan nafas berat, mencoba pasrah dengan semua keadaan ini. Kantuk pun mulai menyerangku perlahan. Kuharap ketika aku terbangun nanti, semua yang kualami dan yang terjadi padaku selama ini hanyalah sebuah mimpi buruk yang hanya menjadi bunga dalam tidurku.
#######
Matahari sudah tinggi ketika aku akhirnya terbangun. Cahayanya menembus celah atap yang bocor, menyinari debu-debu yang beterbangan di udara kamar ini.
Aku membuka mataku perlahan, masih merasa berat dan linglung. Untuk beberapa detik yang singkat, aku berharap—benar-benar berharap—bahwa ketika aku membuka mata, aku akan melihat langit-langit kamar yang bersih, mencium aroma masakan enak dari dapur, dan mendengar suara ayah dan ibu yang memanggilku dengan lembut untuk sarapan. Aku berharap semua rasa lapar, rasa sakit, dan kata-kata pedas Bude tadi hanyalah sekadar bunga tidurku yang buruk.
Tapi harapan itu hancur seketika oleh kenyataan saat pandanganku menjadi jelas. Yang kulihat tetaplah atap reyot yang sama, dinding lapuk yang sama, dan kasur keras yang penuh lubang ini. Bau apek dan tanah masih tetap tercium di hidungku. Rasa perih di perutku pun masih ada, meski tidak separah tadi.
Aku bukan di rumah yang nyaman. Aku masih di sini, di tempat ini, dengan hidup yang sama.
"Jadi... ini semua adalah nyata," bisik ku pelan, suara serak dan hampa. Air mata kembali menggenang, tapi aku tidak membiarkannya jatuh. Aku mengusapnya kasar dengan punggung tanganku. Sudahlah, Laras. Jangan nangis lagi. Nggak ada gunanya. Nangis juga nggak akan mengubah apapun, aku harus kuat nggak boleh menyerah kataku dalam hati, mencoba menenangkan diri sendiri.
Aku bangun dari kasur, merapikan pakaianku yang kusut, lalu keluar dari kamar—atau lebih tepatnya, dari gudang kecil ini. Udara sore terasa agak sejuk, tapi tidak cukup untuk mendinginkan hatiku yang terasa panas dan kecewa.
Aku berjalan keluar dari halaman rumahku yang sempit, menuju jalan kecil di depan rumah yang cukup ramai dilalui orang. Kakinya melangkah tanpa tujuan, hanya ingin menjauh sejenak dari ruangan yang terasa semakin menyesakkan itu.
Tiba-tiba, perhatianku tertuju pada kerumunan kecil orang di pinggir jalan, tidak jauh dari sana. Mereka berdiri sambil menunjuk-nunjuk ke arah sebuah selokan kecil yang agak dalam. Rasa penasaran membuatku mendekat.
Di tengah lingkaran orang-orang itu, aku melihat seorang laki-laki seusia denganku. Dia duduk bersandar di dinding pembatas selokan, wajahnya memerah menahan sakit, kakinya terlihat bengkak dan berdarah seolah baru saja terkilir parah atau terbentur benda keras. Beberapa orang hanya menatapnya dengan tatapan biasa, ada yang bergunjing pelan, tapi tidak ada satu pun yang berniat mendekat atau menolongnya.
"Kasihan sih, tapi siapa suruh lari-larian nggak jelas," kata seorang ibu-ibu sambil berlalu.
"Mungkin anak nakal, biarin aja, nanti juga orang tuanya nyariin," tambah yang lain.
Hati kecilku terasa tersentil. Melihat dia yang terluka tapi diabaikan begitu saja, seolah rasa sakitnya tidak penting, mengingatkanku pada diriku sendiri—yang sering merasa sakit, baik fisik maupun hati, tapi tak ada yang peduli.
Tanpa berpikir panjang, aku menerobos kerumunan itu dan berlutut di hadapan laki-laki itu.
"Kamu... kamu nggak apa-apa?" tanyaku pelan, sedikit ragu-ragu tapi tulus.
Laki-laki itu mengangkat wajahnya, menatapku dengan mata yang berkaca-kaca campur rasa lega dan sakit. "Kakiku... sakit banget. Aku cuma mau nyebrang, terus terpeleset dan nabrak tembok batu itu," jawabnya terbata-bata.
Aku melihat sekeliling, mencari sesuatu yang bisa digunakan. Aku melihat selembar kain baju bekas yang agak bersih tergeletak di dekat tong sampah—mungkin dibuang orang karena sudah lusuh, tapi masih cukup kuat. Aku mengambilnya, lalu merobeknya untuk ku jadikan perban.
"Tahan ya, mungkin bakal sedikit sakit," kataku lembut. Dengan hati-hati, aku melilitkan kain itu di sekitar kakinya yang bengkak dan yang terluka tadi, lalu mengikatnya cukup kencang untuk menahan peradangan, tapi tidak terlalu erat sehingga akan menyakitinya. Aku juga mengambil daun pisang kering yang lebar, untuk ku jadikan alas agar kakinya tidak langsung menyentuh tanah yang kotor.
Anak itu meringis saat kain mulai menyentuh lukanya, tapi dia tidak berteriak. Dia hanya menatapku dengan tatapan heran dan penuh rasa terima kasih.
"Makasih... kamu nggak takut kotor atau kenapa-napa?" tanyanya pelan.
Aku tersenyum tipis, senyum yang tidak sampai ke mata tapi tulus. "Nggak apa-apa. Aku tahu rasanya kalau sakit tapi nggak ada yang peduli. Itu rasanya jauh lebih menyakitkan daripada lukanya sendiri."
Aku membantu dia berdiri, membiarkan dia menyandarkan sebagian berat badannya ke bahuku. Meski tubuhku kecil dan aku sendiri sering merasa lemas, aku berusaha menguatkan diriku saat ini. Aku membantunya berjalan perlahan menuju tempat yang lebih datar dan teduh, menjauh dari kerumunan yang mulai bubar karena merasa tidak ada lagi yang bisa ditonton.
"Nama kamu siapa?" tanya laki-laki itu saat kami berhenti di bawah pohon rindang di dekat situ.
"Aku Laras," jawabku singkat.
"Aku Dito," katanya sambil tersenyum lemah.
"Makasih banyak ya, Lar. Kalau nggak ada kamu, mungkin aku masih duduk di sana sendirian."
Aku hanya mengangguk pelan. Entah kenapa, meski hatiku masih terasa perih dan perutku masih terasa lapar, melakukan hal kecil ini membuat rasanya sedikit lebih ringan. Seperti ada beban kecil yang terangkat dari dadaku. Mungkin, meski aku tak punya apa-apa, aku masih bisa berguna bagi orang lain.