NovelToon NovelToon
Kesempatan Dari Sistem

Kesempatan Dari Sistem

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Perperangan / Balas Dendam / Sistem
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Yikkii

Artha Jayendra adalah seorang pemuda yang kini menjadi pengangguran setelah dikhianati oleh sahabat-sahabatnya sendiri dan bahkan oleh kekasihnya. Pengkhianatan itu menghancurkan hidupnya hingga membuatnya terpuruk dalam keputusasaan. Dalam kondisi depresi, ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan melompat dari sebuah jembatan. Namun sebelum ia melompat, cahaya terang tiba-tiba muncul di langit, dan sebuah menara raksasa misterius muncul di tengah kota. Bersamaan dengan itu, sebuah sistem aneh muncul di hadapannya. Alih-alih terkejut, Artha justru melihatnya sebagai kesempatan baru. Dengan tekad yang dingin, ia bersumpah dunia telah berubah dan dia akan menjadi lebih kuat dan membalas semua penghinaan, penindasan, dan pengkhianatan yang pernah ia terima. Dari sinilah perjalanan Artha Jayendra dimulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yikkii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab XIX—Abyssal Silence

Keheningan yang mencekam kembali menyelimuti ruangan itu setelah Jay berhasil bangkit dari jatuhnya. Debu-debu halus yang beterbangan seolah membeku di udara, terperangkap dalam tekanan atmosfer yang mendadak menjadi sangat berat. Jay bisa merasakan setiap helai rambut di tengkuknya berdiri tegak. Ini bukan sekadar kegelapan biasa karena lampu yang padam; ini adalah sebuah entitas. Kegelapan ini memiliki detak jantung, memiliki kehendak, dan yang paling mengerikan, kegelapan ini memiliki rasa lapar yang dingin.

“Asha, sinkronisasi saraf. Jangan biarkan sensorikku tertipu lagi,” perintah Jay melalui koneksi batinnya. Suaranya terdengar bergema di dalam kepalanya sendiri, seolah-olah ruang hampa ini mulai mengikis batas antara dunia nyata dan alam bawah sadar.

“Tuan... tingkat stres Anda meningkat dua puluh persen. Tekanan eksternal terdeteksi sebagai manipulasi sensorik tingkat tinggi. Harap waspada, musuh berada dalam radius tiga meter dan terus berpindah,” jawab Asha dengan nada mekanis yang sedikit bergetar, menandakan bahwa sistem pun merasakan anomali pada lawan kali ini.

Jay menyipitkan mata, mencoba menembus tabir hitam yang kini terasa padat seperti cairan. Di hadapannya, sosok Orc itu tidak lagi sekadar berdiri diam. Tubuhnya mulai mengeluarkan uap hitam pekat yang merayap di lantai seperti ular-ular bayangan. Sang Orc memegang kapak pipihnya dengan satu tangan, sementara tangan lainnya membentuk sebuah mudra atau gestur kuno yang asing.

“Manusia... kau telah melampaui ekspektasiku…,” suara sang Orc terdengar berat, seolah berasal dari dasar jurang yang paling dalam. “Namun, di hadapan Abyssal Silence, cahaya dari apimu hanyalah ilusi yang menunda kematian. Di sini, suaramu takkan terdengar, dan keberadaanmu akan dihapus oleh sunyi.”

Seketika, sang Orc menghentakkan kakinya ke lantai batu.

BUM!

Gelombang kehitaman meledak dari titik hentakan tersebut, menyapu seluruh ruangan dan menelan api biru milik Jay dalam sekejap. Ruangan itu kembali menjadi buta. Namun, kali ini sensasinya jauh lebih buruk. Jay merasakan telinganya berdenging hebat sebelum kemudian kehilangan fungsi pendengarannya sama sekali. Ia tidak bisa mendengar napasnya sendiri, tidak bisa mendengar gesekan kain bajunya, bahkan detak jantungnya sendiri pun hilang dari persepsinya sendiri. Inilah skill Abyssal Silence, sebuah domain isolasi total di mana sang pengguna menjadi satu-satunya penguasa tunggal atas segala indra.

Dalam kekosongan sensorik yang mematikan itu, Phantom Reaction milik Jay seakan berteriak histeris. Sensor bahaya di otaknya mengirimkan sinyal elektrik yang menyengat ke seluruh otot. Tanpa berpikir panjang, Jay melompat ke samping, melakukan putaran di udara dengan refleks yang tidak manusiawi.

SRETT!

Bilah kapak sang Orc membelah tempat Jay berdiri sebelumnya. Meski tidak terdengar suaranya, getaran udara yang ditimbulkan sangat masif hingga mampu menggetarkan seluruh tulang rusuk Jay. Jay tahu ia tidak bisa lagi bermain aman. Jika ia terus berada dalam mode bertahan di tengah domain ini, ia akan mati tanpa sempat menyadari lehernya telah terputus dari raga.

"Kalau begitu, mari kita lihat siapa yang akan mati setalah ini!" batin Jay dengan amarah yang dingin.

Ia mengaktifkan Elemental Overlord pada tingkat maksimal yang bisa ditanggung tubuhnya. Kali ini, ia tidak hanya memanggil satu elemen sebagai penerang. Tangan kanannya yang memegang Goblin Kings Blade mulai dialiri oleh percikan listrik berwarna kuning kebiruan yang liar, yaitu Lightning Element, Sementara itu, kaki dan punggungnya diselimuti oleh pusaran angin yang berputar sangat cepat, yaitu Wind Element.

Jay melesat maju. Dengan dukungan dari Elemen Angin, kecepatannya meningkat berkali-kali lipat melampaui batas stat dasarnya. Ia menjadi bayangan yang berpindah dari satu titik ke titik lain dalam fraksi detik, menciptakan distorsi visual di tengah kegelapan Abyssal Silence. Sang Orc terkejut melihat mangsanya masih mampu bergerak sepresisi itu tanpa bantuan pendengaran maupun penglihatan yang jelas.

TANG!

Pedang tulang Jay yang dialiri petir beradu keras dengan kapak baja sang Orc. Percikan listrik yang meledak menerangi wajah dingin mereka berdua selama sepersekian detik. Jay memanfaatkan momentum cahaya singkat itu untuk melepaskan serangan beruntun. Ia memutar tubuhnya, menebas secara diagonal dari bawah, lalu melakukan tusukan lurus ke arah jantung lawan.

Sang Orc, meskipun memiliki tubuh raksasa, menunjukkan ketenangan yang luar biasa. Ia tidak menunjukkan kepanikan sedikit pun. Kapak besarnya diputar dengan satu tangan, menjadi tameng yang tak tertembus. Setiap kali senjata mereka beradu, energi petir Jay merambat ke tubuh sang Orc, namun monster itu seolah-olah memiliki daya tahan mental yang sanggup meredam rasa sakit elektrik tersebut. Ia terlihat seperti seorang petarung yang sudah mematikan rasa sakitnya sendiri.

“Kau kuat, tapi kau terlalu terburu-buru, Manusia,” ungkap sang Orc kini terdengar langsung di dalam pikiran Jay, merayap melalui perantara kegelapan yang menghubungkan mereka.

Tiba-tiba, sang Orc melepaskan satu tangannya dari gagang kapak dan secara tak terduga mencengkeram leher Jay yang sedang melakukan serangan udara. Tenaganya luar biasa besar, seperti jepitan besi panas yang mengunci aliran oksigen.

“Uhukk!”Jay terbatuk, darah kental merembes dari mulutnya.

Sang Orc mengangkat tubuh Jay tinggi-tinggi, lalu menghempaskannya ke lantai dengan kekuatan penuh yang destruktif.

BRAKKKK!

Lantai batu kuno itu retak seribu. Jay merasakan paru-parunya seakan meledak, dan tulang belakangnya menjerit kesakitan. Pandangannya mengabur, dipenuhi oleh bintik-bintik putih. Dalam posisi tertindih dan sesak napas, ia melihat sang Orc mengangkat kapak pipihnya tinggi-tinggi, bersiap untuk memberikan satu tebasan eksekusi terakhir.

“Belum... belum saatnya aku mati di tangan monster sepertimu!” teriak Jay dalam batinnya yang penuh pemberontakan.

Darahnya mendidih. Ambisi untuk bertahan hidup yang telah membawanya keluar dari jembatan bunuh diri itu kini memicu resonansi energi baru yang liar. Jay menggabungkan Elemen Api dan Petir secara paksa di telapak tangan kirinya, sebuah teknik kombinasi yang sangat tidak stabil dan sangat berisiko menghancurkan penggunanya sendiri.

“Elemental Overlord: Plasma Burst!”

BOOOOOMM!

Ledakan cahaya berwarna ungu keputihan yang sangat menyilaukan tercipta tepat di antara dada Jay dan sang Orc. Energi destruktif itu melontarkan keduanya ke arah yang berlawanan dengan kekuatan ledakan yang masif. Sang Orc terlempar menghantam dinding batu hingga zirah bajunya hancur berkeping-keping, sementara Jay terseret di lantai puluhan meter hingga punggungnya menabrak pilar batu kuno dengan keras.

Napas Jay tersengal-sengal, setiap tarikan napas terasa seperti menghirup pecahan kaca. Seluruh pakaiannya koyak, dan kulitnya dipenuhi luka bakar serta lebam keunguan akibat ledakan barusan. Namun, ia tidak berhenti. Dengan sisa tekad yang hampir habis, ia memaksakan diri untuk berdiri kembali. Matanya yang merah menatap tajam ke arah sang Orc yang juga mulai merangkak berdiri dengan tangan gemetar.

Keheningan absolut Abyssal Silence mulai menunjukkan keretakan. Cahaya alami dari kristal-kristal dungeon di langit-langit mulai merembes masuk kembali, menyinari ruangan secara perlahan seiring dengan melemahnya mana dan fokus milik sang Orc.

“Pertarungan ini... harus berakhir sekarang, berdiri bangsat!,” desis Jay dengan suara parau.

Ia berlari maju untuk terakhir kalinya. Kali ini ia tidak mengandalkan pedangnya yang sudah terlempar jauh. Ia memusatkan seluruh sisa Mana-nya ke ujung jari tengah dan telunjuknya. Ia menggunakan kombinasi Thunder Element untuk mencapai kecepatan tertinggi dan Phantom Reaction untuk membedah titik terlemah pada leher sang Orc yang kini sudah tak terlindungi zirah.

Sang Orc mencoba mengayunkan kapaknya dalam upaya pertahanan terakhir, namun Jay bergerak lebih cair. Jay merunduk tepat di bawah ketiak monster itu, berputar di belakang punggungnya dengan gerakan yang sangat rapi, dan menusukkan tangannya yang dialiri energi murni tepat ke pangkal tengkorak sang Orc.

ZIIIIIIIZZZZZZTTT!

Tubuh raksasa sang Orc bergetar hebat sebelum akhirnya lunglai dan jatuh berdebam ke tanah, menimbulkan debu yang beterbangan. Seiring dengan jatuhnya sang monster, kegelapan pekat yang menekan itu pun sirna sepenuhnya. Ruangan kini kembali terang benderang, menampakkan kehancuran masif yang mereka timbulkan selama pertempuran hidup-mati tersebut.

Jay berdiri mematung di samping jasad sang Orc. Napasnya berat, tidak beraturan, dan penuh dengan rasa sakit yang menusuk. Tiba-tiba, sebuah sensasi aneh yang dingin namun kuat menjalar di dalam otaknya, seolah-olah ada data baru yang dipaksa masuk ke dalam memorinya.

...----------------...

...[NOTIFIKASI SISTEM]...

...Mirror of Ability diaktifkan secara otomatis...

...Target: Garlak, The Silent Gladiator (Unique Boss)...

...[Menyalin Skill Unik: Abyssal Silence (Epic)]...

...[Berhasil!]...

...[Peringatan: Penggunaan skill ini membutuhkan kontrol mental yang sangat stabil.]...

...----------------...

...[NOTIFIKASI SISTEM]...

...Abyssal Silence (Epic)...

...Skill Abyssal Silence menciptakan domain isolasi absolut yang menghapus seluruh cahaya dan suara secara instan untuk melumpuhkan sensorik lawan di sekitarnya. Di dalam area ini, Pengguna dapat bergerak tanpa terdeteksi sebagai pemangsa tunggal yang bebas dari pengamatan fisik maupun pendengaran musuh....

...----------------...

Jay terjatuh lemas dengan posisi duduk di atas lantai yang hancur. Di saat yang sama, aliran energi hangat dan murni mengalir ke seluruh pembuluh darahnya dari sistem.

...----------------...

...[NOTIFIKASI SISTEM]...

Selamat Anda telah mengalahkan Boss tersembuyi.

...[LEVEL UP]...

...Level meningkat...

...Level 11 → Level 13...

...Mendapatkan 10 point...

...EXP direset...

...Stat meningkat permanen...

...Regenerasi Level up aktif...

...----------------...

Jay melihat tangannya dengan tatapan kosong. Luka-luka bakar yang tadinya mengelupas dan robekan di otot-otot lengannya menutup dengan kecepatan yang luar biasa, seolah waktu diputar balik bagi sel-sel tubuhnya. Darah yang sudah mengering di wajahnya rontok dengan sendirinya seiring kulit baru yang tumbuh lebih kuat dari sebelumnya.

Namun, meskipun secara fisik ia kembali bugar dan sehat, Jay merasa jiwanya sangat lelah. Rasa kantuk yang luar biasa berat menyerangnya, sebuah konsekuensi dari penggunaan energi mental dan manipulasi elemen yang dipaksakan melampaui kapasitas otak manusianya. Rasa lelah itu tidak bisa disembuhkan oleh sistem; itu adalah kelelahan eksistensial.

Ia menatap jasad Garlak yang kini mulai berpendar menjadi partikel cahaya keemasan, meninggalkan sebuah kapak pipih yang legendaris.

...----------------...

...[REWARD]...

...ITEM...

...Vorpal Abyssal Axe (Epic)...

...Buah kapak bermata dua dengan bilah yang sangat tipis namun memiliki kepadatan massa yang luar biasa. Senjata ini memiliki kemampuan pasif Sound Eater, yang mampu meredam suara ayunan senjata hingga nol, membuat setiap tebasan menjadi serangan senyap yang mematikan. Selain itu, kapak ini dapat membelah energi sihir lawan jika terjadi benturan langsung....

...----------------...

“Tuan... Anda benar-benar berhasil melakukannya,”suara Asha terdengar jernih sekarang, penuh dengan nada lega yang sangat manusiawi.

Jay hanya tersenyum tipis, sebuah senyum yang getir namun penuh dengan rasa kemenangan. Ia memejamkan mata sejenak, merasakan “suara” dari skill barunya, Abyssal Silence, yang kini bersemayam di dalam jiwanya seperti sebuah rahasia gelap. Ia tidak lagi takut pada kegelapan atau kesunyian, karena kini, kegelapan itu telah tunduk dan menjadi bagian dari dirinya.

“Asha... biarkan aku memejamkan mata sebentar saja. Jangan bangunkan aku kecuali ada dewa yang turun untuk membunuhku,” bisik Jay sebelum akhirnya ia jatuh pingsan di samping senjata lawan yang baru saja ia taklukkan, di bawah cahaya dungeon yang kini terasa jauh lebih tenang.

1
ラマSkuy
agak lambat alurnya tapi seru Thor , lanjutkan 👍
ラマSkuy
Hem ini latar ceritanya tentang apocalypse monster ya kayak komik solo leveling, keren Thor 👍
Yikkii: Terimakasih🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!