Indira berprofesi sebagai pengacara, ia dijuluki pendekar ulung karena selalu memenangkan kasus yang dia tangani. karena kesibukannya dia lupa akan statusnya sebagai kaum jomblo sejati hingga membuat mamanya turun tangan untuk mencarikannya jodoh. hingga akhirnya dia dijodohkan dengan anak temannya yang bernama Gibran (pemilik PT Murni alam) yang berstatus duda anak 3. setelah menikah Indira dihadapkan dengan konflik keluarga hingga akhirnya dia menemukan titik kebahagian nya dengan suaminya Gibran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daisy Puppy 1412, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pengacara Indira, istri baru papaku
...Sesampainya di lorong rumah sakit, Indira berjalan pelan mengatur nafasnya setelah berlari dari lobby ke ruang rawat inap. Dia melihat mertuanya duduk diruang tunggu depan kamar inap dengan wajah gelisah, “ma” panggil Indira kepada mama mertuanya. Dengan sigap mamanya memeluk hangat Indira “dokter sedang menangani Gibran didalam sana Indi, mama takut Gibran kenapa-kenapa” ucap Bu Rosa sambil menangis....
...“Nyonya administrasinya sudah saya selesaikan semuanya” ucap Teddy menghampiri Indira dan bu Rosa dengan membawa berkas administrasi....
...“Kok ada Bu Indira disini?” Tanya Teddy dengan ekspresi bingung....
...“Iya, Indira istri Gibran” jawab Bu Rosa mengusap air matanya dengan tisu yang diberikan oleh Indira....
...Teddy menjadi bingung dengan jawaban Bu Rosa, “kemarin musuhan eh ternyata jadi suami istri. Aneh banget” ucap Teddy dalam hati sambil menggaruk-garuk kepala....
...Dokter keluar dari kamar rawat inap, “bapak Gibran sudah sadar kalau mau menjenguk boleh namun jangan sampai membuat beliau stres” ucap dokter tersebut pergi meninggalkan ruangan....
...Bu Rosa memasuki ruangan diikuti Indira dan sasha, “ada yang sakit gak nak? Mama khawatir sama kamu” ucap Bu Rosa dengan suara bergetar....
...Gibran menjawab pertanyaan mamanya hanya menggelengkan kepala pelan, “ma, minta tolong bawa Sasha pulang, aku mau sendiri disini” ucap permintaan Gibran....
...“Tapi nak…” sahut Bu Rosa memegang tangan anaknya....
...Indira memegang lengan Bu Rosa mengedipkan mata sambil menganggukkan kepala pelan, tanpa banyak pertanyaan Bu Rosa keluar dari ruangan Gibran sambil menggandeng Sasha “papa gak apa-apa Oma kalau kita tinggal?” Ucap Sasha memandangi papanya yang terbaring di tempat tidur....
...“Gak apa apa” Bu Rosa merangkul cucunya melangkah pergi keluar rumah sakit....
...Di Ruangan hanya ada Gibran dan Indira, Indira memandangi Gibran yang masih terlihat lemas “kamu kenapa gak pergi?” Celoteh Gibran lemas....
...“Kalau aku pergi siapa yang akan ambilin kamu minum secara jarak antara meja nakas ke bed pasien aja agak jauh yang ada kalau kamu ambil sendiri bisa jatuh kamunya lebih lebih sayangkan kalau sampai gelasnya pecah” celetuk Indira sambil membenarkan posisi selimut Gibran....
...“Kan ada suster, tinggal aku pencet tombol darurat” sahut Gibran....
...“Ya kalau susternya nganggur kalau gak, emang pasien di rumah sakit ini hanya kamu aja. Terus kalau kamu mau pipis juga minta tolong sama suster, gak malu apa kamu?” Celoteh Indira lagi....
...“Bisa gak kamu nurut, sakit aja bawel banget” ucap Indira mengambil minum untuk Gibran. Indira juga membantu Gibran bersandar saat minum, “terimakasih” ucap Gibran melihat wajah Indira....
...“Terimakasih terus ngasih THR nya gak” celetuk Indira....
...“Memang pantes ya kamu dijuluki pengacara handal, setiap omongan kamu bisa buat orang terdiam gak bisa bela diri” ucap Gibran berbaring kembali ditempat tidur....
...Ponsel Gibran berbunyi, ekspresi wajahnya berubah marah setelah mengangkat telfon, “kamu kenapa?” tanya Indira....
...“Telepon dari sekolah Justin, gurunya bilang Justin sudah seminggu bolos, aku disuruh kesana” ucap Gibran....
...“Nanti aku yang kesekolah Justin” ucap Indira....
...“Gak apa apa?” Tanya Gibran sungkan....
...“Hmmm” Indira menganggukkan kepala....
...“Eitssss jangan bilang terimakasih, basiiiiii. Nanti aku minta hadiah dari kamu hehehe, ya udah aku pergi dulu” ucap Indira berdiri lalu mencium pipi Gibran....
...“Kalau perlu sesuatu atau ada apa apa bilang aja” bubuh Indira....
...Tangan Gibran meraba pipi bekas Indira menciumnya, senyum manis terlontar dari bibir Gibran....
...Di depan ruangan guru tempat Justin belajar, Indira mengetuk pintu, matanya tertuju pada guru yang menoleh pada dirinya. Langkah kakinya berjalan sopan memberikan salam pada guru tersebut menundukkan kepala pertanda dia memberi hormat pada guru tersebut. “Silahkan duduk bu” ucap guru tersebut membuka obrolan....
...“Dari hari Senin sampai Sabtu Justin tidak berangkat sekolah Bu, nilainya pun dibawah rata rata saya takutnya semakin dibiarkan semakin tidak terkendali dan akhirnya dia tidak lulus sekolah pada ujian terakhir tahun ini” ucap guru tersebut menjelaskan....
...“Saya tahu sebenarnya Justin itu anak yang baik dan pintar entah kenapa belakangan ini sikapnya berubah” tambahnya kembali....
...“Baik, kami sebagai orang tua justin akan memperbaiki nya Bu. Terimakasih sudah memberi tahu kami dan kami juga minta maaf sudah merepotkan Anda selaku guru serta pihak sekolah” Indira berjabat tangan kepada guru tersebut....
...Indira beranjak pergi keluar dari ruang guru, di lorong sekolah Indira mendengar ada beberapa siswa yang sedang membicarakan Justin. Dia mendengarkan bahwa hari ini Justin akan tanding tinju dengan temannya, Justin menerima taruhan oleh temannya. Indira yang mendengar percakapan tersebut langsung menghampiri siswa tersebut untuk mencari informasi tempat Justin tanding, dengan langkah cepat Indira masuk mobil melaju ke tempat Justin tanding setelah mendapatkan informasi....