NovelToon NovelToon
Susahnya Jadi Mantan Pacar

Susahnya Jadi Mantan Pacar

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / CEO
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad Robby Ido Wardanny

Menceritakan tentang Novita gadis berumur 27 tahun yang bekerja di sebuah perusahaan besar PT Kencana samudra jaya. perusahaan yang sangat bagus untuk memperbaiki kehidupannya. Namun semuanya tidak berjalan sesuai keinginannya saat mantannya dulu muncul sebagai direktur di perusahaan. Andra yang dulu dia kenal sebagai Arya muncul kembali. Dia berusaha keras menghindar dari masa lalunya namun masa lalunya justru datang kepadanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 11

Siang itu suasana kantor masih sama sibuknya seperti biasanya. Suara ketikan keyboard dan bunyi printer yang sesekali bekerja membuat ruangan administrasi terasa hidup. Novita sedang fokus merapikan tabel laporan di layar komputernya ketika telepon meja tiba-tiba berdering.

Ia sedikit terkejut, lalu segera mengangkatnya.

"Halo, bagian administrasi," ucapnya sopan.

Suara dingin di seberang langsung membuat bahunya menegang.

"Novita, ke ruangan saya sekarang," kata Andra singkat.

Belum sempat Novita menjawab, sambungan telepon sudah terputus.

Novita menghela napas pelan. Ia tahu benar gaya bicara pria itu. Tanpa banyak pilihan, ia berdiri dari kursinya.

Yanti yang duduk di sebelahnya langsung melirik.

"Dipanggil Pak Andra lagi?" tanya Yanti pelan.

Novita hanya mengangguk kecil.

"Iya. Sebentar ya."

Ia kemudian berjalan menuju ruangan pimpinan di ujung koridor. Setiap langkah terasa sedikit berat. Sejak kejadian beberapa hari terakhir, Andra selalu memberinya tugas-tugas aneh yang terasa seperti hukuman.

Novita mengetuk pintu.

"Masuk," terdengar suara Andra dari dalam.

Novita membuka pintu dan berdiri di depan meja besar itu. Andra sedang duduk santai di kursinya sambil melihat layar ponsel.

Tanpa menatap Novita, ia mengambil selembar uang dari dompetnya lalu meletakkannya di atas meja.

"Ambil makan siang saya di restoran ini," katanya sambil menyebutkan nama restoran dan alamatnya.

Novita sedikit terdiam.

Restoran itu cukup jauh dari kantor. Bahkan kalau jalan lancar pun bisa memakan waktu hampir setengah jam untuk sampai.

"Sekarang?" tanya Novita hati-hati.

Andra akhirnya menatapnya, ekspresinya datar.

"Ya sekarang. Apa ada masalah?"

Novita ingin mengatakan banyak hal. Waktu istirahat mereka terbatas. Jaraknya jauh. Belum lagi kemungkinan antrian di restoran.

Namun tatapan Andra membuat semua kata itu tertahan.

"Tidak, Pak," jawabnya singkat.

Andra mendorong uang lima puluh ribu itu sedikit ke arah Novita.

"Ini uangnya. Cepat saja. Saya lapar."

Novita mengambil uang itu perlahan.

"Baik, Pak."

Tanpa berkata apa-apa lagi ia keluar dari ruangan itu.

Begitu pintu tertutup, ia langsung menghela napas panjang.

"Ya Tuhan..." gumamnya pelan.

Ia kembali ke mejanya, mengambil tas kecil dan kunci motor.

"Vi, kamu mau ke mana?" tanya Yanti.

"Keluar sebentar," jawab Novita.

"Makan siang?" tanya Yanti lagi.

Novita tersenyum tipis.

"Kurang lebih begitu."

Ia tidak menjelaskan lebih jauh dan segera turun ke parkiran.

Matahari siang itu terasa sangat terik. Aspal jalan bahkan terlihat berkilau karena panas. Novita menyalakan motornya lalu segera melaju keluar dari area perusahaan.

Sepanjang perjalanan, angin panas menerpa wajahnya.

"Ini benar-benar tidak masuk akal..." gumamnya kesal.

Kesalahannya tempo hari sebenarnya hanya sepele. Namun sejak saat itu Andra seolah menemukan hiburan baru dengan menyuruhnya melakukan berbagai hal yang tidak masuk akal.

Motor Novita terus melaju menembus lalu lintas kota.

Butuh waktu hampir setengah jam sampai akhirnya ia tiba di restoran yang dimaksud.

Begitu masuk, ia langsung mendekati kasir.

"Saya mau ambil pesanan atas nama Pak Andra," katanya.

Pegawai restoran itu memeriksa layar komputer sebentar.

"Sebentar ya, Mbak."

Beberapa detik kemudian pegawai itu kembali menatapnya.

"Pesanannya baru masuk lima menit yang lalu."

Novita mengerjap.

"Baru... lima menit?"

"Iya, Mbak. Jadi makanannya masih diproses di dapur."

Sejenak Novita hanya bisa menatap kosong.

Lima menit.

Artinya Andra baru saja memesan setelah ia hampir sampai di sini.

"Jadi saya harus menunggu?" tanyanya pelan.

"Sekitar dua puluh menit mungkin," jawab pegawai itu.

Novita menggigit bibirnya.

Di dadanya mulai muncul rasa kesal yang sulit dijelaskan.

"Dia benar-benar mempermainkan saya," gumamnya dalam hati.

Ia melihat jam di ponselnya.

Waktu istirahatnya tidak banyak.

Kalau menunggu sampai pesanan selesai lalu kembali ke kantor, ia pasti tidak akan sempat makan.

Perutnya sudah mulai terasa kosong.

Akhirnya ia berjalan ke rak kecil dekat kasir dan mengambil satu bungkus roti sisir serta sebotol air mineral.

Ia membayar cepat lalu duduk di kursi dekat jendela.

Novita membuka bungkus roti itu perlahan.

"Ini saja makan siangku hari ini," gumamnya sambil tersenyum pahit.

Ia menggigit roti itu sambil melihat aktivitas restoran. Beberapa orang terlihat makan dengan santai, tertawa bersama teman-temannya.

Sementara dirinya hanya bisa makan roti sambil menunggu pesanan orang lain.

"Hebat sekali kamu, Pak Andra..." bisiknya kesal.

Dua puluh menit kemudian pesanan akhirnya selesai.

Pegawai restoran menyerahkan satu kantong besar berisi makanan.

"Ini pesanannya, Mbak."

"Terima kasih," jawab Novita.

Tanpa membuang waktu ia segera keluar dan kembali menyalakan motornya.

Perjalanan kembali terasa lebih melelahkan.

Begitu sampai di kantor, Novita langsung berjalan menuju ruangan Andra sambil membawa kantong makanan itu.

Ia mengetuk pintu.

"Masuk," jawab Andra dari dalam.

Novita masuk dan meletakkan makanan itu di atas meja.

"Pesanannya, Pak."

Andra membuka kantong itu lalu mengeluarkan satu mangkuk sup ayam.

Beberapa detik kemudian alisnya langsung berkerut.

"Ini sudah tidak panas," katanya datar.

Novita terdiam.

"Perjalanannya cukup jauh, Pak," jawabnya hati-hati.

Andra menatapnya tajam.

"Berarti kamu terlalu lama."

"Saya sudah berusaha secepat mungkin—"

"Kalau kamu berpikir sedikit," potong Andra dingin, "kamu pasti bisa mencari cara supaya makanan ini tetap panas."

Novita mengepalkan tangannya.

Kata-kata balasan sebenarnya sudah memenuhi tenggorokannya.

Namun ia menahan diri.

"Maaf, Pak," katanya akhirnya.

Andra mendengus pelan.

"Saya tidak butuh maaf. Saya butuh orang yang kompeten."

Ucapan itu terasa seperti tamparan.

Namun Novita hanya menarik napas pelan.

"Waktu istirahat saya sudah habis," katanya tenang. "Saya kembali bekerja dulu."

Andra bahkan tidak menatapnya lagi.

Ia sudah kembali melihat layar ponselnya seolah Novita tidak ada di sana.

Novita keluar dari ruangan itu dengan langkah cepat.

Begitu kembali ke ruang administrasi, Yanti langsung menghampirinya.

"Vi, kamu dari mana? Aku tadi nungguin kamu buat makan siang," katanya.

Novita langsung tersenyum.

"Maaf ya, Yan."

"Kamu makan di mana?"

Novita mengangkat bahu kecil.

"Tadi ketemu teman lama. Dia ngajak makan siang."

Yanti tampak sedikit heran.

"Serius? Kok cepat banget?"

"Cuma sebentar," jawab Novita ringan.

Ia duduk kembali di kursinya lalu menyalakan komputer.

Yanti masih menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya kembali ke mejanya.

Beberapa menit kemudian seseorang datang menghampiri meja Novita.

"Novita," panggil suara lembut itu.

Novita segera menoleh.

"Bu Dewi."

Wanita paruh baya itu berdiri di samping mejanya dengan ekspresi sedikit khawatir.

"Saya perhatikan dari tadi kamu beberapa kali dipanggil Pak Andra," kata Bu Dewi pelan. "Tidak ada masalah, kan?"

Novita sempat terdiam sejenak.

Ia tahu Bu Dewi adalah kepala bagian administrasi yang cukup perhatian kepada stafnya.

"Tidak ada apa-apa, Bu," jawab Novita sambil tersenyum.

Namun Bu Dewi tidak langsung percaya.

"Kamu yakin?" tanyanya lagi. "Kalau ada kesulitan pekerjaan, kamu bisa bilang ke saya."

Novita mengangguk kecil.

"Benar, Bu. Tadi hanya diminta membantu mengambil sesuatu saja."

"Mengambil sesuatu?"

Novita tersenyum tipis.

"Makan siang beliau."

Bu Dewi mengerutkan kening sedikit.

"Jauh?"

Novita hanya tertawa kecil.

"Lumayan, Bu. Sekalian jalan-jalan katanya."

Bu Dewi menatapnya beberapa detik seolah mencoba membaca sesuatu dari wajahnya.

Namun Novita tetap mempertahankan senyum tenangnya.

Akhirnya Bu Dewi menghela napas pelan.

"Kalau begitu tidak apa-apa," katanya. "Tapi jangan sampai pekerjaan kamu terganggu."

"Baik, Bu."

"Kalau ada apa-apa, bilang saja ke saya."

"Iya, Bu. Terima kasih."

Bu Dewi kemudian kembali ke ruangannya.

Sementara itu Novita menatap layar komputernya tanpa benar-benar melihat apa pun.

Di dalam dadanya, rasa kesal masih berputar-putar.

Namun perlahan ia menghela napas panjang.

"Tidak apa-apa," gumamnya pelan.

Tangannya kembali bergerak di atas keyboard.

Pekerjaan harus tetap selesai, apa pun yang terjadi.

1
gaby
Resign dong. Bukannya wkt itu Novita bikin beberapa surat lamaran. Masa iya satu pun ga ada yg manggil. Atau jgn2 othornya lupa sm jalan critanya. Gimana nasib surat lamaran itu smua
Black Rascall: mengingatkan saat itu belum ada 19 JT lapangan pekerjaan jadi susah nyari dan Novita bisa kerja berkat om Danu yang merekomendasikan Novita ke HRD jadi tunggu ya kak 19 JT lapangan pekerjaannya 🙏🙏🙏
total 1 replies
falea sezi
bos kurang ajar mundur aja resain
Black Rascall: tunggu 19 JT lapangan pekerjaan dulu kak baru resain
total 1 replies
falea sezi
moga bagus ampe ending
Black Rascall: gak yakin karena baru pertama kali nulis genre seperti ini jadi mohon maklum
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!