⚠️ PERHATIAN PEMBACA! ⚠️ Ini adalah Part 2 (Season 2) dari novel Gacha Sultan: Auto Kaya Sejagat Jakarta. Sangat disarankan untuk membaca Part 1 terlebih dahulu guna memahami alur cerita, intrik karakter, dan asal mula jatuhnya Sang Sultan!
SINOPSIS PART 2: BULAN KUTUKAN & KEBANGKITAN RAJA
Dulu, uang triliunan adalah solusi mutlak bagi Raka Adiyaksa. Namun, bagaimana jika kekayaan itu tak lagi bisa melindunginya?
Sistem menjatuhkan hukuman terberat: "Roda Nasib Buruk". Selama 30 hari, Raka harus bertahan hidup tanpa cheat Sistem di tengah badai musibah.
Mampukah Raka melewati bulan kutukan ini dan merebut kembali takhtanya? Siapa yang akan setia, dan siapa yang akan berkhianat?
Roda nasib telah berputar. Pembalasan dendam baru saja dimulai. Selamat datang di neraka Sang Sultan!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DipsJr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Insiden Ban Pecah
Axel tentu saja merasa sangat tersentuh.
Tetapi dia kan seorang pembalap yang punya pride tinggi, mana mungkin dia menunjukkan rasa harunya itu secara terang-terangan di depan wajah Raka?
Meskipun begitu, dia tetap pergi ke ruang ganti untuk memakai seragam balap profesionalnya.
Raka juga akan ikut serta dalam balapan ini, tetapi sebagai peserta kelas amatir, dia tidak diwajibkan untuk mengenakan wearpack balap. Di lokasi sirkuit, ada banyak peserta amatir lain yang berpakaian kasual seperti dirinya.
"Nggak usah tegang, bawa santai aja," Raka masih sempat-sempatnya menghibur Axel sebelum balapan dimulai.
Namun lawannya itu justru tersenyum miring dan membalas, "Yang harusnya tegang itu elo kali, Bang. Kan lo newbie?"
Raka meninju bahu Axel pelan. "Newbie bukan berarti nggak bisa naik podium, kan?"
"Wah, gila, pede banget lo, Bang," Axel meninggalkan kalimat itu, lalu berbalik badan dan melangkah menuju area paddock sirkuit.
Balapan ronde pertama segera dimulai. Selain atmosfer persaingan yang tegang dan memacu adrenalin, sirkuit itu juga diramaikan oleh kehadiran para Umbrella Girl yang wajah dan postur tubuhnya sangat memanjakan mata.
Mata Raka terus menatap lurus, mencoba mengikuti pergerakan mobil Axel. Namun karena mobil-mobil pembalap itu melesat terlalu cepat dan tipe mobil yang digunakan semuanya seragam, Raka dengan cepat kehilangan jejak dan tidak bisa lagi membedakan mana mobil yang dikendarai Axel.
Karena bosan tidak bisa memantau temannya, Raka terpaksa "mengorbankan" dirinya untuk menikmati pemandangan para model cantik yang berjajar di pinggir lintasan.
Raka menyadari sebuah fenomena yang menarik: meskipun skala acara Track Day ini tidak terlalu masif, namun tata kelola dan setup-nya sangat profesional dan resmi. Para Umbrella Girl yang disewa pun semuanya adalah model papan atas yang good looking dan proporsional.
Kemungkinan besar, acara ini disponsori oleh komunitas klub mobil dari circle anak-anak konglomerat, pikir Raka dalam hati.
Dia belum tahu siapa pihak penyelenggara utama atau sponsor di balik acara ini, bisa jadi salah satu dari mereka adalah kenalannya.
Raka sendiri pada dasarnya tidak memiliki minat atau gairah yang terlalu mendalam terhadap olahraga balap mobil murni. Jadi, setelah menonton beberapa putaran, dia mulai merasa bosan sampai mengantuk, dan akhirnya memilih untuk menundukkan kepala dan bermain ponsel.
Tingkah laku Raka yang kelewat santai dan apatis itu sangat kontras dengan reaksi penonton di sekitarnya. Orang-orang di sekelilingnya bersorak-sorai dan meneriakkan nama pembalap favorit mereka dengan sangat heboh.
Di antara kerumunan itu, tidak sedikit terdengar suara melengking gadis-gadis yang meneriakkan nama Axel.
Raka tertawa geli. "Bocah kaku itu ternyata fangirls-nya lumayan banyak juga ya."
Setelah melewati fase menunggu dan hiburan yang terasa kurang bermakna bagi Raka, akhirnya ronde balapan kelas profesional itu pun usai.
"Baiklah, saat ini ronde balapan sesi ke-3 telah resmi berakhir secara berurutan. Sekarang, kami akan mengumumkan hasil klasemen dan juara dari ronde pertama."
Suara merdu nan lembut dari komentator wanita bergema melalui speaker sirkuit.
Raka mendengarkannya dengan cukup nyaman. Pada saat itulah, Axel yang sudah melepas helm balapnya berjalan menghampiri dan duduk di samping Raka.
"Gimana rasanya?" Raka bertanya dengan nada seolah tidak terlalu peduli, padahal sebenarnya dia takut Axel merasa kecewa atau tertekan jika performanya tadi kurang maksimal.
"Lumayan lah. Hasil akhir mah nggak terlalu penting buat gue, gue ikut balapan murni karena gue emang enjoy sama prosesnya," jawab Axel dengan ekspresi wajah yang tampak terbuai oleh euforia sirkuit.
"Nanti kalau giliran lo turun ke lintasan, lo bakal ngerasain sendiri, Bang. Sensasi stimulasinya, sensasi kejar-kejaran di aspal... Rasanya tuh persis kayak lo lagi nunggangin kuda liar di padang rumput yang luas, melesat maju tanpa ada yang bisa nahan lo. Lo tau nggak? Itu adalah definisi murni dari sebuah kebebasan!"
Raka mendengarkan penjelasan puitis itu dengan agak bingung dan gagal paham, namun dari kilatan matanya, Raka bisa melihat dengan sangat jelas bahwa Axel benar-benar mencintai dunia balap ini dari lubuk hatinya yang terdalam.
Raka sudah membulatkan tekad: tidak peduli bagaimana hasil balapan Axel hari ini, Raka akan tetap memberikannya sebuah mobil sport keluaran terbaru.
"Yang penting lo happy lah. Namanya juga main hobi, kalau lo seneng ya itu udah cukup," Raka tersenyum.
Sebenarnya, rentetan kalimat wejangan dari Raka itu juga merupakan cara baginya untuk menekan rasa gugup di hatinya sendiri, karena sebentar lagi giliran kelas amatir yang akan turun ke lintasan.
Siapa sangka, usahanya menutupi rasa tegang itu justru terbaca dengan jelas oleh Axel.
"Ecieee, Bang Raka, lo jangan-jangan lagi deg-degan ya?" Sudut bibir Axel melengkung, wajah tampannya menyiratkan aura jahil dan penasaran.
"Mana ada?! Masa iya urusan ginian doang gue bisa deg-degan!" Raka yang ketahuan basah hanya bisa mengelak dan menolak mengakuinya sampai mati.
Axel juga tidak berniat mengejar pengakuan itu lebih jauh, melainkan memberikan dukungan dengan penuh perhatian: "Nggak apa-apa, Bang. Lo gas pol aja maju ke depan, lakuin aja apa yang pengen lo lakuin di lintasan. Tapi inget, fokus dan konsentrasi lo harus tetep kejaga!"
"Hm," Raka bergumam pelan.
Pada detik ini, Raka tiba-tiba menyadari satu hal. Pemuda tampan dan kaku di sebelahnya ini, ternyata tidak senaif dan sekanak-kanak penampilannya dari luar. Sebaliknya, pemikirannya sangatlah matang dan dewasa.
Komentator wanita itu dengan cepat menyelesaikan pembacaan hasil klasemen, lalu melanjutkan pengumumannya: "Selanjutnya, saya umumkan bahwa sesi balapan untuk kelas Amatir akan SEGERA DIMULAI! Dimohon kepada seluruh peserta amatir untuk segera memasuki lintasan dan berkumpul di garis start!"
Dengan perasaan yang sedikit enggan, Raka bangkit berdiri dari kursinya, menatap Axel dengan pandangan seolah meminta restu, sementara Axel membalasnya dengan acungan jempol dan gestur "Semangat!".
Setelah duduk di dalam kokpit mobil balapnya, Raka langsung memasang sabuk pengaman, namun dia secara sadar memilih untuk tidak memakai helm.
Pasalnya, dia punya jaminan dan keyakinan seratus persen bahwa dia tidak akan mungkin mati dalam balapan ini. Kalau dia sampai mati kecelakaan di sini, terus nanti Sistem bakal menyiksa dan menghukumnya pakai cara apa lagi coba?
"Huft~"
Setelah menghembuskan napas panjang, Raka pun langsung masuk ke dalam fokus balapnya.
Begitu pembawa acara wanita memberikan aba-aba Start, seluruh pembalap amatir lainnya langsung menginjak pedal gas tanpa sabar, melesat pergi meninggalkan garis start bak anak panah yang lepas dari busurnya.
Namun anehnya, mobil Raka justru tetap diam tak bergerak di posisinya semula. Dia sama sekali tidak terlihat panik.
"Para penonton sekalian, sekarang kita bisa melihat bahwa peserta nomor punggung 5 ternyata masih belum melajukan kendaraannya memasuki sirkuit. Apakah peserta kita ini sedang mengalami masalah teknis?" ucap komentator itu memancing rasa penasaran penonton.
Namun Raka di dalam mobil tetap terlihat sangat tenang dan chill, sudut bibirnya bahkan menyunggingkan senyum miring yang sulit ditebak maknanya.
Satu menit penuh berlalu, tribun penonton langsung gempar dan heboh. Karena di atas lintasan sirkuit balap, kehilangan satu menit itu ibarat membuang koper berisi emas.
"Woy! Itu orang kesurupan apa gimana sih?! Kalau emang nggak bisa nyetir, mending turun aja deh jangan bikin onar di lintasan!" "Iya bener! Ngapain sih nyia-nyiain slot balapan?! Kalau elo nggak berani maju, mending kasih slotnya ke gue sini!"
Sementara itu, Raka yang berada di dalam kabin sama sekali tidak bisa mendengar hujatan dan makian penuh emosi dari para penonton. Dia malah dengan santainya melihat kaca spion dan merapikan tatanan rambutnya.
Beberapa saat kemudian, Raka akhirnya menginjak pedal gas dalam-dalam. Diiringi dengan raungan mesin yang memekakkan telinga, mobil balapnya langsung melesat masuk ke dalam sirkuit dan dalam sekejap sudah meninggalkan jarak ribuan meter dari garis start.
Di bawah tatapan melongo dan rahang jatuh dari seluruh penonton, Raka hanya membutuhkan waktu kurang dari lima menit untuk menyalip pembalap yang saat ini berada di posisi kedua, dan kini dia menempel ketat tepat di belakang pembalap posisi pertama!
Tribun penonton yang tadinya berisik seketika berubah menjadi sunyi senyap. Semua orang di sana sepakat menyimpulkan bahwa pria bernomor 5 ini adalah "Kuda Hitam" yang sengaja mencari sensasi dan pamer skill, namun di sisi lain, mereka juga tidak bisa menahan rasa kagum terhadap teknik mengemudinya yang di atas rata-rata.
"Gila, gila, ngeri banget skill-nya! Dikit lagi posisi pertama kesalip tuh!" "Astaga naga, ada ya pembalap amatir se-dewa ini? Kenapa dia tadi nggak ikut daftar di kelas profesional aja sih?!" "Ayo gas, gas, gas! Salip dia, salip!"
Ada juga beberapa penonton yang merasa tidak terima dan terus meneriakkan dukungan untuk pembalap favorit mereka di posisi pertama, berharap idolanya bisa mempertahankan takhta.
Namun, meskipun Raka terus menempel ketat di bumper belakang pembalap posisi pertama sepanjang sisa putaran, dia sama sekali tidak menunjukkan niat atau indikasi untuk menyalipnya.
Para penonton yang mengerti strategi balap mulai berasumsi dalam hati: Oh, ini pasti taktik konservatif untuk menghemat ban dan bahan bakar. Dia cuma ngekor di belakang posisi pertama, lalu di tikungan detik-detik terakhir nanti, dia bakal langsung ngambil alih kemenangan lewat manuver slipstream.
Satu jam penuh berlalu, dan waktu regulasi balapan sudah hampir habis.
Dan saat ini, posisi Raka masih tetap betah bertengger di urutan kedua. Namun gila-nya, jarak antara dirinya dengan pembalap di urutan ketiga sudah terpaut sangat jauh, minimal sejauh tiga kilometer ke belakang.
"Udah fix menang ini mah, nggak bakal ada yang bisa ngejar!" "Buset, nih cowok habis balapan ini pasti bakal langsung viral!"
Seluruh penonton sudah merasa sangat yakin dan bisa memprediksi ending balapan ini. Posisi Raka di podium dua sudah mutlak aman.
Siapa sangka, tepat di saat semua orang sudah bersantai...
Dari arah lintasan sirkuit tiba-tiba terdengar suara ledakan keras: "DOR!"
Mobil balap yang dikendarai Raka itu... ban-nya mendadak PECAH berkeping-keping!
"HAH?!"
Tribun penonton kembali meledak dalam kehebohan.
Komentator wanita: "Ya ampun! Pemirsa sekalian, sekarang 'Kuda Hitam' jagoan kita ternyata mengalami insiden tak terduga berupa ban pecah di tengah lintasan! Kira-kira manuver penyelamatan seperti apa yang akan dia lakukan?!"
"Waktu balapan kita sudah hampir habis, mari kita berhitung mundur bersama-sama! 5! 4! 3! 2! 1!"
"Waktu habis! Balapan resmi berakhir! Mari kita lihat hasil akhir dari pertandingan yang sangat mendebarkan ini!"
"Juara Pertama, Rina; Juara Kedua, Raka Adiyaksa; Juara Ketiga..."
Insiden pecah ban jelas dikategorikan sebagai kecelakaan balap. Namun berkat refleks Raka yang super cepat, dia berhasil menstabilkan kemudi mobilnya agar tidak tergelincir, meski dia tidak bisa lagi melanjutkan pengejaran ke posisi pertama.
Alhasil, Raka pun resmi finish di urutan kedua.