Di balik kemewahan keluarga Mahendra, tersembunyi sebuah rahasia kelam. Bertahun-tahun lalu, Alisha Pratiwi diculik dan dipisahkan dari orang tua kandungnya, Ragendra dan Helena Mahendra. Sementara itu, kebohongan besar ditanam rapi oleh dalang licik bernama Bram Santoso.
Tanpa menyadari takdir yang terhubung, Alvaro tumbuh sebagai pewaris keluarga Mahendra, sedangkan Alisha hidup dalam kesederhanaan dengan identitas yang bukan miliknya. Ketika kebenaran perlahan terkuak, cinta, pengkhianatan, dan perebutan hak waris tak lagi bisa dihindari.
Siapakah pewaris yang sesungguhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zanita nuraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6 Bayangan yang Menghapus Jejak
BAB 6 Bayangan yang Menghapus Jejak
Malam itu kota terasa terlalu sunyi.
Lampu-lampu jalan menyala pucat, memantulkan bayangan panjang kendaraan yang melintas jarang. Di dalam mobilnya yang terparkir di pinggir jalan pasar lama, Detektif Damar duduk dengan wajah serius.
Tangannya memegang ponsel.
Di layar terpampang nama sebuah sekolah dasar negeri di pinggiran kota.
Petunjuk pertama yang benar-benar mengarah pada seseorang.
Dari pengakuan Suster Lilis, ia mendapat satu informasi penting yang tak bisa diabaikan:
“Bayi perempuan itu dibawa pulang oleh keluarga sederhana. Rumahnya dekat pasar lama. Ayahnya buruh. Ibunya menjahit.”
Tak ada nama lengkap.
Tak ada alamat pasti.
Namun bagi Damar, itu cukup untuk memulai perburuan.
Ia menyalakan mesin mobil.
“Kau mungkin sudah dipindahkan,” gumamnya pelan,
“tapi tidak mungkin menghilang sepenuhnya.”
Pagi harinya, kawasan pasar lama sudah ramai.
Aroma gorengan, suara pedagang memanggil pembeli, dan derit gerobak bercampur menjadi satu. Gang-gang sempit bercabang seperti labirin kecil yang padat.
Damar menyusuri satu per satu.
Rumah papan berdempetan. Atap seng yang mulai berkarat. Jemuran pakaian menggantung di antara dinding.
Ia berhenti di sebuah warung kecil.
“Permisi, Bu. Saya mencari keluarga dengan anak perempuan usia lima belas tahun. Namanya Alisha.”
Ibu warung itu mengernyit.
“Alisha? Banyak, Pak.”
“Anaknya rajin sekolah. Ibunya penjahit.”
Wanita itu berpikir sejenak, lalu menggeleng.
“Kurang tahu.”
Damar tak menyerah. Ia bertanya pada tukang becak. Pada bapak-bapak yang sedang memperbaiki motor. Pada anak-anak kecil yang bermain kelereng.
Hingga akhirnya, seorang nenek tua yang sedang duduk di kursi plastik menatapnya lama.
“Alisha kecil?” tanyanya pelan.
Jantung Damar berdetak lebih cepat.
“Iya, Nek. Anda kenal?”
Nenek itu mengangguk perlahan.
“Anaknya baik. Sopan. Paling pintar di sekolah. Ibunya memang menjahit.”
“Rumahnya di mana?”
Nenek itu menunjuk ke ujung gang.
“Dulu di sana.”
“Dulu?” suara Damar menegang.
“Sebulan lalu mereka pindah.”
Seolah ada yang memukul dadanya.
“Pindah ke mana?”
Nenek itu menggeleng.
“Tidak bilang. Tiba-tiba saja. Katanya dapat rezeki, mau mulai hidup baru.”
Damar terdiam.
Terlambat.
Seseorang telah lebih dulu memindahkan mereka.
Menghapus jejak.
Tak jauh dari sana, sebuah mobil hitam terparkir di bawah pohon besar. Kacanya gelap.
Di dalamnya, seorang pria berkacamata hitam memperhatikan dari balik jendela.
Ia mengangkat ponsel.
“Pak Bram. Detektif itu sudah sampai wilayah pasar lama.”
Suara di seberang terdengar dingin dan tenang.
“Dia menemukan apa?”
“Baru sampai tahap bertanya. Keluarga itu sudah pindah.”
“Bagus.”
Pria itu melanjutkan dengan nada lebih rendah.
“Pastikan dia tidak menemukan alamat baru.”
“Semua sudah kami atur. Tetangga tidak tahu apa-apa.”
“Jangan lengah. Satu kesalahan kecil saja bisa menghancurkan semuanya.”
Telepon ditutup.
Mobil hitam itu perlahan melaju pergi, meninggalkan bayangan panjang di aspal.
Permainan ini belum selesai.
Di rumah Mahendra, suasana terasa berbeda.
Alvaro duduk di ruang keluarga, memandangi ayahnya yang sedang berbicara singkat lewat telepon. Ragendra tampak tegang, rahangnya mengeras.
Sejak kecelakaan Alisha, semuanya berubah.
Helena sering melamun. Tatapannya kosong.
Ragendra lebih mudah tersulut emosi.
Dan yang paling aneh…
Mereka menjadi terlalu protektif terhadap Alisha Mahendra.
Seolah takut kehilangan sesuatu yang lebih besar dari sekadar anak.
Alvaro mengepalkan tangan.
“Ada yang disembunyikan,” gumamnya.
Saat makan malam, ia mencoba memancing.
“Pa… waktu itu dokter bilang darah Alisha susah cocok. Kenapa bisa begitu?”
Sendok Ragendra berhenti di udara.
“Tidak perlu banyak tanya.”
Nada suaranya terlalu keras.
Helena menunduk.
Alvaro terdiam, namun matanya tak lepas dari wajah ayahnya.
Di ujung meja, Alisha Mahendra mendesah kesal.
“Sudahlah. Aku sudah capek bahas rumah sakit. Aku mau ulang tahunku dirayakan besar-besaran.”
Helena menatapnya lembut, tapi ada sesuatu yang berubah di matanya.
“Kamu baru sembuh.”
“Terus kenapa? Aku kan anak Papa.”
Kata-kata itu menghantam Ragendra seperti palu.
Anak.
Kata yang dulu ia ucapkan dengan bangga.
Kini terasa berat.
Ia bangkit dari kursi tanpa berkata apa-apa.
Alvaro semakin yakin.
Ada rahasia besar di keluarga ini.
Di sisi lain kota, di rumah kontrakan kecil yang baru, Alisha Pratiwi sedang menata buku-bukunya di meja kayu.
Rumah ini lebih sempit dari sebelumnya.
Dindingnya belum dicat. Lantainya masih semen kasar.
Namun ibunya berusaha tersenyum setiap hari.
Hari itu Alisha pulang membawa kabar gembira.
“Bu! Nilai matematikaku paling tinggi!”
Ibunya tersenyum bangga.
“Anak Ibu memang pintar.”
Namun di balik senyum itu, ada kegelisahan yang belum hilang.
Beberapa hari sebelum pindah, dua pria datang.
Mereka berbicara sopan.
Menawarkan uang dalam jumlah yang tak pernah mereka bayangkan.
“Asal pindah dari sini. Mulai hidup baru. Jangan beri tahu siapa pun.”
Awalnya ibunya menolak.
Tapi tekanan hidup terlalu berat.
Biaya sekolah. Sewa rumah. Obat ayahnya.
Akhirnya mereka menerima.
Tanpa tahu bahwa mereka sedang disingkirkan dari seseorang yang mencari.
Malam itu, Alisha duduk di tempat tidur kecilnya.
“Bu… kenapa kita pindah mendadak?”
Ibunya terdiam lama.
Kadang hidup memang memaksa kita lari, Nak.
“Tapi kita nggak salah apa-apa kan?”
Ibunya langsung memeluknya erat.
“Kamu tidak salah apa pun.”
Kalimat itu diucapkan seperti sumpah.
Karena ia sendiri tidak mengerti.
Kenapa ada orang yang rela membayar mahal hanya untuk memindahkan mereka?
Apa sebenarnya yang sedang terjadi?
Di kantornya, Detektif Damar menatap papan penuh catatan.
Nama Suster Lilis.
Nama Ragendra Mahendra.
Tanggal dua belas April.
Pasar lama.
Dan kini satu tambahan:
“Alisha – pindah mendadak.”
Ia memukul meja pelan.
“Seseorang selalu satu langkah di depan.”
Ia memejamkan mata, mengingat detail kecil.
Keluarga sederhana.
Anak perempuan pintar.
Ayah buruh. Ibu penjahit.
Ia membuka laptop dan mulai menelusuri data sekolah di sekitar pasar lama.
“Kalau mereka pindah, pasti ada mutasi sekolah,” gumamnya.
Beberapa menit kemudian, ia menemukan sesuatu.
Satu nama siswa pindahan.
Alisha Pratiwi.
Pindah tanpa alamat jelas.
Damar tersenyum tipis.
“Jadi ini namamu.”
Akhirnya, sebuah nama nyata.
Bukan sekadar bayangan.
Namun bersamaan dengan itu, ia sadar sesuatu.
Jika ada pihak yang sampai membayar untuk memindahkan keluarga sederhana ini…
Berarti kebenaran yang ia kejar jauh lebih berbahaya dari yang ia duga.
Ini bukan sekadar penukaran bayi.
Ini perlindungan sistematis.
Dan dalangnya bukan orang sembarangan.
Damar berdiri, mengambil jasnya.
“Siapa pun kamu, Pak Bram…”
Ia menatap papan penuh catatan.
“Aku tidak akan berhenti.”
Di luar sana, dua gadis bernama Alisha hidup di dunia berbeda.
Satu dalam kemewahan yang mungkin bukan miliknya.
Satu dalam kesederhanaan yang seharusnya bukan takdirnya.
#Bersambung 😊