NovelToon NovelToon
PEMBALASAN ITEM SURGAWI

PEMBALASAN ITEM SURGAWI

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Raden Saleh

Pembalasan Item Surgawi
"Sampah tidak berguna." Itulah julukan bagi Tian Feng. Di saat murid lain bertaruh nyawa demi setetes energi kultivasi, Feng justru memilih tidur malas sebagai pelayan di Paviliun Pengobatan.
Namun, dunia tidak tahu bahwa Feng menyembunyikan rahasia besar: Ia adalah keturunan terakhir Aliran Tao Terlarang yang diburu seluruh dunia.
Dengan bantuan Perkamen Alkimia Arus Balik, Feng mengambil jalan pintas mematikan. Ia bisa menjadi kuat dalam semalam tanpa latihan! Tapi, surga tidak memberi cuma-cuma. Setiap kekuatan instan menciptakan Hutang Karma—sebuah "penagihan" nyawa yang datang dalam bentuk petir bencana dan musuh-musuh haus darah.
Demi menyembunyikan identitasnya, Feng rela difitnah sebagai "Kelinci Percobaan Medis" yang sekarat. Namun, saat segel giok di dadanya retak dan para Tetua mulai mengincarnya, si pemalas ini terpaksa bangun.
Satu pil untuk menghancurkan pedang jenius. Satu teknik untuk membungkam langit.
Mampukah Tian Feng melunasi hutang karmanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raden Saleh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERJAMUAN DUA DUNIA

Aula Alkimia yang hancur itu kini diselimuti keheningan yang menyesakkan. Debu marmer yang beterbangan di udara membiaskan cahaya senja yang masuk melalui atap yang jebol. Tetua Lu telah diseret pergi oleh pengawal sekte yang datang terlambat, meninggalkan aroma hangus dan sisa-sisa energi biru yang memudar di lantai.

Guru Lin duduk terpaku di atas bangku kayu yang selamat dari ledakan. Matanya yang tua menatap kuali perunggu pusaka paviliun yang kini terbelah dua. Ia menatap Feng, lalu beralih ke Xuelan, mencoba mencari logika dalam kegilaan yang baru saja terjadi.

"Supnya sudah dingin, Guru," ucap Feng pelan. Ia berdiri di tengah reruntuhan, mengenakan jubah rami yang compang-camping namun tubuhnya memancarkan aura ketenangan yang tidak wajar bagi seorang pemuda berumur delapan belas tahun.

"Feng... kau bukan muridku yang pemalas lagi, bukan?" suara Guru Lin parau. "Kekuatan tadi... itu bukan sekadar ledakan alkimia. Aku melihat takdir yang diputar balik. Aku melihat mata seorang pria yang telah hidup seribu tahun."

Xuelan melangkah maju, tangannya masih menggenggam erat lengan baju Feng, seolah takut jika ia melepasnya, pemuda itu akan ditarik kembali ke dalam celah waktu. "Guru Lin, Feng tetaplah Feng. Hanya saja... dia membawa beban yang lebih berat dari yang bisa kita bayangkan."

Feng menatap tangan Xuelan yang gemetar di lengannya. Ia merasakan kerinduan yang amat dalam, sebuah emosi yang meluap dari garis waktu yang telah dihapus. Tanpa sadar, ia menutupi tangan Xuelan dengan telapak tangannya yang kini terasa hangat dan bertenaga.

“Manis sekali,” sebuah bisikan dingin menusuk langsung ke gendang telinga Feng. “Tapi ingat, setiap detak jantung yang kau habiskan untuk merayu gadis teratai ini adalah pengkhianatan terhadap sumpah darahmu di Makam Dewa.”

Feng memejamkan mata sejenak. Di dalam pandangan batinnya, ia melihat bayangan Yue Er yang melayang di dalam Liontin Giok yang kini telah menyatu dengan kulit dadanya. Sosoknya tampak lebih padat, zirah peraknya berpendar ungu tajam.

"Yue Er, diamlah," batin Feng dingin.

“Oh? Kau menyuruh istrimu diam demi wanita fana ini? Berhati-hatilah, Suamiku. Aku bisa saja membocorkan rahasia tentang 'Masa Depan yang Gagal' itu sekarang juga jika aku mau.”

Feng mengabaikan gangguan itu dan menuntun Guru Lin menuju meja panjang yang masih utuh. Dengan gerakan lambat, ia menuangkan teh sisa yang sudah dingin ke dalam cangkir porselen.

"Guru," Feng memulai, suaranya berat namun tulus. "Dunia ini tidak sesederhana yang kita lihat. Ada hutang yang harus dibayar, dan ada takdir yang dicuri. Tetua Lu bukan satu-satunya ancaman. Di luar sana, ada kekuatan yang jauh lebih besar yang sedang mengincar apa yang ada di dalam diriku."

Guru Lin meminum tehnya dengan tangan gemetar. "Klan Lu tidak akan tinggal diam, Feng. Kau baru saja menghancurkan pusaka mereka. Kepala sekte akan menuntut penjelasan."

"Biarkan mereka menuntut," sahut Feng tenang. "Malam ini, aku akan melakukan sesuatu yang akan membuat mereka lupa untuk bertanya."

Xuelan menatap Feng dengan cemas. "Apa yang akan kau lakukan? Tubuhmu baru saja pulih secara paksa. Kau butuh istirahat."

"Aku butuh 'modal' tambahan, Xuelan," Feng menatap dalam ke mata gadis itu. "Tetua Lu menyimpan gudang batu roh di bawah kediamannya. Di garis waktu sebelumnya, batu-batu itu digunakan untuk menyuap para wasit turnamen. Malam ini, aku akan menyitanya sebagai pembayaran atas serangan mereka tadi pagi."

"Aku ikut," sela Xuelan cepat.

"Terlalu berbahaya. Kau harus tetap di sini dan menjaga Guru Lin. Tetua Lu mungkin sudah tumbang, tapi faksi bayangannya masih berkeliaran."

Xuelan menggeleng kuat. "Kau tidak bisa meninggalkan aku lagi, Feng. Tidak setelah aku melihatmu menghilang di langit Puncak Awan Putih. Jika kau pergi, aku pergi."

Ketegangan di antara keduanya meningkat. Ruang alkimia itu seolah dipenuhi oleh percikan energi yang tak terlihat. Guru Lin hanya bisa menatap mereka bergantian, menyadari bahwa ada ikatan yang jauh lebih tua daripada usia mereka yang sebenarnya.

Tiba-tiba, suhu di ruangan itu turun drastis. Embun beku mulai merambat di permukaan meja.

"Cukup!" suara Yue Er bermanifestasi secara fisik, meskipun hanya sebagai bayangan transparan yang berdiri di belakang Feng. "Jika kalian ingin bertengkar soal cinta, lakukan setelah kita mencuri batu roh itu. Aku butuh energi untuk memulihkan wujud fisikku, dan aku tidak akan membiarkan suamiku pergi dengan gadis lemah ini tanpa pengawasanku."

Guru Lin hampir menjatuhkan cangkirnya saat melihat Yue Er. "Si... siapa lagi ini?!"

"Pelayan pribadiku, Guru. Jangan dihiraukan," ucap Feng sambil menghela napas panjang.

Malam itu, Puncak Awan Putih diselimuti kabut tebal yang tidak wajar. Di bawah kegelapan, tiga sosok bergerak menuju distrik kediaman Klan Lu. Feng memimpin di depan, langkahnya seringan bulu, sementara Xuelan mengikuti dengan pedang terhunus di balik jubahnya.

Mereka sampai di depan gerbang bawah tanah yang dijaga oleh formasi prasasti kuno. Feng meletakkan tangannya di atas batu kunci. Ia tidak menghancurkannya. Ia hanya menyentuh garis-garis energi itu dengan Jari Penagih Takdir.

"Sita," gumam Feng.

Seketika, formasi pelindung itu tersedot masuk ke dalam telapak tangan Feng, meninggalkan pintu besi yang kini tidak terlindungi.

Di dalam gudang, ribuan batu roh berpendar biru indah, tumpukan harta yang dikumpulkan melalui korupsi selama puluhan tahun. Feng melangkah ke tengah ruangan, Kitab Hukum Karma muncul secara otomatis di tangannya, halaman-halamannya berputar liar.

"Banyak sekali hutang yang belum lunas di sini," Feng berbisik.

Saat ia mulai menyerap energi dari ribuan batu roh tersebut, sebuah getaran hebat mengguncang gudang bawah tanah. Dinding-dinding batu mulai retak, dan dari balik kegelapan di sudut ruangan, muncul sepasang mata merah yang besar.

Bukan manusia. Bukan pula tetua sekte.

Seekor binatang buas kuno yang dirantai oleh Klan Lu sebagai penjaga terakhir terbangun dari tidurnya. Aura kematiannya jauh lebih pekat daripada apa pun yang pernah Feng temui di garis waktu ini.

Feng merasakan rasa panas di dadanya kembali membara. Ia menoleh ke arah Xuelan yang sudah bersiap dengan posisi tempur. Namun, di saat yang sama, ia merasakan tarikan energi yang aneh dari arah belakang—dari arah Yue Er.

Wanita itu tidak membantu. Ia justru menatap binatang buas itu dengan senyum aneh, seolah-olah ia mengenali makhluk tersebut.

"Feng," bisik Yue Er, suaranya tidak lagi ketus, melainkan penuh peringatan. "Jangan bunuh makhluk ini. Dia adalah 'Penagih' dari masa laluku yang terikat pada jam pasir yang kau hancurkan tadi. Jika darahnya tumpah di sini, seluruh sekte ini akan ditandai oleh Istana Karma malam ini juga."

Binatang itu menggeram, suaranya meruntuhkan beberapa langit-langit gudang. Feng berdiri diam di tengah lautan batu roh yang mulai meredup warnanya, sementara bayangan raksasa makhluk itu perlahan menutupi seluruh jalan keluar mereka.

Langkah kaki berat terdengar dari arah pintu masuk yang tadi mereka lewati, diikuti oleh suara tepuk tangan yang lambat.

"Aku sudah mendugamu akan datang ke sini, Nak," sebuah suara dingin bergema.

Bukan Tetua Lu. Sosok yang muncul dari kegelapan adalah Kepala Sekte Kunci Langit sendiri, memegang sebuah pedang yang memancarkan aura putih yang menyilaukan.

"Mari kita lihat," ucap Kepala Sekte, matanya menatap tajam ke arah Liontin Giok Feng yang berpendar di balik bajunya. "Apakah kau benar-benar penyelamat yang diramalkan, atau hanya pencuri takdir yang harus aku musnahkan sekarang juga."

1
Raden Saleh
Bagus sekali
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!