NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Dokter Forensik Sebagai Putri Terbuang Di Era Mataram

Reinkarnasi Dokter Forensik Sebagai Putri Terbuang Di Era Mataram

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Cinta Istana/Kuno / Mengubah Takdir
Popularitas:10.9k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Di Era Mataram kuno, kematian bisa dibeli.

Seorang gadis lima belas tahun ditemukan terbakar.

Semua menyebutnya kecelakaan.

Hanya satu orang yang berani berkata,

“Ini pembunuhan.”

Raden Ajeng Sawitri Setyaningrum.

Putri yang dibuang.

Gadis ringkih yang dianggap tak berguna.

Tak ada yang tahu…

Jiwanya adalah dokter forensik dari masa depan.

Dengan pisau bedah dan akal dingin, ia menyeret pembunuh ke cahaya.

Satu demi satu rahasia Kadipaten terkuak, kehamilan tersembunyi, racun warangan, wasiat palsu, jarum maut di tulang leher.

Semakin tinggi ia naik, semakin besar musuhnya.

Ketika pembunuhan demi pembunuhan mengguncang Kadipaten, ketika para bangsawan saling menjatuhkan.

Ketika seorang Pangeran tampan mulai terobsesi pada kecerdasannya.

Dan ketika ayahnya sendiri menjadikannya alat aliansi militer,

Sawitri hanya tersenyum.

Karena ia tak pernah berniat selamat.

Ia berniat menang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

24. Operasi Diam-diam di Paviliun Danurejo

Gulungan lontar berbau anyir itu jatuh di atas meja kayu.

Sawitri membiarkan noda darahnya menodai serat jati yang mengkilap. Matanya menyapu deretan kalimat ancaman itu tanpa berkedip. Tidak ada getaran panik di pundaknya.

"Kita siapkan kuda ke Jatiwangi," Cakrawirya melangkah ke arah pintu. Tangannya bertumpu pada gagang keris. "Mereka memberi batas waktu sampai perjamuan lusa."

"Mboten."

Sawitri membalikkan badan. Ia mengambil tas kulitnya dan mulai memasukkan botol-botol kaca kecil ke dalamnya.

Langkah Cakrawirya terhenti. Ia berbalik menatap punggung Sawitri.

"Sampeyan mau membiarkan adik sampeyan dipenggal?"

"Itu taktik manipulasi psikologis dasar, Raden," jawab Sawitri tenang. Ia menarik tali tasnya hingga rapat. "Penculik mboten akan membunuh tawanan bernilai tinggi sebelum target utama masuk perangkap."

"Lalu apa rencana sampeyan?"

"Kita ke Kadipaten Danurejo malam ini juga." Sawitri menoleh, menatap lurus ke mata pangeran itu. "Seperti saran panjenengan tadi. Keputren Barat sedang kosong karena semua orang sibuk mencari Wandira."

Cakrawirya melepaskan tangannya dari gagang keris. Ia mengamati raut wajah Sawitri.

"Sampeyan menggunakan penculikan adik sampeyan sendiri sebagai pengalih perhatian?"

"Wandira diculik dari jantung kadipaten tanpa suara. Penjaganya dibunuh dan dibuang ke sumur." Sawitri menyandang tas kulitnya. "Ini pekerjaan orang dalam. Kulo mboten akan masuk ke Jatiwangi dengan mata buta tanpa tahu siapa dalang di balik semua ini."

Rasionalitas yang mengerikan. Cakrawirya mendengus pelan, namun kepalanya mengangguk setuju.

"Ayo berangkat. Lewat jalur belakang pasar."

***

Langit malam Mataram tertutup awan mendung. Angin berhembus kencang membawa aroma hujan dari arah perbukitan.

Kadipaten Danurejo berada dalam kondisi siaga penuh. Obor-obor menyala terang di sepanjang tembok utama. Suara teriakan komando prajurit terdengar saling bersahutan mencari sang calon pengantin.

Sawitri berjongkok di balik semak melati keraton yang rimbun. Matanya merekam pola patroli dua penjaga di gerbang samping.

"Dua puluh hitungan sebelum mereka memutar ke arah pendopo timur," bisik Sawitri.

"Lima belas," koreksi Cakrawirya. "Langkah mereka dipercepat karena panik."

Cakrawirya bergerak lebih dulu. Tubuhnya berkelebat seperti bayangan menembus celah cahaya obor. Ia melemparkan sebuah batu kerikil ke arah genteng dapur.

Bunyi benturan itu membuat kedua penjaga menoleh serentak.

Momen itu tidak disia-siakan Sawitri. Ia berlari melintasi pelataran batu bata merah, merapat ke dinding kayu berukir milik Keputren Barat. Paviliun pribadi Nyai Selir Sukmawati.

Cakrawirya menyusul sedetik kemudian. Tangannya mendorong pelan jendela kayu bercat hijau yang tidak terkunci rapat.

Mereka berdua melompat masuk. Pendar cahaya bulan yang masuk dari celah atap menjadi satu-satunya penerangan.

Kamar itu berbau menyengat. Campuran dupa melati, kapur sirih, dan sesuatu yang manis namun apak.

Sawitri langsung bekerja. Insting forensiknya mengambil alih. Ia tidak membuang waktu membuka lemari pakaian atau mengaduk-aduk kotak perhiasan di atas meja rias.

"Orang menyembunyikan rahasia besar di tempat yang paling sulit dijangkau secara fisik," gumam Sawitri.

Ia berlutut di lantai. Tangannya mengetuk-ngetuk papan kayu jati yang menjadi alas ranjang besar berukir naga. Bunyinya padat. Ia bergeser ke sudut ruangan, mengetuk lantai di bawah meja sembahyang kecil.

*Tuk. Tuk. Tak.*

Suara kayunya berongga.

"Raden, bantu kulo di sini."

Cakrawirya mendekat. Ia menyelipkan ujung pisau belatinya ke celah papan kayu itu, lalu mengungkitnya ke atas dengan satu hentakan kuat. Papan itu terlepas, memperlihatkan sebuah ruang gelap berlapis kain beludru di bawah tanah.

Sawitri merogoh ke dalam. Tangannya menarik keluar sebuah kotak kayu berlapis perunggu dan sebuah buku bersampul kulit rusa.

Keduanya mundur ke arah jendela agar mendapat sedikit cahaya bulan.

Sawitri membuka kotak kayu itu lebih dulu.

Di dalamnya tersusun rapi belasan botol kaca kecil seukuran ibu jari. Tutupnya disegel dengan malam lebah merah. Di sebelahnya terdapat sebuah sendok perak yang permukaannya menghitam.

"Jamu pengasih?" tanya Cakrawirya. Ia hendak menyentuh salah satu botol.

"Jangan disentuh pakai tangan kosong," peringat Sawitri cepat. Ia mengeluarkan sehelai sapu tangan kain, melilitkannya di jari, lalu mengambil satu botol.

Sawitri mengorek sedikit segel lilin itu. Ia membuka tutupnya sejengkal dari wajah, mengibas udara di atas mulut botol ke arah hidungnya menggunakan telapak tangan. Teknik standar mengendus bahan kimia tanpa menghirupnya langsung.

Bau bawang putih yang samar menyengat indra penciumannya.

Otaknya langsung memproses data seketika. Serbuk putih halus. Bau bawang putih. Perak yang teroksidasi saat bersentuhan.

"Niki bukan jamu rapet atau pelet pengasih," ucap Sawitri tajam. "Ini arsenik."

Cakrawirya menautkan alisnya. "Arsenik? Racun tikus?"

"Arsenik trioksida murni." Sawitri menutup botol itu rapat-rapat. "Sangat mudah larut dalam air hangat, wedang jahe, atau teh pekat. Mboten berwarna, mboten berasa."

"Jika Sukmawati ingin membunuh Romo sampeyan, kenapa Tumenggung Danurejo masih hidup sampai sekarang?"

"Dosis," jawab Sawitri singkat. "Sukmawati meracuninya secara perlahan. Menumpuk residu logam berat di tubuhnya."

Sawitri mengingat kembali kondisi ayahnya saat perdebatan terakhir mereka.

"Romo sering mengeluh kram perut dan mual yang dikira tabib keraton sebagai masuk angin duduk. Kalau panjenengan perhatikan kuku jarinya, kulo yakin ada garis putih melintang. Itu tanda keracunan jangka panjang."

"Dia membuat Romomu sakit-sakitan agar kendali kadipaten sepenuhnya jatuh ke tangannya," simpul Cakrawirya ngeri.

"Leres. Membunuh langsung akan memancing kecurigaan abdi dalem. Membuat Tumenggung mati pelan-pelan karena penyakit misterius adalah alibi yang sempurna."

Sawitri meletakkan botol itu kembali. Ia beralih membuka buku bersampul kulit rusa.

Lembar demi lembar berisi deretan angka dan aksara Jawa yang rapi. Ini adalah buku kas ganda. Sukmawati mencatat semua uang pajak utara yang tidak pernah disetorkan ke keraton Demak maupun Mataram.

Jari telunjuk Sawitri menelusuri kolom pengeluaran khusus di halaman paling belakang.

"Coba panjenengan lihat ini."

Cakrawirya merunduk. Kepalanya berada tepat di samping kepala Sawitri.

"Pengeluaran rutin setiap purnama," baca Cakrawirya. "Ke... Sindikat Gagak Jatiwangi."

"Hutan Jatiwangi," ulang Sawitri. Suaranya berubah sedingin es. "Tempat di mana mereka menahan Wandira sekarang."

Cakrawirya menarik napas panjang. Konstruksi konspirasi ini mulai terlihat kerangkanya.

"Sukmawati menyewa sindikat bayaran untuk menculik putrinya sendiri?"

"Lebih dari itu." Sawitri membalik lembaran buku ke tanggal sepuluh tahun lalu. Tanggal di mana ibunya ditemukan tewas.

Terdapat satu baris catatan pengeluaran dalam jumlah emas batangan yang sangat masif di tanggal tersebut. Penerimanya sama: Sindikat Gagak Jatiwangi.

"Mereka algojo yang membunuh ibu kulo," ucap Sawitri pelan. Matanya terpaku pada deretan angka itu. "Sukmawati yang membayar mereka. Dan cincin zamrud itu dijadikan bayaran tambahan, atau diambil sebagai trofi."

"Penculikan Wandira ini hanya sandiwara," gumam Cakrawirya, tangannya mengepal keras. "Sukmawati sengaja membiarkan Wandira 'diculik' oleh sindikat sewaannya sendiri untuk memancing sampeyan datang ke hutan itu. Jika sampeyan mati di sana, mboten akan ada lagi pewaris sah Danurejo yang tersisa."

"Dan utang Demak akan hangus jika sampeyan yang disalahkan atas hilangnya Wandira."

Suara langkah kaki berat yang bergesekan dengan lantai pendopo luar memutus obrolan mereka.

Sawitri langsung menutup buku kulit itu dan memasukkannya ke dalam tasnya bersama satu botol arsenik. Ia menendang kotak perunggu itu kembali ke lubang bawah tanah dan menggeser papan kayunya ke posisi semula.

"Ada yang datang," isyarat Cakrawirya dari balik daun pintu.

Cakrawirya menarik lengan Sawitri ke sudut ruangan yang tertutup bayangan lemari jati raksasa. Keduanya berdiri menempel ke dinding, menyatu dengan kegelapan.

Gagang pintu kuningan berputar perlahan. Pintu kayu berderit terbuka.

Cahaya lampu minyak menerobos masuk, disusul sosok perempuan berkebaya merah marun. Nyai Selir Sukmawati. Wajahnya tidak menunjukkan kepanikan layaknya seorang ibu yang putrinya baru saja diculik. Ia justru tersenyum puas.

Di belakangnya, seorang pria jangkung berbahu lebar melangkah masuk. Pria itu memakai ikat kepala hitam khas prajurit bayaran.

"Panjenengan terlalu nekat datang ke sini, Ki," ucap Sukmawati dengan nada angkuh. Ia meletakkan lampu minyak di atas meja rias.

"Kulo hanya memastikan sisa bayaran kulo siap, Nyai," balas pria itu dengan suara berat yang parau. "Anak tiri panjenengan sudah kami ikat di pondok Jatiwangi. Sesuai rencana."

"Anak haram Sawitri itu sudah menerima suratnya?"

"Sudah. Utusan kulo memastikan pelayannya membawa lontar itu lari ke pesanggrahan." Pria itu bersedekap. "Jika dia cukup bodoh, dia akan datang subuh nanti."

"Dia anak yang keras kepala. Dia pasti datang." Sukmawati berjalan menuju ranjang. Tangannya merapikan kain selimut yang tidak berantakan.

"Habisi dia di sana. Potong lehernya dengan sabetan merak seperti yang panjenengan lakukan pada ibunya dulu. Kulo mau memastikan garis keturunan Danurejo yang sah putus selamanya."

1
SENJA
ada anak tiri ada anak haram 😄
gina altira
Sukmawati itu dalangnya atau masih ada dalang yang lebih besar lg
SENJA
jadi ngebunuh perlahan? atau malah jadi kebal racun?
SENJA
adiknya juga jahat kok yowes biar aja 🤣
SENJA
wakaaka wandira cuma buat bayar utang 🤭
Betharia Anggita Dominique
mantap👍👍👍👍
Betharia Anggita Dominique
maksud?
Betharia Anggita Dominique
seru nih👍
fredai
Hadir Thor semangat 💪
gina altira
yang diperebutinnya lempeng ajahhh,,
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
dua pangeran saling merebut sang tabib 🤣
SENJA
lu berdua debat mulu kadang hal ga penting di debatin berdua😤
SENJA
pusing hidup penuh intrik 😅
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
keren banget ceritanya
Allea
aku ga ngudeng bahasa Jawa Thor 😑🤭
SENJA
udah sih biar aja kan sudara tiri dan mereka jahat sama kamu 😤
SENJA
kalian malah debat hadeeh 😤
Dewiendahsetiowati
setan aja kalah sadisnya sama Sukmawati
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
dasar laki laki gilaa😤
SENJA
sukur lu 😌
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!