NovelToon NovelToon
The Instant Obsession

The Instant Obsession

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Perjodohan
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: treezz

Damian Nicholas memiliki segalanya-kekuasaan, harta yang tak habis tujuh turunan, dan masa depan yang sudah diatur rapi oleh orang tuanya.

Termasuk sebuah perjodohan dengan putri dari relasi bisnis keluarganya demi memperluas kekaisaran mereka. Namun bagi Damian, cinta bukan tentang angka di saldo rekening, melainkan tentang getaran yang ia rasakan pada pandangan pertama.

Getaran itu ia temukan pada Liora Selene, seorang gadis sederhana yang ia temui secara tidak sengaja. Di mata Damian, Selene adalah sosok tulus yang tidak silau akan hartanya. Ia jatuh cinta pada kesederhanaan Selene, tanpa tahu bahwa di balik pakaian lusuh itu, Selene menyimpan rahasia besar.

Selene sebenarnya adalah putri dari keluarga terpandang yang sedang mencoba melarikan diri dari jeratan ekspektasi dunia kelas atas dengan berpura-pura menjadi rakyat jelata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon treezz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28: Interupsi Sang Asisten

Waktu terus merayap naik. Cahaya matahari yang masuk dari celah tirai restoran Italia itu kini mulai berubah warna menjadi jingga tua, menandakan sore hari telah tiba. Di dalam ruangan privat yang sunyi, Damian masih duduk mematung, dikelilingi oleh dokumen dan aura dingin yang tak kunjung mencair.

Revan, asisten setianya, berdiri di depan pintu yang tertutup rapat. Ia menelan ludah berkali-kali, melihat jam tangan Rolex-nya dengan cemas. Ia tahu masuk ke ruangan itu saat Damian sedang "mode predator" adalah tindakan bunuh diri, tapi profesionalisme mengalahkannya.

Tok... Tok...

Revan membuka pintu sedikit, hanya cukup untuk memasukkan kepalanya. Ia melihat Damian sedang menyandarkan punggung, menatap kosong ke arah gelas anggur yang sudah kosong.

"Tuan Nicholas... Maafkan kelancangan saya," suara Revan terdengar sangat berhati-hati, hampir seperti bisikan.

Damian tidak menoleh. Ia hanya menggerakkan matanya yang tajam ke arah pintu. "Aku bilang jangan ganggu aku, Revan."

"S-saya tahu, Tuan. Tapi ini mengenai Roxxfe Corp. Direktur Utama mereka sudah menunggu di kantor kita sejak tiga puluh menit yang lalu untuk penandatanganan kontrak final akuisisi lahan industri. Ini adalah proyek triliunan yang sudah Anda incar sejak tahun lalu," lapor Revan dengan cepat, takut dipotong di tengah jalan.

Damian tetap diam. Nama Roxxfe Corp seharusnya membuat matanya berbinar karena ambisi, namun hari ini, nama itu terdengar hambar. Pikirannya masih tersangkut pada gaun tidur sutra di saku jasnya dan wajah Selene yang tak kunjung memberinya kabar.

Damian Nicholas adalah pria yang memegang teguh kata-katanya. Baginya, reputasi adalah segalanya, dan ingkar janji adalah bentuk kelemahan yang paling ia benci. Meskipun kepalanya berdenyut hebat dan bayangan Selene terus berputar-putar seperti badai yang tak kunjung reda, ia memaksakan dirinya untuk tetap profesional.

"Siapkan mobil," perintah Damian singkat kepada Revan. Suaranya rendah, nyaris seperti geraman, namun ada ketegasan yang tak terbantahkan di sana.

Revan bernapas lega, meski ia tetap waspada. Ia segera memberikan isyarat kepada tim keamanan dan supir. Damian melangkah keluar dari restoran mewah itu, mengabaikan udara sore yang mulai mendingin. Di dalam mobil, suasana kembali mencekam. Damian menyandarkan kepalanya pada headrest kursi kulit, memejamkan mata untuk meredam kekacauan di pikirannya.

"Tuan, kita akan sampai dalam lima belas menit," lapor Revan dengan suara yang sangat pelan.

Damian tidak menyahut. Tangannya yang besar meremas pelan lututnya sendiri. Ia sedang bertarung dengan egonya. Di satu sisi, ia ingin membatalkan semua ini dan menenggelamkan diri dalam keheningan kamarnya, namun di sisi lain, ia tahu bahwa pertemuan dengan Roxxfe Corp adalah kunci ekspansinya tahun ini.

Setibanya di gedung Nicholas Group, Damian melangkah keluar dengan postur yang sangat tegap. Tidak ada jejak kelelahan atau kegalauan di wajahnya—ia telah memasang kembali topeng "Sang Serigala Wall Street" miliknya dengan sempurna.

Di ruang rapat lantai paling atas, jajaran direktur Roxxfe Corp sudah berdiri menyambutnya. Atmosfer ruangan itu seketika berubah berat begitu Damian masuk.

"Tuan Nicholas, terima kasih sudah bersedia menemui kami di sela kesibukan Anda," sapa CEO Roxxfe Corp sambil mengulurkan tangan.

Padahal Damian sudah sangat terlambat namun orang-orang dari roxxfe corp tetap bersikap ramah padanya, padahal pada umum nya petinggi-petinggi dari perusahaan lain pasti akan membatalkan kerja sama dan mencap buruk.

Damian hanya menatap tangan itu selama dua detik sebelum menjabatnya dengan singkat dan keras. "Mari kita langsung ke intinya. Saya tidak suka membuang waktu untuk basa-basi yang tidak menghasilkan angka."

Ia duduk di kursi utama, membuka map dokumen Roxxfe Corp, dan mulai membaca setiap klausul dengan kecepatan yang luar biasa namun sangat teliti. Di saat seperti ini, kemampuan otaknya bekerja dua kali lipat lebih cepat. Ia menggunakan kemarahannya pada situasi pribadinya sebagai bahan bakar untuk menekan lawan bicaranya di meja kontrak.

Damian baru saja hendak menghujamkan ujung pulpen mahoninya ke atas kertas, siap memberikan tekanan mental terakhir pada jajaran direksi di depannya. Namun, suara pintu yang terbuka dengan terburu-buru dan derap langkah yang ringan seketika memecah keheningan yang mencekam itu.

"Ayah! Maaf aku terlambat, kunci mobilku sempat hilang!"

Suara itu bening, ceria, dan sangat kontras dengan atmosfer berat di ruangan tersebut. Damian tertegun. Gerakan tangannya membeku di udara.

"Selene?" gumam Damian, suaranya rendah dan serak, nyaris tak terdengar namun penuh dengan guncangan emosi.

Gadis itu—Selene—berdiri di sana dengan gaun yang jauh lebih formal dan elegan daripada yang biasa ia kenakan di panti asuhan. Wajahnya yang biasanya tegar kini memucat pasi saat melihat siapa pria yang duduk di kursi utama meja perundingan itu.

"Damian?" Selene berbisik, napasnya tertahan.

Tuan Aldrich, CEO Roxxfe Corp, segera berdiri dengan wajah cerah namun penuh hormat. "Ah, Tuan Nicholas, perkenalkan. Ini putri tunggal saya, Liora Selene Aldrich. Selene, kemarilah. Ini adalah Tuan Damian Nicholas, mitra bisnis utama yang sedang kita bicarakan."

Suasana ruangan itu mendadak menjadi sangat aneh. Revan, asisten Damian, hampir menjatuhkan tabletnya karena terkejut. Ia tahu bosnya sedang gila mencari seorang gadis bernama Selene, tapi ia tidak pernah menyangka bahwa gadis panti yang dicari bosnya adalah pewaris tunggal dari kerajaan bisnis Roxxfe Corp yang sedang mereka akuisisi.

Damian berdiri perlahan, tubuhnya yang tegap menjulang, memberikan tekanan luar biasa di ruangan itu. Matanya tidak lepas dari Selene—menatapnya dengan campuran antara amarah yang meledak, rasa lega yang amat sangat, dan obsesi yang kini semakin membara.

Keduanya sama-sama terlonjak. Apalagi Selene. Bukankah pria itu berkata jikalau ia hanya seorang asisten, bukan CEO Nicholas corp.

"Dasar pembohong." Cetus Selene seolah suara hati nya bocor ke publik membuat semua nya menoleh ke padanya. Bahkan ayah nya menatap tak percaya.

Revan, sang asisten, menahan napas. Ia baru saja melihat Selene—seorang gadis—berbicara dengan nada menantang kepada Damian Nicholas di depan dewan direksi. Namun, alih-alih meledak marah, Damian justru tampak sangat terhibur. Semua rasa lelah dan amarahnya sejak pagi tadi menguap begitu saja, digantikan oleh hasrat untuk segera menyelesaikan kontrak ini agar ia bisa berdua saja dengan Selene.

"Baiklah, Tuan Aldrich," ucap Damian sambil duduk kembali dengan gaya yang sangat dominan. "Mari kita selesaikan kontrak ini sekarang. Aku ingin segera membahas 'proyek' lain dengan putrimu secara pribadi."

1
Leny Enick
ditunggu selajutnya 💪semngat thor
YuWie
ada2 aja tingkah org kaya tuh ya..nyamar segala..adakah di dunia nyata..hmmm
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!