Iago Verbal datang ke Citywon hanya untuk satu hal: hidup tenang. Namun, ibu kota Cirland tidak mengizinkannya.
Di balik kemegahan kota itu, ingatan Iago yang pecah mulai kembali menghantuinya. Sosok-sosok dari masa lalu bermunculan—seorang putri kerajaan yang berhasil memecahkan kasus pembunuhan terumit hingga organisasi bawah tanah yang mengerikan.
Iago baru menyadari satu fakta pahit: Dia bukan pemuda desa polos. Dia adalah bagian dari rencana gelap yang ia sendiri lupakan. Kini, tangannya harus kembali kotor, atau ia akan terkubur bersama rahasia Citywon.
Siapakah pemuda ini sebelum amnesia merenggut segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaelits, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan
Matahari pagi di musim salju bukanlah pemberi kehangatan, melainkan pelukis yang licik dan kejam. Sinar-sinarnya yang pucat menusuk tajam melalui udara jernih yang membeku di paru-paru, melukis lembah dan atap-atap rumah dengan warna emas pucat yang indah dipandang, tapi hampa panas. Cahaya itu menipu; ia menerangi dunia dengan gemerlap, namun tanpa sedikit pun kehangatan yang bisa dirasakan kulit.
Setiap kristal es yang bergantung di pinggir jendela, setiap hamparan salju yang membentang luas di luar, memantulkan dan memecah sinar itu menjadi jutaan percikan diamond yang menyilaukan mata.
Dunia tidak disinari pagi itu, melainkan seolah dibakar oleh dingin yang menusuk, oleh kemilau putih yang memutihkan segalanya, menghilangkan bayangan dan kedalaman, mengubah lanskap familiar menjadi negeri asing yang tak dikenal.
"Bagaimana sarapannya, Edward?" tanya Yuki, berusaha sekuat tenaga menebarkan suara ringan ke udara pagi yang terasa begitu berat. Senyumnya terbentuk di bibir, meski matanya masih bengkak dan agak kemerahan.
"Ini enak, Kak," jawab Edward. Sebuah senyum tipis muncul dan menghilang begitu cepat di wajahnya yang polos.
"Syukurlah..."
Kemudian, hampir bersamaan, tanpa direncanakan, pandangan mereka berdua tertarik dan terpaku pada kekosongan di sebelah mereka.
Kursi kayu di samping Yuki berdiri kosong, sunyi, sendirian, seakan-akan benda mati itu sendiri mempertanyakan kepergian penghuninya. Sebuah piring dan peralatan makan dari besi masih tergeletak rapi di hadapannya, siap dan menanti, namun tak pernah tersentuh, tak pernah digunakan.
Senyum di wajah mereka luruh seketika, digantikan oleh sebuah kehampaan yang lebih nyata dan lebih dingin daripada udara di luar jendela.
Di sanalah biasanya dia duduk. Pria dengan mata hitam yang selalu terlihat lelah namun entah bagaimana tetap bersinar terang saat Edward bercerita tentang petualangan imajinasinya di negeri-negeri khayalan. Pria yang senyum tipisnya terasa begitu tulus. Pria yang mendengarkan setiap celetukan dan cerita Edward dengan perhatian penuh.
Yuki menghela napas halus, hampir tak terdengar, lalu memalingkan wajahnya dari kursi kosong itu. "Nanti mau jalan-jalan sebentar nggak, Edward?" tanyanya. "Pasti ada banyak hal menarik di toko-toko sekarang. Mungkin... bisa cari buku baru untuk koleksimu."
Edward tidak menoleh. Matanya yang masih muda masih tertambat pada kursi kayu yang kosong itu. "Bagaimana kabar Kak Iago ya, Kak?" gumamnya pelan, suaranya kecil dan penuh keraguan.
Pertanyaan sederhana itu menggantung berat di antara aroma sup hangat yang mulai mendingin dan roti panggang yang mengeras. Yuki merasakan tenggorokannya tiba-tiba mengencang.
"Sudah tiga hari lamanya sejak dia pergi," lanjut Edward, masih tak berpaling dari kursi itu. "Entah kenapa, rumah ini jadi terasa sangat... besar. Dan sepi. Lebih sepi dari biasanya."
"Edward, dengar—"
Akhirnya Edward menatap kakaknya. Kali ini, senyum yang dia pasang di wajahnya lebih jelas terlihat. "Padahal kita sebelumnya juga cuma hidup berdua, kan? Haha..."
Melihat itu, Yuki menunduk dalam-dalam, menatap mangkuk supnya yang masih setengah penuh. Kuahnya yang dulu mengepul hangat kini sudah tak lagi menguap. Meski wangi kaldu dan sayuran masih samar menggoda, seluruh nafsu makannya telah lenyap seketika.
"Edward," ucapnya, berusaha sekuat tenaga menegakkan suaranya yang mulai bergetar. "Kakak tahu kalau kamu pasti kangen sama dia. Tapi sebaiknya... sebaiknya kita harus berusaha melupakannya. Karena dia..." Tangannya yang memegang sendok bergetar halus tak terkendali, membuat logam itu berdentang pelan dan ritmis terhadap bibir mangkuk keramik.
"Kak?" Edward memicingkan mata.
"Ka-karena dia..." Yuki mengepalkan tangan bebasnya sekencang-kencangnya di pangkuan. Dia menarik napas dalam-dalam hingga udara dingin pagi itu memenuhi seluruh ruang paru-parunya yang sesak. "Dia itu seorang kriminal, Edward... anggota organisasi jahat. Dia hanya... memanfaatkan kita."
Setelah ucapan itu terjatuh dan memenuhi ruangan makan kecil yang tiba-tiba terasa lebih sunyi dan dingin, Edward memalingkan wajahnya ke jendela. Di luar sana, dunia masih terbungkus rapat oleh selimut putih salju yang membutakan mata, sunyi, dan tenang.
"Apa kakak sendiri percaya?"
Yuki mengangkat kepalanya dengan cepat, bertemu dengan pandangan Edward yang kini sudah kembali padanya. "Apa maksudmu?"
"Apa kakak benar-benar percaya kalau dia hanya memanfaatkan kita?" ulang Edward dengan sabar.
"I-itu..." Yuki terbata, lidahnya terasa kaku. Matanya yang gelisah berkelana ke sana kemari, mencari jawaban yang pas di antara noda-noda kayu di meja makan.
"Kalau aku sih enggak," kata Edward, memotong kebingungan kakaknya. Dia diam sejenak. "Saat dia dengerin ceritaku, saat dia tersenyum lihat aku. Itu semua tidak terasa palsu. Menurut kakak gimana?"
"Menurutku?" Yuki mengulangi pertanyaan itu, membeli sedikit waktu untuk berpikir. Hatinya berdebar kencang dan tak beraturan, bertarung sengit antara akal sehatnya yang penuh bukti-bukti dan hatinya yang masih keras berpegang pada kenangan bersama pria itu. "Menurut kakak... sebenarnya juga tidak yakin," akunya, suaranya hampir seperti bisikan.
"Begitu, ya." Edward mengangguk pelan.
Keheningan kembali menyelimuti mereka berdua, lebih nyaman dan alami kali ini. Lalu, tiba-tiba, tanpa peringatan, tubuh Yuki menegang kaku. Matanya yang sayu membelalak lebar, mulutnya ternganga.
KLACK!
Sendok di tangannya terlepas dan membentur meja kayu dengan suara nyaring yang memecah keheningan, berputar-putar sebentar sebelum akhirnya berhenti.
"Ka-kakak?! Ada apa?! Kenapa?"
"Seorang penyihir hebat bisa melakukan apa saja..." gumam Yuki pelan, lebih kepada dirinya sendiri. Pikirannya tiba-tiba berputar, melompat-lompat tak beraturan di antara potongan-potongan ingatan yang selama ini tercecer.
Pemandangan di Taman Sylvan beberapa hari lalu muncul tiba-tiba di benaknya—hijau, rimbun, hangat, sangat bertolak belakang dengan putih dan dingin di luar jendela sekarang. Suara Iago yang serius dan rendah terngiang jelas:
"Aku ingin kau membantuku, Yuki."
"Membantu apa tepatnya?"
"Pertama, kita harus mencari pria tua misterius itu."
Napas Yuki tersengat di tenggorokan. Dia kembali menatap Edward yang masih terlihat bingung dan khawatir.
Dia mendorong kursinya ke belakang dengan kasar hingga kayunya berderit keras di lantai. Lalu dia mulai mondar-mandir di ruang makan yang sempit itu, langkahnya cepat, gugup, tak beraturan. Tatapannya menancap ke lantai kayu, sementara jari-jari tangannya yang satu sibuk meremas ujung kain bajunya, yang lain tanpa sadar menggigit dan menarik-narik ujung ibu jari.
"Pembunuhan di losmen tua... Bertemu dengan Iago di pinggir jalan... Pria tua misterius yang dilihat orang... Sang Bayangan, pencuri legenda itu... Penyihir hebat bisa melakukan apa saja..." gumamnya beruntun.
"Kak, ada apa sih? Aku jadi takut."
"Itu dia!" seru Yuki tiba-tiba, berhenti mondar-mandir dan menatap adiknya dengan sorot mata yang benar-benar baru.
"Ke-kenapa sih, Kak?" tanya Edward dengan nada memelas. "Tolong beritahu aku dong! Aku tidak mengerti apa-apa!"
"Sang Bayangan," kata Yuki. "ia pasti tahu sesuatu. Dan Iago..." Ia berhenti sejenak, menelan ludah. "Dia pasti sedang mencari pria tua misterius itu."
"Pria tua?" Edward mengerutkan kening dalam-dalam, mencoba mengingat kembali pembicaraan beberapa hari lalu. "Maksud Kakak pria tua di losmen itu? Yang katanya... mencuri mantel dan tas punya Kak Iago?"
Tatapan Yuki kembali jatuh ke lantai, alisnya berkerut.
"Dia terlihat panik saat aku menyebut pria tua misterius yang memakai mantel lusuh dan membawa tas besar itu," ujarnya perlahan. "Wajahnya berubah total dalam sekejap. Lalu, tanpa berpikir, tangannya langsung menyelam ke saku celananya, mencari sesuatu dengan panik..." Dia berhenti sejenak. "Dan kemudian, dia mengeluarkan secarik kertas kecil yang kusut. Saat itu dia pikir itu pasti dari Sang Bayangan."
"Ka-kakak, tolong, pelan-pelan," pinta Edward. "Aku tidak bisa mengikuti jalan pikiran kakak yang cepat sekali."
"Intinya begini," simpul Yuki dengan napas memburu, mendekatkan wajahnya pada Edward. "Iago mungkin punya dugaan kuat. Bahwa pria tua misterius yang terlihat di depan losmen itu... tidak lain dan tidak bukan adalah Sang Bayangan, pencuri legenda itu. Dan sekarang, tujuan utamanya adalah mencari pria itu."
"Pria tua misterius... Sang Bayangan..." Edward mencerna informasi baru itu dengan saksama. "Lalu... ada apa dengan itu semua? Apa... apa kakak akan ikut mencarinya juga? Pria tua itu, maksudku?"
Yuki terdiam seribu bahasa. Pertanyaan lugas itu menggema di ruangan yang sunyi. Dia menatap lama ke arah jendela, ke luar sana, ke dunia putih yang dingin. Lalu, setelah hening yang panjang, dia menarik napas dalam-dalam. "Entahlah, Edward. Mungkin... iya."
Senyum lebar dan tiba-tiba merekah di wajah Edward, untuk pertama kalinya sejak pagi tadi. "Aku juga ingin mencarinya, Kak! Pria tua misterius itu!"
"Edward?" Yuki terkejut. "Kamu serius?"
"Iya!" Edward mengangguk dengan penuh semangat.
"Tapi... itu mungkin akan sulit. Dan bisa berbahaya. Kita tidak tahu siapa sebenarnya pria itu. Bisa saja dia jahat, bisa saja dia bersenjata."
"Justru karena itu," bantah Edward dengan cepat, matanya yang polos bersinar dengan tekad kekanak-kanakan. "Tidak mungkin aku diam aja di rumah dengan tenang sedangkan kakak sendirian membahayakan diri di luar sana. Lagipula..." Dia menundukkan kepalanya sebentar, suaranya berubah menjadi lebih pelan. "Aku juga lebih suka kita sama-sama mencari kebenarannya. Daripada cuma duduk di sini, menunggu entah apa, dan merasa... sepi sendiri."
Kata-kata terakhir dari adiknya itu membuat semua keraguan dan ketakutan Yuki seakan meleleh oleh tekad Edward. Dia meraih adiknya, menariknya dalam pelukan yang erat. "Kamu memang orang yang pemberani, Edward. Terlalu berani kadang-kadang, sampai bikin kakak khawatir."
"Iya dong!" sahut Edward dengan bangga, suaranya terdengar sedikit teredam dan bergema karena terhimpit di bahu Yuki. Tapi kemudian dia menarik diri dan bertanya, "Tapi... bagaimana caranya kita bisa menemukan pria tua itu? Ciri-ciri yang kita tahu cuma 'pria tua'."
Yuki melepaskan pelukannya. "Iago bilang mantel dan tasnya dicuri orang saat dia tidur di pinggir jalan. Lalu, dia ingin mencari pria tua itu, kan?" Dia menatap Edward. "Berarti... kita punya sedikit petunjuk. Kita mencari pria tua yang sekarang memiliki, atau bahkan memakai mantel abu-abu lusuh serta membawa tas perjalanan besar."
Mata Edward berbinar-binar penuh pengertian, seperti bola lampu yang baru dinyalakan. "Oh! Berarti kita seperti... mencari barang curian, ya Kak? Melihat orang yang pakaiannya lusuh atau aneh!"
"Tepat sekali, adikku," kata Yuki sambil tersenyum.