Shafiya tidak pernah membayangkan hidupnya akan diputuskan oleh orang-orang yang bahkan tidak mengenalnya.
Satu kejadian membawanya masuk ke lingkaran keluarga Adinata--sebuah dunia di mana keputusan tidak dibuat berdasarkan benar atau salah,
melainkan berdasarkan kepentingan.
Ia hamil. Tanpa suami.
Dan itu cukup untuk menjadikannya bagian dari permainan.
Sagara Deva Adinata tidak mencari cinta. Apalagi ikatan. Ia hanya butuh pewaris
agar posisinya tetap tak tergoyahkan.
Dan Shafiya… adalah variabel yang terlalu berharga untuk dilepaskan.
Di balik kesepakatan yang terlihat seperti solusi,
tersimpan kendali, tekanan, dan rahasia yang tidak pernah benar-benar dijelaskan.
Karena di dunia mereka,
yang dipertaruhkan bukan hanya perasaan--melainkan batas antara dosa… dan pahala.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon najwa aini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 09 Mansion Adinata
Pagi itu di Adinata Residence 3, tidak dimulai dengan percakapan.
Ia dimulai dengan persiapan.
Pintu kamar yang ditempati oleh Shafiyya terbuka perlahan, dan dua orang masuk tanpa banyak suara.
Perempuan yang semalam diperintahkan Sagara kini berdiri di depan gadis itu--Winda--membawa beberapa set pakaian yang sudah dipilih, lengkap dengan sepatu, tas, dan perhiasan yang tidak berlebihan, tapi cukup untuk menegaskan satu hal: status.
“Silakan, Nona,” ucapnya tenang.
Shafiya tidak banyak bertanya. Ia mengikuti.
Segalanya berlangsung rapi. Terukur. Bahkan cermin pun seperti ikut bekerja sama--memantulkan sosok yang nyaris asing baginya sendiri.
Baju yang dipilihkan tetap dengan identitas Shafiya, rapi, tertutup, lengkap dengan hijab yang akan menutupi mahkotanya.
Riasan tipis menegaskan garis wajahnya tanpa menghilangkan kesan lembut. Hijabnya ditata sederhana, tapi elegan.
Shafiya tampak… berbeda.
Bukan karena ia berubah.
Tapi karena ia ditempatkan di dunia yang bukan miliknya.
Langkah kakinya terhenti sejenak di depan cermin.
Tatapannya bertemu dirinya sendiri.
Dan untuk sesaat--hanya sesaat--ia seperti lupa harus menjadi siapa.
“Elara.”
Suara itu datang dari belakang.
Tenang. Datar. Tidak keras, tapi cukup untuk menarik Shafiya kembali ke realitas.
Shafiya menoleh.
Sagara sudah berdiri di ambang pintu.
Ia tidak masuk sepenuhnya. Hanya berdiri, mengamati.
Tatapannya menyapu dari ujung kepala hingga kaki.
Tanpa komentar.
Tanpa pujian.
Tanpa perubahan ekspresi.
“Sudah siap?” tanyanya.
Shafiya mengangguk pelan. Walau sebenarnya dia tidak benar-benar siap. Apalagi untuk satu hal yang bahkan ia tak tahu secara pasti.
Sagara melangkah masuk satu langkah. Cukup untuk membuat jarak di antara mereka terasa lebih sempit.
“Kita tidak punya banyak waktu. Jadi dengarkan saya.”
Nada suaranya berubah sedikit--lebih tajam, lebih terarah.
“Di sana, Anda tidak perlu banyak bicara.”
Shafiya diam. Menyimak.
“Jika ditanya, jawab seperlunya. Jangan menambahkan cerita. Jangan berinisiatif menjelaskan.”
Sagara menatapnya lurus.
“Dan jangan pernah berbohong panjang.”
Shafiya sedikit mengernyit.
Sagara melanjutkan, kali ini lebih pelan.
“Kebohongan pendek bisa dikontrol. Yang panjang… tidak.”
Hening.
Instruksi itu bukan ancaman.
Itu untuk menegaskan batas. Shafiya menahan napas lebih lama, lalu mengembuskannya. Berat.
“Fokus Anda hanya satu,” lanjut Sagara. “Tetap tenang. Dan tetap di peran Anda.”
“Sebagai…?” tanya Shafiya, lirih.
Sagara tidak langsung menjawab.
Tatapannya turun sesaat, ke perut Shafiya--singkat, hampir tak terlihat.
Lalu kembali ke wajahnya.
“Sebagai alasan saya masih berdiri di posisi saya sekarang.”
Sunyi.
Kalimat itu tidak terdengar emosional.
Tapi beratnya jatuh dengan tepat. Berlipat.
Sagara berbalik.
“Sepuluh menit lagi kita berangkat.”
Langkahnya terhenti di ambang pintu.
Tanpa menoleh, ia menambahkan.
“Dan satu lagi. Jangan membuat saya mengulang instruksi.”
Pintu tertutup. Dan bersama itu, Shafiya benar-benar merasa… sendirian di dalam peran yang bahkan belum ia pahami sepenuhnya
..
..
Pintu mobil tertutup dengan bunyi pelan, tapi justru terdengar lebih tegas di telinga.
Shafiya duduk di sisi kiri kursi belakang.
Tangannya terlipat di atas pangkuan. Terlihat rapi. Sikap yang terjaga. Tapi jari-jarinya saling menekan pelan--seolah butuh sesuatu untuk ditahan.
Di sebelahnya, Sagara sudah lebih dulu duduk.
Jarak di antara mereka tidak terlalu dekat.
Tapi juga tidak cukup jauh untuk membuat Shafiya merasa aman.
Mobil mulai bergerak.
Perlahan keluar dari halaman luas dan tertutup Adinata Residence 3, lalu masuk ke jalur khusus yang memang dibuat terpisah dari akses utama.
Tidak ada percakapan.
Hanya suara mesin yang halus, hampir tak terdengar.
Dan keheningan yang … tidak nyaman.
Shafiya menatap ke depan.
Lalu ke samping, sekilas.
Sagara tidak melihatnya.
Lelaki itu menatap lurus ke depan, satu tangannya bertumpu santai di sandaran, sementara tangan lainnya sesekali bergerak kecil--membalas pesan singkat di ponselnya.
Dia tampak tenang.
Selalu terlihat tenang.
Seolah apa yang akan mereka hadapi bukan sesuatu yang perlu dipikirkan.
Berbeda dengan Shafiya, ketenangan Sagara itu Justru membuat dadanya terasa lebih sempit.
Ia menarik napas perlahan.
Mencoba menenangkan diri.
Tapi bayangan-bayangan itu datang lagi.
Nama abinya.
Pesantren.
Tatapan orang-orang.
Dan satu hal yang paling ia hindari--penilaian.
Shafiya pejamkan mata sedikit. Ada setitik semangat terbit--teringat itu semua.
Jika hanya ini cara agar semuanya aman, akan ia jalankan. tekadnya.
Gerak kecil di sampingnya membuat Shafiya kembali fokus.
Sagara mematikan layar ponselnya.
Lalu, tanpa menoleh, ia berbicara.
“Kalau Anda gugup, jangan ditunjukkan.”
Nada suaranya tetap datar.
Seolah hanya menyampaikan fakta.
Shafiya menahan napas sejenak.
“Saya tidak gugup,” jawabnya pelan.
Sagara akhirnya menoleh.
Tidak lama.
Hanya cukup untuk melihat, dan menilai.
“Bagus,” katanya singkat.
Lalu kembali menghadap depan.
Sunyi lagi.
Beberapa detik berlalu.
Atau mungkin menit.
Dan bagi Shafiya, waktu terasa … tidak bergerak normal. Terlalu lambat, juga kadang terasa begitu cepat.
“Jika mereka menekan Anda--" suara Sagara kembali terdengar, kali ini lebih rendah.
“--diam adalah jawaban yang aman.”
Shafiya menoleh.
“Kecuali?” tanyanya, tanpa sadar.
Sagara tidak langsung menjawab.
Ia menunggu satu detik.
Dua detik.
Baru kemudian,
“Kecuali saya yang bertanya.”
Kalimatnya tidak keras.
Tapi cukup untuk menetapkan posisi. Bahwa ia hanya boleh patuh pada Sagara saja.
Shafiya menunduk lagi.
“Baik.”
Mobil berbelok.
Gerbang besar mulai terlihat di depan.
Bangunan mansion Adinata berdiri megah di baliknya--tenang, tertutup, dan… memberi kesan tidak menerima siapa pun dengan mudah.
Laju mobil melambat.
Berhenti sejenak, memberi waktu untuk akses khusus terdeteksi sistem keamanan canggih.
Dan lalu, gerbang besar itu terbuka.
Dan saat mobil kembali bergerak masuk--tanpa sadar, jemari Shafiya kembali saling menggenggam lebih erat.
Sagara melihat itu.
Sekilas.
Tanpa komentar. Dan juga tak memberikan instruksi tambahan, apalagi sekadar kata menenangkan.
Mobil berhenti tepat di depan tangga utama.
Di sana tidak ada penyambutan berlebihan.
Tidak ada deretan orang berdiri rapi seperti dalam acara formal.
Hanya dua orang staf berdiri di sisi pintu, tapi cukup untuk menunjukkan bahwa tempat ini bukan ruang biasa.
Pintu mobil dibuka.
Sagara turun lebih dulu.
Tanpa menoleh.
Tanpa menunggu.
Shafiya mengikuti beberapa detik kemudian.
Langkahnya tertahan sepersekian saat kakinya menyentuh lantai marmer yang dingin.
Bangunan di hadapannya tidak sekadar besar, tapi juga menekan.
Tiga lantai dengan garis arsitektur tegas. Tidak banyak ornamen, tapi justru itu yang membuatnya terasa mahal--dan tak terjangkau.
Setiap jendelanya tinggi.
Setiap sudutnya bersih.
Dan jarak antar ruang terasa seperti memberi batas yang tak kasat mata.
Shafiya menelan ludah pelan.
Sagara sudah berjalan lebih dulu menaiki tangga.
Ia tidak memanggil.
Juga tidak menoleh.
Tapi langkahnya melambat--
cukup untuk memastikan Shafiya tetap mengikuti.
Pintu utama terbuka.
Dan udara di dalam… berbeda.
Lebih tenang. Lebih sunyi.
Mereka masuk.
Langkah kaki terdengar jelas, memantul ringan di lantai luas tanpa karpet.
Beberapa pasang mata melihat.
Tidak terang-terangan.
Tapi cukup untuk membuat Shafiya sadar,
ia sedang diperhatikan.
Dari lantai atas.
Dari sisi ruangan.
Dari celah-celah yang bahkan tidak ia lihat.
Sagara berhenti.
Seorang pria paruh baya mendekat, membungkuk hormat.
“Semua sudah menunggu, Tuan.”
Sagara mengangguk.
“Di ruang utama?”
“Ya, Tuan.”
Sagara berbalik sedikit.
Menatap Shafiya.
Bukan memberi semangat, atau pun peringatan baru.
Hanya satu kalimat singkat.
"Kita masuk."
Shafiya mengangguk pelan.
Langkah kembali dimulai.
Kali ini menyusuri Koridor panjang.
Dinding tinggi dengan lukisan-lukisan lama yang tampak mahal tanpa perlu dijelaskan.
Dan di ujung, sudah menunggu sebuah pintu besar yang terbuka.
Sagara masuk lebih dulu.
Shafiya satu langkah di belakangnya.
Dan saat ia melangkah masuk--
ruangan itu langsung terasa berbeda.
Lebih luas.
Lebih terang.
Tapi juga…
lebih berat.
Beberapa orang sudah duduk. Anggota Adinata yang lain. Semua berpakaian rapi.
Shafiya tidak menghitung berapa jumlah. Tidak sempat. Tapi ia melihat Sorot mata mereka yang seragam--menilai.
Menghitung.
Bukan menyambut.
Ataupun sekadar penasaran.
Lalu, di ujung ruangan.
Seorang wanita tua yang tetap cantik duduk di kursi utama.
Tidak perlu diperkenalkan.
Tidak perlu bergerak.
Tidak perlu berbicara.
Keberadaannya saja sudah cukup untuk membuat seluruh ruangan tunduk pada satu pusat.
Nyonya Anjani.
Punggungnya tegak.
Tatapannya lurus.
Diam. Tapi bukan diam kosong.
Diam yang… menguasai.
Sagara berhenti.
Sedikit menunduk.
"Nenek."
Tatapannya berlabuh singkat di wajah tampan Sagara. Tersenyum tipis, terlalu tipis hingga hanya serupa segaris gerakan kecil saja.
Tatap mata itu lalu berlabuh pada Shafiya. Naik perlahan ... dari ujung kaki ... berhenti sejenak ... lalu bergerak lagi. Menilai.
Bukan sekadar melihat.
Shafiya menahan napas.
Bukan karena takut.
Tapi karena ia tahu--tatapan seperti itu tidak sedang mencari kesan.
Melainkan mencari celah.
Sagara tidak memperkenalkan.
Juga tidak memberi kalimat pengantar.
Ia berdiri di sana, di dekat Shafiya, sejajar. Tidak melindungi. Tidak mendorong.
Hening.
Beberapa detik.
Cukup untuk membuat siapa pun ingin menjelaskan diri.
Baru kemudian, suara Anjani muncul. “Ini?”
Satu kata.
Tapi cukup untuk membuat udara di ruangan terasa semakin berat.
Sagara menjawab tanpa jeda.
“Ya, bukti yang Anda minta, sudah saya bawa, Nenek."