NovelToon NovelToon
Bangkitnya Pemilik Mustika Macan Kencana

Bangkitnya Pemilik Mustika Macan Kencana

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Balas Dendam / Penyelamat
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: suandra

Arga hanyalah pemuda biasa di sudut kota yang keras—hidup dari kerja kasar, dipandang rendah, dan selalu kalah oleh keadaan. Ia percaya hidupnya akan berakhir sebagai pecundang, sampai suatu malam hujan berdarah mengantarkannya pada sebuah benda terkutuk sekaligus suci: Mustika Macan Kencana.

Sejak saat itu, dunia Arga berubah.

Mustika itu bukan sekadar sumber kekuatan, tetapi suara di dalam batinnya—memberi pemahaman, strategi, dan jalan keluar dari situasi mustahil. Seolah takdir sendiri membisikkan langkah-langkah menuju kemenangan. Namun setiap kekuatan selalu menuntut harga.

Di kota yang dipenuhi kejahatan, pengkhianatan, dan rahasia gelap, Arga mulai bangkit dari nol—melawan preman, sindikat bayangan, hingga musuh yang memiliki kekuatan serupa. Di tengah pertarungan hidup dan mati, hadir cinta yang rumit: Sari yang tulus namun rapuh, dan Clarissa yang penuh misteri serta luka masa lalu.

Semakin Arga kuat, semakin besar pengorbanan yang harus ia bayar.
Rasa sakit, keh

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon suandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3. Simfoni Baja dan Dendam

Parkiran bawah tanah The Obsidian itu mendadak sunyi, hanya menyisakan suara mesin mobil yang menderu jauh di kejauhan dan tetes air dari pipa bocor yang jatuh ke lantai beton. Clarissa masih membeku di balik punggung Arga. Napasnya tertahan di kerongkongan, seolah-olah oksigen di ruangan itu mendadak lenyap. Ia melihat proyektil timah yang masih panas itu menggelinding di dekat sepatunya, sebuah pengingat nyata bahwa kematian baru saja menyapanya dalam hitungan milimeter.

"Siapa... siapa kau sebenarnya?" bisik Clarissa, suaranya bergetar antara ngeri, takjub, dan rasa tidak percaya yang mendalam.

Arga tidak menjawab. Ia tidak memiliki waktu untuk menjelaskan identitasnya atau asal-usul Mustika yang kini berdenyut kencang di dalam tulang rusuknya. Matanya tertuju tajam pada tiga pengawal yang tadi mengikuti Clarissa. Mereka kini telah mencabut senjata masing-masing, wajah mereka menunjukkan kepanikan yang luar biasa. Rencana pembunuhan yang disusun dengan presisi militer itu baru saja digagalkan oleh seorang penjaga keamanan berpakaian seragam murah yang bahkan tidak ada dalam daftar target mereka.

"Habisi dia! Jangan biarkan ada saksi! Jika dia berhasil keluar hidup-hidup, kepala kita yang akan menjadi taruhannya!" teriak salah satu pengawal, suaranya parau karena emosi yang tidak stabil.

Tiga moncong senjata berperedam mengarah tepat ke arah Arga dan Clarissa.

Samping kiri. Rendahkan tubuhmu dan gunakan tumpuan kaki kanan sebagai poros, instruksi Mustika Macan Kencana bergema di dalam batin Arga, dingin, tajam, dan penuh perhitungan predator.

Wush!

Arga bergerak secepat bayangan yang tertiup angin kencang. Di mata Clarissa, Arga seolah-olah menghilang dari pandangan dan muncul kembali di depan pengawal pertama dalam sekejap mata. Tidak ada keraguan dalam gerakannya. Dengan satu hantaman telapak tangan terbuka ke dada pria itu, terdengar suara tulang rusuk yang patah dengan irama yang mengerikan. Pria itu terpental tiga meter ke belakang, tubuhnya menghantam badan mobil sport mewah hingga alarmnya berbunyi nyaring, memecah keheningan lantai parkir.

Dua orang lainnya menembak membabi buta. Peluru-peluru itu mendesing di udara, meninggalkan lubang-lubang kecil pada pilar beton di belakang Arga. Pemuda itu tidak panik. Ia menarik lengan Clarissa, membawanya berlindung di balik pilar beton besar sebelum peluru berikutnya menembus udara.

"Tetap di sini," perintah Arga singkat. Suaranya datar, sedatar permukaan air kolam yang tenang, meski di dalam dadanya, sang Macan sedang mengaum menuntut lebih banyak darah.

"Mereka profesional, jangan konyol! Larilah selagi bisa! Kau bisa mati di tangan mereka!" Clarissa berteriak, namun Arga sudah melesat keluar dari balik pilar sebelum kalimatnya selesai.

Arga merasakan aliran energi panas yang menyelimuti tinjunya. Setiap gerakan musuh terlihat sangat lambat dan mudah ditebak di mata Arga yang kini berkilat keemasan. Ia menghindari peluru dengan kemiringan kepala yang minimal, hampir seperti tarian kematian yang efisien. Ia membalas dengan pukulan yang mengandung kekuatan raungan macan.

Bugh!

Satu pukulan telak mendarat di rahang pengawal kedua. Pria itu tersungkur tak sadarkan diri, giginya berhamburan. Pengawal terakhir, yang menyadari ia tidak akan menang dalam jarak dekat, mencoba menarik pisau belati dari balik pinggangnya.

Arga menangkap pergelangan tangan pria itu di udara, memelintirnya ke arah yang mustahil hingga terdengar bunyi krak yang memuakkan, lalu membantingnya ke lantai beton dengan kekuatan yang membuat retakan di lantai tersebut. Dalam waktu kurang dari satu menit, ketiga pria bersenjata itu terkapar tak berdaya, tidak mampu lagi menggerakkan satu otot pun.

Arga berdiri di tengah kekacauan itu, napasnya sedikit memburu. Tangan kanannya gemetar—bukan karena takut, tapi karena energi Mustika yang meluap-luap minta dilepaskan lebih banyak lagi. Ia bisa merasakan sisa-sisa energi itu perlahan merembes ke saraf-sarafnya, menyembuhkan memar yang mungkin ia dapatkan selama perkelahian singkat tersebut.

Clarissa keluar dari balik pilar, menatap sekeliling dengan pandangan tak percaya. Ia adalah putri dari penguasa bisnis legal dan ilegal di kota ini, ia sudah terbiasa melihat petarung-petarung hebat, namun tidak ada yang seperti Arga.

"Kamu... kamu bukan manusia biasa," ucap Clarissa, melangkah mendekati Arga dengan hati-hati. Ia mengabaikan mayat-mayat pengawalnya dan justru menatap dalam ke mata Arga yang masih menyisakan sisa-sisa kilatan emas yang memudar. "Siapa yang mengirimmu? Apakah ayahku yang menyewa seseorang untuk menjagaku tanpa sepengetahuanku?"

Arga menoleh. Ia mencoba menekan aura Mustika agar kembali tenang ke dalam sangkar jiwanya. "Aku cuma orang yang melakukan pekerjaannya, Nona. Aku penjaga keamanan di tempat ini."

Clarissa tersenyum tipis, sebuah senyuman misterius yang mengandung daya tarik sekaligus bahaya. Ia merogoh tas kecilnya, mengeluarkan sebuah kartu nama berwarna hitam pekat dengan ukiran emas murni yang memantulkan cahaya lampu.

"Kerja di klub ini sia-sia untuk orang sepertimu. Ayahku butuh orang yang bisa menangkap peluru, bukan cuma penjaga pintu yang berdiri delapan jam sehari," Clarissa menyelipkan kartu itu ke kantong seragam Arga, jemarinya sengaja menyentuh dada Arga sejenak, merasakan detak jantung yang kini mulai melambat kembali ke ritme normal manusia. "Datanglah ke alamat di kartu ini besok pagi jam delapan. Aku sendiri yang akan mewawancaraimu. Ini adalah kesempatan sekali seumur hidup untuk mengubah takdirmu."

Sebelum Arga sempat menolak, Clarissa sudah masuk ke dalam mobil SUV antipeluru lainnya yang baru saja datang menjemputnya. Mobil itu melesat pergi, meninggalkan Arga dalam keheningan parkiran yang mencekam.

Arga pulang ke kontrakannya saat fajar mulai menyingsing di ufuk timur. Di depan pintu, ia melihat Sari sedang tertidur sambil duduk, menungguinya pulang. Wajah Sari yang polos dan tulus membuat hati Arga perih—sebuah kontras yang tajam dengan darah yang masih membekas di buku jarinya.

Sari adalah duniaku yang tenang, batin Arga. Tapi Clarissa... dia adalah jalan menuju kekuatan dan uang yang kubutuhkan untuk melindungi dunia tenangku ini.

Arga masuk ke dalam rumah, menyelimuti Sari dengan kain jarik yang tipis. Saat ia menyentuh dahi Sari untuk memastikan gadis itu tidak demam, Mustika di batinnya memberikan peringatan dingin yang menusuk.

Wanita berbaju merah itu akan membawamu pada genangan darah yang lebih dalam, Inang. Tapi jika kau ingin melampaui takdirmu, kau memang harus berjalan di atas duri. Ingat, setiap kali kau menggunakan kekuatanku, ingatanmu tentang gadis kecil ini akan semakin pudar. Apakah kau siap membayar harganya?

Arga terdiam. Ia menatap telapak tangannya sendiri yang mulai pucat. Ia menatap kartu nama hitam di atas meja kecilnya. Ia tahu, mulai detik ini, ia tidak akan pernah bisa kembali menjadi kuli panggul biasa. Ia telah terjebak dalam permainan orang-orang besar, dan satu-satunya cara untuk menang adalah dengan menjadi lebih berbahaya daripada mereka semua.

Besok pagi, ia akan menemui Clarissa. Dan besok pagi, ia akan mulai menukar masa lalunya demi masa depan yang penuh dengan kekuasaan—dan pertumpahan darah. Malam ini, Arga Satria telah mati di parkiran bawah tanah itu. Yang tersisa hanyalah seorang pria dengan jiwa macan yang haus akan kebenaran, terlepas dari berapa banyak memori yang harus ia korbankan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!