Rhea Celeste hanyalah mahasiswi jurusan pendidikan biasa yang malas, sampai sebuah panci listrik meledak dan merenggut nyawanya.
Saat membuka mata, ia terbangun di dunia fantasi sebagai Rhea Celeste lain.
Dia adalah seorang archmage berbakat dan guru sihir putra mahkota Kerajaan Sihir. Tanpa ingatan pemilik tubuh asli, Rhea harus berpura-pura kehilangan ingatan dan mencoba melanjutkan kariernya sebagai guru putra mahkota dengan baik untuk hidup damai.
Namun, kehidupan damainya hanyalah angan-angan setelah mengetahui identitas tersembunyi pemilik tubuh aslinya yang lain.
“Rhea-ku, sayang... Kenapa kau melupakanku? Kekasihmu?”
Seorang pria tampan dari kekaisaran suci mengaku sebagai kekasihnya dan menangis.
Sedangkan di sisi lain, muridnya yang keras kepala, merengek, mengajaknya tinggal.
“Guru! Ayo pulang! Buatkan aku kue ulang tahun!”
Lebih baik tidak ikut campur, atau kedua kekaisaran akan musnah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebodoh apa pencuri itu?
Penampilan Azz yang menyerupai tuan muda bangsawan membuat para ksatria tidak berani bersikap macam-macam terhadapnya. Melihatnya dengan sopan membawa wine untuk bercakap-cakap dengan mereka, para ksatria itu tentu tidak menolak.
“Tentu, silakan bergabung dengan kami, Tuan Muda! Kawan-kawan, ayo ceritakan masalah ini padanya sambil bersantai! Ha ha, siapa tahu tuan muda ini bisa membantu seperti klaimnya!”
Ksatria yang berada di tengah menarik kursi di sebelahnya dan tersenyum sopan.
“Bagaimana kami memanggil Anda, Tuan Muda?” tanya ksatria itu dengan antusias.
Azz duduk dengan tenang dan membalas senyumannya. “Panggil saja aku Azz, tidak perlu berbicara formal.”
“Oke, Tuan Muda Azz!” serunya, lalu menunjuk dirinya sendiri. “Aku Silen, ksatria berpangkat dua dari Marquis Herbert!”
“Dan keduanya, rekanku, Ceres.” Silen menunjuk ksatria di kanannya. “Serta yang di sebelah kiri ini, Ludwig!”
Mereka pun berbincang dengan Azz, menjawab setiap pertanyaan yang dia ajukan tanpa menyembunyikan apa pun, sekaligus mengeluhkan keadaan mereka.
“Jika seperti yang kalian maksud, pencurian gudang harta ini terbatas pada Kota Templess hingga wilayah hulu sungai dekat kediaman Marquis Herbert,” ucap Azz perlahan.
“Menurut perhitunganku, penjahat ini hari ini akan menargetkan gudang Marquis Herbert,” lanjut Azz sambil menunjuk daftar nama kediaman terkemuka milik bangsawan dan para pedagang di wilayah tersebut.
Tidak banyak orang kaya di daerah ini, sehingga hanya ada sebelas tempat yang memiliki gudang harta besar untuk dikelola.
Silen mengangguk setuju, menatap Azz dengan penuh kekaguman. “Benar. Kalau memang penjahat itu masih beraksi hari ini, mengingat hanya kediaman Marquis saja yang belum dia datangi, dia pasti menargetkan gudang Marquis!”
“Namun kita belum mendapat kabar apa pun hingga sore ini, kan?” sela Ludwig sambil mengangkat tangannya.
“Jika sampai malam nanti belum ada tindakan apa pun, berarti pencuri ini sudah menghentikan aksinya...” lanjutnya dengan nada tidak yakin.
“Itu tidak sepenuhnya salah. Lagipula, siapa yang berani menyusup ke gudang Marquis Herbert yang dijaga banyak ksatria? Kemungkinan dia sudah pergi dari wilayah ini.”
“Lalu bagaimana kita menjelaskannya pada Marquis...”
Melihat topik pembicaraan mereka mulai melenceng dari yang dibutuhkannya, Azz berdehem.
“Tuan-tuan, begini saja. Bagaimana jika kalian pulang dan menemui Marquis untuk meningkatkan penjagaan gudang?”
Silen dan Ludwig memalingkan wajah mereka ke arahnya serentak, lalu berseru penuh penolakan, “Tidak!”
“Kalau kita menemui Marquis sekarang, itu berarti kita gagal menyelesaikan tugas! Tujuan kita adalah menangkap pelakunya, bukan sekadar menjaga gudang tetap aman!” tegas Ludwig, disetujui oleh Silen.
Penolakan itu tidak membuat Azz gentar. Dia mencoba membujuk dengan halus.
“Aku hanya ingin membantu, jadi kalian tidak perlu mengikuti saranku jika ragu. Namun, ingatlah, jika gudang Marquis benar-benar dicuri, siapa yang dirugikan? Di sana tersimpan bagian dari gaji kalian sendiri,” kata Azz sambil tersenyum santai.
“Ini...” Silen merasakan tatapan Ludwig yang juga mulai goyah.
“Aku setuju dengan saran Tuan Muda Azz. Kita harus melapor pada Marquis. Ini demi kebaikan bersama,” ujar Ceres, ksatria yang sEjak tadi diam.
“Hm, sampai Ceres yang jarang bicara akhirnya membuka suara. Sepertinya keputusan ini memang benar.” Ludwig kembali menatap Silen, menandakan bahwa ia sudah setuju.
“Baiklah, kita lakukan seperti itu,” ucap Silen sambil mengangkat winenya dengan suara keras.
Senyum kecil muncul di bibir Azz sebelum kembali normal, dia menerima cangkir yang suguhkan Silen padanya.
“Terima kasih atas nasihat yang berharga ini, Tuan Muda.”
“Benar, Wine ini sangat mahal, kita benar-benar berterima kasih atas kemurahan hatimu."
“Mari habiskan sebelum menemui marquis!”
Ketika para ksatria hendak mengajaknya bersulang, cangkir ditangan Azz tiba-tiba direbut paksa oleh seorang wanita.
“Sudah kubilang, jangan minum!” Wanita itu adalah Rhea yang sedari tadi mengawasi percakapan mereka dari meja lain.
Rhea melototi muridnya yang hampir saja minum, dia sangat kesal hingga ingin mencubit pipinya.
Biarpun tindakannya selalu terlihat dewasa dibandingkan usianya, putra mahkota Azz tetaplah bocah sepuluh tahun! Rhea mana mungkin membiarkan anak kecil minum alkohol di depan matanya? Sebagai gurunya, dia benar-benar berkewajiban menegurnya.
“Gur– eh...sayang, maaf jangan marah!” Putra mahkota tersentak, setelah membenarkan nadanya, ia berkedip. “Aku belum minum, jangan marah, oke?”
Suaranya terdengar seperti merengek di depan kekasihnya. Sangat terampil sampai-sampai Ketiga ksatria itu juga membelanya karena iba.
“Nona cantik,jangan memarahinya, dia belum meneguk satu tetespun!” ucap Silen dengan nada membujuk.
“Benar, aku bisa bersumpah atas nama ksatria!” lanjut Ludwig, tegas.
Dan Ceres memberi anggukan untuk menambah dukungan.
Azz diam-diam meremas tangan Rhea yang berada dibawah meja, membuat amarahnya buyar dan menatap matanya.
Sedikit pergerakan di mata Azz tertangkap oleh Rhea dengan jelas. Dia berkedip setuju, melanjutkan membalas akting Azz dengan tenang.
“Aku tidak percaya!” seru Rhea dengan nada jengkel. “Sebaiknya kita pulang, sekarang! Berdiri!”
Azz menurut, berdiri dengan kepala tertunduk. Di bawah tatapan iba ketiga ksatria, tuan muda tampan yang memiliki aura mengintimidasi dan tegas itu diseret oleh kekasihnya yang jauh lebih lembut dan lemah. Ketiganya mendecak tak percaya.
“Ketika harimau diambil alih oleh cinta, sosoknya akan menjadi kucing yang berguling-guling dengan garukan,” sebuah kata-kata tak terduga keluar dari Ceres yang pendiam; matanya bahkan bersinar.
Rhea menyeret Azz keluar dari bar, berjalan kaki menuju penginapan mereka. Ketika tidak ada orang yang melihat, ia melonggarkan cengkeramannya.
“Sekarang mau ke mana?” tanya Rhea ketika melihat matahari sudah kehilangan sinarnya, menandakan malam.
“Menangkap pencuri itu,” jawab Putra Mahkota Azz sebelum menarik pedang di pinggangnya.
Rhea tidak terkejut kali ini karena masih bisa menebak dari percakapan Azz dengan para ksatria tadi. Hanya saja, pedang di tangan Azz menarik perhatiannya.
“Jadi itu pedang sungguhan?” gumamnya pelan. Ia melirik pedang yang sedang dihaluskan ketajamannya oleh Azz dan menghela napas.
Pedang itu selalu berada di tubuh putra mahkota, baik di istana, kamarnya, atau di luar. Karena ornamen di sarung pedangnya yang mencolok dan ditaburi permata berlebihan, siapa yang mengira itu benar-benar digunakan?
“Ehem, aku ingin menjelaskan kenapa ingin ikut campur masalah ini, tapi pasti kamu tidak mempercayaiku,” kata Azz tiba-tiba, mungkin mengira Rhea masih ingin tahu alasan ia dibawa ke sini.
Mereka masih berbicara santai tanpa memikirkan formalitas. Berjalan berdampingan, Rhea menggelengkan kepala sambil mengangkat bahu.
“Kalau tidak ingin menjelaskan padaku, terserah. Nanti juga akan tahu sendiri, kan?” jawab Rhea.
Yang perlu Rhea lakukan hanya mengikuti ke mana pun putra mahkota pergi. Dia ingin ke sungai, Rhea ikut. Mau pergi ke gunung untuk berburu, itu saja. Selama tidak melewati batas moralitasnya dan tidak terlihat benar-benar berbahaya, Rhea bakal mengangguk mengikutinya.
Benar-benar seperti pengasuh anak…
Sambil menertawakan dirinya sendiri dalam hati, Rhea dan Azz tiba kembali di penginapan.
Makan malam sudah disiapkan begitu mereka masuk. Tak berlama-lama, setelah menyelesaikan makan, Azz mengajak Rhea keluar lagi.
Menggunakan sihir angin untuk terbang perlahan, keduanya berhenti di sebuah area kosong di pinggir sungai.
Rhea mendarat pelan dan merasa sedikit mual, seperti masuk angin. Melirik ke arah Azz yang mengendalikan angin lebih lancar darinya, ia diam-diam mencatat hal itu dalam hati.
Tercatat: Putra Mahkota lebih mahir menggunakan sihir elemen dasar dibanding dirinya, seorang archmage.
Setelah menenangkan diri, barulah ia mampu mengamati sekelilingnya.
“Yang Mulia,” panggil Rhea dengan hormat. “Kurasa aku melihat bayangan kastil di sana.”
Tak jauh dari tempat mereka, memang samar-samar terlihat kastil bangsawan yang megah. Rhea yang belum memahami seluk-beluk tempat ini merasa aneh mendapati bangunan itu berada di bagian paling ujung kota dan membelakangi pegunungan.
“Itu kastil Marquis Herbert,” jawab Azz tanpa ragu.
“Jika kita mengikuti aliran sungai yang mengalir, mudah untuk sampai di gerbang belakang.”
Rhea tidak bertanya lebih lanjut dan mengawasi hutan gelap di seberang sungai. Ia sedikit khawatir binatang buas tiba-tiba melompat dan menerkam mereka saat lengah.
“Guru, tolong sebarkan koin emasnya di sini.” Azz menghentikan lamunannya dan menarik tangannya.
“Semuanya?”
Mendapat anggukan, Rhea tak berlama-lama. Ia membatalkan mantra ilusi di tas selempangnya. Tas itu kembali menjadi ransel berat berisi koin emas, dan Rhea langsung tersungkur karena tak sanggup menahan berat yang tiba-tiba muncul.
“Hati-hati, Guru!” Azz membantunya berdiri dan menepuk pakaiannya yang kotor. Karena masih dalam mantra penyamaran, sosoknya tampak tinggi dan tegap.
Rhea membiarkan dirinya dibantu tanpa malu-malu, lalu mulai menarik keluar emas dari ransel.
Ketika suara gemerincing emas itu berjatuhan dengan menyenangkan, entah kenapa suasana hatinya ikut bersemangat.
“Buat ilusi agar koin emas itu lebih banyak. Tidak usah menahan diri, Guru. Buat setinggi yang Anda bisa.”
“Bagaimana jika ditambah sedikit perhiasan? Tambahkan permata dan berlian juga,” usul Rhea dengan nada main-main. Namun, usulannya sudah ia terapkan sebelum sempat mendapat persetujuan Azz.
“…Bagus,” gumam putra mahkota.
Kini di depan mereka berdiri sebuah bukit emas setinggi rumah yang bersinar di bawah cahaya bulan. Dengan taburan perhiasan dan beberapa peti mati yang disengaja oleh Rhea, pemandangan itu menjadi sangat mencolok.
“Hmm, kalau ini ditempatkan di sebuah gua, bakal cocok disebut sarang naga, kan?” Rhea mengamatinya dengan puas.
“Pftt… Bagaimana Guru—” ucapan Azz terhenti ketika melihat ekspresi Rhea yang tampak sungguh tak tahu apa-apa.
“Kenapa? Ada yang salah?” tanya Rhea bingung.
Azz menggelengkan kepalanya dan berhenti menatapnya. Ia kembali tenggelam dalam perenungannya sendiri.
“Sudah beberapa kali tebakannya tepat sasaran…” gumam Azz dalam hati, melirik Rhea yang sibuk dengan pikirannya sendiri.
Setelah membuat apa yang disebutnya sebagai “umpan”, Azz mengajak Rhea bersembunyi di atas pohon.
Selesai menutupi jejak mereka dengan mantra ilusi, Rhea bertanya penasaran.
“Pencuri itu tidak merasa curiga dengan umpan ini?”
Orang dewasa yang waras pasti akan curiga dengan tumpukan emas dan perhiasan di tempat sepi seperti ini—dari sudut mana pun, semuanya jelas bertuliskan kata umpan.
“Dia akan terjerat,” jawab Azz yakin. “Lihat saja.”
“Sebodoh apa pencuri itu? Dia masih anak-anak, atau memang tidak waras?” Rhea menggoyangkan kakinya yang tergantung dari dahan pohon, cemas sekaligus tidak sabar.
“…Guru bisa melihatnya sekarang. Dia menuju ke sini.”