NovelToon NovelToon
Business, Love And Lies

Business, Love And Lies

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romantis / Cinta Terlarang
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Lunes_

Bagaimana jika orang yang kamu cintai malah dijodohkan dengan kakakmu sendiri?
Lalu cinta itu tumbuh di tempat yang salah dan harus disembunyikan dari semua orang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunes_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

21 - You Are My Home

Aku masih bisa merasakan hangat bibirnya di kulitku.

Ciuman itu tidak sebentar—pelan, penuh rindu, seolah kami sama-sama berusaha menebus waktu yang sempat membuat kami jauh. Setiap sentuhannya seperti ucapan maaf yang tak diucapkan, setiap tarikan napas di antara kami membawa perasaan yang selama ini kami tahan.

Begitu kami melepaskan diri, napasku masih tersengal. Dahi kami masih saling menempel, sementara matanya menatapku lekat dengan senyum samar di bibirnya.

“Hei,” katanya pelan, suaranya parau namun mengandung nada menggoda. “Bisa-bisanya kamu mencium atasanmu duluan.”

Nada suaranya terdengar geli, tapi senyum yang tersungging di bibirnya tak bisa disembunyikan.

Aku menatap Henry sambil menahan senyum. “Kakak waktu itu juga cium aku duluan.”

Henry mengangkat alis. “Karena waktu itu aku terlalu senang.”

Aku menatap matanya. “Aku sekarang juga terlalu senang.”

Ia tertawa pelan, matanya menatapku lembut. “Lili yang polos sekarang udah jadi Lili yang berani, ya...”

Aku menunduk sedikit, lalu berbisik, “Aku cuma berani ke Kakak aja...”

Henry tersenyum lagi. “Iya, beranilah sama aku aja, jangan sama cowok lain.”

Senyumku mengembang. Aku bahkan tak tahu kapan terakhir kali aku merasa sesantai ini. Tapi ketika kulirik jam di dinding, aku tersadar.

“Kak, udah hampir malem. Aku pulang ya.”

“Nggak mau nginep aja di sini?” tanyanya setengah bercanda, tapi matanya seperti benar-benar berharap aku bilang iya.

Aku menggeleng cepat. “Aku nggak bisa. Aku nggak mau denger ocehan Mama yang tanya-tanya aku tidur di mana.”

Henry mendesah pelan. “Baiklah.”

Kami berjalan bersama menuju pintu apartemen. Aku bisa merasakan tatapan matanya di punggungku, seolah tak rela melepas. Saat hendak keluar, aku berhenti, berbalik, dan memeluknya sebentar.

Pelukannya hangat. Aman.

Terlalu aman sampai aku takut kehilangan rasa itu.

“Aku pergi dulu, Kak.” bisikku sebelum beranjak menuju lift.

Begitu pintu lift tertutup, aku melihat pantulan diriku di dinding logam. Bibirku masih sedikit bergetar karena tadi sempat mencium dia duluan. Aku bahkan tidak tahu kenapa aku berani melakukan itu. Tapi... aku tidak menyesal. Sama sekali tidak.

Malamnya, di rumah, suasananya jauh berbeda.

Hangat—tapi bukan hangat yang nyaman. Hangat yang membuat dada terasa sesak.

Aku, Mama, Papa, dan Ana makan malam di meja besar seperti biasa. Mama memulai percakapan sambil menyeruput sup.

“Ana, gimana rumah sakit? Aman? Dua minggu ke depan nggak ada operasi berat, kan?”

Ana menjawab santai, “Masih ada operasi, Ma, tapi nggak banyak.”

“Bagus. Mama nggak mau nanti pas hari tunangan kamu malah ada operasi.”

Sendokku langsung berhenti di udara.

Begitu juga Ana. Kami saling menatap.

“Ma, bisa nggak aku nggak usah tunangan sama Henry? Aku nggak suka sama Henry.”

Nada suara kakakku tenang, tapi matanya jelas-jelas menunjukkan penolakan.

Mama meletakkan sendoknya perlahan. “Henry itu pria yang baik, Ana. Pantas buat kamu. Iya kan, Pa?”

Papa langsung mengangguk. “Tepat sekali. Henry pria yang baik, dan dia cocok jadi pasangan kamu.”

Aku menunduk, memandangi sup di piringku yang sudah dingin. Nama itu kembali membuat jantungku berdebar. Henry.

“Tapi aku nggak suka sama Henry, Ma!” kata Ana lebih keras.

“Seiring waktu kamu pasti suka,” jawab Mama datar. “Henry itu baik, dan cinta bisa tumbuh karena terbiasa.”

“Nggak, Ma! Aku nggak mau!”

“Kamu kenapa sih, Na? Jadi anak susah dibilangin gini, padahal dulu kamu nurut.” sela Papa dengan nada kesal.

“Untuk urusan pasangan, aku nggak akan nurut! Kenapa nggak Lia aja yang nikah sama Henry?!”

Aku mendongak spontan.

Udara di ruang makan seolah membeku.

“Nggak bisa!” bentak Mama cepat, nyaris tanpa ragu. “Apa kata orang kalau menantu keluarga Pratama itu Lia—anak yang kerjaannya cuma ngurusin Korea?!”

Dadaku serasa dihantam sesuatu yang berat. Aku mematung.

Ana menatap Mama tajam. “Ya biarin aja. Kesukaan orang kan beda-beda.”

“Beda boleh,” potong Mama. “Mama nggak mau keluarga kita jadi bahan omongan. Mama malu.”

Aku mengangkat wajah, menatap Mama dengan mata yang mulai panas.

“Mama malu punya anak kayak aku?”

Mama terdiam sesaat, lalu menghela napas pendek. “Lia, Mama cuma mikir yang terbaik—”

“Terbaik buat siapa?” suaraku meninggi. “Buat Kak Ana, kan? Selalu dia.”

Papa menghela napas berat. “Lia, kami nggak pernah membeda-bedakan—”

“Tapi kenyataannya begitu!” aku memotong. “Aku juga anak kalian! Tapi dari dulu aku selalu yang kedua. Bahkan bukan… mungkin yang terakhir.”

Ruangan kembali sunyi.

“Kalau kalian nggak mau aku di sini,” lanjutku dengan suara bergetar, “lebih baik aku pergi.”

Aku berdiri. Kursi bergeser keras di lantai marmer.

“Lia,” panggil Papa.

“Lia, Mama bukan bermaksud—” suara Mama terdengar panik, tapi terlambat.

Aku sudah berbalik dan menaiki tangga.

Begitu pintu kamar tertutup, air mataku pecah. Aku menarik koper dari bawah ranjang, memasukkan baju-bajuku tanpa dilipat. Aku tidak peduli lagi. Aku hanya ingin pergi.

Beberapa menit kemudian, aku menuruni tangga sambil menyeret koper.

Papa dan Mama masih duduk di meja makan. Sendok dan piring di depan mereka belum berpindah, seolah waktu ikut berhenti.

“Lia… kamu mau ke mana?” tanya Papa pelan.

Aku berhenti di anak tangga terakhir. “Mulai malam ini, aku nggak akan tinggal di sini lagi.”

Mama menoleh cepat. “Apa? Kamu mau ke mana? Ke rumah Caca?”

Aku menatapnya sebentar, lalu menggeleng tipis. “Mau aku tinggal di mana pun, Mama juga nggak akan benar-benar peduli.”

“Lia—” Papa berdiri setengah.

Aku sudah melangkah melewati mereka, berjalan menuju luar rumah.

“Lia!” panggilan Papa terdengar lagi dari belakang.

Aku tidak menoleh. Aku terus berjalan.

Begitu pintu kubuka, udara malam menerpa wajahku. Dingin. Tapi entah kenapa, lebih hangat daripada rumah ini.

Aku baru sempat melangkah beberapa langkah ketika seseorang memegang tanganku dari belakang. Aku menoleh—Ana.

“Lia, kamu mau ke mana?” tanyanya cemas.

Aku menepis tangannya. “Bukan urusan Kakak. Urus aja urusan Kakak sendiri.”

“Kamu tega ninggalin aku sendirian sama Mama dan Papa? Kamu nggak kasihan sama aku?”

Aku menatapnya getir. “Kenapa aku harus kasihan? Selama ini Kakak pernah kasihan sama aku? Pernah belain aku waktu aku disalahin?”

Ana menunduk. “Aku cuma nggak berani, Lia...”

“Kakak itu kakakku. Aku pengin bisa bersandar sama Kakak, tapi Kakak selalu diem aja.”

Matanya mulai berkaca-kaca. “Maaf...”

Aku menggeleng. “Aku nggak butuh maaf. Dan soal perjodohan Kakak sama Kak Henry, urus aja sendiri.”

Aku menatapnya terakhir kali sebelum melangkah pergi, menarik koper dengan tangan bergetar.

“Lia!” panggil Ana lagi. Tapi aku tak menoleh.

Untuk pertama kalinya, aku benar-benar pergi—bukan karena marah, tapi karena akhirnya aku sadar:

kadang, rumah bukan lagi tempat untuk pulang.

Aku pergi dari rumah malam itu. Tak membawa apa pun selain koper dan hati yang terasa penuh luka. Di dalam taksi online, aku duduk diam menatap ke luar jendela. Lampu-lampu kota berlari mundur di mataku, tapi air mataku tak mau berhenti jatuh. Udara malam seharusnya dingin, tapi yang kurasakan justru panas—panas karena marah, sakit, dan kecewa.

Begitu mobil berhenti di depan gedung apartemen Henry, aku mengusap wajahku sekilas, mencoba menenangkan diri. Tanganku gemetar saat menekan tombol lift. Setiap lantai terasa begitu lama. Aku hanya ingin segera sampai.

Ding dong.

Kutarik napas panjang sebelum menekan bel. Aku tahu kode sandi unit Henry, tapi malam ini aku malas memikirkannya. Beberapa detik kemudian, pintu terbuka.

“Lili?” Suara itu… lembut, tapi terkejut.

Tanpa pikir panjang, aku langsung memeluknya. Aku tidak sanggup berkata apa-apa. Tubuhku bergetar di dadanya, dan air mataku kembali pecah.

“Lili, ada apa? Kenapa kamu menangis? Dan kenapa kamu bawa koper?” tanyanya cemas, tapi aku hanya bisa menggeleng dan menangis semakin keras.

Henry tidak memaksa. Ia hanya mengusap punggungku perlahan, memberi kehangatan yang tak bisa kubeli dari siapa pun. Lama kami diam seperti itu, sampai akhirnya napasku mulai teratur.

“Ayo masuk dulu.” katanya pelan. Aku mengangguk.

Kami duduk di sofa. Koperku kutaruh di samping, seolah itu bukti bahwa aku benar-benar meninggalkan rumah. Henry menatapku lekat.

“Ada apa sebenarnya, Lili?”

“Aku… pergi dari rumah.”

“Apa?!” Ekspresinya berubah kaget.

Pelan-pelan, aku ceritakan semuanya. Tentang makan malam tadi. Tentang Mama dan Papa. Tentang Ana. Tentang betapa selama ini aku selalu merasa jadi orang asing di rumah sendiri. Henry mendengarkan tanpa menyela, hanya sesekali menatapku dengan sorot mata prihatin.

“Jadi karena itu kamu dateng ke sini?”

Aku mengangguk pelan. “Iya, Kak. Aku nggak tahu lagi harus ke mana. Kayaknya dari awal orang tuaku memang nggak pernah mengharapkan aku ada di sana.”

Henry menghela napas, lalu tersenyum lembut. “Kalau gitu, untuk sementara kamu tinggal aja di sini.”

Aku menatapnya. “Kalau selamanya boleh?”

“Apa?” Ia menatapku heran.

“Aku nggak mungkin balik ke rumah, Kak. Aku nggak mau tinggal bareng orang yang nggak mengharapkanku.” ucapku lirih.

Ia mengusap tengkuknya gugup. “Aku mau kamu tinggal sama aku selamanya, tapi kita bukan suami istri, Lili.”

Aku menatapnya, berani untuk pertama kalinya malam itu. “Kalau gitu ayo kita wujudkan supaya kita bisa jadi suami istri. Aku nggak mau Kakak nikah sama Kak Ana.”

Henry menatapku lama, seolah berusaha menembus pikiranku lewat tatapannya yang dalam. “Aku juga nggak mau nikah sama Ana,” katanya akhirnya, suaranya rendah namun tegas. “Baiklah… untuk sekarang kamu di sini dulu. Tapi kita nggak mungkin selamanya kayak gini, kan?”

Aku tidak langsung menjawab. Tatapanku jatuh pada jemariku yang saling bertaut di pangkuan. Hening menggantung di antara kami—hening yang anehnya terasa nyaman, seolah waktu berhenti sejenak agar aku bisa merasakan segalanya dengan lebih jelas.

Aku tahu, ucapan Henry masuk akal. Tapi logika terasa begitu jauh malam ini. Di tengah semua yang terjadi, hanya satu hal yang kupahami dengan pasti—aku tidak ingin ke mana pun lagi.

Aku mengangkat wajahku, menatapnya sekali lagi, dan tersenyum samar.

Mungkin dia benar, kami tidak bisa selamanya seperti ini.

Tapi untuk malam ini… biarlah dunia di luar sana menunggu.

Yang ingin kulakukan hanyalah tetap di sini—di sisinya, tempat satu-satunya yang terasa seperti rumah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!